
Sssst...
Arga mendadak mengerem mobilnya sepulangnya dari meeting bersama Ilman karna ada mobil lainnya tengah menghalangi jalan mereka. Beberapa orang itu bertubuh besar dan tegap berdiri didepan mobil mereka dengan tatapan mengerikan.
"Berhenti, turun kalian!" Titah seseorang berambut gimbal yang kemungkinan adalah ketuanya.
"Siapa Bang?" Tanya Ilman yang sedikit merasa takut.
"Entahlah Man, seperti nya mereka ingin mengajak kita berkenalan," timpal Arga dengan santai tampa getar sedikit pun.
Arga bergegas membuka pintu dan keluar disusul Ilman yang terpaksa ikut menyusul.
"Siapa kalian? Dan mengapa menghalangi jalan kami?" Arga mengamati orang-orang itu satu persatu tapi tak ada satu pun yang Ia kenali.
"Jangan banyak bacot lo, bisa jadi ini adalah akhir hidupmu!"
Arga tersenyum kecut, Ia sama sekali tidak merasa takut dengan ucapan mereka.
"Emang kalian Tuhan, ha?" Seringai Arga menangapi dengan santainya.
"Hidup dan mati seseorang sudah ada yang mengatur," imbuhnya lagi. Sepertinya Ia belum puas bicara di depan orang-orang itu.
Mereka yang sudah terpancing kata-kata Arga langsung menyerang hingga Arga dan Ilman tak sempat lagi mengambil kuda-kuda.
"Heaaaaat....."
Bag! Bug! Bag! Bug!
Terjadi perkelahian sengit.
Cukup kuat penyatuan Ilman dan Arga Hingga dengan cepat Mereka membuat musuhnya tumbang dalam hitungan menit akan tetapi sayangnya tidak ada yg sadar klau seseorang tengah mencuri kesempatan saat Arga dan Ilman sibuk melihat semua nya tengah terkapar.
Bug!
Hantaman balok tepat mengenai batang leher Arga.
Arga langsung hilang kesadaran dan tumbang.
"Bang Arga." Ilman langsung menghampiri tubuh Arga yang sudah tergeletak di tanah.
"Ayo pergi, mungkin dia sudah isded!" Ajak si rambut gimbal pada anak buahnya.
Setelah mereka berlalu, Ilman bergegas membawa Arga masuk kemobil untuk dilarikan kerumah sakit.
__ADS_1
Setelah mendapat perawatan, Ilman segera menghubungi Bayu lebih dulu.
"Apa Man? Ada yang mengeroyok kalian?" Sentak Batu dari sebrang.
"Iya Bang, saya tidak tahu harus berbuat apa sekarang, saya pun belum memberi tahu Mbak Vania karena takut dia syok."
"Iya biar Vania jadi urusan ku, kau urus saja Arga ya, kami akan segera datang."
"Oke, Bang."
Salsa yang melihat Bayu sedikit meninggikan suara nya saat berbicara di ponsel ikut penasaran.
"Kenapa Bay?"
"Arga diserang orang tak dikenal hingga pingsan."
"Jadi kamu mau pergi menemuinya?"
"Iya sayang, kamu sama Bayu junior diam dirumah saja ya, kasihan dia masih kecil jika sering diajak keluar," ucap Bayu sembari menatap bayi mereka masih terlelap diranjang mini.
"Baik lah."
"Dek.. !" Teriak Bayu saat baru saja turun dari mobil untuk memberitahu Vania.
"Ehk Kak Bayu, ada apa Kak?"
Vania mengusap peluhnya yang mendadak memnintik di keningnya padahal iya sudah mandi sore itu.
"Ada apa sih Kak, bikin takut aja nih?"
"E.. itu Dek, Arga masuk rumah sakit habis diserang orang."
"Apa? Terus Kak, keadaannya gimana?" Wajah Vania mendadak gelisah.
"Mudah-mudahan gak papa."
"Ayo kita kesana Kak, ak.. aku... Gak tenang nih," ucap Vania memohon.
"Iya, Iya, kamu yang tenang dong nanti ada apa2 sama bayimu, Arga akan sedih dibuatnya."
"Iya baiklah, aku akan hati-hati kok.
Usai mengganti pakaian dan menggendong tas mininya, Vania dan Bayu bergegas kerumah sakit.
__ADS_1
"Man, Arga kenapa, Man?" Tanya Vania yang langsung membondong Ilman dengan penuh pertanyaan.
"Eh itu Mbak_."
Belum selesai Ilman menjawab, Dokter sudah keluar dari ruang pemeriksaan.
"Gimana keadaan suami saya, Dok?" Cecar Vania tampa ada nya rasa sabar sedikit pun.
Bayu merengkuh Vania, Ia tahu Si adik imutnya itu sedang tidak tenang.
"Sabar Dek, biar Dokter tenang dulu
"Gak papa Mas, wajar jika istrinya gelisah," sahut Sang Dokter.
Sejenak mereka terdiam lalu Dokter meneruskan ucapannya.
"Mbak yang tenang ya,, Arga baik-baik saja kok, mungkin hanya kaget saja."
Mereka semua ternganga girang.
"Beneran Dok?" Tanya Vania meyakinkan diri.
"Iya, silakan jika Mbak ingin masuk!" Sang Dokter menengadahkan tangan kearah pintu.
"Terima kasih, Dok."
Vania bergegas menerobos masuk kerena sudah hilang batas kesabarannya untuk sang suami yang tengah duduk ditepi ranjang.
"Kak Arga!" Teriak Vania dengan intonasi manja dan hendak memeluknya namun mengambang mendengar ucapan Arga.
"Siapa ya?" Desis Arga tiba-tiba mencegahnya.
"Ha? Apa? Kamu lupa ingatan lagi Kak, jadi Kakak ngelupain aku?" Vania menunduk bergetar, Ia takut kejadian waktu Arga hendak menikahi Fiona akan terulang lagi ditambah Ia sedang hamil anak yang sudah lama mereka dambakan selama ini. Kelu rasanya jika suami sendiri tidak mengingatnya.
Namun sentuhan jari jemari Arga ke pipinya mengagetkan Ia seraya melayangkan kecupan hangat di kedua pipinya.
Vania menatap netra suaminya dengan rasa yang membingungkan.
"Kakak lupa ingatan atau enggak sih?" Celoteh Vania curiga.
"Hahaha... Takut ya aku lupa lagi," canda Arga.
"Ihk, Kakak ternyata cuma ngeprank, aku panik tauk!" Sungut Vania melipat tangan.
__ADS_1
"Iya, iya, maaf sayang. Habis kamu lucu kalau lagi marah aku kan jadi kangen ngeliatnya," goda Arga lagi.
"Iya deh yang masih jomblo ma ngenes," sambung Ilman yang diikuti Bayu menyender di daun pintu.