
Hari mulai sore, Vania tengah duduk melamun didekat kolam ikan dan menyaksikan ikan hilir mudik berenang. Sesekali Ia pun melemparkan kerikil kearah ikan-ikan itu.
Plung!
Ikan itu berkumpul kearah batu itu jatuh.
"Vania, apa yang kau lakukan sayang, orang hamil tidak baik melamun," tegur Mutia yang baru datang sembari membawa segelas susu nutrisi untuk kehamilan dan menyerahkannya pada Vania.
Vania langsung meneguk susu itu sampai tandas lalu mengelap sisa susu itu dibibir nya.
"Ma, apa aku harus terus dirumah. Aku merasa bosan Ma," tukas Vania menyandarkan kepalanya ke pundak Mutia.
Mutia sangat menyayangi menantunya itu Ia mengusap kepala Vania dengan lembut.
"Turuti saja kemauan suami mu nak, Arga pasti sangat mengkhawatirkan keadaanmu," tukas Mutia.
"Iya Ma, aku tau, aku beruntung menikah dengan Kak Arga, Ma. Dia sangat memperhatikan aku."
"Tentu saja, apalagi ada buah hati kalian disini," tunjuk Mutia pada perut Vania sembari tersenyum.
Vania pun mengangguk mendengar ucapan mana mertuanya itu.
Drrrrttt!
"Tu, HPmu bunyi ayo angkat siapa tau penting!" Tukas Mutia melirik HP disamping Vania.
"Gak ada namanya Ma," ucapnya saat melihat tidak ada nama yang tertera di handphonenya.
"Halo."
" Van, ini Gilang Papa sama Mama lagi histeris kami diusir dari rumah oleh Papa Adiyaksa dan anak buahnya," tukas Gilang panik.
"Apa, baiklah aku akan kesana," ucapnya. Setelah mengakhiri telpon Vania menatap Vania sembari berkaca-kaca.
"Kenapa sayang?" Tanya Mutia penasaran.
"Papa sama Mama diusir, Ma. Tolong ijinkan Vania kesana," ujar Vania memohon.
"Apa! Tapi nak, alangkah baiknya kamu ijin Arga dulu," saran Mutia khawatir.
__ADS_1
"Kalau aku ijin dulu, Kak Arga pasti gak ijinin aku Ma. Aku akan kasih tau dia setelah tiba disana," jawab Vania semakin panik.
Setelah berfikir beberapa saat Mutia pun memutuskan untuk ikut.
"Mama ikut nak."
Vania pun mengangguk dengan permintaan mertuanya.
***
Vania dan Mutia tiba disana Ia melihat Sandra dan Romy menangis melihat barang-barang mereka dilempar keluar rumah oleh beberapa anak buah Adiyaksa.
Sedang kan Gilang sedang berkelahi dengan anak buah Adiyaksa hingga wajahnya lebam semuanya.
"Mama, Papa, apa kalian baik-baik saja?" Tanya Vania.
"Iya nak, semua harta yang kita punya sudah diambil Adiyaksa," jawab Romy.
Adiyaksa pun muncul dari dalam dan bertepuk tangan melihat kesedihan keluarga Romy. Ia merasa puas telah balas dendam dan membuat keluarga itu hancur.
Lalu meminta anak buahnya berhenti memukul Gilang.
"Sebenarnya Papa sangat menyayangimu Gilang dan kita tidak ada masalah apapun. Sebaiknya ikut Papa pulang dari pada kamu menderita bersama mereka," tukas Adiyaksa menatap keluarga yang masih sedang terisak itu dengan penuh kebencian.
"Oh, jadi ini gadis cantik yang membuat Bayu terobsesi. Benar, dia sangat cantik sekali," tukas Adiyaksa menyentuh rambut Vania dengan nada mengejek. Tapi Vania langsung menepisnya.
"Hentikan Om, seharusnya Om tidak melakukan ini pada keluarga saya dan berterima kasih karena Oma dan Opa saya telah mengangkat Om sebagai anak," jengah Vania.
"Hah, beraninya kau mengucapkan itu," sentak Adiyaksa.
"Memang kenyataan 'kan, Mereka sangat menyayangi Om sebagai anak dan masih memberikan sebagian harta mereka pada Om," tegas Vania.
"Tapi baguslah Gilang lebih baik meninggalkan Om yang tak punya hati sama sekali dari pada tetap bertahan. Emang Om mau Gilang melakukan hal serupa pada Om nantinya," dengus Vania.
Adiyaksa memanas mendengar ucapan Vania, dan kemudian tersenyum sinis.
" Kau tidak tau apapun anak ingusan, aku yang menderita diperlakukan seperti budak oleh Oma dan Opa mu itu. Dia juga yang menyuruhku mengasuh ayahmu itu." Tunjuk Adiyaksa pada Romy.
"Mereka memang menyayangiku, tapi apa kamu tau? saat Romy terjatuh dari pengawasanku pasti Oma mu mengatakan kalau aku ini cuma anak yang dipungut dari jalanan," Ulas Adiyaksa.
__ADS_1
"Aku mengerti Om, Om pasti sakit mendengar itu. Tapi apa wajar jika Om dendam pada Papa yang tidak tau apapun tentang itu," tukas Vania.
"Romy tau, Van. Justru dia selalu memfitnahku menyakiti nya saat bermain bersama dan lagi-lagi Oma mu selalu mengatakan hal yang sama," bentak Adiyaksa semakin panas mendengar ucapan Vania.
"Om, Vania mohon Om. Hentikan dendam Om yang tidak berkesudahan ini dan hiduplah dengan damai bersama Papa sebagai saudara. Bagilah harta itu dengan adil agar tidak ada lagi yang merasa iri atau pun sakit hati," tukas Vania memohon.
Mereka yang ada disana hanya menyaksikan dengan sedih.
"Heh, tidak akan, aku amat sangat menderita dua puluh lima tahun ini dan sudah untung aku tidak memb*n*h Bayu dan memberikan kehidupan yang layak dengan kasih sayang padanya," jengah Adiyaksa.
"Ayo ambil barang kalian, dan tinggalkan rumah ini!" Bentak Adiyaksa dengan nada tinggi.
"Om Adiyaksa, Vania benar-benar jijik melihat Om," teriak Vania balik.
Plak!
Tamparan keras Adiyaksa mendarat dipipi Vania hingga Ia jatuh kelantai.
"Vania," teriak Romy, Sandra dan Mutia bersamaan.
Mutia segera membantu Vania berdiri. Vania memegangi perutnya yang terasa sakit dan pipinya memerah bekas tamparan itu.
"Kamu tidak apa-apa nak?" Tanya Mutiara pada Vania. Vania berusaha menyembunyikan rasa sakit diperutnya.
"Iya Ma," jawabnya.
"Cepat pergi, sebelum aku membuat kalian menyesal lebih dalam lagi!" Usir Adiyaksa.
Romy dan Sandra pun segera memungut pakaian mereka yang berserakan lalu memasukkannya ke koper.
"Ayo ikut aku!" Ajak Mutia sembari menggandeng Vania.
Saat Gilang hendak mengikuti mereka, Adiyaksa memegang pundaknya dari belakang.
"Ikut Papa pulang nak, dan tinggalkan mereka. Kau belum mengenali mereka lebih baik dari Papa," tukas Adiyaksa.
Gilang pun terdiam dan memikirkan pilihannya.
"Tidak Pa, Papa sudah menipuku," tolak Gilang. Lalu berlalu meninggalkan Adiyaksa dan ikut naik kemobil.
__ADS_1
"Dasar keras kepala, kau akan ikut menjadi musuh Papa nak," gumam Adiyaksa. Ia menyayangkan pilihan Gilang.