Cinta Arga Untuk Vania

Cinta Arga Untuk Vania
Part_87 Bertemu Tari


__ADS_3

Saat itu, tepat jam makan siang. Dana pergi ke sebuah kafe untuk mencari makan. Ia sudah merasa lapar setelah sejak pagi bergelut didepan laptop.


Ia segera memesan beberapa lauk pauk dan nasi putih.


"Ini Pak, pesanannya!" Ucap pelayan itu.


"Makasih," jawab Dana sembari tersenyum.


Ia pun segera meletakan sayur dan lauknya diatas nasi. Baru saja hendak melahap, mata Dana tertuju pada seorang wanita yang sedang duduk tak jauh darinya bersama seorang gadis.


"Itu... Itu Tari kan?" Tanya Dana mengkerut dan mengingat-ingat wajah seorang perempuan yang pernah hidup denganya delapan belas tahun yang lalu.


Tari terlihat sedang asyik makan bersama Nisya. Dari kejauhan pun nampak pemuda yang dikenal baik Oleh Dana bernama Vino mendekat dan ikut nimbrung setelah mencium Mamahnya.


"Oh jadi itu Benar Tari dan gadis itu, pasti anak yang dulu dikandungnya," gumam Dana. Hasrat makan nya pun Seketika hilang menyaksikan mereka.


"Ma, sudah lama?" Tanya Vino alias Alan.


"Baru sayang, ayo makan Mama udah pesenin makanan kesukaan kamu?"


"Makasih Ma, dek, kamu kok belum ganti seragam sih?" Tanya Alan yang mengusap rambut Nisya dan melihat Nisya masih berseragam sekolah SMA.


"Gak sempet Kak, Mama ngajakin langsung tadi," jawab Nisya cengengesan.


"Oya Lan, Mama rencana nya mau buka laundry dirumah, bagaimana menurut mu?"


"Ma, Alan kan dah ngehasilin Uang dihotel Arga, jadi mama gak usah capek-capek ya!" Pinta Alan sembari mengunyah makanan yang baru saja dilahapnya.


Dana pun meminta pelayan memindahkan makanan nya kemeja Tari.


"Boleh bergabung?" Tanyanya setelah mendekat tampa diketahui Tari.


Tari langsung terperanjat saat menoleh.


"Mas Dan," tukasnya.


Dana pun menarik kursi untuk diduduki, lalu menyendok makanan yang sudah dipindahkan pelayan dengan cuek.


Alan nampak terlihat sinis menatap geram kearah Dana. Alan replek berdiri dan mencengkram baju Dana sambil mengepal hendak melayang kan tonjokan kewajah Dana tapi Tari bangkit dan mencegah, tak ada perlawanan sedikit pun dari Dana.


"Alan, jangan, hentikan Nak!" Cegah Tari.


"Kenapa Ma? Biar ku habisi lelaki biadab ini!" Geram Alan yang mengundang perhatian pelanggan.


"Tidak Nak, jangan kamu kotori tangan mu dengan memukul wajah nya!" Cegah Tari lagi.


"Tapi dia sudah membuat Mama menderita!" Teriak Alan melotot kearah Dana.

__ADS_1


"Hentikan Kak, ikuti saran Mama," sela Nisya yang ikut panik, padahal tak mengerti apa pun.


Alan pun melepaskan cengkraman tangannya dari Baju Dana.


"Mau apa kesini, Ha?" Lirih Alan berusaha tenang agar tak mengundang perhatian lagi.


"Maaf kan aku Tari!" Lirih Dana. " Aku memang bersalah sudah menelantarkan mu selama ini," imbuh Dana. Terbersit nada perasaan bersalah dari hatinya.


"Aku sudah memaafkan mu sejak lama, Mas," jawab Tari yang sebenarnya masih menyimpan benci pada Dana.


"Dia siapa Ma?" Tanya Nisya yang tak paham.


"Ayah mu," jawab Tari spontan.


"Apa! Jadi Papa masih hidup? Mama bilang Papa sudah meninggal," ucap Nisya girang.


"Dia bukan Ayak kita Nisya, dia hanya seorang pengecut," sentak Alan pada Nisya.


"Jadi dia putri ku, Tari?"


"Iya Mas, putri yang tidak pernah kau anggap sejak ku kandung," desis Tari sedih. Buliran Air mata yang berusaha ditahannya akhirnya luruh juga.


"Papa." Nisya pun memutari meja dan langsung memeluk Dana dari belakang.


Air mata Dana mengembun mendapat pelukan Nisya. Ini kali pertamanya bertemu Nisya sejak masih diperut Tari.


"Gak papa Pa, ini adalah hari ulang tahun ku, aku senang bisa bertemu Papa, walaupun Mama bilang, Papa gak pernah nganggap Nisya , tapi Paktanya Mama ngasih kejutan buat aku, mempertemukan aku dengan Papa."


"Apa, ini hari ulang tahun mu?"


"Iya Pa, makananya Mama dan Kak Alan ngajak Nisya makan siang bersama."


"Kamu mau mintak hadiah apa dari Papa?" Tanya Dana kemudian.


Nisya tampak berpikir hadiah apa yang harus Ia minta dari Papa yang baru ditemuinya.


"Aku mau tinggal bareng Papa," jawab Nisya tersenyum.


Dana terdiam, bagaimana mungkin Ia memenuhi keinginan Nisya untuk tinggal bersamanya.


"Ck, Laki-laki itu gak akan bisa ngabulin keinginan kamu Nisya," decak Alan.


"Tidak, Papa akan penuhi tapi tidak sekarang ya!" Timpal Dana.


"Oke Lah, aku tunggu kabar baik nya, ayo makan!"


Nisya pun kembali duduk ditempatnya, wajahnya terlihat sangat bahagia.

__ADS_1


Setelah selesai makan Alan pun masuk kemobil lebih dulu, Ia tak ingin berlama-lama melihat Dana.


"Papa, kapan-kapan datang ke rumah ya! Jangan ngilang lagi!"


"Iya Nisya, Papa janji," jawab Dana.


"Beneran ya Pa!"


Dana mengangguk.


Nisya masuk duluan sama Kakak, Mama mau bicara sama Papa!" Pinta Tari.


"Iya ma." Nisya pun langsung masuk ke mobil.


"Mas, jangan memberi janji palsu pada putriku," tutur Tari.


"Tidak Tar, aku akan membelikan rumah yang bisa ku kunjungi setiap hari untuk kalian," jawab Dana.


"Mas, jangan aneh-aneh, aku sudah cukup menderita selama ini."


"Enggak Tar, aku janji kali ini," tukas Dana meyakinkan.


"Terserahlah, kuharap kau tak menipu Nisya Karena Nisya sedang sakit Mas!"


"Sakit?"


"Iya sakit kanker darah yang sudah lumayan parah."


"AstaufiruLlah hal azhim, aku akan mengusahakan pengobatan terbaik terbaik untuk Nisya, Tari."


"Entahlah, aku gak yakin, kerena Dokter sudah mem ponis umurnya


Yang hanya tinggal enam bulan lagi."


"Ya Allah, maafkan Papa nak," kelu Dana semakin bersalah menatap Nisya.


"Hanya keajaiban yang bisa menyelamatkan anak itu Mas, yaitu bersama orang-orang yang membuatnya bahagia," kelu Tari menatap kearah Nisya yang sedang bercengkrama dengan Alan.


"Aku janji, akan membahagiakan Nisya, Tar."


"Makasih Mas, kuharap kau menepati janji mu."


Tari pun meninggalkan Dana untuk masuk kemobil.


Alan segera menyalakan mesinnya.


"Sampai ketemu lagi, Pa!" Teriak Nisya melambaikan tangan sampai mobil mulai melaju. Dibalas langsung oleh Dana, yang nampak merasa getir.

__ADS_1


__ADS_2