Cinta Arga Untuk Vania

Cinta Arga Untuk Vania
Part_36 Dugaan Hamil


__ADS_3

Kembali kerumah..!!!!


Mutia dan Bik Aah sampai dirumah dari pasar. "Bi masukin mangga ini di kulkas!" titah Mutia menurunkan isi belanjaan dari keranjang.


"Baik Nyonya." Mutia melihat Vania sedang ngobrol dengan Kakek.


"Kek, Vania seneng banget tinggal disini. Tapi Vania merasa gak enak."


"Kenapa gak enak, Ndok??"


"Karena Vania terlalu dimanja disini. Vania kan ingin mandiri.Vania berencana akan mengajak Arga pulang nanti sore."


"Jangan Ndok, nanti aja kalau kamu udah sembuh benar ya."


"Tapi Kek, tolong ijinin ya biar aku belajar mandiri dan belajar jadi istri yang baik." rengek Vania memegang kedua tangan Kakek Bram.


"Nanti siapa yang jagain kamu disana kalau Arga kerja, Van?" timbal Mutia.


"Kan ada Bik Mardiah," tukas Vania memaksa.


"Ya udah terserah kamu, yang penting kalau ada apa-apa telpon Kakek, Mama, Papa atau Arga ya," pesan kakek penuh sayang.


"Siap Kek," ucapnya tersenyum senang.


Vania beralih membuka kulkas untuk mengambil minuman. Ia merasakan haus di tenggorokannya. Vania justru terpantik pada buah mangga yang besar dan nampak enak membuat ia menelan liurnya. "wah ini enak sekali." gumamnya.


Diambilnya satu yang paling besar lalu segera di kupas dan dipotong-potong kecil. Setelah itu dicuci nya hingga bersih. Ia juga membuat sambel lutis yang super pedas.


Vania menikmati buah itu dengan lahap keringat menetes di keningnya.


"Hmmm, enak sekali mangga ini," celoteh seseorang. Arga sudah berdiri di pintu dapur memperhatikannya.


Senyumnya terulas ketika melihat kelakuan sang istri yang membuatnya gemas. Masalah seharian ini telah menguras otak nya tapi ia tak ingin Vania mengetahui nya.


"Sayang, makan apa kok enak banget sih?"


"Hmm.. udah pulang? buah mangga, enak ayo coba?" Vania menyodorkan buah yang dilumuri sambel kemulut Arga.


Seketika Arga memejamkan mata merasakan asam buah itu. "


"sayang, ini asem banget. Sambelnya juga kepedesan nanti perutmu sakit," tutur Arga terpejam-pejam ngilu.


"Asam apaan, orang enak gini. Sambel nya juga mantap," seringainya dengan menunjukkan ibu jari nya dan terus melahap buah mangga itu hingga ludes membuat Arga menggelengkan kepalanya.


Wajah Vania penuh keringat Arga mengambil sapu tangan dari saku celananya dan mengelapkan kewajah Vania. Vania justru nyengir menunjukkan jejeran gigi putihnya.


"Gak sakit perutnya?" tanya Arga khawatir sembari mengusap rambut Vania.

__ADS_1


Vania hanya menggelengkan kepalanya.


"Sayang, sayang kan gak mau makan tapi kok makanin yang asem-asem," lanjut Arga lagi.


"Kak kita pulang ya hari ini dan besok sore kita kerumah mama ya. Kamukan udah janji mau ajak kesana," rengeknya menagih janji saat di vila.


"Yakin, kamukan masih sakit sayang?" tanya Arga meyakinkan.


"Iya, liat aja aku gak mual lagi kok," timbalnya menunjukkan kekuatan tubuhnya.


"Iya, oke kita pulang sekarang. Ayo pamitan sama Papa, Mama terutama Kakek!" ajak Arga mengalah.


Mereka pun menemui Mutia yang sedang menyiram tanaman dihalaman sama Pak Ujang suami Bik Aah.


"Jang, daun yang kuning buang aja ya!" perintah Mutia.


"Iya, Nya," jawab Ujang sembari membuang daun yang sudah menguning.


"Ma!" sapa keduanya.


"Hey Arga, kamu udah pulang ada apa?" tanya Mutia.


"Kita mau pamit pulang, Ma," tukas Arga.


"Kalian benar-benar akan pulang?" tanya nya memastikan.


"Baiklah, tapi janji ya jaga Vania baik-baik. Dia belum sembuh benar," pesan Mutia pada Arga.


"Kamu nak, jangan capek-capek ya. Jaga diri kamu baik-baik," pesan Mutia juga pada Vania.


"Oke, Ma," jawab keduanya.


"Kalian memang sehati," goda Mutia mengulum senyum pada sepasang suami istri muda itu.


Vania dan Arga tertawa menyeringai. Pak Ujang yang melihat juga tak mau kalah.


"Pak Ujang pergi dulu!" teriak Arga.


"Iya, Den," sahutnya.


"Temui Kakek mu dulu!" pinta Mutia.


"Iya Ma, Papa belum pulang?"


"Belum, Ga."


Vania dan Arga segera menemui sang Kakek yang sedang membaca koran.

__ADS_1


"Kek!"sapa keduanya.


"Hey Ga,Van kenapa?"


"Kita mau pamitan, Kek".


"Oh iya Vania sudah bilang tadi. Cepat kasih kabar gembira ya," pungkas Kakek. Arga dan Vania saling bertatapan.


"Iya, Kek," jawab Arga akhirnya lalu mereka menyalami sang Kakek.


Mereka naik kedalam mobil dan meninggalkan rumah itu. Terlihat sebuah mobil berwarna hitam mengikuti dari belakang.


Hingga sampai didepan rumah Arga. Arga dan Vania masuk kerumah. Mobil hitam itu ikut berhenti disana.


"Bagus, jika disini pasti akan lebih mudah menghancurkan mereka," seringai licik pria itu tersenyum culas menatap Mereka. Lalu pergi melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.


Hai, Bi." sapa Vania bertemu Bi Mardiah.


"Non, Kok Non pucat? Non sakit?" tanya Bibi.


"Iya Bi mual dan pusing katanya," jawab Arga.


"Wah jangan-jangan Non hamil ni," ucap Bi Mardiah spontan.


"Hamil? benarkah?" tanya Arga terkejut senang.


"Ah, jangan mengada-Ngada aku cuma masuk angin kok," sahut Vania tak mau memberi harapan.


"Tapi mungkin aja kan sayang, emang hamil itu a seperti apa sih bik ciri-cirinya?" tanya Arga antusiasme.


"Ya kayak masuk angin tapi bedanya dia kalau mual makan yang dia pengen mual nya langsung sembuh, Den. Mual juga melihat makanan tertentu. Terus biasanya suka yang asem-asem begitu sih setau Bibi," jelas sang Bibi.


"Iya Bi sama kayak Vania," tukas Arga senang.


"Jangan yakin dulu aku itu belum tentu hamil," dengkus vania membuat Arga dan Bi Mardiah terkekeh. Vania pergi kekamar lalu menutup pintu. Ia masih berdiri dibalik pintu dan mengelus perutnya.


"Apa benar aku hamil? berarti beneran ada dedek diperut aku?" gumamnya.


Sebenarnya ia juga mengharapkan kehamilan itu pasti semua akan bahagia mendengarnya. Tapi wajahnya kembali muram saat ia takut jika ia belum hamil dan hanya sakit biasa pasalnya keanehan itu baru dua hari ini ia rasakan.


"Ahk, bagaimana kalau aku hanya sakit biasa aku gak merasa mual lagi sekarang," sungutnya lalu memutuskan melangkah kekamar mandi untuk membersihkan diri.


Arga yang masuk kekamar duduk di sofa untuk merebahkan diri. Tak lama Vania muncul dari kamar mandi dengan sehelai handuk tipis yang menutupi tubuhnya membuat Arga yang melihatnya kembali meneguk liurnya.


Lagi-lagi ia selalu saja merasa berdesir saat hanya berdua dengan Vania apalagi melihat tubuh mulus itu dan setiap tetesan air yang jatuh dari helaian rambutnya yang basah menambah hasrat yang bangkit dalam benaknya.Vania mengambil baju tidurnya dalam lemari tak diketahuinya Arga datang dari belakang dan mengambilkannya.


Vania mendongak menatap lekat wajah sang suami lalu mengambil baju dari tangan Arga.

__ADS_1


Arga memeluk tubuh itu dengan erat dengan senyum yang selalu menghiasi wajahnya..


__ADS_2