
"Iya Kek, ayo sayang!" ajak Arga menggandeng Vania. sesampainya dikamar Vania masuk kekamar mandi dan Arga mengikuti dari belakang.
"Mau apa kamu? mandi bareng ya!" ajak menyeringai.
"Enak aja, mandi sendiri," sungut Vania sambil menutup cukup pintu kasar.
"Dasar istriku sebentar manja sebentar ngambek, untung Cinta," celetuk Arga tersenyum sendiri melihat tingkah laku Vania.
Setelah selesai mandi keduanya pun merebahkan diri diranjang.
"Peluk," pinta Vania manja.
"Sini," Arga mengeratkan pelukannya dan mencium kening Vania. tak lama Vania terlelap.
"Terima kasih ya sayang udah buat hari ku berwarna," tukas Arga mengusap kepala istrinya.
Tiba-tiba Vania menendang tubuh Arga kuat hingga jatuh dari ranjang membuat Arga terkejut.
"Aw," keluhnya mengelus bokong. Terdengar suara Vania mengigau.
"Pergi..pergi, aku gak mau diganggu aku itu sudah menikah. Jangan deketin aku!" teriaknya.
__ADS_1
Mendengar itu Arga panik lalu bangkit dan membangunkan Vania.
"Sayang.. sayang ada apa?"btanya Arga. Vania tersadar dan langsung menangis memeluk Arga.
"Kamu mimpi apa, Sayang?"
"Kak, aku takut." Vania terisak.
"Tenang aku ada disini, kamu mimpi apa sayang?"
"Aku mimpi kamu diculik dan diikat sama Bayu dan Fiona.dl Dia memegang tanganku dan melarang mendekati kamu. Kalau aku mendekati kamu, dia akan menembakmu. aku...aku takut kamu kenapa-napa," jelas Vania bercerita dalam mimpinya. Nafasnya memburu merasa ketakutan
"Tenang sayang, itu hanya mimpi lihat aku baik-baik saja kan. Lagian mana mungkin Bayu dan fiona berencana mencelakai kita sedang mereka tidak saling mengenal," ujar Arga menenangkan.
"Iya sayang, sudah tenang ayo tidur lagi aku akan menjagamu." tak lama Vania pun tertidur kembali membuat Arga menjadi gelisah.
(Kenapa Vania begitu tidak nyamannya sama Bayu sampai kebawa mimpi. Lalu apa hubungan Bayu dengan Fiona sebenarnya) pikirnya dalam hati. Perasaanya Arga menjadi tidak tenang. Ketakutan Vania membuatnya ikut takut pula akan psikis Vania.
Pagi itu Vania terbangun dari tidurnya. Lagi-lagi ia merasakan mual diperutnya.
"Hoek.. hoek.., aduh kenapa lagi sih ni perut kok kumat lagi?" gerutunya sendiri. Ia turun kebawah untuk meminun air hangat bukanya setelah minum membaik tapi akhirnya muntah juga di keran dapur.
__ADS_1
Tak jauh dari sana Mutia terkejut dibuatnya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Mutia panik. Memijit tengkurap Vania.
"Gak tau Ma, perut Vania mual lagi. Padahal semalam udah gak?" jawab Mutia sambil memegang perutnya.
"Lebih baik periksa ke dokter nak? siapa tau kamu sakit serius?" saran Mutia memberi arahan.
"Gak papa Ma, aku cuma masuk angin aja kok," tolak Vania lagi.
"Mama boleh tau kapan terakhir kamu datang bulan?" tanya Mama penasaran.
"Datang bulan?" tampak Vania mengingat-ngingat yang dimaksud sang ibu mertua tapi ia tak sedikit pun ingat.
"Aku gak ingat Ma, emang kenapa?" tanya Vania penasaran.
"Enggak, siapa tau disini udah ada dedek nya," ukas Mutia mengelus perut Vania.
"Hah dedek? maksud Mama Vania amil?" tanya Vania terkejut.
"Siapa yang hamil, cucu Kakek?" tanya kakek antusias saat muncul.
__ADS_1
"Enggak, enggak, Kek. Vania rasa, Vania cuma masuk angin kok," elaknya. Ia takut jika harapan keluarganya tidak sesuai kenyataan nantinya. Karna Vania belum yakin akan hal itu.
(Aduh, gimana ini? gimana kalau mereka mikir demikian tapi nyatanya Vania gak hamil) batin Vania cemas.