Cinta Arga Untuk Vania

Cinta Arga Untuk Vania
Part_08 Masakan Arga


__ADS_3

Hari sudah mulai gelap.


Arga membawa Vania kesebuah rumah berlantai dua miliknya. Arga menggendong Vania masuk kerumah mewah itu.


"Ga, turunin. Aku bisa jalan kok," melas Vania menatap lekat wajah Arga.


"Sudah, gak usah protes," timbal Arga dingin tampa senyum sedikit pun.


Arga merebahkan Vania diranjang.


"Tidurlah, aku mau kamu istirahat," ucapnya sembari menyelimuti Vania. Lalu keluar dari kamar itu tanpa sepatah kata pun.


(Dia, sangat perhatian padaku. Apa aku belum bisa menerimanya) batin Vania menatap kearah pintu.


Arga sibuk di dapur ia memasak ala koki dengan lihainya memainkan pisau memotong-motong sayuran.


Setengah jam kemudian Vania yang tidak bisa tidur memutuskan untuk mandi dan keluar dari kamarnya.


"Dimana Arga?" gumamnya saat menuruni anak tangga. setiba dibawah dilihatnya Arga menghidangkan makanan dimeja.


"Kamu bisa masak atau ART yang masak?" tanya Vania tak percaya.


"Lihat saja, apa ada orang selain kita. Kenapa sudah bangun?" tanya Arga balik.


"Aku gak bisa tidur, aku lapar. Aku boleh makan?" tanyanya sumringah sambil menelan liurnya melihat makanan dihadapanya.


"Makanlah! aku juga memasaknya untuk di makan, bukan?" Tukas Arga santai.


Seperti biasa Vania memenuh kan isi piringnya.


"Kamu lapar banget ya?" tanya Arga sembari duduk ditempatnya.


"Ya, tadi siang kan aku gak makan jadi untuk makan malamnya jadi dobel," jawabnya seraya nyengir.


"Kamu kan anak orang berada, tapi tingkah mu kayak gak makan sebulan aja," sindir Arga sambil melahap makananya.


Vania mengerucut sebal.

__ADS_1


"Bukan gak pernah makan, tapi mama melarang ku makan banyak. Takut gendut katanya, kan masih gadis," jelasnya menirukan ucapan ibunya sedang mulutnya dipenuhi makanan.


Arga terkekeh.


"O.. jadi sekarang sudah menikah makan seenaknya," sindir Arga lagi.


"Biarin, biar kamu ilfil sama aku," ucap Vania puas.


"Tapi aku gak peduli tu mau kamu gendut, kurus atau kayak sekarang Aku tetap jatuh cinta kok," goda Arga sebegitu mudahnya.


Vania membulatkan matanya menatap Arga kesal. Tanpa sadar mulutnya belepotan.


Arga mengembangkan senyum dan meraih nasi yang ada diujung bibir Vania dengan lembut


Membuat jantung Vania bergejolak ketika mereka saling beradu pandang.


"Ihk, apaan sih?" tepis Vania di tangan Arga.


"Makanya jangan kayak anak kecil kalau makan," gerutu Arga yang fokus kembali makan.


"Bodo amat," timbal Vania tak peduli.


Vania jadi tersudut dan tertunduk malu melihat nasi yang memang sudah habis dipiringnya.


Tok! Tok! Tok!


terdengar ketukan pintu.


"Selesai kan makanmu biar aku yang buka," ujar Arga pergi membuka pintu.


"Siapa? oh pak Budi kenapa pak?" tutur Arga usai membuka pintu.


"Saya disuruh Tuan besar meminta Aden untuk datang kerumah besok. Tadi saya cari Aden dihotel tapi gak ada. Tuan udah pesan kalau Aden tidak dihotel berarti disini," jelasnya.


"Ia Pak, besok kami akan datang," jawab Arga.


"Baik Den, permisi."

__ADS_1


Arga mengangguk.


Arga kembali kedapur dan melihat Vania sedang mencuci piring. Meja juga sudah dibersihkan. Arga mengulas senyum dan masuk kekamar lebih dulu.


Setelah selesai Vania pun menyusul kekamar dan mengedarkan pandangan


"Dimana Arga, kok gak ada?" gumamnya yang melihat Arga tak dikamar.


Vania merasa aman dan tidak ada siapa pun Ia berinisiatif mengganti baju.


"Ahk lengket semua, aku mau ganti baju dulu lah, tadikan belum ganti. Kunci aja pintunya biar Arga gak masuk tiba-tiba. Aku lepas aja bajuku biar gak lama," tukasnya seorang diri. Ia segera melepas bajunya didekat lemari tampa ia ketahui Arga keluar dari kamar mandi dan menatap Vania tampa busana.


"Aduh udah terlanjur gak pakek baju gak ada lagi baju buat aku," gerutu Vania bingung.


(Ohk Tuhan, mengapa dia selalu menggodaku. Aku bisa saja tak sanggup menahanya kalau begini) batin Arga. Ia tetap diam ditempat hingga Vania menemukan kemejanya.


Vania pun mengambil kemeja panjang Arga dan memakainya.


"Lumayanlah dari pada gak ganti," celotehnya ngawur.


Vania duduk didepan cermin dan menyisir rambutnya yang panjang. Sungguh Vania terkejut dengan gambar pantulan yang ada dicermin.


Ia pun menoleh.


"Arga sejak kapan disitu?" tanya Vania panik memeluk dadanya.


"Dari kamu gak pakai baju," jawab Arga santai.


"Apa? berarti ...Arga," teriaknya Vania marah.


"Iya, aku lihat semuanya," jawab Arga sambil mengambil baju dan memakainya.


"Ihk...,ngeselin ngapain kamu gak ngomong tadi, ha? bentak Vania diburu emosi. Kesal harga dirinya merasa dinodai oleh Arga. Vania melampiaskannya memukul punggung Arga yang masih telanjang dada karna baru memakai celana pendek.


Arga membalikkan badan dan Vania malah masuk ke dam pelukan Arga. Vania merasa hangat kala mencium aroma sabun ditubuh Arga.


"Tenanglah kenapa panik begitu akukan suamimu emang haram suami melihat bentuk tubuh istrinya," tukas Arga mengeratkan pelukanya.

__ADS_1


"Lepasin, kamu sengajakan?" berontak Vania.


"Iya, kenapa apa kamu mau menolakku," imbal Arga lalu melayangkan ciuman ke bibir Vania. Bola mata Vania membulat menerima itu.


__ADS_2