Cinta Arga Untuk Vania

Cinta Arga Untuk Vania
Oart_15 Kehilangan


__ADS_3

Dilain tempat, malam itu Arga juga merasa gelisah kala ia meminta Vania memberi keputusan setelah ia kembali. Bagaimana jika nanti Vania meminta ia menceraikannya. Tak bisa dibayangkan perasaanya nanti. Arga pun mengusap wajahnya kasar.


"Ahk, kenapa aku ini. Aku sudah gila dibuatnya. Setiap aku jatuh cinta aku mencintai wanita itu terlalu dalam. Apa mungkin Vania menerima aku atau justru meninggalkan aku seperti Fiona nanti. Bodoh..., harusnya aku tidak meminta keputusan apapun padanya," teriak Arga merutuki kesalahannya.


Malam itu keduanya tidak bisa tidur.


Pagi-pagi sekali Arga bergegas ke bandara bersama Vino. ia berharap Vania akan datang dan melarangnya pergi. Namun tak ada apapun yang ia harapkan sampai pesawatnya lepas landas.


Vania sedang duduk melamun menatap kolam renang. Hatinya masih diselimuti pertimbangan demi pertimbangan.


"Apa yang kurasa ini? apa aku mencintainya? atau aku hanya merasa dia cuma laki-laki yang bisa membuat aku bisa bertengkar," gumam Vania seorang diri.


Tak lama seseorang memegang pundaknya sontak ia menoleh.


"Ma, Mama kesini ya?" tanya Vania pada mertuanya.


"Iya, kenapa melamun?" tanya Mutia balik lalu duduk disamping Vania.


"Melamun? oh, gak kok, Ma. Vania hanya menikmati suasana saja Mama udah makan?" tanya Vania lagi.


"Udah Van, mama kesini bukan bermaksud mau ikut campur. Kamu bertengkar ya sama Arga?" tanyanya memegang pundak Vania.


"Oh.. bertengkar, enggak ma," jawab Vania gugup.


"Nak, kalau ada masalah cerita ya sama Mama jangan sungkan Mama ini kan Mama mu,"pinta Mutia sembari mengusap rambut Vania. Vania pun tersenyum dan mengangguk.


Hari-hari berlalu hampir sebulan telah lewat, makin hari Vania merasa kesepian akan kehadiran Arga rasa bingung dan kangen jadi satu mengumpul dalam dadanya. Diingatnya apa saja yang dilakukanya saat bersama Arga dirumah itu. Mulai dari senyumnya dan pertengkaran-pertengkaran kecil mereka membuat Vania tak sadar terkekeh.

__ADS_1


"Arga!" teriaknya sambil tiba-tiba menangis duduk di anak tangga memegang tiang penyanggah. tangisnya pecah seketika.


"Vania," panggil Mutia yang baru datang bersama bi Mardiah. mereka bertemu dihalaman depan.


"Ada apa, Nak?" tanyanya lalu duduk memeluk Vania.


"Ma, maafin Vania, Ma. Selama hampir enam bulan menikah sama Arga Vania gak bisa jadi istri yang baik, Ma. Ma,bantu Vania. Setelah Arga kembali Vania mau menjadi istri yang baik, tolong bantu Vania ya, Ma. Vania gak mau pisah sama Arga," pintanya memohon serius.


"Iya, Mama bantu, Sayang. Kamu tenang ya, Mama juga gak mau kamu pisah apalagi Papa dan Kakek. Mereka pasti akan kecewa," jawab Mutia menenangkan.


"Iya Ma, Vania cuma takut kalau nanti Arga datang dia memutuskan untuk meninggalkan Vania. Pasalnya setiap Vania menelpon Arga gak pernah angkat dia pasti marah beneran sama Vania," jelas Vania berceritam


"Ya, mungkin Arga sibuk," jawab Mama Mutia.


"Ma, masih ada satu minggu lagi, Vania mau belajar masak sama Mama biar nanti kalau Arga pulang vania yang masakin. Biar gak keasinan lagi," pintanya sumringah sambil menghapus air matanya.


Mutia menyambut keinginan menantunya dengan senyum bangga sambil mengelus kepala Vania.


Mutia yang sangat menyayangi menantunya mengelus kepala Vania dan memeluknya seperti putri kandungnya sendiri.


Hari itu genap sebulan. Arga akan kembali dari Malaysia. Mutia seperti biasa mengadakan makan malam bersama besan dirumahnya. Tepat pukul tujuh malam Arga yang sengaja ditelpon Kakek pulang kerumah orang tuanya dan masih enggan menemui Vania.


Dilebarkannya pandanganya di setiap sudut rumahnya namun tak melihat keberadaan Vania padahal ia berharap kepergiannya akan disambut kabar gembira oleh Vania.


Dimeja makan juga hanya ada Kakek, orang tua dan mertuanya.


"Ayo Bos, kok melamun. Aku mau ikut makan lapar!" tukas Vino memukul pundak Arga keras.

__ADS_1


"Arga, sudah sampek kok gak salam. Kitakan gak denger!" sapa Kakek setengah mengomel.


"Maaf Kek, Arga terkejut kalau kalian pada kumpul," jawabnya santai.


"Ayo duduk sini kita makan, Vino ayo!" ajak Romy.


"Iya Om, aku capek banget lapar lagi," jawab Vino semangat lalu mencari bangku kosong diikuti Arga.


Lagi-lagi Arga melebarkan pandanganya berharap Vania muncul dari dapur tersenyum padanya. Namun sepertinya tak ada tanda-tandanya.


"Cari siapa, Ar?" tanya Dana.


"Vania? dia gak bisa kesini," sahut Sandra.


"Iya, Vania sakit," sahut Romy sontak membuat Arga terkejut.


"Sakit?" ucapnya spontan.


"Terus dia dimana, Ma?" tanyanya pada Sandra.


"Dirumah kalian," jawab Kakek.


Arga beranjak dari duduknya.


"Mau kemana?" tanya Mutia.


"Menemui Vania, Ma," jawabnya lalu buru-buru melangkah pergi. Mereka yang menatap kepergian Arga hanya tersenyum.

__ADS_1


...🌿🌿🌿🌿...


Kalau like makin banyak author lanjutin.......


__ADS_2