
"Baaaang, bukak dong.. Tidur yah didalam.." Cintya masih saja terus berteriak sambil menggedor pintu kamar mandi. Berharap Daniel segera keluar.
Cintya tidak perduli jika Daniel akan memakinya atas tindakan yang ia lakukan.
Daniel meraih gagang pintu lalu membukanya dengan kasar
" Apa apaan sih, bisa roboh ini pintu kamu gedor gedor" Daniel memaki Cintya dengan raut wajah kesal.
Cintya yang awalnya ingin mengomeli Daniel, menjadi tercengan dengan apa yang dilihat dihadapannya
"Aaaaaaa......" Cintya berteriak keras sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya
Daniel tersentak mendengar teriakan Cintya. Dia tidak mengerti kenapa Cintya berteriak saat melihatnya.
"Kamu kenapa? " Tanyanya panik
Namun dengan reflex Daniel menunduk kebawah setelah Cintya menunjuk nunjukkan jarinya kearah bawah tubuhnya, sambil masih menutup matanya.
"Aaaaaa..." Gantian Daniel yang teriak, sambil segera masuk kembali kedalam kamar mandi dan menutupnya dengan keras. Braakk
Karna ternyata handuk yang dipakainya tadi melorot sehingga juniornya dengan jelas terpampang nyata di mata indah Cintya.
Cintya yang terkejut mendengar suara pintu yang tertutup dengan keras, membuatnya segera membuka mata. Karna Daniel sudah menghilang ditelan pintu kamar mandi, Cintya dengan cepat berhamburan keluar dari kamar Daniel sambil berlari kearah kolam renang.
Cintya masih memegang dadanya yang berdegup kencang setelah melihat pemandangan yang tidak senonoh
"Haisssss... Mata suciku sudah ternodai.." lirihnya sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya
" Apaan ternodai." protes Daniel. Daniel sudah berada didepan pintu belakang sambil melemparkan baju yang mendarat tepat dikepala Cintya.
Cintya membuka matanya, saat sesuatu mendarat dikepalanya.
"Cuma itu yang ada. lekas ganti sana, terus pulang" Daniel langsung pergi
"Cih, dia mengusirku?, bukannya dia yang bawa aku kemari.!" Cintya berdecih sebal.
Cintya sudah mengganti pakaian basahnya dengan baju pinjaman dari Daniel. Cintya hanya bisa pasrah memandang dirinya dicermin kamar mandi pembantu. Ya, Cintya memang sengaja mengganti bajunya di kamar pembantu. Dia masih merasa trauma dengan penampakan dikamar Daniel .
Mana mungkin aku pulang seperti ini. Apa kata anak anak cobak kalo liat aku pulang pakek baju kekgini. Bisa dipikir yang enggak enggak pasti..
Cintya keluar dari kamar yang biasa dipakai bi Mina istirahat, dan menghampiri Daniel yang sedang duduk di meja makan, memainkan ponselnya.
"Bang, gak ada baju lain apa? mana mungkin aku pulang pake baju kekgini " protes Cintya, setelah berada didepan Daniel
Daniel memandang Cintya dari bawah sampai keatas. Seksi, hanya itu yang terlintas dikepala Daniel.
__ADS_1
Baju kaos ukuran besar dengan logo POLO itu, biasa dikenakan Daniel saat ia tidur. Dan hanya baju itu yang menurut Daniel bisa dikenakan oleh Cintya. Baju yang terlihat kedombroan namun pendek dibagian bawah badan Cintya, kelihatan begitu seksi dimata Daniel. Mata Daniel tidak bisa berkedip saat memandang tubuh Cintya
Kenapa dia bisa seseksi ini saat hanya mengenakan baju seperti ini. Fikiran Daniel menjelajah jauh.
"Tukaaaan pasti lucu.. Abang liatnya aja sampek kekgitu. Gak ada baju perempuan aja apa.! Baju bi Mina pun gapapa lah.." Cintya masi saja merengek mintak ganti.
Daniel memalingkan wajahnya kearah lain. Dia sudah tidak tahan sebenarnya melihat Cintya mengenakan kaos miliknya. " Udah gak ada lagi, cuma itu yang cocok" ujarnya setelah ia dapat menelan salivanya yang serasa sangat susah ditelan.
" Kalo gitu antar aku yah.. pliiiissss..." rayu Cintya dengan mengatupkan tangannya memohon. "Masak iya, aku naik ojol pakek baju kekgini. Bisa bisa aku diculik sama kang ojolnya." Cintya masih berdiri didepan Daniel sambil menurun nurunkan bajunya, berharap bajunya bisa menjadi lebih panjang agar tidak terlalu mengespos paha mulusnya. Namun baiu yang dikenakannya tidak bisa diajak kompromi. Baju itu tetap saja kembali kesemula saat Cintya melepaskan tangannya.
Daniel juga sebenarnya tidak tega menyuru Cintya pulang sendiri. Apa lagi dengan menggunakan pakaian seperti itu. Akhirnya Daniel mengalah.
"Hm" hanya itu yang keluar dari mulut Daniel
"Hm ?, hm apa?" Cintya tidak mengerti maksud Daniel.
" Hisssss, dasar perempuan. " gumamnya pelan namun masi bisa terdengar ditelinga Cintya " Iya iya.. Aku antar.." Ucapnya sambil berdiri, namun masi memalingkan wajahnya agar tidak melihat Cintya.
Dan Cintya merasa sangat senang karna Daniel mau mengantarnya pulang. Sangking senangnya, dia sampai memeluk tubuh Daniel dari belakang.
Daniel yang terkejut sekali gus senang saat Cintya memeluknya, merasakan gejolak di dadanya. Dia ingin Cintya terus memeluknya. Namun akal sehatnya masih bekerja sangat baik.
"Udah siap meluknya? kamu nyari kesempatan yah mau goda aku?" Daniel menggoyang goyangkan badannya agar Cintya melepaskan pelukannya.
Hadehhh... jantung gue.. jantung gue.. jantung Daniel berdegup kencang.
" Peri..peri.. Emang kamu pikir aq peri. Aku ini malaikat pencabut nyawa. Jadi berhati hatilah " ucapnya dengan penekanan, lalu pergi begitu saja
" Huuuu... " Cintya melengos
" Gak mau pulang?" Teriak Daniel.Daniel sudah berada dipintu menuju garasi
"Iya,mauu.." Saut Cintya lalu belari menghampiri Daniel
~
"Bi Mina kemana, kok gak ada dirumah tadi " Daniel bertanya setelah mereka sudah berada diperjalanan
"Tadi bibi nerima telfon dari anaknya, cucunya masuk rumah sakit " Jelas Cintya " Tadi dia udah coba untuk hubungin abang, cuma katanya gak diangkat sama abang ." lanjutnya lagi.
"Tadi ponsel q lowbet," ujarnya cepat
Cintya masih saja menurun nurunkan bajunya agar bisa menutupi pahanya. Sementara Daniel melirik Cintya yang merasa tidak nyaman memakai kaos pemberiannya.
"Gak nyaman yah? maaf.. aku gak tau mau ngasi kamu baju yang mana lagi. Cuma baju itu yang ku rasa cocok untukmu " ujarnya
__ADS_1
"Ya mau gimana lagi, dari pada aku pulang basah basah." Jawab Cintya cemberut
Mobil Daniel berhenti saat lampu lalulintas berwarna merah, dan mereka terjebak kemacetan. Wajar sih, karna jam jam segini memang jam orang pada pulang kerja.
Daniel menyandarkan tubuhnya sambil sesekali melirik Cintya.
"Cintya.. " panggil Daniel
"Hm" Cintya menoleh
"Mmmm... " Daniel tampak bingung ingin menanyakan apa. Daniel hanya ingin menyairkan suasana saja. Karna Cintya hanya diam saja
" Mau nanya apa?"
"Gak jadi. Bingun mau nanyak apa."
Cintya mengerutkan dahinya, melihat tingkah Daniel
"Tadi manggil. Pas ditanya ada apa, jawabnya bingung. Gimana sih" Gumam Cintya pelan
"Ya habisnya kamu diam aja. Ngomong dong.. " ujar Daniel sambil menatap Cintya. Namun bukan wajah Cintya yang tertangkap oleh matanya, melainkan kaos Cintya yang basah dibagian dada. mata Daniel terbelalak melihat pemandangan itu, hingga akhirnya ia memalingkan wajahnya
"Mmmm.. Kamu masi pake Dalaman yang basah tadi ya ?" tanya Daniel gugup.
"Hah.." Cintya reflek menyilangkan tangannya di dada saat memdengar pertanyaan Daniel, lalu menatap tajam kearah Daniel. "Dasar mesuuuummmm...." Cintya membalikkan badannya mengarah ke arah luar sambil masih menyilangkan tangannya.
Daniel menutup matanya, karna merasa salah bertanya. Daniel hanya ingin mengatakan, kalau ia takut Cintya akan masuk angin jika memang Cintya masih memakai ********** yang basah. Namun Cintya malah salah tanggap atas pertanyaannya.
Salah nanya gue.. Daniel menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Bukan gitu maksudnya.." Daniel ingin menjelaskan maksud pertanyaannya, namun Cintya memotongnya.
" Terus maksudnya apa?" Cintya menatap tajam Daniel
"Itu "
"Itu apa?" Cintya memotong ucapan Daniel terus. Sehingga Daniel merasa terpojokkan.
"Tadi kamu udah melakukan pelecehan tau gak." lanjut Cintya dengan berkata keras
"Apa?" Daniel terkejut
"Dasar mesum." gumam Cintya sambil melihat kearah luar jendela. Cintya pun masih dengan setia menyilangkan tangannya untuk menutupi bagian dadanya, seakan akan Daniel akan melakukan hal yang tidak tidak kepadanya.
Sementara Daniel hanya bisa menghela nafasnya pelan, setelah dibilang kalau dia sudah melakukan pelecehan.
__ADS_1
Dasar perempuan. Masa cuma nanyak gitu, dibilang melakukan pelecehan . Daniel hanya bisa berkata dalam hati. Sebab kalau ia masi menjawab omongan Cintya, sudah bisa dipastikan bahwa akan menjadi semakin runyam. Karna wanita selalu benar. Begitu fikir Daniel