CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
part 37


__ADS_3

Beberapa hari berlalu.


Cintya sedang berada di conter tempatnya bekerja. Karna ia adalah SPG tunggal di brand tersebut, sehingga segalanya ia harus kerjakan sendiri. Dari mulai menata pajangan, melipat baju yang berserakan akibat custamer yang terlalu banyak milih, menyusun laporan bulanan, dll. Sudah dari lama Cintya mengajukan permohonan agar bisa diberikan lawan siff, namun kantor belum juga mewujudkan. Dan ia hanya bisa pasrah.


Hari ini adalah awal bulan, dan bertepatan dengan weekend. Sudah bisa dipastikan kalau custamer akan membeludak. Jangankan untuk istirahat, minum saja kadang sampai terlupakan. Mana laporan bulan kemarin belum siap. Sungguh sangat merepotkan bila tidak ada lawan siff. Apa lagi hari ini sebenarnya ia ada janji kencan dengan Daniel. Sudah bisa dipastikan bakalan batal akibat terpaksa harus lembur.


Tapi seperti kata pepatah: pucuk di cinta, ulam pun tiba. Bu Sumi datang menghampiri Cintya di conternya dengan seorang lelaki dengan perawakan tinggi dan lumayan tampan lah menurut Cintya. Laki-laki itu berdiri di belakang Bu Sumi dengan mengenakan pakaian hitam putih. Sepertinya penantian panjang Cintya akan diwujudkan kali ini. Fikirnya


"Cintya kenalkan ini Doni. Lawan siff kamu." ucap Bu Sumi. Alangkah senangnya Cintya, akhirnya sekian lama ia sendiri, alhasil mendapatkan lawan siff juga.


Tanpa fikir panjang ia langsung menjulurkan tangannya untuk sekedar berkenalan dengan pria yang akan menjadi lawan siffnya.


"Cintya" ucap Cintya memperkenalkan diri


"Doonii.." balas Doni seraya menyambut tangan Cintya dengan kedua tangannya.


Namun pepatah kembali berbunyi: janganlah sekali-sekali kamu melihat hanya dari luarnya saja. yang artinya adalah apa yang kamu liat baik diluar belum tentu dalamnya juga begitu.


Dari penampilan, Cintya menggambarkan kalau Doni adalah tipe cowo keren dan cooll. Namun saat Doni mulai berbicara, semua yang Cintya gambarkan hilang seketika. Lemes..


"Baiklah Doni, kamu bisa langsung bekerja hari ini juga yah. Cintya adalah senior kamu, jadi kamu bisa belajar darinya." jelas Bu Sumi, dan dijawab anggukan oleh yang bersangkutan. Dan kemudian Bu Sumi pun meninggalkan conter Cintya sambil mesem-mesem. Sepertinya ia bisa membaca perubahan expresi dari wajah Cintya.


~


Ditempat lain


Jam menunjukkan pukul 13.05, namun Daniel belum juga beranjak dari kursi kerjanya, bahkan hanya untuk sekedar makan siang. Ia masih berkutat didepan laptopnya untuk memeriksa laporan yang diserahlan oleh pegawainya. Karna malam hari ia ada janji kencan dengan Cintya, ia menargetkan agar pekerjaannya dapat selesai pada sore hari. Sangkin tidak ingin diganggu ia sampai menempelkan catatan didepan pintu kantornya dengan tulisan 'Sedang tidak ingin diganggu' dengan emot gambar tanduk iblis. Kalau sudah ada tulisan seperti itu, tidak akan ada yang berani menggangu.

__ADS_1


Ternyata diluar dugaan, tepat pukul 15.00 ia dapat menyelesaikan semuanya.


Daniel merenggangkan otot-otot tubuhnya setelah hampir seharian ia duduk terus. Tak terasa matanya ikut terpejam, namun terbuka kembali saat mendengar notifikasi di ponselnya.


Bibirnya melengkung sempurna saat membaca pesan dari Cintya yang mengatakan "nanti malam jangan sampai telat yah. Kalau telat aku bakal marah " namun dengan emot senyum merona


"Tenang aja sayang, gue gak akan telat." ocehnya sendiri didepan ponsel seakan-akan berbicara langsung dengan Cintya.


Baru saja ia ingin membalas pesan dari Cintya, terdengar pintu kantornya dibuka dari luar dengan kasar.


"Gubrak." anggap aja suara pintu


Sangking terkejutnya bahkan ponselnya sampai terlepas dari genggamannya. Sukur saja kerjaannya sudah selesai. Jika belum, mungkin tanduknya akan benar-benar keluar.


"Astaga Bella... Lo gak liat didepan pintu ada tulisan lagi gak ingin diganggu?" ucap Daniel kesal, lalu memungut ponselnya dibawah meja.


Daniel mengerutkan dahi " siapa temen gue yang suka selingkuh?" Daniel tidak mengerti maksud dari ucapan Bella "Lo ngapain sih kemari, Reza lagi gak ada. Mending lo pulang deh" lanjutnya lagi.


Bukannya pergi karna sudah di usir oleh Daniel, Bella malah menangis sesenggukan sambil menatap tajam kearah Daniel.


"Lo kenapa nangis? yaelaa.." Daniel mendekat kearah Bella dengan selembar tisue yang diambilnya dari atas meja kerjanya lalu memberikannya kepada Bella. Kalau sudah seperti ini, Daniel paham betul pasti mereka sedang bertengkar. "Mending lo duduk, terus cerita." Daniel membawa Bella duduk di sofa.


"Temen lo selingkuh." ucap Bella sambil sesenggukan.


"Udah berapa kali lo nuduh dia selingkuh? tapi gak pernah terbuktikan?" Daniel malah membela Reza.


Bella menangis semakin jadi sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya sambil berkata "Kali ini dia beneran selingkuh."

__ADS_1


Daniel dan Bella memang lebih sering tidak cocok, namun kalau pasangan bucin ini sedang bertengkar, Daniel lah yang selalu menjadi penengah.


Daniel menghela nafas. "Oke kalau lo bilang dia selingkuh. Mana buktinya? "


Bella memberikan benda kecil dari genggamannya kepada Daniel. Daniel mengerutkan dahi. "Tespek" gumam Daniel pelan


"Ini maksudnya apa?" sambil menunjukkan alat tes kehamilan yang ada gambar senyum didalamnya.


"Dari semalam dia gak ada kabar, ponselnya gak aktif. Gue keselkan.. jadi tadi pagi gue datangin dia ke apartementnya, maksudnya gue mau marahin dia, tapi dia gak ada. Gue malah nemu ini di kasurnya." jelasnya


Daniel terdiam. Tidak ada yang masuk ke apartementnya kecuali Reza sendiri, Bella dan dirinya. Karna hanya mereka bertiga lah yang tau sandi pintu apartement Reza. Daniel mulai curiga, namun tidak ia tunjukkan kepada Bella.


"Bukan punya lo?" ucap Daniel sambil tertawa garing.


"Lo gila yah, gue gak pernah pake beginian." ucapnya jujur "Kita selalu pakek pengaman kok."


"Lo udah nanyak ke Reza?" nada Daniel melembut


"Ponselnya masih gak aktif." tangisnya mulai mereda "Dan, dia gak selingkuh kan?" pertanyaannya seakan-akan ia sangat takut dengan kenyataan kalau kekasih yang sudah lama bersamanya akan pergi meninggalkannya.


"Haha... gak lah. Gimana dia mau selingkuh? bukannya tiap hari kalian ketemu?" memang nyatanya begitu


"Lalu ini apa Dan... apa?" air matanya mengalir lagi


Raut cemas diwajah Bella membuat Daniel tidak tega. Ia tidak tahu harus apa, pasalnya Reza tidak ada cerita apapun kedirinya sebagai sahabat. Kali ini ia kehilangan akal untuk menenangkan kekasih dari sahabatnya itu. Ia pun mengambil ponselnya dari atas meja lalu mulai melakukan sambungan telfon ke no Reza. Namun nihil, ponselnya benar-benar tidak aktif. Tidak biasanya Reza seperti ini. Sepertinya kali ini tuduhan Bella benar.


"Sepertinya kata-kata lo bakalan jadi kenyataan Dan. Karna keposesifan gue, Reza bakalan ninggalin gue."

__ADS_1


Daniel hanya bisa diam. Namun dalam benaknya ia masih bertanya-tanya apa benar sahabatnya selingkuh. Tapi kenapa, bukannya dia cinta mati sama Bella? Bahkan mereka sudah lama menjalin hubungan, dan Reza sudah memiliki niat untuk segera melamar Bella. Tapi apa ini? Jalan satu-satunya, ia harus mencari keberadaan sahabatnya itu.


__ADS_2