CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Kecurigaan Wisnu


__ADS_3

Keesokan harinya di rumah besar Wijaya..


Daniah yang baru saja pulang dari rumah sakit, langsung menuju kekamarnya. Saat ia melewati kamar Wisnu, terdengar suara Wisnu sedang berbicara dengan seseorang melalui sambungan telefon yang di loutspeeker. Daniah pun menghentikan langkahnya tepat didepan pintu kamar Wisnu yang terbuka sedikit. "Bicara dengan siapa dia?" gumamnya sambil mencoba mendengarkan.


Dipembicaraan Wisnu di telfon.


"Sebenarnya apa yang bisa kalian lakukan? Semuanya tidak ada yang becus." cerca Wisnu kesal. "baru sehari dia disana, bagaimana bisa kau lost contak dengannya? Apa kau sudah mencoba menghubunginya lagi?" lanjutnya dengan nada marah


"Sudah pak.. Tapi nihil, Dia seperti menghilang ditelan bumi. Menurutku, orang itu tahu kalau ada yang sedang menyelidikinya. Sepertinya orang kami sudah tidak bernyawa lagi sekarang." kata someone dari seberang telfon


Daniah yang masih mendengarkan mengerutkan dahinya Apa maksudnya? Bingung. Daniah sedikit mendorong pintu hingga pintu terbuka sedikit lebih lebar. Terlihat Wisnu sedang mengemas beberapa helai pakaiannya kedalam tas ransel miliknya. Karena posisi Wisnu membelakangi pintu, ia tidak tahu akan kehadiran Daniah


Wisnu menghentikan kegiatannya dan menghela nafasnya. "Kalau menurutmu begitu, sudah bisa dipastikan kalau dia juga tahu siapa yang sudah mengirimnya." tebak Wisnu. "Apa kau masih belum menemukan apapun?"


"Pihak bandara tutup mulut pak.. Aku masih melakukan lego pada seseorang. Ku harap dia mau berbagi sedikit informasi."


"Bayar dia bila perlu. Lakukan apapun untuk membujuknya membuka suara. Feelingku sangat yakin kalau memang dia pelakunya. Aku hanya perlu satu bukti kedatangannya kesini. Selebihnya, biar aku yang mengurusnya. Lakukan tugasmu dengan baik, maka kau akan segera mendapatkan sisa uangmu." Wisnu memutus sambungan telfonnya sambil melanjutkan kegiatannya tadi.


"Kau mau kemana?" tanya Daniah yang berdiri diambang pintu.


Wisnu terkejut dan langsung menoleh kebelakang. "Kakak pulang? Bagaimana dengan mama? Kenapa kau meninggalkannya sendiri?" bukannya menjawab pertanyaan Daniah, Wisnu malah balik bertanya.


"Aku bertanya kau mau kemana?" ucap Daniah mengulang pertanyaannya.


Wisnu tampak gugup "Aku akan pergi kemedan." jawabnya. "Aku akan menemui Reza. Dia sudah sadar." jelasnya.


"Jangan melakukan hal yang bisa membayakan dirimu sendiri." ucap Daniah dingin. Ia tidak percaya kalau Wisnu hanya ingin menemui Reza saja.


Wisnu terdiam sesaat. "Aku hanya ingin mencari keadilan untuk adikku dan keluarga kita. Kau tidak perlu khawatirkan aku. Aku hanya pergi sebentar, tolong jaga mama dengan baik." pintanya pelan


"Boleh aku tahu, siapa yang kau curigai?" Tanya Daniah.


"Dom... Dominic.. Kakak kandung Jovanka." Jawab Wisnu menatap Daniah.


Daniah terkejut tak menyangka. "Apa kau yakin tidak salah mencurigai orang? apa motifnya?." Daniah tidak yakin dengan kecuriaan Wisnu pada kakak dari mantan kekasih Daniel. "Masalah itu sudah selesai dari lama kan.. Dan dia juga sudah tahu kalau bukan Daniel pelakunya. Bahkan dia sendiri yang menghentikan penyelidikan karna mengatakan kalau kejadian itu real bunuh diri."


"Kau benar kak.. Tapi dibalik itu, semua orang yang terkait dengan kejadian hari itu, semuanya tewas satu persatu. Apa kau tidak curiga?"


"Apa maksudmu?" Daniah tidak faham maksud perkataan Wisnu.

__ADS_1


"Kemarilah.." Wisnu memanggil Daniah mendekat. Daniah pun mendekat dan duduk disamping Wisnu diatas tempat tidur. Wisnu menunjukkan beberapa foto mayat dari ponselnya. Daniah menatap Wisnu, meminta penjelasan. "Kau tahu ini siapa?" Daniah menggelengkan kepalanya tidak tahu. Karena memang mayat itu wajahnya sudah tidak berbentuk lagi karena babak belur, jadi dia tidak bisa mengenalinya."Dia detektif yang menyelidiki kasus Jovanca. Dia meninggal satu tahun setelah kejadian itu didalam sebuah gudang. Begitupun dengan ini." menunjukkan foto lain. "Ini adalah Jeon (Selingkuhan Jovanca) Ayahnya juga pengacara mereka.. Mereka juga ditemukan meninggal hanya berselang satu hari dari kematian detektif itu namun didalam gudang yang berbeda-beda, namun dengan luka yang sama dengan detektif itu." Jelasnya.


"Lalu apa hubungannya dengan kasus Daniel yang sekarang? Kau tidak bisa menuduhnya begitu saja hanya karena Daniel juga ditemukan didalam gudang kan? Lagian kalau memang dia pelakunya, bukannya kejadian ini harusnya sudah terjadi empat tahun yang lalu?" jelas Daniah memberikan pendapatnya. "Tuduhanmu sangat tidak masuk akal Wisnu. Dan satu lagi.. Apa pembunuh keempat orang itu adalah benar kakak dari Jovanca? Kalau memang iya, bukannya seharusnya dia berada dipenjara?"


"Sayangnya pembunuhnya masih belum tertangkap hingga sekarang." ucapnya tertunduk.


"Lalu kenapa kau berfikir kalau dia yang membunuh orang-orang itu?".


"Karena sebenarnya Jovanka tidak bunuh diri, tapi dia dibunuh. " ucap Wisnu.


Daniah terkejut bukan main. "A_apa maksudmu?"


"Setahun setelah kejadian itu, Dom berhasil menemukan rekaman cctv yang sengaja disembunyikan oleh orang suruhan ayah Jeon yang tidak lain adalah detektif yang menangani kasus itu dan menemukan bukti rekaman kalau ternyata Jeon lah yang dengan sengaja mendorong Jovanca hinggak jatuh dari atap gedung."


"Lalu?"


"Sepertinya Dom tidak mengambil jalur hukum. Tapi main hakim sendiri dengan melenyapkan orang-orang itu satu persatu.."


"Dari mana kau tahu semua ini?'"


"Seseorang barusaja memberitahuku kemarin."


"Ntah lah.. Feelingku sangat kuat kak. Begitupun dengan hatiku." ucap Wisnu yakin.


"Lalu apa kau akan mengintrogasi Reza yang baru saja sadar dari komanya? Bukannya sudah ada detektif yang sudah menanganinya? Kau tidak perlu datang langsung kan?" ujar Daniah. Wisnu terdiam. "Sebenarnya apa yang ingin kau lakukan huh?"


Wisnu menatap Daniah sendu. " Sebenarnya aku ingin menemui gadis itu." ucapnya.


"Gadis itu? Gadis yang menjadi salah satu korban dikasus Daniel dan Reza?" tanya Daniah memastikan. Wisnu mengangguk. "Kau mau apa dengannya? Dia sudah cukup sengsara dengan kejadian ini. Bahkan aku dengar dia sering melakukan percobaan bunuh diri saat seseorang menyinggung kejadian itu. Aku tidak akan membiarkanmu menganggunya." ucap Daniah mencegah.


"Hanya ini jalan satu-satunya kak."


"Tidak Wisnu.. Kalau memang dia mau bicara, mungkin sudah dari awal kasus ini bisa terpecahkan. Bukannya kau bilang Reza sudah sadar? Kita dengarkan saja dulu penjelasan darinya. Kenapa kau harus mengganggu gadis itu?"


"Reza memang sudah sadar, tapi masih belum bisa diambil keterangannya karena sepertinya dia masih belum begitu pulih." jelasnya menerangkan kondisi Reza saat ini.


"Kalau begitu kita tunggu saja. "


"Mau sampai kapan kak? bukan berarti setelah sadar ia akan secepat itu pulihnya kan? Kau juga seorang dokter, kau juga tahu apa yang terjadi pada seorang yang kepalanya terluka akibat benturan keras. Bahkan dia sudah koma selama dua bulan. Bisa saja ia akan mengalami amnesia ataupun semacamnya." ucap Wisnu. "Lagipula sudah tidak ada waktu lagi kak. Sepertinya Dominic sudah tahu kalau aku sedang menyelidikinya. "

__ADS_1


Delena menghela nafasnya dalam. "Tapi aku tidak ingin terjadi sesuatu pada gadis itu. Aku tahu bagaimana traumanya dia." lirihnya.


"Aku akan membujuknya dengan baik. Lagipula aku sudah tahu kalau gadis itu sebenarnya punya hubungan yang cukup dekat dengan Daniel."


"Hubungan dekat?" tanya Daniah tak percaya.


Wisnu mengangguk. " Gadis itu adalah kekasih Daniel."


Daniah terkejut hingga mulutnya ternganga. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Cintya adalah kekasih adiknya. "Darimana kau tahu? Bukannya semenjak kejadian itu, Daniel tidak mau dekat dengan wanita manapun?" Daniah benar-benar speecles.


"Hm aku tahu. Tapi begitulah info yang aku dapat. Makanya aku sangat ingin bertemu dengannya. Siapa tahu dia mau cerita setelah tahu siapa aku." Wisnu menggenggam tangan Daniah. "Aku janji, aku akan membuat keluarga kita kembali seperti semula tanpa harus melukai orang lain yang tidak bersalah.. Aku hanya butuh dukungan dari kakak. Tapi ku mohon jangan beritahu pada mama ataupun papa tentang kepergianku ini. " mohonnya. Daniah hanya bisa mengangguk pelan. "Aku harus pergi sekarang." mengambil ranselnya dan bergerak ingin pergi.


"Wisnu.." panggil Daniah. Wisnu menghentikan langkah kakinya. "Ku mohon berhati-hatilah. Dan kembali secepat mungkin. Aku sangat membutuhkanmu disini." ucap Daniah sendu.


Wisnu mengangguk. "Aku akan kembali dengan cepat. Jagalah mama dan Daniel, juga papa.." ujarnya lalu benar-benar pergi meninggalkan Daniah yang sudah menangis sesenggukan dikamar Wisnu.


Ditempat lain.


"Melky.." panggil Dini dengan berteriak dan berlari mendekat kepada Melky yang baru saja keluar dari parkiran.


Mendengar namanya dipanggil, Melky langsung menghentikan sepeda motornya. Dan tanpa aba-aba, Dini langsung naik keatas motor Melky. "Aku nebeng ya.."ucapnya


"Rumah kita gak searah Din." tolak Melky dingin.


"Aku tahu.. Ayo cepat antar aku." tanpa dosa Dini tidak perduli kalau rumah mereka beda arah dan tetap ingin minta diantar pulang.


Melky sudah tidak bisa mengelak lagi. Mau tidak mau, ia pun akhirnya mengantar Dini pulang kerumahnya. Diperjalanan, Dini tak henti berbicara. Dini membicarakan banyak hal ini dan itu. Walaupun Melky tidak menanggapi, tetap saja Dini tidak berhenti untuk bicara. Sampai akhirnya mereka pun sampai didepan gerbang rumah Dini.


"Ayo masuk.." ajak Dini


"Aku langsung pulang aja." tolak Melky


Dini memasang wajah cemberut. " Padahal mamaku sudah masak makanan kesukaanmu. Tapi yasudahlah, kau boleh pulang." ucapnya sambil bergerak membuka gerbang.


Mendengar ucapan Dini, Melky jadi tidak enak hati untuk tidak mampir. Alhasil Melkypun akhirnya ikut masuk kerumah Dini.


Sesampainya didalam, Melky disambut hangat oleh mamanya Dini dan langsung diajak keruang makan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2