
"Apa sebelumnya kita saling mengenal?" tanya Daniel saat menerima uluran tangan David untuk berjabat tangan.
David terlihat mencoba mengingat, lalu kemudian ia menggelengkan kepalanya. " sepertinya tidak." jawabnya sambil melepaskan jabat tangan.
"Mm wajah anda terlihat tidak asing." ucap Daniel sambil tersenyum. "Hufh, baiklah kalian bisa duduk disana." tunjuk Daniel pada satu-satunya meja yang masih kosong.
"Randi.. tolong catat pesanan mereka." serunya lagi pada kariawannya.
David dan kedua sahabat Cintya pergi menuju ke meja yang ditunjuk oleh Daniel diikuti oleh satu kariawan Daniel yang akan mencatat pesanan mereka. Sementara Cintya masih sangkut disisi Daniel karna pergelangan tangannya di tahan oleh tangan Daniel
"Kenapa?" tanya Cintya saat tersadar pergelangannya dicekal oleh Daniel
"Kok bisa sama bule? udah pindah profesi sekarang?" tanyanya menuntut penjelasan
"Kok pindah profesi sih?" kata Cintya tertawa mendengar pertanyaan konyol dari Daniel "David itu kenalan aku waktu aku pulkam sama Tama kemaren. Eh gak taunya tadi jumpa lagi di mol. Dia bilang mau bandari ngopi, Dini langsung setuju. yaudah, jadi ikut semua deh. " jelasnya panjang lebar
"Jangan terlalu dekat dengan orang asing" kata Daniel mengingatkan.
"Siap pak boss.." kata Cintya sambil mengangkat tangannya seperti orang sedang hormat
~
"Apa kau tidak suka dengan Coffe Cintya?" tanya David yang melihat Cintya memesan minuman lain.
"Aku gak bisa minum coffe." jawab Cintya menggelangkan kepalanya
"Kalau dia minum coffe, bisa-bisa dia gak tidur semalaman." tambah Kanya yang memang mengerti.
Oh" David ber oh tanpa suara sambil mengangguk mengerti lalu kemudian tersenyum. "Kalian boleh memesan apa aja, tidak hanya coffe." ujarnya lagi
"Mmm kami kan udah makan tadi, jadi cukup ini aja."
tolak Cintya
"Baiklah."
"Apa kalian udah siap memesan?" tanya Daniel yang baru saja datang dan berdiri disamping Cintya.
"Udah bang, cuma mesan minuman doang, soalnya tadi udah makan di mol. Kenyang." jawab Dini " Tapi gak tau tu kak Cintya udah kenyang apa belom. Soalnya tadi cuma makan sedikit." lanjutnya,
Daniel menoleh kearah Cintya yang saat ini juga sedang menatapnya. " Kamu mau makan apa?" tanyanya lembut
"Aku udah makan tadi. Dini aja yang berlebihan, orang tadi aku makannya banyak." Cintya beralasan.
__ADS_1
"Bohong tu bang, tadi dia cuma makan Tendon doang, mana ada kenyangnya. Mana nasinya gak dimakan lagi, cuma dagingnya doang. " giliran Kanya yang melebih lebihkan.
"Kalian kerestoran jepang?" tanya Daniel, dan ketiga gadis itu mengangguk. "Pantes." lanjutnya lagi sambil tertawa
"Kamu mau aku buatkan steak?" Daniel menawarkan Cintya makanan kesukaannya. Dan ia juga tau kalau Cintya kurang suka makanan jepang.
"Boleh.." jawabnya senang. Steak buatan Daniel memang paling pas dimulut Cintya. Dan memang dari tadi makanan itulah yang dicarinya.
"Yaudah aku buatkan sebentar." katanya sambil mengelus singkat kepala Cintya.
bluss.. Wajah Cintya seketika merona saat Daniel mengelus singkat kepalanya didepan teman-temannya. Hatinya terasa sangat senang mendapatkan perhatian Daniel.
"Apa kalian sepasang kekasih?" tanya David yang melihat Daniel begitu perhatian dengan Cintya.
"Tidak.." Cintya
"Iya" Daniel
Seketika pandangan mereka bertemu karena jawaban mereka yang berbeda. Cintya terlihat menyesal atas jawabannya, namun Daniel tetap mencoba memberikan senyumannya, walaupun ada raut kekecewaan diwajahnya.
"Yaudah, aku permisi sebentar." pamit Daniel lalu berjalan pergi.
Hati Cintya berdegub kencang sambil terus memandang punggung Daniel yang berjalan menjauh. Ia merasa sangat menyesal dengan jawabannya barusan.
"Mmm.. " Cintya terlihat bingung mau menjawab apa sambil melirik kedua sahabatnya.
"Itu tadi gebetannya kak Cintya. Mereka saling suka, hanya aja belum saling mengungkapkan. BELUM.." Dini menegaskan diakhir kalimat.
Cintya tersenyum hambar kepada David, saat mendengar Dini menjelaskan hubungannya dengan Daniel yang belum ada pengesahan.
"Udah Cin gak apa-apa. Memang nyatanya kalian belum pacaran kan?" bisik Kanya yang duduk bersebelahan dengannya. Kanya mengerti betul expresi wajah Cintya yang tiba-tiba berubah.
Sejak itu, Daniel tidak ada muncul sama sekali. Bahkan steak pesanan Cintya, diantarkan oleh kariawannya. Cintya semakin merasa bersalah, ia yakin Daniel pasti sangat malu karna jawaban mereka yang berbeda didepan David dan kedua sahabatnya.
"Aku ketoilet sebentar." Cintya bangun dari duduknya, lalu kemudian pergi saat sahabatnya terlihat mengangguk.
Cintya berjalan menuju toilet, namun matanya terus berkeliling mencari keberadaan Daniel. "Dimana dia.." gumam Cintya karna tidak menemukan jejak Daniel sama sekali. "Apa dia diruangannya yah.." Cintya menerka-nerka sambil memandang kelantai atas dimana ruangan Daniel berada. Tapi ia tidak berani langsung naik keatas menjumpai Daniel. Cintya merasa itu kurang sopan. Jadi ia memilih membiarkannya saja.
Didalam toilet ia hanya bisa menyesali dirinya. Memang jawabannya juga benar kalau mereka bukanlah sepasang kekasih karena Daniel belum pernah mengungkapkan perasaannya. Tapi entah mengapa dia merasa jawabannya sudah salah, karena Daniel malah meng'iya kan pertanyaan David. "Ohh ya ampun.." Cintya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Cintya dan pria tadi terlihat sangat cocok." kata David memecah keheningan
Kanya dan Dini mengangguk setuju.
__ADS_1
"Cuma, bang Danielnya belum mengungkapkan perasaannya." terang Kanya merasa kasihan dengan Cintya sambil menghela nafas.
"Tenang aja, gak lama lagi juga mereka bakalan jadian. Gak dengar tadi bang Daniel jawab apa?" sambung Dini, Kanya kembali mengangguk.
Sementara David hanya tersenyum miring sambil kembali menikmati coffe late pesanannya.
Berulang kali Cintya menghela nafasnya sebelum akhirnya ia keluar dari dalam toilet. Saat ia ingin kembali ke mejanya, ia melihat seseorang wanita yang dikenalnya naik kelantai atas dimana ruangan Daniel berada.
Cintya mendekat kearah pelayan cafe yang kebetulan sedang berdiri didepan kasir. " Apa boleh tau bang Daniel ada dimana?" tanyanya pelan.
"Eh mbak Cintya, pak Daniel ada diruangannya mbak. tadi habis masak steak dia langsung naik." jawabnya dengan sopan karena ia tau kalau Cintya adalah teman dekat bosnya. "Apa perlu aku panggilkan?" tanyanya lagi
"Aahh gak perlu, aku balik kemeja aja." jawabnya lalu berjalan kembali kemejanya.
"Udah siap dari toiletnya? "tanya Kanya saat Cintya duduk kembali dikursinya. Cintya hanya mengangguk.
"Dimakan tuh steaknya, entar keburu dingin" lanjutnya lagi sambil tersenyum.
Bukan memakannya, namun Cintya hanya terus menatap steak yang terhidang dihadapannya. Cintya sudah tidak berselera lagi memakannya. Tapi tiba-tiba piring Cintya ditarik oleh David.
"Sepertinya kamu kurang berselera saat ini. Jadi biar aku yang memakannya." ucap David tiba-tiba dan langsung memasukkan potongan steak kedalam mulutnya.
Cintya hanya bisa pasrah steak kesukaannya dimakan oleh David. Sementara Kanya dan Dini terlihat tidak suka kepada David yang sesuka hatinya mengambil makanan milik Cintya begitu saja. Apa lagi mereka tahu kalau Daniel lah yang secara khusus memasak steak itu untuk Cintya.
Namun saat Kanya terlihat mulai ingin protes, Cintya menahannya dengan memegang tangan Kanya. "Gak apa-apa." ucapnya tanpa suara.
"Mmm.. sepertinya ini terlalu matang. Apa kamu memang menyukai daging yang matang sempurna Cintya?" tanya David tanpa Dosa
"Iya, aku memang tidak suka daging yang kurang matang." jawabnya dengan senyum yang dipaksakan.
"Pantas saja kamu tidak suka makanan jepang yah." katanya lagi sambil terus memakan steak Cintya sampai habis.
~
"Sebaiknya kita pulang, ini sudah terlalu larut untuk para gadis berkeliaran di luar rumah." kata David setelah melihat arloji di tangannya. "Aku akan membayar makanan kita" David pun bergegas ke kasir
"Cin, dimana bang Daniel? apa dia marah samamu?" tanya Kanya penasaran karena sejak tadi ia tidak melihat keberadaan Daniel. Padahal biasanya kalau mereka datang, Daniel selalu ikut gabung dengan mereka bahkan Daniel lah yang selalu mengantarkan Cintya pulang.
"Dia lagi ada tamu. Jadi biarin aja, gak usah diganggu." jawabnya sesantai mungkin. Padahal didalam hatinya sudah seperti ada yang menahan laju jantungnya, sehingga dadanya terasa sesak.
"Darimana kau tau?" tanya Kanya lagi
"Tadi aku lihat temannya naik ke atas, bahkan belum terlihat turun sampek sekarang. Jadi udah biarin aja."
__ADS_1
Kanya mengangguk mengerti.