
Cintya duduk bersilah dan memejamkan matanya seperti sedang semedi sambil menghela nafasnya panjang, lalu kemudian dihembuskannya keluar secara perlahan. Ia lakukan hingga beberapa kali. Tapi tetap saja tidak bisa membuat hatinya bisa lebih baik. Tadi malam adalah malam yang terburuk yang pernah Cintya alami. Bagaimana tidak, ia terus saja bermimpi tentang pria yang paling ia benci untuk saat ini. Sungguh sangat menyebalkan..
Sementara itu, Doni yang baru saja masuk untuk mengisi siff siang berjalan kearah konternya dengan berdendang ria sambil memutar-mutarkan gantungan kunci motor meticnya di jari telunjuknya sambil sesekali menyapa ramah kariawan lain yang conternya dilewati olehnya. Ntah mengapa hari ini ia begitu sangat bersemangat untuk bekerja.
Namun begitu sampai di dalam conternya.. " Oh my god.." Doni sampai memegang dadanya dengan mata yang sudah melotot. Ia terkejut bukan main saat menemukan kakak seniornya malah tertidur di balik meja dengan posisi duduk bersilah namun dengan kepala yang tertunduk. "Iihh.. apaan sih mbak Cintya ini, ngejutin aja. Hampir copot jantung aku." katanya dengan suara seperti perempuan. Namun tidak ada tanggapan dari Cintya
"Ni orang tewas, apa tidur.." kata Doni sambil menyentuh pundak Cintya, namun nihil Cintya tak juga bergerak.
"Aduhh... dia gak bergerak. Jangan-jangan beneran tewas.." ucap Doni begidik ngeri
Namun tiba-tiba Cintya bergerak mengangkat kepalanya, membuat Doni terkejut untuk kedua kalinya.
"Astaga mbak Cintya, kenapa sukak benget sih ngejutin Doni.." kata Doni dengan setengah berteriak.
Mendengar suara Doni, giliran Cintya yang terkejut. Bahkan matanya yang sedari tadi enggan untuk terbuka, dengan cepat langsung terbuka lebar.
" Ihh apaan sih Doni.. ngapaen tereak-tereak. Berisik tau gak. Bikin terkejut aja." omel Cintya sambil bergerak berdiri dan mencoba berusaha mengembalikan kewarasannya setelah sedari tadi ia sudah merasa sangat gila dibuat oleh mimpinya tadi malam. Sampai akhirnya ia memilih untuk tidak tidur kembali karena takut kalau mimpinya akan terus berlanjut. Dan akhirnya berimbas pada sekarang ini. Matanya benar-benar tidak bisa diajak kompromi, dan akhirnya ia malah tertidur di kerjaannya.
"Hidih.. malah ngomel. Mbak kira ini hotel iya? enaknya aja dia tidur disitu." balas Doni tak mau kalah. "Sukur aja aku yang lihat, kalau sampai buk Sumi yang lihat gimana? dipecat mau?" lanjutnya lagi
"Ihhh... itu mulut udah kayak mercon ya kalo ngomong." Cintya sudah malas menanggapi
"Mbak ngapain tidur disitu?" tanyanya penasaran. Tak biasanya Cintya bertingkah bodoh seperti itu. Selama ia bekerja menjadi lawan siff Cintya, kakak seniornya itu selalu memberikan contoh yang baik. Jangankan tidur di conter, bahkan untuk sekedar mengular saja ia tidak pernah.
"Aku ngantuk banget tau gak sih Don.. tadi malam gak bisa tidur." jawab Cintya sambil menguap, bahkan matanya masih terlihat sangat mengantuk.
"Ya tapi gak tidur disitu juga kali mbak. Kan bisa minta izin pulang aja sama buk Sumi. Bilang lagi sakit kek.. Gak mikir apa ya kalau sampek bu Sumi tadi lewat, terus liat mbaknya tidur di conter." cerocos Doni panjang lebar.
__ADS_1
"Ihh.. be ri sik.." Cintya memilih untuk menutup kupingnya dan berlalu pergi meninggalkan Doni yang masih saja terus merepet.
"Ih dasar perempuan aneh.." gerutu Doni sedikit kesal.
~
"Ya ampun..capek kita nyariin dia Din dari tadi. Eh rupanya dia disini." kata Kanya kepada Dini
Saat Cintya pergi meninggalkan conter, Doni langsung melapor kepada Dini perihal sikap Cintya yang sedikit agak aneh bahkan sampai tidur diconter. Dan sekarang malah pergi meninggalkan conter dan belum juga kembali dari setengah jam yang lalu.
Dini pun melapor kembali kepada Kanya. Dan mulailah Kanya dan Dini mencari keberadaan sahabat mereka itu sampai akhirnya mereka menemukan Cintya yang tertidur pulas di musolah dengan masih mengenakan mukenah. Dan yang membuat Kanya dan Dini menganga, ternyata Cintya tidak tidur sendiri. Melainkan bersama dengan Melky yang juga tertidur dengan saling berhadapan.
Dini dengan segera bergerak mendekat kearah Melky "Woii bangun.." Dini mencoba membangunkan Melky dengan memberikannya pukulan keras di lengan Melky.
Melky menggeliat lalu perlahan matanya mulai terbuka.
"Hmmm ganggu aja kelen berdua.." omelnya dengan suara serak khas suara orang baru bangun tidur saat matanya menemukan kehadiran Kanya dan Dini. "Gak tau orang lagi tidur apa.." sambungnya sambil mencoba untuk tidur kembali.
"Ssssttt... jangan berisik, Istri aku lagi tidur. Mending kalian pergi." usir Melky dengan suara dibuat sepelan mungkin agar tidak mengganggu Cintya yang terlihat masih tertidur pulas.
Kanya melengos mendengar ucapan Melky yang mengatakan Cintya adalah istrinya.
"Mimpimu ketinggian tau gak. Udah sering ditolak,tapi masih aja ngarep terus." geram Kanya dengan tangannya yang menjewer kuping Melky.
"Aduh.. sakit tau gak." teriaknya sambil mengusap-usap telinganya yang terasa perih.
"Makanya jangan suka bikin orang kesal." balas Kanya.
__ADS_1
"Kalian udah kayak kucing sama anjing" kata Dini terkekeh melihat Kanya dan Melky yang sesalu bertengkar kalau sudah bertemu
"Hiissss... berisikk.." ucap Cintya yang merasa terganggu "Bisa gak sih kalian biarkan aku tidur sebentaaarrr aja. " omelnya, membuat tiga manusia yang ada dihadapannya menjadi terdiam
"Gak di kos, di conter, bahkan disini pun adaa aja yang ganggu." "Aku musti tidur dimana, biar gak ada yang ganggu huh?"
"Di kuburan..." jawab Kanya kesal.
"Ih enak aja nyuru dia tidur dikuburan." saut Melky tak terima. " mending tidur dirumah aku aja yok sayang.." Sambung melky berganti kepada Cintya
"Hidih.. ogah." sergah Cintya " ngapain sih kalin berisik banget."
"Kakak tau gak kalau tadi si Melky tidur bareng sama kakak?" Dini bertanya balik.
"Dia? tidur bareng aku?" tanyanya Cintya, Kanya dan Dini mengangguk bersamaan, sementara Melky hanya tersenyum seperti orang tanpa dosa.
"Hmm.. aku tau." jawabnya santai sambil membuka mukenah yang dikenakannya lalu bergerak melipatnya.
"Kakak tau, tapi kakak gak apa-apa gitu? " kata Dini merasa tak percaya kalau Cintya bisa sesantai itu.
"Udah kenak pelet si Melky dia." tambah Kanya sambil menyeringai
"Ih untuk apa pakek pelet. Cukup dengan ikhtiar dan berdoa aja, udah cukup buat ku untuk mendapatkan cintanya.." saut Melky sambil menyunggingkan bibirnya merasa bangga karena Cintya tidak marah, dan malah membiarkan ia tidur disampingnya. " Lagian dia aja gak marah aku tidur disampingnya, kenapa para nenek sihir yang kerepotan." sambil mencoba tidur di pangkuan Cintya. Namun dengan cepat Cintya memindah kan kakinya.
"Eh jangan macam-macam yah.." Melky mendapat jeweran dikupingnya, sampai ia merintih kesakitan. Membuat Kanya dan Dini tertawa puas melihat penderitaan Melky. " Tadi itu aku ngantuk banget.. makanya ku biarin kau tidur disampingku. Aku malas berdebat. Tapi sekarang jangan harap, sekarang aku udah gak ngantuk lagi gara-gara kalian bertiga." gerutu Cintya yang merasa sangat kesal karena tidak bisa tidur dengan damai.
"Iihh.. kami kok kenak juga sih Cin. Kan kami hanya ingin menyelamatkan mu dari buaya darat" sergah Kanya
__ADS_1
"Tapi tetap aja, kalian semua itu be ri sik.. Sama kayak si Doni." Cintya bangkit dari duduknya lalu kemudian pergi begitu saja meninggalkan ketiga orang yang saat ini malah asik otot-ototan sehingga membuat ruangan yang biasanya selalu damai dan tentram itu menjadi benar-benar sangat berisik.
♡♡Jangan lupa Vote, Like, dan Komen ya 🥰🥰