CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Perkenalan David


__ADS_3

"David, kenalkan teman-temanku. Yang ini Kanya, dan ini Dini." ucap Cintya memperkenalkan kedua sahabatnya yang terlihat masih bengong di kursi mereka masing-masing


"Hay, aku David" David mengulurkan tangannya kepada Kanya dan Dini secara bergantian.


"Sejak kapan kau punya kawan bule Cin" bisik Kanya yang duduk disamping Cintya.


"Kau ingat bule yang aku ceritakan waktu aku pulang kampung kemaren? ini dia orangnya. " jelas Cintya juga dengan berbisik.


Kanya tampak terkejut dan mencoba menelisik wajah David lebih dalam " kayak gak sama, sama yang ada diponselmu." celetuknya tepat dihadapan David


"Apa kau masih menyimpan foto kita Cintya?" tanya David kepada Cintya yang terlihat sedang mengutak atik ponselnya mencari keberadaan foto mereka berdua.


"Tentu." Cintya menunjukkan foto yang ada diponselnya kepasa David dengan rasa bangga.


Dini mendekatkan wajahnya pada ponsel Cintya, lalu berbalik menatap David." Beda" ucapnya polos


David tertawa keras mendapati teman-teman Cintya yang terlihat sangat lucu dimatanya saat menemukan perbedaan pada dirinya dan juga foto yang tertera di ponsel Cintya.


"Apa kalian tidak memperhatikan kalau sekarang aku memiliki brewok?" ucap David menjelaskan sambil menunjukkan brewoknya yang terlihat semakin maco untuknya.


"Hmm.. hanya brewoknya yang berbeda, tapi tampannya tetap sama." kata Kanya saat melihat David lebih dekat lagi, membuat David semakin tertawa.


"Tapi kenapa dia sangat pandai bahasa indonesia?" giliran Dini yang bertanya.


"Karna dia udah lama disini Dini". Cintya yang menjawab, dan Dini hanya mengangguk mengerti.


"Apa kalian sudah mau pulang?" tanya David yang menyadari kalau meja yang mereka tempati sudah penuh dengan piring kotor.


"Iya, kami udah selesai makan. tapi kami masih mau jalan-jalan lagi sih" terang Cintya


"Apa kalian mau menerima traktiran ku?" tawarnya dan dijawab gelengan oleh Cintya


"Tidak perlu, kami sudah membayarnya"


"Owh begitu" jawabnya kecewa. " Bagaimana dengan traktiran coffe."tawarnya lagi


"Setuju.." jawab Dini sambil tersenyum hingga menunjukkan deretan giginya.


Kanya dan Dini hanya bisa saling pandang lalu kemudian tertawa dengan tingkah Dini yang terlihat sangat antusias menerima traktiran dari David.


"Baiklah, ada yang bisa merekomendasikan tempat yang enak?" tanya David.


"Bagaimana kalau disitu aja" ucap Dini seraya menunjuk salah satu geray coffe yang terlihat ramai oleh pengunjung.

__ADS_1


"Apa kau gak lihat disana rame?" cercah Kanya


"Bagaimana kalau kita ke cafe bang Daniel aja. Disana juga ada coffe yang enak. " giliran Cintya yang memberi suara. " Lagian uda dari siang kita disini, apa gak bosen?" lanjutnya lagi


"Huu, bilang aja kau mau jumpa sama dia." kata Kanya sambil menyunggingkan bibirnya.


"Aku cuma ngasih saran. Kalau kalian gak mau yasudah"


"Aku setuju, sebaiknya kita langsung meluncur kesana." Dini kembali memberikan gebrakan dengan semangatnya untuk menuju ke cafe milik dari gebetan Cintya tanpa menunggu persetujuan dari sang pentraktir. Tidak lupa,ia juga langsung menarik tangan Kanya dan langsung berjalan mendahului Cintya dan David yang terlihat bengong menatap punggung mereka.


"Sepertinya temanmu sangat bersemangat." ucap David tertawa


"Sepertinya begitu." balas Cintya juga tertawa


~


Dini terus mengembangkan senyumnya disepanjang perjalanan mereka menuju cafe Daniel


"Apa gak kering gigimu itu daritadi senyum terus" Kanya yang duduk di kursi belakang bersama dengan Dini tiada hentinya mencerca Dini yang terlihat sangat senang.


"Apa kakak gak senang naik mobil sebagus ini?" bisiknya masih dengan senyum yang mengembang.


"Biasa aja." jawab Kanya sombong "Lagian apa yang perlu dibanggakan, cuma naek doang, bukan jadi pemiliknya." lanjutnya lagi sambil kembali memainkan ponselnya.


"Kak, ayok selfi " Dini tiada habisnya memberikan keheboan di dalam mobil sport milik David mustipun sudah bolak balik Kanya menyercanya karna sudah bersikap berlebihan.


"Kenapa kau meminta maaf. Aku malah sangat senang dengan teman-temanmu. Mereka sangat lucu." jawab David tersenyum


"Hmm lucu dari mananya." gumam Cintya sambil memandang Kanya dan Dini yang terlihat tidak berhenti beragumentasi dikursi belakang.


Akhirnya mereka sampai juga di parkiran cafe milik Daniel. Kanya dan Dini sudah turun dari mobil, dan disusul oleh Cintya yang juga ingin turun. Namun sejenak ia menoleh kearah David yang terlihat enggan untuk turun.


" Apa kamu tidak suka tempatnya? kalau kamu tidak suka, kita bisa pindah ketempat lain" kata Cintya saat melihat wajah David yang tiba-tiba muram.


"Emm tidak, tentu aku sangat suka tempatnya. Tapi sepertinya aku harus menelfon seseorang dulu. kamu dan temanmu diluan saja, aku akan segera menyusul." jelasnya dengan seuntas senyum, dan dijawab anggukan oleh Cintya lalu benar-benar turun dari mobil.


Saat Cintya sudah menutup pintu mobil, ia pun melakukan panggilan kepada seseorang.


~


"Hay bang Daniel" sapa Dini dengan senyum ceria saat Daniel yang berdiri didepan kasir melihat kedatangan mereka.


"Hay bang." gantian Kanya yang menyapa Daniel dengan seuntas senyum dibibirnya saat mereka sudah begitu dekat dengan Daniel.

__ADS_1


"Kalian cuma berdua?" tanya Daniel sambil mencari keberadaan gadis ketiga, yang tidak lain adalah Cintya.


"Dia ada, tenang aja." cerocos Kanya sambil melipat bibirnya menahan tawa saat melihat expresi Daniel yang terlihat sangat lucu saat celingak celinguk mencari keberadaan Cintya.


"Hay bang Daniel.." sapa Cintya yang baru saja datang.


"Lama banget sih Cin nyusulnya. Kasihan noh bang Daniel nyariin." kata Kanya yang seakan-akan sedang menggoda Daniel.


"Huh, kamu ya Kanya, gak pernah berubah. Kalo ngomong suka bener." kata Daniel, dan mereka semua pun akhirnya tertawa. "Kenapa gak bilang mau kesini?" tanya Daniel lagi namun dengan tatapan jatuh pada Cintya yang memang selalu terlihat mempesona dimatanya.


"Biar surprise.." teriak Dini sambil tertawa. Entah mengapa, hari ini Dini terlihat begitu sangat senang dan bersemangat.


Daniel bahkan sampai terperanjat oleh suara teriakan Dini.


"Iihh.. badan aja kecil, tapi suara ngalahin petir." umpat Kanya sambil mendekap mulut Dini.


"Udah-udah jangan bertengkar." kata Daniel dengan senyumannya. Sepertinya bukan hanya Dini yang sangat senang hari ini, tapi Daniel juga. Sangat terlihat dari garis wajahnya yang menunjukkan kebahagian saat melihat kedatangan tiga gadis yang ada dihadapannya.


"Kalau tadi kalian bilang akan datang kan aku bisa mengosongkan satu meja yang layak untuk kalian." Ucap Daniel


"Bukannya itu meja kosong?" tunjuk Dini pada meja kosong yang ada tanpa mengerti maksud dari ucapan Daniel


"Maksudnya meja yang lebih istimewa." jelas Daniel.


"Tenang aja bang, kita duduk dimana aja gak masalah kok, yang penting di traktir." katanya semangat


"Huu.." ejek Cintya dan Kanya bersamaan.


"Tenang aja, untuk kalian makan apa aja gratis." jawab Daniel tak kalah bersemangat dari Dini


"Eit enggak-enggak." kanya mengibaskan tangannya "Kali ini Kita kemari udah bawak bandar bang. " lanjutnya lagi sambil tertawa, Cintya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kedua sahabatnya.


Daniel menautkan kedua alisnya tidak mengerti.


"Nah tu dia orangnya.." lanjut kanya lagi saat melihat David yang masih berada diambang pintu datang menghampiri mereka, Daniel dan yang lainnya juga ikut menoleh.


"Hay.. hay. Kenapa kalian belum duduk? apa tidak ada meja kosong?" tanyanya saat sudah berkumpul.


"Ada kok, kami hanya lagi ngobrol aja sama pemiliknya." ucap Cintya menjelaskan.


"Bang Daniel kenalin, ini David." Cintya mengenalkan David dengan Daniel.


"David.." David memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Daniel terdiam sejenak sambil terus memandang wajah David yang sepertinya adalah orang yang pernah ia kenal.


"Apa sebelumnya kita pernah saling mengenal?" tanya Daniel saat ia menerima uluran tangan David.


__ADS_2