
Dini tampak terdiam berdiri di depan conternya. Sudah persis seperti patung manekin. Dia tidak memperdulikan orang yang lalu lalang dihadapannya.
Didalam isi kepalanya tengiang-ngiang kata-kata yang sangat menyakitkan yang terlontar dari mulut Tama sang mantan kekasih.
"Dasar gak punya otak.." bisa-bisanya Tama melontarkan kata-kata seperti itu.
Hanya karna salah faham ini hidupnya menjadi suram. Bahkan semenjak putus dari Tama ia tak lagi memiliki hibungan dekat dengan lelaki lain. Mestipun Tama adalah mantan ke 4 nya, namun ntah kenapa Tama berbeda dari mantan-mantannya yang lain. Begitu sulit untuk melupakannya.
Tama yang baik, Tama yang lumayan Tampan, Tama yang pintar, serta Tama yang pandai mencairkan suasana menjadi suasana yang lebih hangat dan ramai dengan segala banyolannya.
Sebenarnya Tama dan Melky adalah satu kesatuan yang sangat cocok, karna sama-sama memiliki selera humor. Bahkan saat sebelum ada masalah ini, mereka berdua adalah teman baik.
Tama, Melky, Dini, juga Cintya bekerja digedung yang sama. Hanya lantainya saja yang berbeda. Tama dan Melky berada di lantai tiga. Dimana disana terdapat berbagai macam sepatu dengan berbagai merk yang berbeda. Namun mereka beda brand, kalau Melky mendapat kan brand dibagian sepatu pantofel, atau sepatu yang biasa dipakai untuk kerja atau kegiatan formal lainnya.
Sementara Tama bekerja dibagian sepatu sport, dan berbagai aksesoris yang mendukung lainnya, seperti tas, juga baju olah raga.
Sedangkan Dini dan Cintya berada di lantai dua. Di lantai dua hanya terdapat pakaian. Baik itu pakain pria ataupun pakaian wanita dewasa.
Bagaimana Tama dan Melky bisa menjadi teman dekat!, itu semua tak lepas dari Cintya. Sejak pertama kali Melky melihat Cintya di ruangan karyawan dengan seragam hitam putih, Melky sudah terpesona dengan kecantikan serta kebohaian tubuh Cintya. Melky memang paling pintar dalam memilih wanita.
Cintya yang cantik, Cintya yang bohay, Cintya yang begitu mempesona. Namun sayangnya Cintya bukanlah tipe wanita yang gampang tersentuh hatinya hanya dengan rayuan serta gombalan seorang pria yang baru dikenalnya.
Dan saat Melky mengetahui kalau Tama adalah adik Cintya, dari situlah Melky berfikir, lebih baik dekati dulu adiknya, lalu dari adiknya ia akan bisa dekat dengan kakaknya. Bukan begitu? hehe... Otak cerdasnya sejalan dengan ambisinya mendekati seorang gadis bernama Cintya.
Conter mereka yang berdekatan, membuat Melky dapat dengan gampang membuka obrolan dengan Tama. Seiring berjalannya waktu, ternyata bukan hanya sikap mereka saja yang sama, karna ternyata Tama memiliki hobby yang sama dengannya, yaitu memancing. Dari situ lah mereka menjadi semakin dekat.
Dan ternyata strateginya berhasil, sejak ia dekat dengan Tama, Cintya pun akhirnya menjadi dekat juga dengannya hingga sekarang. Mestipun Cintya berulang kali menolak cintanya, namun mereka tetap berteman baik. Hati Melky memang sekuat baja. Tidak merasa sakit hati dengan penolakan yang Cintya lakukan terhadapnya.
Sementara Dini dan Melky sudah saling mengenal sejak lama. Melky dan Imran abangnya Dini, adalah teman dekat sejak mereka SMA. Melky sering datang kerumah Dini, bahkan mamanya Dini sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri, karna seringnya Melky datang kesana.
Berulang kali Dini tampak menarik nafas, sambil sesekali melirik ke conter sebelahnya. Disitu ada Cintya yang juga sedang berdiri sambil sesekali tersenyum kepada Custamer yang lalu lalang dihadapannya
1 jam lagi siff mereka berakhir, dan akan digantikan oleh siff yang lain. Menunggu 1 jam, rasanya sangat lama untuk Dini. Ia sudah memantapkan hatinya untuk menceritakan semuanya kepada Cintya saat pulang nanti. Seperti saran Melky saat di food court tadi. Sukur-sukur Cintya bisa lebih mengerti, tidak seperti Tama yang main langsung emosi. Tapi jika Cintya bersikap sama dengan Tama, ia hanya bisa pasrah.
Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu datang juga. Siff mereka akhirnya berakhir tepat di pukul 16.30. Dini mendatangi conter Cintya, dan sukurnya Cintya masih berada disana.
"Kak, kita pulang bareng yah!" serunya.
Cintya tidak menjawab, bahkan ia tidak memperdulikan kalau ada Dini disitu. Ia sibuk membereskan barangnya, lalu bergegas pergi.
Dini pun mengikuti Cintya dari belakang.
"Kak.." Dini menyentuh pundak Cintya dari belakang, Cintya tak mau menoleh dan terus berjalan.
__ADS_1
"Kak... aku mau cerita." lirihnya, dan Cintya akhirnya menghentikan langkahnya namun masi tidak menoleh ataupun menyauti ucapan Dini.
Apa maksudnya mau cerita. Mau cerita tentang itu? hmmm... Cintya tersenyum miring, merasa menang.
Cintya sebenarnya tidak benar-benar marah dengan Dini. Ia hanya sedikit merasa kesal karna Dini terlalu susah untuk menceritakan masalahnya dengan Tama dulu kepadanya. Padahal, tingkat kekepoan pada dirinya sudah berada diambang ke akutan. Jadi dia pura-pura marah saja. Eh ternyata umpannya disambut oleh Dini.
Dini yang melihat Cintya berhenti, juga ikut menghentikan langkahnya
"Kita pulang bareng yah, aku mau ikut ke kos kakak. Biar lebih enak gitu ceritanya."
"Hm.." hanya itu yang keluar dari bibir Cintya, dan ia pun mulai melangkahkan kakinya kembali.
Dini tersenyum saat mendengar Cintya yang akhirnya menyaut.
Mereka sudah sampai di depan gerbang kos Cintya. Cintya turun dari boncengan dan berjalan menuju gerbang lalu membukanya, agar motor Dini bisa masuk.
Cintya terus berjalan menuju kamar, tanpa menunggu Dini yang sedang memarkirkan motornya terlebih dahulu.
Setelah selesai memarkirkan motornya di halaman Depan, Dini pun menyusul Cintya ke kamarnya. Saat ia masuk, matanya terbelalak melihat kondisi kamar Cintya yang berantakan. Tempat tidur yang masih berserak, serta sajadah dan mukenah yang masih terletak tak beraturan di lantai. Tak biasanya Cintya seperti itu, karna Cintya adalah wanita yang rajin dalam segala hal.
Dini baru teringat, Cintya bilang kalau ia ketiduran setelah ia sholat subuh, bahkan ia sampai terlambat masuk kerja tadi.
Cintya masih ada di kamar mandi saat Dini masuk kekamar Cintya. Tangannya pun bergerak memunguti mukenah dan sajadah yang teronggok dilantai, lalu ia lipat dan diletakkan diatas nakas kecil yang berada disamping kasur Cintya. Kemudian ia mulai membereskan tempat tidur Cintya. Setelah selesai, iapun membaringkan tubuhnya diatas kasur Cintya dengan posisi miring menghadap kepintu kamar mandi.
Sepertinya Cintya sedang mandi, karna terdengar suara guyuran air dari dalam sana. Dini pun bangun dari posisi tidurnya menjadi posisi duduk. Ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tas yang masih tersampir ditubuhnya. Selagi menunggu Cintya selesai mandi, ia memilih untuk mengirim chat ke Melky.
Dalam hitungan detik, Melky membalas chat dari Dini.
"Bagossss.... gitu dong... "
"Hmmm..."
"Nanti kalau Cintya marah, langsung ambil langkah seribu aja ya. haha..."
Dasar si Melky, bukannya nyemangati malah nakut-nakuti. Dini tidak membalas lagi chat dari Melky.
"Yang semangat ya adek q zayank.... nanti aku traktir ice krim."
Dia kira aku anak kecil, traktirnya ice krim. Traktir dimsum kek.... ck Dini berdecak.
Tak lama, akhirnya Cintya selesai juga mandinya. Dia keluar hanya mengenakan handuk yang dililitkan di dadanya serta rambutnya yang dicepol keatas. Terlihat sangat seksi. Jika saja Melky yang ada disitu bukannya Dini, mungkin Cintya sudah habis dijadikan lalapan oleh Melky.
Tanpa memperdulikan Dini, ia malah langsung menuju lemari dan membukanya lalu mengambil mini daster yang berada dilipatan paling atas dan di jepitkan diketiaknya. Ia kemudian menunduk untuk membuka laci yang ada dilemari bawah, lalu mengeluarkan dalaman dan langsung dikenakannya saat itu juga tanpa memperdulikan ada Dini disitu. Karna mereka sejenis, gak apa-apa ya... hehe.
__ADS_1
Dini masih sibuk dengan ponselnya. Ia memilih menunggu sampai Cintya selesai dengan kegiatannya, baru ia akan bicara.
Setelah Cintya selesai dengan pakayannya, Cintya pun akhirnya duduk disamping Dini sambil menyisir rambutnya dengan jari. Ia masih diam sedari tadi. Ia juga tidak ada menatap kearah Dini.
Dini melipatkan kakinya seperti duduk bersilo di atas kasur sambil masih menggenggam ponselnya saat Cintya duduk disampingnya. lalu ia menarik nafasnya dan memulai berbicara.
"Kak.." Dini tampak gugup saat memulai pembicaraan.
Bukan menjawab, Cintya malah punya inisiatif untuk mengerjai sahabatnya itu karna sudah membuatnya kesal tadi.
"Ambilkan handbody" ucapnya datar sambil menunjuk kearah nakas. Dini pun menurut.
Dini kira Cintya sudah selesai dengan kegiatannya, ternyata masih sibuk. Udah bisa ngomong belum yah.
"Kak.." panggilnya lagi, namun Cintya tidak menoleh, ia masih sibuk mengoleskan handbody ke kaki serta tangannya.
Karna Cintya tidak menyaut, Dini pun akhirnya diam kembali dan menunggu hingga Cintya selesai.
"Berikanlah hambamu kesabaran ya allah.." Dini merapalkan doa didalam hati.
Setelah Cintya selesai, Dini mencoba buka suara lagi.
"Kak, aku mau cerita soal --"
"Ambilin sisir" Cintya memotong ucapan Dini lagi, dan Dini pun dengan segera mematuhi perintah Cintya. Diambilnya sisir yang juga ada diatas nakas, lalu diserahkannya ke Cintya.
Dan Dini kembali diam sampai Cintya selesai menyisir rambut panjang bergelombang itu. Dia terus memperhatikan Cintya. Sahabatnya ini memang Cantik, pantas aja Melky sampai tergila-gila. fikirnya. Tapi sayang, sukak nyebelin. Gumamnya.
"Udah bisa aku ngomong kak? atau masih ada yang mau kakak suru lagi?" raut wajahnya berubah kesal.
Rasain... ini balasannya karna udah buat aku nunggu sampek 2 tahun. Batin Cintya sambil terkekeh dalam hati saat melihat raut kesal diwajah Dini. Namun Cintya belum menyudahi pembalasannya.
"Ya ngomong aja.." ucapnya sambil terus menyisir rambutnya yang sudah rapi.
"Jadi aku mau cerita soal --"
"Ambilkan dulu krim malamku.." seru Cintya lagi. Cintya benar-benar membuat Dini berang karna terus memotong ucapan Dini. Bahkan wajah Dini sudah memerah karna menahan kesal dengan bibir yang sudah manyun kedepan.
Cintya pura-pura tidak perduli, ia malah asik dengan mengoles krim malam ke wajahnya.
Dini menarik nafas dalam, lalu membuangnya secara perlahan. Ia tidak mau sampai terpancing oleh apa yang udah Cintya lakukan kepada ya. Dia sebenarnya tau kalau Cintya hanya mengerjainya, makanya dia memilih untuk terus bersabar.
"Loh, katanya tadi mau ngomong." ucap Cintya masih dengan kegiatannya mengoles krim diwajah.
__ADS_1
"Selesaikan dulu kegiatan kakak." ucapnya dengan senyum yang dibuat-buat.
Begitu senang hati Cintya karna sudah berhasil mengerjai sahabatnya itu. Ingin sekali ia tertawa sambil berguling-guling dikasur. Namun ia tahan, bahkan ia sampai memonyongkan bibirnya kekanan dan kekiri, untuk menahan agar tertawanya tertahan.