CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Part 25


__ADS_3

"Uda ah, aku gak jadi cerita. Aku mau pulang aja." Dini jadi merajuk karna Cintya sudah mengerjainya.


Dini menurunkan kakinya dari ranjang, dan hendak berdiri. Namun ia urung melakukannya setelah mendengar suara tawa yang menggelegar dari sampingnya.


"Hahahaha...." akhirnya Cintya sudah tidak bisa lagi menahan tertawa yang sedari tadi ditahannya. Bahkan ia benar-benar tertawa sambil guling-guling di kasurnya.


"Dasar kawan gak punya ahlaaaaaak..." teriak Dini kesal.


Dini kesal bukan main karna sudah dikerjai oleh Cintya. Ia pun mengambil bantal yang ada disampingnya lalu memukuli Cintya yang tidak berhenti tertawa.


Dan terjadilah aksi gulat antara Dini vs Cintya


.....


Dilain tempat, Melky sedang berada didepan cafe milik Daniel. Ia masih berada diatas motornya dan tampak ragu-ragu untuk masuk kedalam.


Tadi waktu ia baru keluar dari parkiran mol, melky melihat Tama menaiki ojol, jadi ia mengikutinya. Ia hanya ingin menjelaskan semuanya kepada Tama, biar tidak ada lagi salah faham. Kalau Tama hanya membenci dirinya, itu bukan masalah. Tapi kalau sampai Dini yang harus disalahkan terus, ia jadi merasa kasihan.


Tadi dia menerima chat dari Dini, kalau ia sedang berada dikos Cintya, dan ingin menjelaskan semuanya. Semoga saja semua masalahnya bisa cepat selesai.


Sebenarnya kalau Tama bisa bersikap lebih dewasa dan mau mendengarkan penjelasan Dini dulu, mungkin saat ini Tama dan Dini masih merasakan indahnya cinta.


Melky bisa melihat kalau sebenarnya mereka berdua masih saling mencintai. Hanya saja karna keras kepala Tama, semuanya jadi hancur.


"Masuk gak yah... tapi nanti kalau aku masuk, terus dia buat rusuh gimana..!" Melky tampak menimbang-nimbang antara masuk atau tidak.


"Ah, bodo amat deh.." Melky pun akhirnya memilih masuk. Ia memarkirkan motornya lalu beranjak masuk sambil menenteng helm ditangannya.


Begitu ia masuk, ia melihat Daniel sedang berdiri didepan kasir. Matanya mencari-cari keberadaan Tama, namun yang dicari tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Ia pun memilih mendekati Daniel.


"Bang.."


Daniel sontak menoleh saat mendengar suara Melky.


"Eh, Melky... sama siapa kesini?" ucapnya


"Sendiri aja bang.." jawab Melky sambil cengengesan.

__ADS_1


"Ohh.." Daniel hanya ber oh ria sambil menganggukkan kepala. Namun ia bingung, kenapa Melky masih berdiri didepannya. Bukannya masih banyak meja kosong?


"Kenapa masih berdiri disitu? mau takeaway" Daniel mengira Melky mau pesan untuk dibawa pulang.


"Aaahhh, bukan bang.." Melky cengengesan lagi sambil garuk kepala.


"Terus?" Daniel tampak menautkan alisnya. Maunya apa sih ni bocah. Batinnya


"Ta... Ma...." ujar Melky pelan. Namun matanya menatap kearah tangga. Daniel pun menoleh mengikuti arah pandangan mata Melky. Ada Tama disana yang baru saja turun dari lantai atas.


"Ooh... Kamu nyari si Tama." Daniel baru mengerti.


"Tam, ini si Melky nyariin kamu." teriak Daniel, dan Tama langsung mendongak serta menghentikan langkahnya.


Tama tampak menyipitkan matanya, dia tidak menyangka kalau Melky berani menemuinya lagi setelah insiden di food court tadi siang.


Melky merasa was-was, saat melihat tatapan membunuh dari mata Tama kepadanya. Namun ia mencoba tetap rilex dan mencoba memberikan senyum walau terpaksa.


Tama mendekat, namun hanya diam. Sementara Daniel merasa bingung saat melihat expresi diwajah Tama yang tampak tak bersahabat sambil menatap tajam ke arah Melky. Berbeda dengan Melky yang masih bisa menampilkan senyum walau tampak terpaksa.


"Kalian kenapa?" Daniel menatap kearah Tama dan Melky secara bergantian. Ia menemukan ada sesuatu yang aneh dengan kedua orang yang ada didepannya


Tama masih enggan menanggapi. Namun tatapan matanya masih sama seperti tadi. Tetap tajam


"Kalo salah faham, sebaiknya cepat di bereskan. Jangan sampai berlarut-larut." Daniel menepuk pundak Tama yang tak bergeming sedari tadi.


"Dibelakang ada taman, kalian bisa ngobrol disana. Biar lebih enak." Lanjutnya lagi.


"Perlu aku antar?" ucapnya lagi karna Tama dan Melky masih belum bergerak.


"Boleh deh bang.." ujar Melky basa-basi.


Daniel pun berjalan didepan dan diikuti oleh Melky.


Sementara Tama terlihat mengepallan kedua tangannya, rasanya hatinya begitu sangat marah. Enggan rasanya ia untuk berhadapan lagi dengan si Melky, tapi ia ingin tau apa yang ingin dibicarakan olehnya. Akhirnya ia pun ikut bergerak mengikuti walau dengan setengah hati.


"Kalian bisa bicara disini. Tapi aku gak mau ada keributan. Aku tau kalian sudah sama-sama dewasa, jadi berfikirlah sebelum bertindak. Ku harap kalian bisa menyelesaikan masalah kalian dengan kepala dingin." ucap Daniel panjang lebar lalu pergi meninggalkan Tama dan Melky di taman belakang.

__ADS_1


Tapi Daniel tidak benar-benar pergi, ia malah sembunyi dibalik pintu. Ia hanya ingin memastikan kalau kedua bocah gede itu gak akan baku hantam disana. Melihat tatapan Tama kepada Melky, ia merasa harus waspada .


Tama masih tidak berbicara sepatah kata pun. Ia menunggu apa yang akan disampaikan oleh mantan kawannya itu.


Melky memilih untuk mengalihkan pandangannya kearah lain, saat Tama masih menatapnya dengan tatapan membunuh, serta rahang yang terlihat memgeras. Melky tau kalau sekarang emosi Tama benar-benar sudah berada dipuncak. Namun Melky lebih memilih untuk sabar dan santai dalam menghadapi kepala batu.


"Aku kemari mau ngomong Tam. Aku mau kau dengarin penjelasanku. Oke.." Melky berusaha berbicara dengan lembut.


"Apa yang kau lihat dua tahun lalu itu, gak seperti yang kau fikirkan Tam. Aku sama Imran, abangnya Dini itu sahabatan dari masih SMA. Aku kesana bukan mau nemui si Dini." jelasnya, terlihat Tama masih diam tanpa expresi.


"Aku kesana waktu itu, mau mulangin pancing yang kemaren kita pakek. Itu punya si imran."


"Dan waktu itu, ujung pancingnya malah kenak ke mata si Dini. Jadi maksud aku cuma mau --"


"Nyari kesempatan.." sambung Tama datar, lalu ia jalan mendekat kearah Melky, dan berdiri berhadapan.


"Apa kau pikir aku anak kecil hah? mestipun aku kenal samamu baru sebentar, aku uda tau sifatmu itu." ucap Tama penuh dengan kebencian.


"Kau gak tau aku Tam!" Melky merubah wajahnya menjadi serius


"Mestipun kelihatannya aku seperti ini, tapi gak semua yang kau tuduhkan itu benar. Jangan memandang seseorang hanya dari sampulnya aja. Mungkin kau sering lihat aku godain cewe, tapi bukan berarti aku ngelakuin hal yang sama, sama si Dini. Dini itu udah seperti adek ku sendiri." Melky masih berusaha berbicara tanpa emosi. Walaupun sebenarnya dia sudah sangat emosi saat ini.


"Halah.. kayak pernah punya adek aja kau." ucap Tama sambil mengangkat ujung bibir atasnya seperti sedang mengejek.


"Seandainya adekku masih hidup, mungkin dia sebaya sama si Dini." Tama terhenyak mendengar ucapan Melky. Sekarang gantian Melky yang menatap Tama dengan tajam.


"Apa kau tau betapa sayangnya aku sama adekku? sama seperti sayangnya kau sama Cintya. Tapi sayangnya dia udah gak ada. Dengan aku sering menggoda cewe-cewe, itu seperti aku lagi godain adekku sendiri." ada perasaan sedih diulu hatinya.


"Bukan berarti karna aku suka godain cewe, kau langsung berfikir aku suka sama mereka. Tapi itu fikiranmu sih, aku gak bisa larang." ucapnya lagi


"Aku cuma pingin kau jangan bersikap seperti tadi sama Dini. Dini gak punya salah. Semua hanya salah faham. Aku hanya reflek ingin menyembuhkan mata Dini yang terkena ujung pancing. Aku takut kalau matanya benar-benar terluka. Hanya itu."


"Memang terlihat seperti orang yang sedang berciuman, tapi aku mohon samamu percayalah aku gak akan pernah melakukan hal seperti itu sama orang yang sudah aku anggap seperti adek ku sendiri. Kau bisa tanya sama mamanya si Dini aku gimana."


"Jadi, kalian bukan sedang ciuman?" ucap Tama lirih, dan Melky menggelengkan kepala.


"Kau salah faham Tam. Aku hanya ingin memastikan kalau mata Dini gak ada luka yang serius."

__ADS_1


Tama tampak merasa bersalah karna sudah membenci dua orang yang tidak bersalah.


"Ya ampun, jadi selama ini aku salah..mereka tidak selingkuh dibelakangku." gumamnya. Wajahnya berubah pucat pasi.


__ADS_2