
Tiga hari berlalu
"Pagi tuan.." sapa anak buah Dom saat melihat kedatangan David kerumah bossnya.
"Dimana dia?" tanya David.
"Ada dikolam renang tuan." jawabnya sopan.
David langsung menuju kekolam renang yang ada dimansion besar itu. Sesampainya disana, ternyata Dom sudah selesai dengan kegiatannya. " Kau sudah selesai?" tanyanya
"Hmm.. Ada apa.." ucapnya sambil berjalan menuju kursi santai.
"Kau sudah mendengar kabarnya?" ikut duduk dikursi lainnya.
Dom tersenyum miring. "Kenapa.. Kau khawatir?" ucapnya santai sambil meraih handuk yang ada dimeja untuk mengeringkan rambutnya.
David mendengus. "Apa yang perlu ku khawatirkan.." ucapnya pelan
"Jadi kau tidak mengkhawatirkanku?" Dom tersenyum smirk. "lalu siapa yang kau khawatirkan? Gadis itu?" menatap dengan kesal.
"Tidak"
Dom terkekeh sinis. "Kau mau membodohiku? Kau fikir kau bisa berbohong dengan ekspresi seperti itu? Bahkan anak SD tahu kalau kalau kau sedang berbohong. Dasar bodoh.." umpatnya
"Aku datang kemari bukan ingin berdebat." balasnya mengalihkan pembicaraan.
"Memangnya siapa yang mengajakmu berdebat. Aku hanya menebak.. Dan kau tahukan kalau tebakannku itu 95% selalu benar." ucapnya sombong.
David hanya melengos mendengar ucapannya. Dasar sombong. Kalau bukan karena anak buahmu yang bertebaran dimana-mana, kau juga tidak akan tau apa-apa. Hanya berani membatin.
"Kau mengumpatku?" Ucap Dom seakan tahu apa yang ada dihati David.
"Huh.. Apa maksudmu?" gugup. Ya ampun.. Orang satu ini. Begidik ngeri
"Sebaiknya kau pergi. Aku sudah tidak membutuhkanmu lagi." usir Dom dingin sambil membaringkan tubuhnya.
"Apa kau pernah dengar pepatah habis manis sepah dibuang?" David mengucapkannya pepatah itu menggunakan bahasa indonesia.
"Kau memang lebih cocok tinggal di Indonesia. Bukan disini. " mengabaikan David.
__ADS_1
David menghela nafasnya panjang. "Apa kau tidak mau berhenti saja? Mau sampai kapan kau begini terus?"
Dom hanya diam. Bahkan ia memilih untuk memejamkan matanya, agar David berhenti bicara.
"Sebaiknya kau sudahi balas dendammu. Dan memulai buka lembaran baru. Apa kau tidak mau berkeluarga? Siapa yang akan meneruskan bisnismu jika kau tidak berkeluarga dan miliki anak." David mengoceh memberikan masehat, namun tidak ada sautan dari Dom. David menatap lama wajah Dom yang sepertinya sedang berpura-pura tidur. Bibirnya tersenyum tipis saat melihat mata Dom sedikit berkedut. "Aku tahu kau hanya pura-pura tidur. Jadi sekarang bangunlah." terkekeh pelan
Dom berdecak kesal. "Aku sudah mengusirmu tapi kau masih saja terus disini." bergerak bangun dan menegakkan duduknya.
""Kapan orang-orang itu akan datang?" tanya David tanpa memperdulikan kekesalan Dom terhadapnya.
"Hari ini.." jawabnya acuh lalu meraih ponselnya yang menyala saat menerima pesan dari anak buahnya yang berjaga diluar mansion. "Mereka sudah datang. Sebaiknya kau pergi sekarang." bergerak masuk menuju kamarnya.
David hanya bisa menghela nafasnya menatap punggung kakak sepupunya itu sebelum akhirnya ia beranjak pergi menuju pintu keluar mansion itu. Namun begitu ia sampai didepan pintu keluar utama, ia berpapasan dengan tiga orang yang baru saja ingin masuk. Dengan cepat Ia menundukkan pandangannya namun tetap berjalan seperti biasanya melewati tiga orang itu tanpa mau menyapa.
"Tuan David." panggil seseorang.
Langkah David terhenti namun tidak berpaling. Terdengar suara langkah kaki mendekat kearahnya, tapi dia tidak bergeming.
"Wah.. Tidak ku sangka aku bisa bertemu denganmu disini." berdiri tepat didepan David dengan kedua tangan yang berada didalam saku celananya. "Sepertinya kau sangat sehat ya." berbicara menggunakan bahasa indonesia.
David mengangkat wajahnya. Dan kini pandangan mereka saling bertatapan. " Apa yang kau bicarakan? Apa Kau mengenalku?" bicara dingin dengan bahasa rusia.
David mengerutkan keningnya karena terkejut orang didepannya mampu berbahasa rusia dengan sangat fasih.
"Kenapa? Kau terkejut aku faham bahasamu?" masih dengan bahasa rusia. David masih terdiam menatapnya. " Kenapa kau hanya diam? " mengusap pundak David " Apa kau tidak mau bergabung dengan saudaramu didalam?"
"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Sebaiknya kau minggir karena aku mau lewat. " ucap David dingin.
"Baiklah.. Silahkan kalau begitu." orang itu meminggirkan tubuhnya dari hadapan David. David pun mulai melangkahkan kakinya lagi. Namun lagi-lagi langkahnya terhenti saat orang itu berkata kembali padanya. " Kita akan segera bertemu lagi tuan David." ucapnya menggunakan bahasa indonesia. David tidak menanggapinya dengan kembali melangkah pergi.
Beberapa saat berlalu, akhirnya Dom keluar dari kamarnya dengan menggunakan pakaian santai menemui tiga orang tadi yang sudah menunggunya diruang tamu.
"Ku harap kalian tidak terlalu lama menungguku." ucap Dom sambil duduk di sofa menghadap pada tamunya. "Apa yang membuat kalian jauh-jauh datang kemari tuan detektif? Apa aku melakukan kesalahan?" ucapnya dengan nada seperti sedang meledek menggunakam bahasa inggris.
"Sepertinya kau belum faham kesalahanmu sendiri." balas Gabriel (detektif senior) dengan bahasa rusia.
Dom mengerutkan dahinya dengan senyum tipis dibibirnya. "Wau.. Ternyata kau fasih berbahasa Rusia." takjub
"Apa kau terkejut?"
__ADS_1
"Tentu.. Apa kau pernah ditugaskan disini?" penasaran
"Tidak.. Aku adalah tipe orang yang cepat belajar. Dan aku bisa berbicara dengan 7 bahasa." Gabriel menyombongkan dirinya.
"Aku sangat salut dengan orang-orang yang bisa dengan cepat belajarnya. " ucapnya salut.
"Ya kau benar. kau memang harus salut dengan orang-orang sepertiku. Dan apa kau tahu, selama beberapa bulan ini aku juga sedang belajar untuk bisa mengungkap semua kejahatanmu?" ucapnya dingin sambil tertawa ringan.
Dom hanya mengangguk-anggukkan kepalanya tanpa merasa tertekan dengan ucapan Gabriel. Tidak tampak sedikitpun rasa cemas bahkan ketakutan pada raut wajahnya. " Lakukan semua yang kau bisa. Dan setelah kau mendapatkannya, maka datanglah lagi kesini. Karena aku tidak akan pergi kemana-mana." ucapnya tersenyum.
Raut wajah detektif berubah kesal. "Kau pasti sudah mengetahui kalau kami masih kekurangan bukti untuk bisa membawamu merasakan dinginnya lantai penjara dinegara kami. Tapi kau jangan khawatir.. Karena sebentar lagi kau akan segera merasakannya."
"Baiklah.. Aku akan menunggunya." ucap Dom menantang. "Lagian aku sudah sangat penasaran ingin berjumpa dengan orang-orang yang kalian bilang sudah menjadi korban dari kejahatanku. "
"Kau penasaran? Apa kau juga penasaran dengan nasip gadis tidak berdosa yang sudah kau lecehkan sampai akhirnya harus mengandung benih dari ulahmu?"
Seketika Dom terdiam sambil terus menatap Gabriel
"Kenapa? melihat dari ekspresimu sepertinya kau tidak tahu tentang ini. Apa kau sudah membawa pulang semua mata-matamu?" Gabriel tertawa menang.
Tiba-tiba Dom ikut tertawa. "Wah.. Berarti sebentar lagi aku akan menjadi orang tua. Kita harus merayakannya." bergerak dari duduknya mengambil satu botol anggur dan empat buah gelas dan meletakkannya di meja. Dom juga menuangkan anggur tersebut kemasing-masing gelas. "Kalian juga harus merayakan berita gembira ini dengan ikut minum denganku." mengangkat gelasnya mengajak cheers. Namun karena ketiga detektif itu tidak menanggapinya iapun langsung meminum anggur yang berisi digelasnya hingga habis. "Kenapa kalian tidak mau minum? Apa pekerjaan seperti kalian dilarang minum alkohol?"
Gabriel dan Rolan tampak berekspresi geram namun tidak dengan Doni yang sedari tadi tatapannya hanya tertuju pada gelas yang ada dihadapannya sambil terus menelan salivanya.
"Rayakanlah sepuasmu.. Karena saat ini kau sedang merayakan kematian anakmu yang bahkan belum sempat lahir kedunia ini." ucap Gabriel menaikkan alisnya
Lagi-lagi Dom terdiam kembali. Ada raut kecewa diwajahnya.
"Kemungkinan besar sekarang anakmu sedang mengadu pada bibi dan juga kakek neneknya tentang semua kejahatan yang dilakukan oleh ayahnya. Ku harap kau tidak akan mendapatkan sumpah dari orang yang sudah meninggal."
Mendengar kata-kata Gabriel, Dom mengeraskan rahangnya karena mulai tersulut amarah.
Gabriel kembali tersenyum menang. "Kenapa ekspresimu seperti itu? Seharusnya kau senang karena sekarang adik dan kedua orang tuamu sudah mendapat teman baru."
Dom menatap Gabriel dengan tatapan membunuh. "Sebaiknya kau hentikan bicaramu."
"Jika kau mau, kau juga bisa ikut berkumpul bersama mereka diatas sana."
Kata-kata Gabriel semakin menyulut emosi Dom. "Kau..." geramnya
__ADS_1
"Tidak akan ada satu orangpun perempuan yang mau melahirkan anak dari seorang penjahat sepertimu. Jadi jangan pernah berharap banyak." Gabriel kembali mengucapkan kata-kata yang menusuk langsung keulu hati.