CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Cheers..


__ADS_3

"Udah hampir jam 12, sebaiknya aku pulang."Kata Daniel kepada Cintya


Cintya mengangguk abang beneran langsung pulang?" tanya Cintya yang seakan tahu kalau sebenarnya Daniel tidaklah langsung pulang kerumahnya


Daniel mengernyitkan dahi " Kenapa kamu nanyaknya gitu? seakan-akan kamu tau habis dari sini aku mau pergi kemana." kata Daniel heran


"Aku kan cuma nanyak, and sekali gus mastiin kalau abang beneran langsung pulang." ucap Cintya


"Sebenernya aku mau kerumah Reza.." jelasnya " tadi dia nelfon. Minta ditemenin ngobrol katanya." lanjutnya lagi


"Ohh.." Cintya ber oh tanpa suara. " mau ngobrol atau mau nemenin minum?" tanyanya lagi, dan kontan membuat Daniel semakin heran.


Daniel terdiam sejenak. "Dari mana Cintya tau kalau dirinya mau menemani Reza minum." fikirnya. "Mm cuma mau ngobrol lah. Kok minum sih? minum jus?" elaknya


"Hufh, bagus lah. Nanti seandainya dia minum, abang gak usah ikut-ikutan yah." kata Cintya menasehati.


Daniel menyipitkan matanya, " Kenapa kamu berfikir dia bakalan minum?" Daniel merasa Cintya tahu sesuatu.


"Aku tau lah orang putus cinta itu gimana bang. Pelariannya cuma dua." Cintya menunjukkan dua jarinya " kalau gak ngamuk ya mabuk. Ya gak sih? tapi itu laki-laki sih, kalau perempuan pelariannya cuma satu" Cintya menunjukkan kembali satu jari telunjuknya " Nangis." lanjutnya lagi sambil tersenyum miris.


Daniel menyetujui pendapat Cintya dengan mengangguk. "yup kamu bener." ujarnya tersenyum. Ia jadi teringat dirinya dulu waktu baru putus dengan Jova, pelariannya ya bener apa yang Cintya katakan barusan.


"Abang pernah ngalaminya juga?" tanya Cintya menyelidik. Pasalnya ia tidak pernah tahu kisah cinta Daniel seperti apa.


"Ya pernah lah Cintya.. Semua orang yang pernah mencintai, pasti pernah merasakan putus atau setidaknya kecewa.." ucapnya


"Kalau boleh tau, mantan abang ada berapa?" tanya Cintya lagi


Daniel kelihatan seperti berfikir, lalu kemudian mengangkat bahunya. "Entah lah, udah lupa."


"Ck, berarti mantannya banyak dong, bisa sampek lupa gitu. Palyboy nih pasti abang." sangkanya


"Masa muda harus dinikmati dengan baik bukan?" Daniel malah tertawa


"Hati-hati loh, bisa kebawak sampek tua."ketus Cintya

__ADS_1


"Astaga Cintya, itu nasehat atau nyumpai?"


Cintya hanya tertawa.


~


Jam sudah menunjukkan hampir pukul satu dini hari saat mobil Daniel masuk keparkiran sebuah gedung apartemen dipusat kota.


Begitu ia masuk lobi, ia langsung disapa oleh sekurity yang bertugas. "Malam pak, sepertinya anda sudah sangat jarang kemari" ucapnya basa-basi sambil tersenyum


Daniel hanya tersenyum seraya menyerahkan satu kantung pelastik berisi makanan kepada sekurity tersebut


"Waah, makasih ya pak" ucapnya senang karna dikasih makanan oleh Daniel


"Sebaiknya dipanasi dulu, soalnya tadi dari cafe gak langsung kemari." jelasnya. Sekurity itu pun mengangguk mengerti. "Baiklah, saya naik dulu." pamitnya


Apartemen Reza adalah rumah kedua untuk Daniel. Jadi tidak heran, hampir semua pekerja di apartemen mengenal Daniel. Mulai dari sekurity, resepsionis, sampai ob. Apa lagi setiap Daniel datang, ia tidak pernah lupa untuk membawa makanan yang sengaja ia masak sendiri dari cafenya.


Setelah sampai didepan pintu apartement Reza, ia langsung memasukkan kode pintu dan kemudian masuk begitu saja.


"Kenapa lo gak nunggu gue?" kata Daniel yang melihat Reza sudah menghabiskan beberapa botol minuman.


"Lo gak perlu ikut minum. Biar gue aja yang habisi semuanya" ucapnya dengan gaya bicara khas orang mabuk.


Daniel menghela nafas sejenak lalu duduk di sofa depan Reza" terus ngapain gue disini kalau cuma ngeliatin lo doang."


"Lo datang nemenin gue aja gue udah seneng." Reza bicara dengan terbata-bata.


"Udah berapa botol lo minum?" Daniel mengecek botol yang sudah habis diatas meja. Kemudian ia menggelengkan kepalanya " Lo gila yah, segini banyak lo minum sendiri. Gak nunggu gue lo" Daniel benar-benar tidak habis fikir dengan kelakuan sahabatnya.


"Gue haus, gue perlu minum." racaunya


Daniel tidak memperdulikan racauan Reza. Ia membuka satu botol minuman yang tersisa diatas meja, lalu kemudian diteguknya.


"Lo tau Za, tadi Maya datang ke cafe nemuin gue." ucap Daniel bercerita "Dia bilang dia malu uda jadi penghancur hubungan lo sama Bella. Gue jadi kasian liat dia. Kayaknya dia tertekan banget,mana lagi hamil lagi." lanjutnya

__ADS_1


Reza mengangkat kepalanya sebentar, lalu menunduk kembali. " Dia gak yakin kalau gue bakalan bisa ngelupain Bella walau gue tanggung jawab nikahin dia." ucap Reza lemah. Walaupun sepertinya ia sudah mabuk berat, Reza masih nyambung dengan cerita Daniel.


"Terus apa lo jawab?" tanyanya


"Gue bilang, kalau gue memang gak akan pernah bisa lupain Bella seumur hidup gue." jawabnya tanpa dosa


"Kenapa lo ngomong gitu? pantes aja dia khawatir." nyinyir Daniel sambil melempar bantal kursi kearah Reza yang terlihat tidak bisa lagi menghindar.


"Terus gue musti bilang apa? sepanjang apa pun kisah gue sama Maya nanti, tetap aja gue gak bisa ngilangin kisah gue sama orang yang pernah nyangkut dihati gue!. Jadi dia harus bisa nerimanya. " jelasnya panjang lebar


"Walaupun nanti lo gak bisa ngilangin kisah kasih lo sama mantan lo, tapi tolong Za hargai Maya sebagai binik lo. Kasihan." kata Daniel menasehati


"Hmm.." sautnya malas. " Eh lo tau, tadi gue jumpa sama Cintya waktu gue beli ini di supermarket depan" menunjukkan botol minum


"Dasar.. pantes aja dia bisa tau kalau lo mw ngajak gue minum." ucapnya pelan


"Gue rasa dia beneran cocok buat lo Dan!, Lo nunggu apa lagi? jangan sampek diambil orang baru lo nyesel entar."


Kata-kata Reza ada benarnya. Tapi Daniel beneran masih takut kalau ia nantinya bakalan nyakitin Cintya karna belum bisa seratus persen melupakan Jova. Lima tahun seharusnya adalah waktu yang bisa dibilang cukup untuk bisa move on, tapi entah mengapa dia belum bisa melupakan tragedi itu. Penyesalan masih menyelimuti dirinya.


"Lo jangan terus nyalahin diri lo atas kematian Jova, itu udah jadi jalan pilihannya. Mending sekarang lo jalani hidup lo. Berbahagia lah bro.. gue selalu mendukung apapun yang membuat lo bahagia." ucap Reza tulus. Reza bahkan lebih mengkhawatirkan kebahagian Daniel daripada masalah yang sedang ia hadapi sekarang.


Daniel tersenyum " Lo kalo lagi hangover memang suka bener ngomongnya."


"Lo tadi jumpa sama Cintya, dia bilang apa?" tanya Daniel


"Dia nyapa gue pas gue udah di kasir. Tapi lo tau gak sih, matanya gak bisa lepas dari apa yang gue beli. Hahaha..." Reza tertawa keras, padahal tidak ada yang lucu menurut Daniel.


"Apa yang lucu Za?" Daniel mengerutkan dahinya


"Expresinya lucu" Reza masih tertawa "Dia mirip kayak Bella. Gue mau sekali-kali kita doble date Dan.. Pasti seru."ucapnya lagi. sepertinya ia lupa kalau ia sudah putus dengan Bella.


Daniel hanya bisa menggelengkan kepalanya "Dasar gila," gumamnya " Sebaiknya lo tidur bro, gue butuh lo besok di cafe." bujuknya


"No no,gue gak bakalan tidur sebelum ngabisin nih minuman gue. " katanya sambil berdiri dan berpindah posisi duduk disamping Daniel. Reza lalu mengangkat botolnya mengajak Daniel cheers.

__ADS_1


"Cheers.." ucap Daniel dan Reza bersamaan sambil menautkan botol minuman mereka lalu meneguk habis sisa minuman yang ada di tangan mereka.


__ADS_2