
Melky mengendong Cintya masuk kedalam kamarnya dan meletakkannya diatas ranjang. Wisnu dengan cekatan memeriksa jantung dan juga denyut nadi Cintya dengan menggunakan stetoskop miliknya. Ya.. Cintya akhirnya jatuh pingsan karena tidak sanggup menahan sakit hati juga kesedihannya saat untuk pertama kalinya setelah kejadian ia melihat kembali wajah orang yang sudah berani mengambil kehormatannya secara paksa dan melukai orang yang ia sayangi. Hal ini sangat wajar dan sudah diwanti-wanti oleh Wisnu.
"Bapak akan menemaninya disini." ucap ayah Cintya pada Melky dan Wisnu. kedua pria itupun keluar dari kamar Cintya dan memilih bergabung kembali keruang tamu dengan dua orang detektif. Sementara satu detektif lainnya memilih untuk menyusul Tama yang tadi sempat pergi.
"Kau merokok?" detektif menawarkan sebatang rokok kepada Tama yang memilih menenangkan diri dihalaman belakang rumah. Tama mengambil rokok yang ditawarkan detektif. Walaupun sebenarnya dia bukan seorang penikmat rokok, tapi kali ini ia memilih untuk menghisapnya. "Kau baik-baik saja?" lanjut bertanya hal yang ia tahu kalau orang disebelahnya sedang tidak baik-baik saja.
Tama tidak bisa membohongi dirinya. "Adik mana yang bisa baik-baik saja saat melihat kakaknya diperlakukan secara tidak adil." ucapnya datar sambil menghisap rokoknya
Detektif menepuk pundak Tama. "Aku juga punya adik perempuan. Aku bisa faham dengan perasaanmu." ucapnya menimpali.
"Kenapa seseorang pria bisa melakukan hal menjijikkan seperti itu pada seorang wanita. Apa dia lupa, kalau dia juga dilahirkan dari rahim seorang wanita."
"Kita juga tidak tahu apa yang sudah dialaminya selama ini sampai membuatnya nekat melakukan hal yang bertentangan dengan hukum. Walau begitu hal ini tidaklah benar."
"Sebenarnya apa yang terjadi? Apa motifnya adalah balas dendam?" tebak Tama.
"Sepertinya begitu.. Kami masih akan terus menyelidikinya." ungkap detektif singkat.
__ADS_1
"Tapi kenapa harus kakakku.."tertunduk menangis tersedu. Hatinya saja begitu terluka saat melihat wajah pelakunya. Bagaimana dengan kakaknya.
"Kau tenang saja, secepatnya kami akan menangkapnya untukmu. " detektif itu memang lumayan dekat dengan Tama sejak berawalnya kasus ini. Dan dia juga yang banyak memberi informasi kepada tama sampai tahap dimana penyelidikan mereka. Melihat kesedihan Tama membuatnya semakin bersemangat untuk secepatnya memasukkan Dom kedalam jeruji besi. Walau ia tahu hal itu tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Mengingat Dom adalah seorang yang lumayan berkuasa dinegaranya.
Siang berganti malam. Cintya sudah sadar dari pingsannya. Namun sejak ia sadar, ia sama sekali tidak mau berbicara dengan siapapun dan memilih untuk terus berbaring di tempat tidur. Dikepalanya masih terus berputar-putar wajah pria bajingan itu membuat hatinya kembali merasakan sakit yang tak bisa dihilangkan dengan apapun.
"Bagaimana ini.. Kak Cintya sepertinya kembali trauma seperti kemarin." cemas Tama yang baru saja keluar dari kamar kakaknya. Sedari tadi ia mencoba membujuk Cintya agar mau makan. Namun Cintya sama sekali tidak bergerak dari posisinya dan hanya diam saja.
"Boleh saya masuk menemuinya?" ucap Wisnu meminta izin terlebih dahulu. Tama memasang wajah tidak suka kepada Wisnu. Seperti sedang mengatakan kalau semua ini adalah kesalahan yang dilkukan olehnya sehingga membuat kakaknya harus kembali mengalami trauma. Walau begitu, Wisnu tak patah semangat untuk terus meyakinkan kepada semua orang kalau ia bisa mengembalikan semuanya kembali keawal semula. "Aku hanya ingin memeriksa keadaannya saja. "alasannya sambil menunjukkan stetoskop yang ada ditangannya.
"Masuklah nak.." ucap Ayah Cintya memberi izin.
Wisnu masuk kedalam kamar Cintya dan menarik kursi mendekat ketempat tidur lalu kemudian duduk. Cintya tidak bereaksi dengan kedatangan Wisnu kekamarnya. Ia tetap berada pada posisinya yang miring membelakangin Wisnu dengan mata yang tertutup namun tidak tidur.
"Apa kau tidur Cintya?" ucap Wisnu. Cintya tetap tidak bereaksi. Wisnu memutar otak untuk mencari ide agar Cintya mau berinteraksi kembali padanya. Setelah beberapa menit ia berfikir, akhirnya ia menemukan satu cara. "Saya tau kalau kau sebenarnya tidak tidur kan? Kenapa hanya diam saja? Kalau kau merasa kesal, lampiskan saja padaku. Apa kau tidak kasihan padaku? Sedari tadi adikmu itu selalu menatapku dengan kesal." Cintya mulai bereaksi dengan pergerakan badannya membuat Wisnu tersenyum. "Kau sangat beruntung karena mempunyai adik yang begitu sangat menyayangimu. Sepertinya nasip kita berbanding terbalik Cintya. Ingin rasanya aku menukar adikku dengan adikmu. Apa boleh?" godanya.
Ucapan Wisnu membuat fikiran Cintya yang sedari tadi terus mengingat wajah pria itu jadi sedikit teralihkan. Matanya yang sedari tertutup kini ia buka. Memang benar kalau ia sangat beruntung memiliki adik yang sangat menyayanginya. Tapi sebaliknya, ia yakin kalau ia bukanlah kakak yang baik untuk Tama. Tak terasa air matanya menetes mengingat kembali masa-masa saat mereka kecil dulu. Masa dimana ia sempat merasa iri dengan Tama karena Tama lebih disayang oleh banyak orang dibandingkan dirinya. Bahkan ia sempat merajuk dan bahkan tidak mau berbicara dengan Tama selama tiga hari. Namun Tama dengan polosnya tetap terus mendekatinya, sampai akhirnya iapun luluh dengan segala gurauan dan tingkah lucu yang sengaja ditunjukkannya kepada Cintya. Sampai akhirnya iapun mengerti kenapa semua orang menyayangi adiknya itu dibandingkan dirinya. Sikap ramah dan mampu dekat dengan siapapun, membuat adiknya itu banyak disukai oleh siapapun yang ada didekatnya.
__ADS_1
"Apa kau mau mendengar sebuah Cerita Cintya?" Wisnu termenung sekejap sambil menghirup nafas panjang sebelum ia memulai ceritanya. "Di satu rumah yang cukup besar, tinggal satu keluarga yang terdiri dari orang tua lengkap dan juga ketiga anaknya. Keluarga yang tampak normal dan juga sangat ideal dipandangan orang-orang. Anak pertama perempuan dan anak kedua adalah laki-laki. Merka hanya berjarak dua tahun. Sementara jarak anak kedua dan anak ketiga yang juga laki-laki adalah lima tahun. Jarak yang lumayan jauh. Selama lima tahun hidup menjadi anak terahir, anak kedua selalu merasa mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya, kakaknya, maupun dari keluarga besar. Namun ia tidak merasakan hal itu lagi begitu adiknya lahir kedunia. Dua tahun pertama setelah adiknya dilahirnya, semua tampak biasa saja. Anak kedua bahkan sangat senang memiliki adik laki-laki yang begitu imut dan juga tampan. Tingkahnya yang begitu lucu, mampu membuat semua orang yang ada didekatnya merasa bahagia tak terkecuali kakak keduanya. Sampai akhirnya ditahun tahun berikutnya ia mulai merasa kasih sayang orang tua juga orang terdekatnya semakin berkurang padanya dan lebih banyak memberikannya kepada sang adik. Sempat ia berfikir, kalau sebaiknya adiknya jangan pernah lahir kedunia ini." menghela nafas mengambil jedah.
" Tahun berganti.. Kini ketiga anak itu sudah tumbuh besar. Namun anak kedua masih merasa kalau dirinya masih tersaingi oleh sang adik. Kebencian semakin membatu dihati kakak kedua dan membuatnya berfikir cara apa agar sang adik secepatnya tersingkir dari keluarganya. sampai akhirnya ia mempunyai satu kesempatan saat sang adik mengatakan kepadanya kalau nantinya ia tidak ingin mengikuti profesi sang ayah karena ia sudah punya planing untuk kehidupannya sendiri.. Sang kakak tahu kalau ayahnya menaruh harapan yang begitu besar kepada sang adik untuk menjadi penerusnya karena ia pernah mendengar sang ayah berkata seperti itu, bahkan sang ayah mengatakannya langsung dihadapan ketiga anaknya tanpa memperdulikan bagaimana perasaan anaknya yang lain. Lalu sang kakak berfikir untuk memberi tahukan keinginan sang adik kepada sang ayah. Dan benar saja, rencananya berhasil. Ia berhasil membuat hubungan antara ayah dan anak kesayangannya renggang dan bahkan menjadi hubungan yang cukup buruk. Dan tanpa diduga oleh kakak kedua, sang adik sampai memilih untuk meninggalkan rumah demi mencapai keinginannya. Sang ayah semakin murka, bahkan sampai mengucapkan kalau anak itu bukanlah anaknya lagi. Kakak kedua sangat senang melihat situasi itu, karena berfikir kalau semua kasih sayang orang tuanya akan kembali seperti dulu lagi kepadanya." tertawa miris. "Setelah mendengar cerita ini, bagaimana pendapatmu Cintya?" Cintya masih tetap diam tidak menyahuti pertanyaan Wisnu.
Tiba-tiba ponselnya bergetar mendapati notivasi pesan dari Daniah yang menanyakan kapan ia akan pulang karena kondisi Daniel semakin memburuk. Wisnu segera berdiri dan bergerak ingin pergi karena ia ingin melakukan panggilan telfon dengan kakaknya. Baru beberapa langkah ia berjalan, langkahnya terhenti saat Mendengar Cintya bersuara.
"Lalu.. bagaimana keadaan anak ketiga setelah pergi dari rumah? Apa dia mendapatkan keinginannya dan hidup bahagia?" Bertanya tanpa mengubah posisinya.
Wisnu membalikkan badannya tersenyum karena rencananya membuat Cintya bicara akhirnya berhasil. "Tentu.. Dia sangat bahagia dengan kehidupannya. Namun tidak dengan anak kedua."
"Kenapa?.. Bukankah dia sudah mendapatkan semua keinginannya?"
"Hmm.. Seharusnya begitu. Dia memang mendapatkan segala keinginannya termasuk kasih sayang, dan juga jabatan sebagai penerus sang ayah. "
"Lalu.. kenapa dia gak bahagia?"
"Karena dia tahu.. posisi adiknya tetap menjadi yang pertama dihati kedua orang tuanya. Dan kasih sayang yang ia terima selama ini hanyalah sebuah pelampiasan. Bagaimana dia bisa bahagia. Sungguh miris bukan?" ucap Wisnu sambil berlalu pergi. Cintya terdiam dengan segala pemikirannya.
__ADS_1
Tak lama setelah Wisnu keluar dari kamarnya, Ayahnya masuk dan duduk disebelahnya. Terdengar suara helaan berat nafas ayahnya, membuatnya langsung berbalik. Cintya merasa terenyuh melihat ayahnya yang ternyata sedang menangis tanpa bersuara. Cintya akhirnya bangun dan langsung memeluk tubuh ayahnya. Ayahnya semakin menangis dipelukan anaknya "Maafkan ayah nak.. Maafkan ayah.." ucapnya terus menerus. Cintya semakin mengeratkan pelukannya tanpa menyahuti ucapan ayahnya yang terdengar penuh dengan penyesalan.