CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Lebih dari sekedar sebuah pernyataan cinta


__ADS_3

"Hufh... Ku kira kau terkena serangan jantung Cintya... Kenapa kau tidak bergerak sama sekali." ujar Daniel kesal


Cintya masih terus menutup mulutnya karena masih merasa syok.


Apa aku membuatnya syok.. Pandangan mereka menyatu.


"Maaf..." Daniel meminta maaf kepada Cintya karena mengecup bibirnya secara tiba-tiba. "Aku khilaf." lanjutnya masih dengan nada sedikit ketus


"Aku cuma merasa syok.." jelas Cintya tergagap sambil mengipasi wajahnya dengan kedua tangannya. Ntah mengapa, setelah ia mulai bisa mengatur detak jantung dan nafasnya yang hapir terhenti, giliran wajahnya yang terasa memanas.


Daniel terkekeh melihat tingkah Cintya. Rasa kesalnya langsung menghilang "Kenapa kau mengipasi wajahmu? Apa ace mobil kurang dingin?" godanya.


Cintya melirik kesal kearah Daniel. "bisa bisanya dia bertingkah biasa saja disaat tadi aku hampir kehilangan nyawa karena lupa bernafas." gerutunya dalam hati


"Apa kau marah?" Daniel memasang wajah memelas


"Aku bilang aku hanya syok.." Cintya berkilah "Lagian kenapa tiba-tiba abang menciumku..?"


Itu hanya sebuah kecupan Cintya.. Baru begini saja reaksimu sudah membuatku takut. Apa jadinya kalau aku menciummu. Fikirnya


"Aku hanya ingin menghilangan kekesalanku kepadamu." ungkapnya tak berdosa


"Memangnya apa yang aku lakukan... Kenapa abang merasa kesal?"


"Apa kau masih belum mengerti juga kalau aku...." Daniel menghentikan ucapannya


"Apa..? " Cintya mengangkat kedua alisnya


"Kalau aku...." Daniel tergagap. " Haisss..." ia merasa ragu untuk memgungkapkan perasaannya.


"Haissss..?"


Daniel menghela nafasnya panjang. Sepertinya sekarang bukan waktu yang pas untuk memberitahukan isi hatiku. Fikirnya. Ia pun memilih untuk mengalihkan pembicaraan.. "Kenapa kau pergi kesana?" pertanyaan pertama


Cih, dia mengalihkan pembicaraan. Cintya tersenyum miring

__ADS_1


"Mereka mengundangku, jadi aku harus datang." jelas Cintya singkat sambil membenarkan posisi duduknya yang sedari terasa kurang nyaman. Bagaimana bisa nyaman, kalau jantungnya masih terus berdetak dengan kencang.


"Terus, kenapa harus Melky?" pertanyaan kedua


"Mereka juga mengundangnya. Jadi kami memutuskan untuk pergi bersama."


"Lalu, apa tadi... Kenapa kau diam saja saat dia mengandeng tanganmu?" Pertanyaan Daniel mulai menyudutkan


"Kenapa aku harus menolaknya?" jawaban Cintya membuat Daniel kembali merasa kesal.


"Waahhh... Apa kau tidak memikirkan kedepannya hah? Bagaimana kalau dia salah faham?"


"Apa salahnya? " bicara santai


"Apa salahnya kau bilang?... Apa kau tidak memikirkan perasaanku? " Daniel semakin merasa tersulut api yang dibuat oleh Cintya


Cintya mendengus " Ada apa sama abang? Kenapa abang marah aku pergi dengan Melky? Bukannya kita gak punya hubungan apapun? Lagi pula abang juga pergi dengan kak Nova kan? reaksiku biasa aja." Cintya menatap Daniel dengan lamat. Padahal ia merasa tersakiti tadi saat melihat Daniel dengan Nova.


Daniel terdiam sejenak "Ya... Kita memang tidak ada hubungan apapun." ujar Daniel pelan sambil manggut-manggut setuju.


Sekali lagi Daniel menghela nafasnya. Ntah mengapa begitu sulit dia mengatakan perasaannya kepada Cintya. Ia mengetuk ngetukkan jarinya ke kemudi. Ia gugup dan tidak tahu harus apa saat melihat Cintya yang seperti sedang merajuk. aku harus membahas sesuatu.. Mata daniel melirik pada gaun yang dikenakan Cintya. Kenapa dia begitu sangat cantik. Bibirnya tersenyum


"Gaunmu bagus..." puji Daniel setelah beberapa saat mereka sama-sama terdiam


"Melky yang memberikannya.." jawab Cintya bangga "Aku rasa dia menghabiskan seluruh tabungannya untuk membelikanku gaun ini." lanjutnya lagi Semoga kau semakin panass... Cintya tersenyum smirk


"Cih.. dasar si Melky" merasa geram "Tapi menurutku gaunnya kurang bagus ditubuhmu.. Terlalu terbuka.." sangkalnya dengan senyum yang memudar. Wajahnya kembali pahit


"Oya? Tapi semua orang yang berjumpa denganku hari ini begitu memujiku." balasnya tak mau kalah " Bahkan ada yang mengatakan kalau aku lebih cantik dari mempelai wanitanya." pamer


"Memang bagus... Hanya saja terlalu terbuka. Itu maksudku" Daniel tergagap


"Sebenarnya abang kenapa sih?" Cintya mulai merasa kesal melihat tingkah Daniel. "apa sebenarnya yang mau abang bilang? Gak usah mengalihkan pembicaraan dengan mengkomplain pakaianku. Aku tahu bukan ini yang mau abang bahas denganku sejak tadi."


Daniel terdiam

__ADS_1


"Mmm...apa terlalu ketara?" Daniel kepergok


"Hmm.."


Daniel mengubah posisi duduknya menghadap Cintya. Cintya pun melakukan hal yang sama.


"Maaf karena kau sudah terlalu lama menunggu..." Daniel juga sudah merasakan dari lama kalau Cintya juga manaruh hati kepadanya." Aku hanya belum merasa yakin dengan diriku sendiri Cintya. Aku takut kalau nantinya aku tidak bisa membuatmu bahagia." Daniel masih terus memikirkan masa lalunya. Ia masih merasa bersalah atas kematian Jovanca. Sebenarnya dia sangat yakin dengan hatinya yang sudah lama jatuh hati dengan Cintya. Namun dibalik itu masih ada rasa penyesalan terbesit dihatinya.


"Siapa yang tahu hidup seseorang dua jam yang akan datang bang?... Kita hidup hanya untuk berusaha menjadi lebih baik... Soal berhasil atau tidaknya, kita hanya bisa menyerahkannya kepada yang kuasa. Yang terpenting manusianya mau dulu berusaha untuk berhasil. Bukan begitu saja menyerah dan pasrah dengan keadaan." ujar Cintya panjang lebar. Daniel mencoba mencerna kata-kata Cintya


"Kau benar.." Daniel tersenyum samar. Kata-kata Cintya merasuk kedalam hatinya. Seharusnya ia berusaha dulu, baru bisa mengambil sebuah kesimpulan, kalah atau menang. Daniel meraih tangan Cintya, tatapan mereka menyatu " Apa kau bersedia menjadi teman hidupku Cintya..?"


Alih-alih hanya mengungkapkan kata Cinta, Daniel malah langsung melamar Cintya.


Cintya gugup mendengar kata-kata yang terucap dari bibir Daniel kenapa bahasanya lain dari pada yang lain.. "Kenapa kata-kata abang seperti orang yang sedang melamar?" Cintya tergelak menghilangkan kegugupannya. Namun rona merah diwajahnya tidak dapat berbohong


"Aku memang sedang melamarmu." jelasnya polos


Cintya speecles "Abang yakin?" dia melamarku? aaaa senangnya.. Cintya senang bukan kepalang.


Daniel mengangguk sambil tersenyum. "Diumurku yang sudah segini, bukan saatnya untuk main-main lagi Cintya." mengelus rambut Cintya. " Aku tidak ingin hanya sebatas menjadi kekasihmu.. Aku ingin memilikimu seutuhnya." Agar tidak ada yang berani merebutmu dariku.


Dibukanya sebuah laci dan mengambil sesuatu didalamnya.


"Sebenarnya sudah dari lama aku ingin memberikan ini kepadamu." membuka kotak petak berwarna merah yang berisi kalung dengan mainan berbentuk cincin. "Aku akan memakaikannya untukmu" memasang keleher Cintya.


Merinding rasanya saat tangan Daniel menyentuh leher Cintya saat mencoba memasangkan kalung. Bahkan dadanya serasa sesak karna ia malah menahan nafasnya saat wajah Daniel begitu dekat dengan wajahnya.


Daniel tergelak.. "apa kau tidak bernafas Cintya?" meledek


Cintya merasa sangat malu dengan kebodohannya sendiri. Namun terlihat sangat imut dimata Daniel.


"Bagaimana.. Apa sekarang hubungn kita sudah resmi sebagai pasangan?"


Cintya mengangguk pasti. Daniel pun menarik tubuh Cintya kedalam pelukannya. akhirnya ia bisa merasakan kebahagian lagi setelah sekian lama ia merasa hanya sendiri dengan penyesalan yang tak berujung. Bersama Cintya ia berharap bisa menjadi pria yang lebih baik lagi. Dan berharap bisa secepatnya melupakan masa lalunya yang kelam. Daniel mengelus rambut Cintya dengan sesekali mencium pucuk kepala Cintya. "Aku mencintaimu.." sambil terus mengeratkan pelukannya.

__ADS_1


Cintya sudah tidak bisa berkata-kata. Dia terlalu bahagia. Bahkan matanya sudah berkaca-kaca sangking senang dan merasa terharu. Sekarang laki-laki ini adalah miliknya.


__ADS_2