
" Gak ada kan ya Mel. Udalah kita pulang aja" Cintya tampak merengut karna Tama tak ada dipenglihatannya sambil menarik tangan Melky untuk keluar dari cafe.
"Ditelfon dulu lo. Aku tau dia pasti udah ada disini." Ucap Melky yakin.
Cintya pun menuruti saran dari Melky, tanpa berfikir kenapa Melky bisa seyakin itu. Diambilnya ponsel dari dalam tasnya, lalu melakukan panggilan ke ponsel Tama. Tak lama, terdengar suara ponsel berdering dari sebuah meja yang ada disudut depan. Cintya yang masih meletakkan ponselnya ditelinga sontak melihat kearah suara. Terlihat dua sosok orang yang sedang melihat daftar menu, sehingga wajahnya tidak terlihat oleh Cintya. Cintya pun akhirnya mendekati meja tersebut, lalu mencoba mengintip dari atas. Namun orang tersebut semakin mendekatkan daftar menu kewajahnya. Namun Cintya hapal betul dengan sepatu yang dikenakan oleh orang itu. Dengan keras ia hentakkan kakinya menginjak kaki orang itu.
"Aduh" rintih Tama saat persembunyiannya terbongkar.
"Dasar adek gak punya ahlak" omelnya sambil menjewer kuping Tama. Tama meringis kesakitan sambil mengusap kupingnya. Mata Cintya pun beralih menatap seseorang yang berada disamping Tama, yang tadi juga ikut menutup wajahnya dengan daftar menu. Daniel.
"Abang jugak, ngapain sih ikut ikutan sama dia." Cintya beralih mengomeli Daniel
"Siapa yang ikut ikutan, orang aku lagi liat menu." Elaknya sambil mengalihkan wajahnya kearah luar.
"Lihat menu apanya..! yang punya cafe kan dia, untuk apa lihat menu." Cintya menggerutu pelan sambil menatap Daniel dengan sinis. Cintya masih kesal dengan Daniel atas insiden kemarin malam sehingga ia malas untuk berjumpa dengan Daniel. Namun sepertinya adiknya sendiri tidak bisa mengerti keadaan kakaknya.
"Ngapain ngajak ketemu disini? kan masi banyak cafe lain." Cintya duduk di kursi sebrang berhadapan dengan Tama.
"Ngapain ngajak dia..!" Bukannya menjawab pertanyaan Cintya, Tama malah menanyakan perihal kedatangannya dengan Melky. Mata Tama menatap tidak suka kepada Melky.
Melky yang biasanya ceria, sekarang terlihat pendiam setelah berjumpa dengan Tama. Bahkan ia tidak berani membalas tatapan Tama terhadapnya.
Cintya merasa ada yang salah antara Melky dan adiknya. Namun apa, ia tidak tau.
"Duduk Mel.." Seru Daniel yang melihat Melky hanya berdiri saja.
" Kayaknya aku langsung pulang aja. Udah mau magrib. Ntar emak aku nyariin lagi kayak kemaren." Melky tampak tersenyum kecut.
" Bukannya tadi kau bilang laper ya..! Terus tadi siapa yang janji mau traktir?" Cintya hendak menahan Melky. Namun sepertinya tatapan Tama tidak berhenti menatap Melky dengan tatapan tidak sukanya.
"Mmmm,,, lain kali deh Cin.." ucapnya. " Aku luan yah Bang,, Tam.." Melky pamit kepada Daniel dan Tama. Namun hanya Daniel yang terlihat menyauti sapaan dari Melky.
"Kenapa si Melky.." Cintya tampak heran " Ada masalah kau sama si Melky dek?" Cintya mulai mengintrogasi Tama
" Gak ada" ucapnya cepat. Namun raut wajahnya tampak kesal
"Oke.. Kalau kau bilang gak ada apa - apa. Tapi kakak yakin kalau ada sesuatu diantara kalian." Cintya tampak memicingkan matanya saat menatap Tama. Berharap Tama akan bercerita kepadanya. Namun nihil, Tama tetap diam. Cintya akhirnya menyerah.
"Abang ngapain disini?" Cintya beralih kepada Daniel yang sedari tadi hanya menatapnya.
"Pertanyaan aneh.. Ini cafe siapa?" Daniel malah balik bertanya.
"Iya, aku tau ini cafe abang. Maksud aku tu, abang ngapain duduk sama Tama disini?"
__ADS_1
"Emang ada larangan untuk duduk sama dia?"
"Astagaa.." Cintya menarik nafasnya dalam, lalu dihempaskannya dengan perlahan. Perlu kesabaran untuk menghadapi kedua pria yang ada dihadapannya.
"Uda pesan makan dek?" tanyanya sambil menyambar daftar menu yang masih dipegang oleh Tama.
"Belum. Emang sengaja mau nunggu kakak datang dulu, biar barengan mesennya." Balasnya. " Kakak dari mana tadi sama dia?" Yang dimaksud adalah Melky.
"Dia siapa deek.." masih melihat menu.
"Yang tadi datang sama kakak lah. Siapa lagi..!"
"Ngapain nanyak - nanyak?, pertanyaaan kakak tadi aja gak mau kau jawab." jawabnya ketus
"Lagian yang pentingkan kakak datang".
"Mmmm... Kakak pesen steak ayam, sama minumnya lemon tea aja. Kau mau pesan apa dek?" Ucapnya
"Samain aja" jawabnya cepat. Hilang sudah selera makan Tama setelah melihat Melky tadi.
"Abang mau ikut pesan juga gak? Biar dipesenin sekalian." Cintya seakan lupa kalau Daniel lah pemilik cafe itu.
"Gak perlu. Liat kalian berdua aja aku udah kenyang." jawabnya ketus lalu menoleh ke arah luar.
"Lagi PMS kali ni orang" Tak ada hentinya Cintya menggerutu.
Cintya mengangkat sebelah tangannya untuk memanggil pelayan, lalu memesan makanan untuk mereka.
"Jadi tadi malam tidur di motel mana dek?" Tanya Cintya kepada Tama, setelah ia selesai menuntaskan pesanannya kepada pelayan cafe.
"Mana level aku mah, tidur di motel." serunya sambil memandang kearah Daniel sambil tersenyum. Sementara Daniel hanya melengos mendengar ucapan Tama barusan.
"Gaya gaya kau gak level tidur di motel. Kalau gak tidur di motel terus tidur dimana?" Balasnya galak.
"Disebuah vila.." ucapnya dramatis. Cintya mengerutkan dahinya, tanda tidak mengerti.
"Jangan bingung, kakak jugak pernah kok kesana." Lanjutnya lagi.
Cintya semakin bingung." Maksudmu apa sih dek. Gak ngerti aku.!"
"hehehe.... Aku nginap dirumah calon kakak ipar" Tama cengar cengir. Cintya geleng-geleng karna masih tidak mengerti maksud perkataan Tama.
"Kakak tau gak, sebenarnya aku cuma ngambil cuti 3 hari. Tapi karna aku betah nginap dirumah calon kakak ipar, cuti aku, aku perpanjang sampek minggu depan." Jelasnya girang
__ADS_1
"What...!" suara Daniel menggema. Bahkan Cintya sampai terkejut karna reaksi Daniel yang seperti itu.
"Kamu pikir rumah aku tempat penginapan?" ucapnya
Cintya baru mengerti sekarang. Wajah Cintya memerah karna menahan kesal sambil menatap kearah Tama tanpa berkedip. Tama yang dipandang seperti itu oleh kakaknya, mencoba menelan salivanya yang terasa sangat sulit untuk ditelan. Dia seakan tau kalau kakaknya lagi marah sekarang. Dan Tama tau betul kalau kakaknya sudah marah, tidak pandang tempat. Dimana pun ia bisa meluapkan kemarahannya. Diapun segera mencari jalan pintas agar Cintya tidak memarahinya. Tama memilih kabur ke toilet.
"Bisa dijelaskan maksud Tama barusan..?" Cintya meminta penjelasan kepada Daniel.
Terdengar Daniel menghela nafas pelan.
👁Kejadian semalam setelah keluar dari rumah Bapak kos Cintya👁
Mereka sudah berada diluar gerbang kos Cintya. Daniel yang merasa bersalah karna sudah menyebabkan Cintya diusir, berinisiatif akan mencarikan tempat kos baru untuk Cintya. Namun Cintya menolaknya mentah-mentah dengan mengatakan bahwa ia bisa mencari tempat untuknya sendiri. Ia sungguh tidak ingin lagi berurusan dengan Daniel. Daniel tidak menyerah begitu saja, bahkan ia mengatakan kalau ia rela menjadikan rumahnya sebagai tempat tinggal untuk Cintya, jikalau Cintya belum menemukan tempat yang nyaman untuknya. Tapi niatnya baiknya tetap tidak diterima oleh Cintya.
Daniel pasrah, ia pun pamit kepada Cintya untuk pulang.
Saat Daniel hendak pulang, Tama meminta tolong kepada Daniel agar mengantarnya ketempat penginapan. Daniel pun setuju memberikan tumpangan kepada Tama.
Tama lalu pamit kepada Cintya, dan mengatakan kalau ia akan menemui Cintya sepulang Cintya bekerja besok. Karna Cintya sudah tidak punya tenaga lagi saat itu, ia pun hanya mengangguk setuju lalu berlalu masuk kedalam kos nya.
Didalam perjalanan...
"Mau ke Hotel atau Motel..?" Daniel bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan. Karna ia sedang berada dibalik kemudi.
"Mmmm kemana enaknya yah.." Tama menoleh kepada Daniel, meminta saran.
"Kalau Hotel disini banyak. Tapi kalau Motel, agak jauh dari sini." jelasnya
Tama tampak berfikir."Kalau Motel kejauhan berarti yah. Tapi kalau Hotel kemahalan.." ucapnya.
Daniel menoleh sebentar mendengar ucapan Tama lalu kembali fokus kejalanan."Terus kamu mau kemana.. Hotel yang murah juga ada kok. Paling tiga ratusan semalam." Daniel mengerti maksud Tama. "Tapi kalo Motel, kita harus putar balik lah".
"Kalo yang gratis ada gak?"
"Gratis..!"
"Ho oh.."
" Mana ada penginapan yang gratis." Daniel mulai bingung
"Oya.. Terus kakak aku waktu nginap dirumah abg, bayar berapa dia?" Tanyanya ketus dengan wajah yang dibuat serius.
Kontan Daniel menghentikan laju mobilnya, karna kaget mendengar pertanyaan seperti itu dari Tama. Bahkan suara klakson dan cacian dari pengendara lain yang berada dibelakang mobilnya sudah tidak dihiraukannya lagi sangking syoknya.
__ADS_1