
Begadang. Mungkin kata itu tepat disematkan untuk Daniel dan Cintya. Dimana teman-teman mereka sudah terlelap dalam mimpinya, namun tidak untuk kedua anak manusia itu.
Mereka masih asik berbincang, tak perduli kalau jam yang melingkar di pergelangan tangan mereka sudah menunjukkan pukul 01.20 dini hari.
"Cin.." panggil Daniel
"Hmm.." jawabnya sambil masih menatap indahnya langit luas.
"Kamu masih sering kepikiran mantan kamu gak sih?"
Cintya menatap kearah Daniel sebentar, lalu kembali menatap langit seraya menggelengkan kepalanya dan berkata "enggak. emang kenapa?"
"Yakiinn? " Daniel merasa tak percaya.
"Yakin lah. Orang kekgitu ngapain sih masih diingat-ingat. " jawabnya santai. " Gak cuma dia laki-laki didunia ini kan." sambungnya lagi.
"Kira-kira kalau dia ngajakin balikan lagi masi mau gak?"
"Ogah," jawab Cintya cepat
"Hahaha... yakin?" Daniel mencoba menggali perasaan Cintya.
"Yakin pakek banget.. lagian ngapain sih abang nanyaknya kekgitu?" Cintya sedikit kesal dengan pertanyaan Daniel
"Ya gak apa-apa. Hanya sedikit ingin memastikan."
"Memastikan apaan?"
"Ya memastikan aja kalau kamu udah beneran moveon ," jawab Daniel
"Emang kalau aku udah beneran moveon abang mau ngapain?" tanya Cintya. Dan pertanyaan itu berhasil membuat Daniel bingung untuk menjawabnya.
"Ya.. ya gak apa-apa" jawabnya gugup.. " kan cuma mastiin doang. Emang gak boleh?" Daniel ngeles.
"Yaelah.. kirain dia mau nembak." Gumam Cintya dalam hati. Cintya cuma nyengir doang mendapat penjelasan yang tidak memuaskan dari Daniel. Cintya fikir Daniel akan mengutarakan perasaannya saat mengetahui kalau dirinya sudah moveon. Ternyata dia salah.
Daniel tersenyum saat melihat expresi dari wajah Cintya yang terlihat kesal. Yang seakan-akan kecewa dengan jawabannya barusan. Daniel mengerti kalau perasaannya selama ini tidak bertepuk sebelah tangan. Namun ia masih sedikit merasa ragu untuk mengutarakan perasaannya. walaupun sudah lama berlalu, ia masih merasa trauma dengan apa yang pernah menimpa dirinya dulu. Jadi ia lebih memilih untuk menunda mengungkapkan isi hatinya kepada Cintya, sampai ia merasa yakin tidak akan ada lagi bayang-bayang Jovanka didalam kepalanya.
"Cin.." panggilnya lagi
"Hmm.." jawab Cintya malas
__ADS_1
Daniel berusaha mencairkan suasana dengan mengganti topik pembicaraan. "aku penasaran deh sama si Tama" ucapnya
Cintya mengerutkan dahinya sambil memandang kearah Daniel " penasaran kenapa?" tanyanya heran
"Tu kan bener.. hehe." Daniel tertawa dalam hati. " Ya heran aja, kok adek kamu pengecut gitu." ujarnya
" Kenapa abang bisa ngomong gitu? abang tau darimana dia pengecut?" Cintya sedikit tidak terima adiknya dikatain pengecut.
"Yaelah, kamu lupa dia pernah tinggal dirumah ku?" Daniel mencoba mengingatkan kembali. "kamu tau gak, setiap malam dia gedorin itu pintu kamar aku?" sambungnya lagi
"Mmm.. ya mana aku tau, orang abang sama Tamanya gak ada cerita." balasnya
"Maka dari itu,aku nanyak kenapa dia bisa sepengecut itu?... waktu dia maksa mau masuk ke kamar ku, mukanya pucat banget, kayak habis dikejar-kejar hantu tau gak." jelasnya "mana pas di tanya gak mau jawab lagi." sambungnya. Gak terbayang gimana kesal ya Daniel saat Tama memaksa untuk masuk dan tidur dikamarnya waktu itu.
"Hahaha..." Cintya malah tertawa keras membayangkan wajah Daniel waktu itu.
Daniel mengerutkan dahinya. Ia merasa heran,bukannya menjawab pertanyaannya Cintya malah tertawa. "Dijawab, bukan malah ketawak gitu." ujarnya sedikit kesal.
"Sukur aja dia gak cerita." ucap Cintya. Daniel malah semakin bingung
"Maksudnya?"
Daniel terperanga, bulu kuduknya seketika berdiri, Jantungnya berdebar kencang. Bukan karna takut saat mengetahui kalau Tama memiliki indra ke enam atau dengan kata lain dapat melihat mahluk tak kasat mata, melainkan karna hembusan nafas Cintya yang terasa sangat sejuk mengenai kulitnya saat berbisik tepat di telinganya sehingga membuat bulu kudunya merinding dan memberikan getaran disekujur tubuhnya. Seakan-akan kata-kata yang terlontar dari mulut Cintya adalah kata-kata cinta yang sangat indah, yang mampu membuatnya seperti terhipnotis.
"Cintya.." pangilnya sambil memandang wajah Cintya yang hanya berjarak berapa centi
" Hmm..?" jawab Cintya sambil tersenyum manis
"I love U.." ucapnya. Dan tanpa permisi Daniel langsung menarik wajah Cintya lalu menyatukan bibirnya dengan bibir Cintya. Dingin dan juga lembut, itulah yang Daniel rasakan saat pertama kali mendaratkan bibirnya pada bibir Cintya. Menikmati setiap sentuhan demi sentuhan membuatnya semakin melayang tinggi. Ditambah lagi tidak adanya penolakan dari Cintya membuatnya semakin dalam untuk menguasai setiap apa yang ada didalam mulut gadis manis itu. Awalnya perlahan, namun semakin lama ia semakin ganas. Entah sudah berapa lama ia tidak merasakan kenikmatan seperti ini.
Suasana sepi dan udara dingin semakin mempropokasi Daniel untuk melakukan lebih. Dari Bibir Daniel beralih pada leher mulus Cintya. menghirup wangi tubuh Cintya lalu mulai menciumnya dan membuat beberapa tanda merah disana. Seperti belum merasa puas, Daniel pun kembali menjelajah ke bibir Cintya dan memberikan gigitan kecil disana. sungguh birahinya sangat memuncak, bahkan sudah sampai ke ubun-ubun. Ia sudah tidak bisa menahannya lagi. Bagaimanapun ia adalah lelaki normal yang bisa naik walau hanya dari sekedar sentuhan saja. Namun yang ia dapati sekarang bukanlah hanya sekedar sentuhan, melainkan sudah seperti penyerahan diri. Tak menunggu lama, ia pun mulai menjalar kepada tubuh Cintya. Tangannya mulai begrilya masuk kedalam baju Cintya dan berusaha untuk menggapai apa yang ada didalamnya.
Namun seketika kegiatannya terhenti saat mendengar namanya dipanggil, "bang Daniel.. bang Daniel.."
Daniel pun akhirnya tersadar kalau ternyata sedari tadi dia hanya berhayal sedang bercinta dengan Cintya.
"Abang kenapa?" tanya Cintya heran karna Daniel hanya diam saja sedari tadi.
"Hah apa?" ucapnya bingung.
"Ihh abang aneh tau gak. Abang kenapa sih? melamun ya?."
__ADS_1
Daniel langsung mengalihkan pandangannya kearah lain. Ia benar-benar merasa sangat bodoh karna sudah berhayal seperti itu. " Enggak ah. siapa jugak yang melamun." elaknya
"Terus kenapa abang diam aja aku ajak ngobrol?" tanyanya lagi."lalu ini apa?" Cintya menunjuk ke arah tangannya yang sedang digenggam erat oleh Daniel.
"Astaga... dasar bodoh.. apa yang udah gue lakuin" Daniel memaki dirinya sendiri yang sudah bertindak bodoh. Dan dengan cepat ia melepaskan genggamannya dari tangan Cintya.
"Maaf." hanya kata maaf yang dapat terlontar dari mulut Daniel.
"Abang kenapa?, takut?, karna aku bilang kalau Tama bisa liat hantu?" sangkanya
"Cih, kamu kira aku si Tama." protesnya
"Bisa ajakan!, tuh buktinya sampek megang tangan aku. Mana kuat banget lagi megangnya. Ngapain lagi cobak, kalu bukan karna takut?" ucapnya meledek
"Sukur deh dia cuma ngira gue ketakutan. Kalau dia sampai tau gue tadi ngayalin lagi ciuman sama dia, bisa gaswat" Daniel menghela nafas lega.
"Emang beneran si Tama punya indra ke enam?" tanya Daniel.
"Benerlah.. abang gak percaya?"
"Berarti dia bisa liat mahluk astral dong?" ucapnya dan dijawab anggukan oleh Cintya. "Sama dong kalau gitu." sambungnya lagi
"Sama? abang juga bisa liat hantu?" Cintya penasaran
"Bisa.." jawabnya yakin
"Bohong" Cintya tau Daniel sedang bercanda.
"Yaudah kalau gak percaya." ucapnya tak perduli
"Mana hantunya kalau memang abang bisa liat. Gak mungkinkan ditempat kekgini gak ada mahluk halus!" Cintya mengetes Daniel yang mengaku punya indra ke enam.
"Tuh lagi berdiri disana." Daniel menunjuk kearah salah satu pohon dengan jari telunjuknya. "dia pakek baju putih, tapi sayangnya kepalanya gak ada " katanya menakut nakuti.
"Halah bohong. " Cintya tak begitu saja langsung percaya.
"Gak percaya lihat noh kesana." Daniel mengarahkan wajah Cintya kearah pohon yang ditunjuknya tadi " Kamu gak lihat tuh ada putih-putih?" Daniel semakin menjadi.
Cintya menajamkan penglihatannya, tidak nampak apapun, yang ada hanya semak belukar. Namun tiba-tiba Cintya mulai merasakan ada pergerakan disana dan kemudian muncul lah sosok seperti yang Daniel ucapkan tadi dari belakang pohon.
Tanpa ba bi bu, Cintya langsung teriak histeris. " Aaaaaaaa......"
__ADS_1