
tok tok tok..
Cintya terkejut saat pintu kamarnya diketuk seseorang. Pasalnya ini sudah pukul sebelas malam. Dan saat itu ia juga sedang telfonan dengan Tama.
"Bentar ya dek,ada yang ngetuk kamar kakak." ucapnya kepada Tama yang berada disebrang telfon.
"Siapa?" teriak Cintya dari dalam
"Mila kak." jawabnya juga berteriak.
"Mila.. ngapain dia malam-malam kesini?" gumam Cintya
Mila adalah salah satu penghuni kos yang kamarnya bersebelahan dengan Cintya. Cintya pun turun dari ranjangnya dan meletakkan ponselnya diatas nakas lalu berjalan kearah pintu.
Klek.. pintu terbuka
"Aaaahh.." teriak Mila dengan expresi wajah yang sangat lucu menurut Cintya. Namun tetap saja membuat Cintya kaget bukan main.
"Heh Mila, apaan sih malam-malam tereak-tereak?" kata Cintya
"Ih kakak ngagetin tau gak. " ucapnya sambil memegangi dadanya. Rasanya jantungnya seperti mau keluar
Cintya baru sadar kalau ia sedang memakai masker wajah. Namun bukannya prihatin, ia malah tertawa karna melihat wajah takut Mila. "Ya ampun Mila, kau lucu banget tau gak sih." ucapnya masih tertawa
"Iihh gak lucu tau gak. Kalo aku tadi jantungan gimana?" ucapnya kesal
"Jangan marah-marah atuh. Maaf.." ucap Cintya meminta maaf. Bener juga katanya, kalau ia sampai jantungan gimana?, soalnya mukanya aja udah pucat begitu. bisa-bisa dia yang disalahkan."Terus kau ngapain malam-malam ngetuk kamar aku?"
"Itu ada yang nyariin kakak didepan. Katanya temen kakak." ucapnya langsung pergi sambil masih memegangi dadanya.
"Makasih ya Mila" teriak Cintya namun tidak dijawab oleh Mila. Sepertinya dia marah atau mungkin dia benar-benar punya penyakit jantung. Fikir Cintya
"Tapi siapa malam-malam datang nyariin aku?" gumamnya.
Karena penasaran ia pun pergi juga keluar. Diluar pagar ia melihat seorang lelaki sedang berdiri membelakangi pagar. Namun ia tahu siapa itu.
"Ngapain dia malam-malam kesini?" gumamnya "Bang Daniel.." panggilnya
Yang di panggil menoleh kebelakang "Astaga.." ucapnya terkejut "Ya ampun Cintya kamu apa-apaan sih? bikin kaget aja." ucapnya kesal
"Ya ampun maaf-maaf." ucap Cintya tertawa. Sudah dua orang yang terkejut dibuatnya.
"Huh, hampir aja jantungku berhenti." kata Daniel sambil mencoba mengatur pernafasannya kembali.
"Ya maaf, ngapain abang malam-malam kemari?. Lagian datang bukannya telfon dulu." Cintya malah merepeti Daniel yang datang tiba-tiba
"Dari tadi aku uda coba telfon Cintya, tapi nomor kamu sedang berada dipanggilan lain. Lagi telfonan sama siapa sih?" tanyanya
"Oohh.. lagi telfonan sama Tama." ucap Cintya " Ada apa bg?" tanyanya lagi
__ADS_1
"Aku cuma mau ngantar ini" Daniel menunjukkan kantong plastik yang sedari tadi dipegangnya, lalu ia berikan kepada Cintya
"Apa ini?" tanya Cintya sambil menerima kantong plastik.
"Steak daging. Tadi di cafe aku sengaja masak buat kamu." ucapnya
Cintya senang bukan main, bahkan kalau saja ia tidak sedang memakai masker, Daniel pasti akan melihat wajah Cintya yang seketika merona ."Oya, makasih loh udah dimasakin steak." ucap Cintya tersenyum
Daniel mengangguk namun wajahnya masih terlihat terkejut. "Lain kali kalau keluar, jangan pake gituan ah. serem." ucapnya
"Ya maaf" hanya maaf yang Cintya lontarkan karna sudah mengejutkan Daniel.
Daniel menghela nafasnya yang sedari tadi masih berdegub kencang. " Yaudah, aku pulang dulu yah." pamitnya
"Kok langsung pulang? abang gak mau makan dulu?"
"Aku sengaja buat untuk kamu Cintya."
"Iya aku tau, tapi aku gak mau makan sendiri."
"Tapi ini udah malam. Nanti bapak kosnya marah."
"Gak apa-apa kalau cuma diteras." ucapnya sambil menarik lengan Daniel untuk ikut masuk.
"Abang tunggu disini sebentar yah, aku mau cuci muka dulu." Cintya meninggal kan Daniel di kursi teras.
Cintya bergegas masuk kekamar lalu mencuci wajahnya. Selesai mencuci muka, ia seperti terlupa akan sesuatu. Tapi apa, ia bebar-benar tidak mengingatnya. Hah yasudahlah, iapun kemudian kembali menemui Daniel dengan membawa piring dan botol minum.
"Hmm iya iya minta maaf." ucap Cintya sambil meletakkan piring dan botol minum diatas meja. Lalu bergerak mengeluarkan steak dari dalam kantong plastik. "Waahh.. pasti enak, harumnya aja udah terasa enak." diberikannya potongan daging pertama kemulut Daniel.
"Kan untuk kamu." kata Daniel. Namun ia tidak bisa menolak karna Cintya tetap menyuapinya.
Tiba-tiba ponsel Daniel berdering. Daniel mengeluarkan ponsel disaku jaketnya lalu melirik kearah Cintya saat melihat siapa yang sudah menelfonnya malam-malam begini.
"Siapa?" tanya Cintya saat menyadari Daniel meliriknya tadi.
"Tama." ucapnya sambil menunjukkan layar ponselnya, Cintya mengangguk sambil melanjutkan makannya.
"Hmm.." jawab Daniel di telfon
"Bang.. abang lagi dimana?"
"Menurutmu aku lagi dimana malam-malam gini?" Daniel malah balik nanya
"Abang gak lagi sama kak Cintya?"
"Sejak kapan kamu berganti profesi jadi peramal huh?, darimana kamu tau?"
Cintya hanya bisa mengerutkan dahi saat mendengar Daniel mengobrol dengan Tama ditelfon. Apa yang mereka bicarakan? gumamnya dalam hati karna tidak tahu apa yang adiknya ucapkan kepada Daniel dari seberang telfon
__ADS_1
"Hufh.. syukurlah." ucap Tama legah.
Daniel mengerutkan dahi "Kamu kenapa?" Daniel bingung kenapa Tama terdengar menghela nafas
"Gak apa-apa. Mana kak Cintya?"
"Lagi makan. Apa kamu gak bisa gak mengganggu orang malam-malam huh?" cerca Daniel bercanda
"Cih.. apa abang gak tau kalau gebetan abang itu udah bikin aku khawatir? dia ngilang waktu kami tadi masih telfonan. " ucapnya kesal
Daniel tersenyum. Ia baru ingat kalau tadi Cintya sempat bilang kalau ia sedang telfonan dengan Tama. Ternyata dia berfikir kakaknya menghilang. Dasar adik somplak " Dia gak hilang. Dia hanya sedang menikmati makanannya sekarang. Jadi jangan khawatir, pergi tidur sana." usir Daniel
"Huh, belum sah jadi pacar aja udah berani ngusir adiknya. Gimana kalau udah nikah nanti, bisa-bisa aku bakalan gak dianggap."
"Kamu berisik tau gak. Sakit kuping aku."
"Apa sih?" tanya Cintya bingung
"Nih adik kamu." Daniel menyerahkan ponselnya kepada Cintya
"Hmm apa Tam?" Cintya beralih kepada Tama
"Bisa gak mustipun lagi pacaran tetap ingat sama adeknya." kata Tama ketus, Cintya bingung
"Kau tu kenapa sih, tiba-tiba nelfon kok merepet pulak."
"Kakak gak ingat tadi masih telfonan samaku? terus tiba-tiba kakak ngilang? adikmu ini khawatir tau."
"Haha... ya allah, aku lupa Tam." Cintya malah tertawa mengingat kebodohannya yang sudah menelantarkan Tama di telfon.
"Huh, dasar bucin." cercanya. " kasih sama bang Daniel." serunya lagi, Cintya langsung memberikan ponsel Daniel kembali masih dengan tertawa
"Apa lagi?" ucap Daniel malas
"Jangan malas-malas telfonan samaku. Gini-gini aku calon adek ipar abang." ucapnya bangga " oya jangan malam-malam pulang ngapelin kakakku." lanjutnya lagi
"Oke, aku bakalan pulang pagi, atau siang. Kayaknya disini cukup nyaman untuk tidur." Daniel terkekeh sendiri
"Heh jangan macam-macam yah, kakak ku itu masih tingting. Awas aja kalau abang berani nyentuh kakakku sebelum kalian sah." ancam Tama
"Oya? aku jadi semakin penasaran." Daniel tidak hentinya menggoda Tama.
"Apa? apa? penasaran sama apa?"
"Aahh kamu gak perlu tau. Masih kecil kamu tuh. Mending kamu tidur, udah malam. Aku juga mau tidur biar bisa pulang pagi. Soalnya tadi ada yang ngelarang aku pulang malam." ucapnya tertawa lalu mematikan sambungan telfonnya. Entah bagaimana kesalnya Tama saat ini karna Daniel mematikan telfon mereka secara sepihak.
"Abang seneng banget sih goda si Tama." ucap Cintya
"Kamu sadar gak sih kalau adekmu itu ngeselin" Cintya berdelik kepada Daniel merasa tidak terima adiknya dibilang ngeselin." tapi dia tetep ngangenin, sama kayak kamu" lanjutnya lagi sambil tertawa
__ADS_1
Cintya hanya bisa melipat bibirnya menahan senyum saat mendengar ucapan Daniel yang seperti sedang menggombal. "Dasar gombal" gumam Cintya.