CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Part 40


__ADS_3

Hampir setengah jam Daniel berdiri sambil menyandarkan tubuhnya di body mobilnya didepan sebuah gerbang. Berulang kali juga ia melakuan panggilan melalu ponselnya, namun nomor yang dituju tak kunjung aktif.


"Apa gue samperin kedalam aja yah.." gumamnya " Tapi enggak deh, nanti kejadian lagi kayak kemaren" Daniel pun mengurungkan niatnya untuk masuk kedalam. "Tapi mau sampek kapan gue nunggu disini. Mana gak ada orang yang keluar lagi dari tadi" Daniel ngedumel sendiri


Tak berselang lama, orang yang ditunggunya sedari tadi muncul juga.


"Bang Daniel.." panggil Cintya


Daniel menoleh, dan menemukan Cintya sedang berdiri tidak jauh dari dirinya dengan masih mengenakan pakaian kerja. "Hay Cintya.." sapa Daniel canggung.


"Ngapain berdiri disitu? kok gak masuk?"


"Mmm emang boleh? ntar dimarahin lagi kayak kemaren." Daniel masih trauma dengan kejadian waktu dikossan Cintya yang lama.


"Disini agak lebih longgar peraturannya. Gak kayak di kos yang kemaren." Cintya membuka pintu gerbang dan mempersilahkan Daniel masuk.


Daniel mengikuti Cintya dari belakang sampai didepan sebuah kamar.


"Abang mau masuk atau mau berdiri disitu terus?" tegur Cintya yang melihat Daniel hanya berdiri di luar kamar.


"Mmm... sebaiknya aku nunggu diluar aja." ujarnya.


"Hmmm oke. Abang bisa duduk disana" tunjuk Cintya kearah teras "Aku mau ganti baju dulu."


Nada bicara Cintya benar-benar sangat dingin, tidak seperti biasanya. Wajahnya juga tidak berseri seperti biasanya. Biasanya setiap kali mereka berjumpa, Cintya selalu menyunggingkan senyum kepada Daniel. Dan senyum Cintya selalu berhasil membuat hati Daniel merasa damai dan nyaman. Namun kali ini, senyum itu hilang ntah kemana. Daniel hanya bisa menerutuki kesalahannya didalam hati.

__ADS_1


Tidak sampai 10 menit, Cintya sudah keluar dengan mengenakan pakaian rumahan juga dengan dua cangkir teh ditangannya.


Cintya memberikan secangkir teh untuk Daniel lalu duduk di sebrang kursi Daniel. Ia hanya diam saja sambil menyeruput teh miliknya.


"Maaf yah Cin soal kemarin.." ucap Daniel membuka pembicaraan.


"Maaf untuk apa?" Cintya pura-pura bodoh


"Soal kemarin aku gak ada ngasih kabar. Ponsel aku ketinggalan di cafe." jelasnya


"Bukan masalah besar, jadi gak perlu minta maaf." jawab Cintya ketus


"Mungkin itu bukan masalah besar buat kamu, tapi buatku ini mengganggu." ucap Daniel jujur. "Aku benar-benar minta maaf." ucapnya lagi


Cintya hanya diam tidak menyauti permohonan maaf yang dilontarkan Daniel kepada dirinya. Sangat terlihat jelas kalau ia benar-benar merasa kecewa oleh sikap Daniel yang tidak mengabarinya kemarin. Padalah ia sudah bersiap-siap dari habis magrib. Kalau saja Daniel mengabarinya, ia mungkin tidak akan semarah dan sekecewa ini. Walaupun baru sekali ini Daniel ingkar janji, namun tetap saja Cintya masih merasa kecewa.


"Kenapa aku musti marah?" Cintya memotong ucapan Daniel " Abang gak salah apa-apa.. Akunya aja yang terlalu ngarep.. Aku juga yang terlalu kepedean dengan kebaikan-kebaikan yang abang kasih ke aku.. Aku gak boleh marah, emangnya aku siapa? kita hanya teman. Bukan begitu? jadi abang gak perlu merasa terganggu dengan ini semua" kata Cintya meluapkan semua yang ada didalam hatinya namun dengan nada yang cukup lembut.


"Bukan gitu Cin.. tapi..."


"Udah, abang gak perlu merasa bersalah. Aku gak apa-apa kok. Dan abang gak usah capek-cepek memberi penjelasan. Santai aja.." potong Cintya lagi. "Aku gak marah kok. Lagian apa haknya aku marah."


Hufh.." Daniel menghela nafas, ia tidak tahu harus berbuat apa lagi. " Yaudah kalau kamu gak mau mendengarkan penjelasanku. Aku rasa ini semua percuma. Dan benar, kita cuma teman." ucap Daniel seraya pergi meninggalkan Cintya dengan gemuruh dihatinya. Ntah kenapa kata-katanya barusan malah menyakiti hatinya sendiri.


Tangan Cintya bergetar menahan gejolak didalam hatinya. Ntah kenapa ia harus melampiaskan semuanya kepada Daniel. Padahal seharusnya ia bisa lebih bersikap dewasa. Bukannya sedari tadi ia selalu memikirkan Daniel? bukannya sedari tadi ia merasa cemas dengan Daniel yang sama sekali tidak ada kabar? bukannya sedari tadi ia selalu bertanya-tanya apa alasan Daniel tidak mengabarinya?. Tapi kenapa saat Daniel datang untuk memberi penjelasan, ia bisa bersikap egois begini. Air matanyanya jatuh tak terbendung. Kenapa rasa sakit ini, mengalahkan rasa sakit saat Wahyu memberikannya kartu undangan tadi. "Ya ampun Cintya, kenapa kau bisa sebodoh ini." ucapnya kepada dirinya sendiri seraya menangis

__ADS_1


Sesampainya di dalam mobil, Daniel membanting pintu mobil dengan keras. Ia melampiaskan semua amarahnya dengan memukuli stir mobil. "Dasar bodoh, kenapa gue ngomong kekgitu kedia? bukannya semestinya gue bertahan disana sampai dia maafin gue. Dan kenapa gue bilang kita cuma teman." Daniel menerutuki dirinya yang sudah salah bertindak. " Ya ampun Daniel, kenapa lo bisa sebodoh ini.."


Lama Daniel termenung didalam mobil sambil menerutuki kesalahannya. Ingin sekali ia kembali kedalam meminta maaf sekali lagi atas tindak bodohnya, namun ia urungkan. Karna ia takut kalau Cintya akan semakin marah. Mungkin besok amarah Cintya sudah meredah, jadi ia memutuskan untuk kembali besok saja.


Daniel merogo saku celananya mencari kunci mobil miliknya, namun kunci itu tidak ia temukan disemua saku celannya.


Daniel mencoba mengingat-ingat kembali dimana ia meletakkan kuncinya. Seketika ia teringat kalau tadi ia meletakkan kunci mobilnya di meja teras tempat ia duduk tadi bersama Cintya. Mau tidak mau ia harus kembali masuk kedalam.


Daniel membuka pintu gerbang sambil berharap kalau Cintya sudah masuk kedalam kamarnya. Jadi ia tidak perlu sungkan kalau sampai bertemu dengan Cintya lagi. Namun kenyataannya tidak seperti itu. Daniel malah menemukan Cintya masih berada ditempatnya sambil menangis tersedu-sedu.


Tangisan Cintya benar-benar terdengar sangat pilu. Hingga Daniel semakin merasa bersalah. Daniel tidak mau mengulur waktu lagi, hari ini juga ia harus menyelesaikan kesalah fahaman ini. Fikirnya


"Cintya..." panggil Daniel


Cintya menoleh saat suara yang sangat dikenalnya memanggil namanya. "Bang Daniel.." gumamnya pelan sambil terisak


Daniel mendekat lalu duduk di samping Cintya. Ditatapnya wajah Cintya yang sudah basah dibanjiri oleh air mata. Raut wajahnya menggambarkan kepedihan yang sangat mendalam. Ia tidak menyangka kalau perkataannya tadi mampu melukai Cintya sampai membuatnya menangis.


"Kamu kenapa nangis?" ucap Daniel seraya menghapus air mata Yang ada di wajah Cintya dengan kedua tangannya.


Bukannya menjawab, Cintya malah semakin terisak sambil menjatuhkan kepalanya didada Daniel.


"Hey.. maafin aku yah. Aku salah udah ngomong ketus sama kamu tadi" ujar Daniel sambil mengusap lembut rambut Cintya. Daniel melengkungkan bibirnya saat merasakan pergerakan di dadanya saat Cintya menanggapi permintaan maafnya dengan menganggukan kepalanya.


"Hufh.. akhirnya dramanya selesay." gumam Daniel dalam hati.

__ADS_1


Daniel pun dapat menghela nafas legah.


__ADS_2