CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Part Daniel


__ADS_3

Di dalam kamar vvip rumah sakit besar di Bandung


Delena.. Adalah sosok seorang ibu yang tidak mengenal kata menyerah kalau menyangkut soal anak-anaknya. Tak perduli dengan prediksi para dokter yang mengatakan kalau anaknya akan sulit untuk sadar kembali akibat cedera yang cukup parah pada bagian kepalanya. Sekalipun bisa sadar, kemungkinan Daniel akan mengalami hilang ingatan, atau yang lebih parahnya bisa saja ia mengalami cacat otak alias gila.


Setiap hari tak hentinya Delena berdoa untuk kesembuhan anaknya. Delena yakin dengan doa tulus seorang ibu untuk anaknya, pasti akan diijabah oleh sang maha pencipta. Tak perduli sudah dua bulan anaknya tak sadarkan diri, yang terpenting Ia yakin kalau mukjijat tuhan itu pasti ada dan akan datang secepatnya.


Seperti sudah menjadi kegiatan rutin selama dua bulan ini, dengan telaten Delena membersihkan tubuh Daniel dari mulai wajah sampai kaki disetiap pagi dan sore. Setelah selesai dengan kegiatannya ia pun duduk disamping Daniel sambil memandangi wajah tampan anaknya dan juga menggenggam tangannya.


"Sayang.. Apa kau masih belum mau bangun juga? Apa kau masih sangat lelah? Kalau memang iya, tidur lah anakku sayang.. Kau tidak perlu khawatir mama akan meninggalkanmu. Mama akan tetap disini sampai kau selesai dengan lelahmu. Dan saat nanti matamu terbuka, jangan pernah lupakan mama yah.." lirihnya.. selain mengurusi semua keperluan Daniel, Delena juga tidak pernah lupa mengajak bicara Daniel.


"Sayang.. kenapa saat tidur begini pun kau tetap tampan?" menoel hidung Daniel. "Bahkan dari kecil hingga kau besar begini, mama masih menjadi satu-satunya fans panatikmu.. Tapi sayangnya kau tidak pernah melihat mama. Kau terlalu sibuk dengan dunimu sendiri.. Apa kau sudah punya kekasih?" mencium punggung tangan Daniel. " Sayang.. Kau tau, selama mama hidup dengan papamu, gak pernah sekalipun mama melihat papamu menangis. Baik itu menangis sedih ataupun bahagia. Bukankah dia terlalu dingin jadi manusia sayang?" terkekeh "Tapi dua hari lalu.. mama memergoki papamu lagi menangis diruangannya. Tangisnya sangat pilu sayang.. Sepertinya dia kangen denganmu. Nanti saat kau bangun.. Jangan lupakan papamu juga ya. Mama tau kalian tidak cocok, tapi mama juga tau bagaimana sayangnya papa denganmu. " menghela nafasnya yang tiba-tiba terasa sesak mengingat tangisan pilu suaminya saat mendengar penjelasan dari dokter ahli syaraf kalau kesempatan Daniel untuk hidup itu sangatlah tipis.


"Sayang.. Tidak bisakah kau bangun sekarang?" Delena sudah tidak mampu menahan air matanya lagi. "Apa kau tidak kasihan dengan mamamu ini? Apa kau tidak sayang lagi dengan mama? Ayolah sayang... Bangun." ucapnya terisak.


Lelah menangis, Delena akhirnya tertidur dengan posisi duduk menggenggam tangan Daniel. Didalam tidurnya ia bermimpi. Dia seperti berada disebuah taman yang dipenuhi dengan banyak bunga warna warni. Bibirnya tersenyum melihat keindahan didepan matanya. Diapun berjalan mengikuti jalan setapak, dimana semakin jauh ia melangkah maka pemandangannya jadi semakin indah dengan bunga-bunga yang lebih indah pula daripada yang di awal ia lihat. Bibirnya semakin merekah saat ia melihat seorang anak kecil yang sedang berlarian di taman bunga itu. Seorang anak yang begitu tampan dan sangat ia kenal.


"Daniel.. Jangan lari-lari sayang. Nanti kau terjatuh." ucap Delena sambil ikut mengejar langkah kaki Daniel kecil. Merekapun berlarian bersama, sampai akhirnya Delena mampu menangkap Daniel yang masih terlihat kegirangan ingin melepaskan diri.


"Mama.. Daniel mau tinggal disini." ucap Daniel yang berada dipangkuan Delena.


"Tidak bisa sayang.. Kita harus pulang." ucap Delena lembut mengelus pipi cubby Daniel.


"Tapi Daniel mau tetap disini ma. Mama bisa pulang sendiri." merengek

__ADS_1


"Mana mungkin mama pulang sendiri dan meninggalkanmu disini." menciumi seluruh wajah Daniel. " Sebaiknya kita pulang sekarang." melihat kearah langis yang tiba-tiba menjadi gelap seperti akan turun hujan. Delena menggenggam tangan kecil Daniel dan kemudian merekapun berlari mencari arah jalan pulang. Delena melihat kesekeliling.. Namun ia tidak tahu harus mengarah kemana. "Sayang.. Sepertinya kita tersesat. Kita harus kemana?"


Tiba-tiba Daniel menarik tangan Delena untuk mengikutinya. "Apa kau tahu jalan pulangnya?" tanya Delena. Daniel kecl mengangguk sambil terus berjalan menarik tangan Delena. Sampai akhirnya mereka pun sampai pada sebuah pintu. "Akhirnya kita sampai sayang.. Ayo kita pulang." ucap Delena senang. Tapi saat Delena ingin berjalan kearah pintu, tangannya tertahan oleh Daniel yang sepertinya enggan untuk bergerak mengikutinya. "kenapa sayang?" tanyanya bingung


"Mama bisa pergi diluan.. Daniel masih ingin disini." Daniel kecil langsung berlari meninggalkan Delena.


"Daniel.. Kau mau kemana sayang? Ayo kita pulang." teriaknya ingin menyusul. Tapi entah mengapa, ia tidak bisa menggerakkan kedua kakinya. "Daniel tunggu mama sayang.. Daniel.. Daniel.." Delena terus memanggil Daniel yang semakin lama semakin menjauh dah akhirnya menghilang dari pandangannya.


"Mama.. Mama.. Bangun ma." Daniah mengguncang tubuh Delena yang sepertinya sedang mengigau sehingga akhirnya Delenapun terbangun dengan nafas yang tersenggal dan air mata yang berlinang. "Ya ampun ma..mama kenapa? Mama mimpi Daniel?" menyeka air mata mamanya dan kemudian memeluknya. "Maafin Daniah ma, karena gak bisa berbuat apa-apa." ikut menangis.


"Mama mimpi jumpa Daniel Daniah.." ucapnya dengan terisak dipelukan anak perempuannya.


"Ya ampun ma..." Menangis bersama sambil berpelukan. Sama seperti Delena, Daniah juga sangat menyayangi Daniel. Dan kejadian ini benar-benar membuatnya sangat terpukul. Selama dua bulan ini ia juga ikut andil dalam merawat dan membantu mamanya mengurus keperluan adiknya. Ia bahkan rela meninggalkan anak dan suaminya yang berada di singapura.


Ditempat lain.


"Apa kau sudah tau siapa dalangnya?" tanyanya.


"Kami masih menyelidikinya pak." jawab disebrang telfon.


"Bukannya ini sudah dua bulan? Kenapa kalian masih belum menemukannya?" meninggikan suaranya.


"Maaf pak.. Kami akan berusaha lebih baik. Tapi menurut penyelidikan kami, sepertinya orang-orang ini sangat ahli pak. Tidak ada satupun bukti yang tertinggal di tkp ataupun jejak cctv." jelasnya.

__ADS_1


"Saya tidak mau tau.. kalian harus menemukan siapa orang yang sudah berani menyentuh adikku. Saya akan memberikan kalian waktu satu minggu. Kalau kalian tidak mendapatkan apapun lagi, jangan harap saya akan membayar kalian sepeserpun." ucapnya dengan emosi


"Baik pak.." Telfonpun terputus.


Wisnu mencampakkan ponselnya keatas meja kerjanya. "Sebenarnya siapa kalian?" gumamnya sambil terus berfikir.


Suara ketukan dipintu membuyarkan lamunannya. Dia pun berjalan menuju pintu dan membukanya. "Papa? Ada apa keruangan Wisnu?" terkejut dengan kehadiran papanya.


"Ada yang mau papa omongin denganmu." berjalan masuk lalu kemudian duduk di sofa. "Duduklah.." serunya pada Wisnu yang masih bertahan didepan pintu.


Wisnupun menuruti kata papanya. "Papa mau ngomong apa sama Wisnu?"


Wijaya Menyodorkan selembar kertas, dan Wisnupun menerima dan langsung membacanya. "Bisa kau bantu papa menjelaskannya pada mamamu?" pintanya pelan sambil tertunduk.


Wisnu tak kuasa menahan air matanya begitu ia selesai membaca isi dari kertas tersebut. "Apa secepat ini pa? Apa tidak ada cara lain untuk menyembuhkannya?" ucapnya terisak. "Wisnu gak akan sanggup melihat mama bersedih pa. Dan sudah bisa dipastikan kalau mama tidak akan pernah setuju untuk melepas kepergian Daniel." semakin menangis. Dadanya terasa sangat sesak.


Wijaya tidak sanggup menjawab ucapan anaknya. Dia juga sebenarnya sangat berat melakukan semua ini. Tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Semua cara sudah ditempuhnya. Dan finish.. Para dokter yang menangani kasus ini sudah angkat tangan. Mereka bilang kalau Daniel mampu bertahan selama ini hanya karena alat bantu yang dipasang ditubuhnya.


"Beri Daniel kesempatan pa.. Jangan biarkan dirinya pergi seperti ini. Wisnu yakin kalau Daniel pasti akan segera sadar." ucapnya memohon.


Wijaya mengangguk pelan.. "Papa juga berharap begitu." beranjak dari duduknya dan kemudian pergi dari ruangan Wisnu dengan raut wajah yang begitu sedih.


"Terima kasih pa.." ucap Wisnu menangis tersedu.

__ADS_1


Begitulah memang sebuah keluarga. Tidak semua adik kakak mampu menunjukkan rasa sayangnya secara langsung. Bahkan terkesan cuek dengan saudara sendiri. Tapi.. Saat salah satu diantara mereka tersakiti, maka yang lain juga akan merasakan sakitnya.


Maka dari itu.. Sebelum terlambat, ucapkan lah walau hanya sekali kalau kalian menyayangi saudara kalian.


__ADS_2