CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Part 27


__ADS_3

Setelah hampir dua tahun tidak berjumpa dan berselisih faham, sekarang Tama dan Melky terlihat sudah kembali saling bercanda dan saling mengejek


Mereka masih berada ditaman belakang cafe Daniel. Dan tidak hanya mereka berdua yang ada disitu, ternyata Daniel ikut nimbrung bersama mereka dengan membawa tiga minuman kaleng serta sepiring cemilan kentang goreng.


Ditaman belakang terdapat sebuah gajebo yang beralaskan papan. Disanalah ketiga orang itu berada.


"Apa kalian sudah baikan?" tanya Daniel sambil ngunyah kentang goreng, dan kedua orang yang ditanya tersenyum lalu mengangguk.


"Bagus lah.." lanjutnya lagi."Kalau kalian mau makan, pesan aja kedepan."


"Gratis bang?" kelakar Melky, dan disambut cibiran oleh Tama.


"Hahahaha.... iya iya gratis." Daniel sangat senang melihat Tama sudah kembali seperti semula.


"Oya Tam, tadi jadi jumpa sama si Erna? gimana kencannya?" Daniel pura-pura tidak tau kalau Tama sudah salah nelfon orang. Dan ia hanya ingin mengorek apa yang sudah dilakukan oleh Tama di mol saat tidak menemukan Erna disana.


"Aaahh ia, aku sampek lupa kalau tadi kesana mau nemui si Erna." Tama tampak kalut. Ia merogo saku celananya dan mengeluarkan ponselnya untuk menelfon kenomor Erna.


Telfonnya berdering namun tak kunjung diangkat sampai akhirnya mati sendiri.


"Yah, gak diangkat. Marah kali dianya yah." Tama mencoba mengulangi panggilan telfonnya, namun nihil telfonya tak juga diangkat.


"Gimana ini bang, dianya marah." ucapnya sambil menatap kearah Daniel yang sedari tadi sedang menahan tawanya.


"Ya gimana, mana aku tau. Dia tu kalau udah marah, susah dibujuknya." Daniel makin menakut-nakuti. Wajah Tama tampak pias mendengar ucapan Daniel yang terlihat tidak berbohong saat berbicara.


"Nasip lah bro.. mungkin jodohmu itu si Dini." Melky ikut menimpali sambil tertawa.


"Ya kalo dia masih mau sama aku." Tama pesimis.


"Makanya laen kali, bertindak itu pake otak bukan pake dengkol." Melky menunjuk dengkulnya.


"Huuu... mau aku pitess? sini sini.." Tama memukuli lengan Melky dengan kepalan tangannya, namun tidak sungguh sungguh.


Melky pura-pura meringis kesakitan, sehingga Tama pun menghentikan pukulannya.


"Cemen banget sih jadi cowo. Laen kali kalau dipukul itu, bales." ucapnya.


"Kayak gini?" Melky meninju punggung Tama agak keras, Tama meringis kesakitan.


"Ih kok bener-bener sih?" Tama mengelus-elus bekas pukulan Melky dipunggungnya. "Sakit tau."


"Kan kau sendiri yang bilang, kalau dipukul itu balas. Yauda aku turutin, kok malah nyolot. Gimana sih." protes Melky sambil menenggak minuman kaleng.

__ADS_1


"Tapi jangan mendadak gitu jugak." ucapnya kesal.


Daniel hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Tama dan Melky.


Tiba-tiba Erna datang menghampiri dengan membawa ponsel digenggamannya. Matanya melirik kearah Tama yang terlihat bengong menatap kearahnya. Erna sok jual mahal, ia mengacuhkan tatapan Tama.


"Ini pak bos ponsel bapak ketinggalan dimeja kasir. Dari tadi dering mulu, kayaknya telfon dari pak Reza." Erna memberikan ponsel Daniel.


"Oh iya makasih." ucap Daniel sambil menerima ponsel yang diberikan Erna. Ia pun tidak menyadari kalau ternyata ponselnya tertinggal di meja kasir.


Erna hedak berbalik, namun ia menatap kearah Tama sejenak. Karna Tama hanya diam dan tak terlihat ingin menjelaskan sesuatu iapun menghentakkan kakinya lalu berbalik dan berlalu.


"Mingkem woiii.." ujar Melky sambil mengeplak kepala Tama. " Sok ngomongin aku sukak godain cewe, lah dia pun sama." Melky geleng-geleng


"Itu Erna kan bang?" ucap Tama seperti orang bodoh. Ternyata sedari tadi ia fikir kalau yang datang tadi hanya mirip dengan Erna. Namun saat Erna menatapnya, ia baru sadar ternyata itu adalah Erna yang sesungguhnya.


"Yaiya lah itu Erna. Memangnya dia punya kembaran." Daniel berlagak bodoh.


"Sejak kapan dia disini?"


"Sejak bukak cafe kayaknya."


Tama mengerutkan dahinya. Ia mencerna setiap kata yang keluar dari mulut Daniel.


"Bahas Erna.." jawab Daniel datar. Setengah mati ia menahan rasa ingin tertawa.


"Erna? Erna mana lagi? Erna yang mau dijumpai Tama di mol tadi atau Erna yang barusan datang?"


"Jadi dari tadi abang uda tau kalau Erna masuk kerja hari ini?" tanya Tama, dan Daniel mengangguk seperti tak merasa punya dosa.


"Terus kenapa abang gak bilang? berarti dia bohong dong mau nemuin aku di mol. Pantes aja pas aku telfon tadi gak diangkatnya... gak bisa dibiarin ini, harus diperjelas kalau begini ceritanya mah." Tama merasa sudah di bohongi oleh Erna. Ia pun berdiri lalu pergi menyusul Erna kedalam cafe.


Setelah Tama sudah tak terlihat lagi, baru lah Daniel mulai tertawa terbahak-bahak. Dia merasa sudah berhasil mengerjai Tama.


Sementara Melky begidik ngeri saat melihat Daniel yang tiba-tiba saja tertawa. Ia takut kalau Daniel sedang kerasukan roh mbak kunti penghuni taman.


"Bang... bang.. abang gak apa-apa?" Melky menyentuh lengan Daniel dengan telunjuknya. Dia merasa ngeri.


"Aduh... perut aku sakit Mel.." ucapnya sambil memegang perutny. Namun ia masih saja tertawa.


Melky semakin begidik. "Jangan-jangan memang beneran kesurupan" gumamnya pelan. "Harus dibaca-bacain ini." Melky berusaha mengingat-ingat hafalan ayat kursi yang biasa dibaca untuk mengusir setan.


Melky menautkan kedua tangannya seperti orang yang sedang berdoa.

__ADS_1


"Allah huu la ila.. huu la ila.. huu la ila apa yah.. kok jadi lupa gini sih." Melky memukul kepalanya sendiri, berharap ia bisa mengingat ayat kursi tersebut. Namun nihil, otaknya benar-benar buntu.


"Ah, baca ayat lain aja deh." ia memcoba merapalkan doa yang terlintas dikepalanya sambil memejamkan mata. "Allah humma bariklana fiima rojaktana wakina aja aw aw aw--" belum siap ia merapalkan doa, kupingnya terasa ada yang menarik.


"Lagi ngapain hah?" Ternyata Daniel lah yang menarik kuping Melky.


"Abang udah sadar?" tanya Melky penasaran


"Kamu kira aku kesurupan hah?"


"Lah, emang iya kan? tadi buktinya abang tiba-tiba ketawa kekgitu"


"Haissss..." Daniel mengeplak kepala Melky, kembali Melky meringis.


"Siapa yang kesurupan? Lagian kalau memang aku kesurupan kenapa malah baca doa makan? Dasar.." Daniel mendengus kesal karna dikira sedang kesurupan.


"Siapa yang baca doa makan!" protesnya,


"Coba ulang lagi bacaanmu tadi!" seru Daniel


"Allah humma bariklana fiima rojaktana waqina adja ban --" Melky tidak melanjutkan bacaannya setelah ia sadar ternyata sudah salah merapalkan doa.


"Nah itu doa apa kalau bukan doa mau makan? mau kamu aku makan?" Daniel menggerakkan giginya seperti mau menggigit.


"Hehehehe... ya maap bang, namanya juga orang lagi takut. Wajarlah salah baca." protesnya lagi.


"Udah salah, protes mulu daritadi." Daniel ngedumel sendiri.


"Terus tadi ngapain abang tiba-tiba ketawa tanpa sebab? pakek ngeluh sakit perut segala. Ngeri aku bang" Melky begidik ngeri.


"Aku tadi ngetawain si Tama karna aku udah berhasil ngerjain dia." jelasnya.


"Ngerjain gimana maksud abang?"


"Alaah, kamu banyak nanyak... ayok ikut, liat pertunjukan sinetron " Daniel sudah berdiri dan mulai berjalan kedalam cafe.


Melky hanya menurut saja saat diajak oleh Daniel yang katanya ingin mengajaknya menonton sinetron.


"Ada-ada aja.. masak ganteng-ganteng tontonanya sinetron. Gak iye banget, kayak emak-emak" cerocosnya sambil berjalan mengikuti Daniel.


**Hai hai... pembaca setiaku. Aku crazy up yah hari ini sampai 3 episode. Aku harap kalian senang.


Setelah selesai baca, jangan lupa like disetiap episodenya ya.. komen juga boleh.. apalagi vote, boleh banget. Hehe... biar aku semangat terus nulisnya. Dimohonkan dukungannya. Semoga cerita karanganku bisa lulus kontrak.

__ADS_1


Love u all 💗💗**


__ADS_2