CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Cintya hamil?


__ADS_3

Detektif sudah menjalankan tugasnya dengan baik. Dan mereka memutuskam kembali ke Medan pagi-pagi buta.


Didalam mobil, salΓ h satu detektif senior terlihat gelisah ditempat duduknya dikursi penumpang.


"Kenapa kau gelisah sekali.." tanya rekan kerjanya heran namun tetap fokus pada jalanan.


"Ck.. Sudah ku katakan bicara yang sopan padaku.." menerutuki rekannya yang selalu bicara terlalu santai padanya. "Kau jauh lebih muda dariku, dan jabatanmu juga jauh dibawahku. Kenapa kau susah sekali dibilangi."


"Haiss.. Begitu saja kau mengomel. Kau sudah seperti kakek-kakek umur 80. " membalas tak menghiraukan kalau yang dikatakan seniornya itu adalah kenyataan. "Seharusnya aku tahu dari awal kalau aku akan bekerja sama denganmu." bergumam dengan suara yang cukup keras. Sengaja


"Kenapa? Kau menyesal bekerja denganku?"


"Tentu saja aku menyesal.." jawabnya jujur.


Plak.. Satu pukulan mendarat dikepala detektif junior.


"Aauu..." meringis sambil mengelus kepalanya dengan satu tangan. "Kenapa kau memukul kepalaku?" marah tak terima.


"Itu balasan karna kau tidak senang bekerja denganku." jawabnya enteng sambil tertawa mengejek.


"Dasar orang tua gila.." bergumam kesal.


"Apa kau bilang?" berteriak kesal.


Ciiittt.... Mobil berdecit karena berhenti mendadak. Membuat detektif senior sedikit terbentur kedepan.


"Kau mau membunuhku huh?" Detektif senior semakin kesal dengan rekannya.


"Dasar monyet sialan..." umpatnya karena merasa kaget.


"Apa kau bilang? Kau mengataiku monyet?" satu pukulan kembali mendarat dikepal juniornya.


"Aaww.. " kembali meringis kesakitan. "Kenapa kalaumarah kau selalu memukul kepalaku? " teriaknya. " Apa kau tidak lihat tadi ada monyet yang melintas tiba-tiba? Kalau aku tidak mengerem pasti kita sudah menabraknya." menjelaskan dengan nada geram. Andai kau bukan atasanku.. Pasti aku sudah memasukkanmu ke sel isolasi. Menerutuk dalam hati.


"Oh.. Berarti kau tidak sedang mengataiku?" ucapnya tanpa dosa.


"Dasar orang tua sialan.." mengumpat pelan dan menjalankan kembali mobilnya dengan kesal.


Disepanjang perjalan mereka selalu diselingi dengan banyak perdebatan hanya gara-gara hal sepele.


"Sebaiknya kau tidur saja seperti biasanya. Kenapa kau selalu memprotes hal-hal yang tidak penting padaku. Kau fikir aku bisa fokus mengemudi jika terus mendengar omelanmu." detektif junior mengerang frustasi.


"Kalau bisa, sudah dari tadi kulakukan." protesnya "Bagaimana aku bisa tidur disaat-saat seperti ini." mendesah.


"Sebenarnya apa yang kau khawatirkan? Bukannya semua berjalan lancar? Laporan kita pasti akan diterima."


"Sudah kukatakan bicara yang sopan padaku." ingin melayangkan pukulan


"Sudah aku katakan aku tidak bisaa..." tetap pada pendiriannya.


"Dasar bocah ingusan.." menarik kembali tangannya tidak jadi memukul. "Ini tidak ada kaitannya dengan laporan. Kepalaku hanya terus memikirkan nasip gadis itu." ujarnya cemas. "Bagaimana nasipnya nanti jika benar kekasihnya akan meninggal. Apa dia bisa baik-baik saja." menghawatirkan Cintya


"Kenapa kau cemas.. Ditinggal satu orang bukan berarti dunia ini akan hancur kan. Dia juga masih punya keluarga yang terlihat sangat care dengannya. Termasuk juga tuh laki-laki satunya si Melky. Kayaknya dia punya cinta terpendam dengan Cintya." menduga-duga.


"Ahhh kau ini.. Kau memang masih bocah yang tidak tahu apa-apa tentang cinta. Percuma bicara padamu.." menurunkan sandaran kursi agar bisa tidur.

__ADS_1


"Ih siapa bilang.. Kau tidak tahu aja gimana kelakuanku diluar." ucapnya membanggakan diri. "Heii... Kau tidur?" melirik seniornya yang sudah menutup matanya. "Gini kan bagus.. Aku jadi bisa fokus menyetir." terkekeh senang.


"Bocah gila... memaki dalam hati. Ingin rasanya ia bisa tidur seperti biasanya saat menempuh perjalanan jauh. Namun lagi-lagi wajah polos Cintya kembali mengahantuinya. Entah mengapa, ia begitu merasa iba dengan apa yang menimpa gadis malang itu. Apalagi saat mendengar gadis itu menceritakan kejadian waktu itu.. Membuat hatinya sangat miris dan ikut merasakan sakit hati. Walaupun benar kata juniornya, kalau dia dikelilingi oleh orang-orang yang begitu perduli dengannya. Tapi tetap saja.. Tidak segampang itu menghilangkan rasa trauma bukan? Ditambah lagi dengan kondisi Daniel saat ini. Syukur saja gadis itu tidak tahu kondisi pacarnya. Ahh.. Satu lagi, cepat atau lambat ia akan segera tau tentang kehamilannya.


Flasback on


"Ada satu hal yang perlu kau tau tentang kondisi Cintya saat ini." ucap Wisnu


"Apa? Ada apa dengan Cintya? Apa dia juga sakit?" ikut cemas


"Dia hamil.. Dia sedang mengandung sekarang. Mengandung anak dari penjahat itu."


Flasback off


"Aahhh.. Apa yang akan dia lakukan dengan anak itu." tanpa sadar detektif senior bergumam ditengah matanya yang masih terpejam.


"Hmm.. Apa? Bukannya kau tidur? kenapa kau bicara saat tidur? Aneh sekali. Sudah tua masih saja ngelindur." mencerca habis-habisan atasannya sendiri.


"Haiss... Kau ini." bangkit dari tidurnya dan memberikan banyak pukulan dikepala juniornya. Bukannya marah, rekan kerjanya itu malah tertawa sambil berusaha menangkis pukulan seniornya.


Ditempat lain.


"Kau hati-hati Mel." Tama mengantar Melky kedepan rumahnya. Sudah tiga hari Melky berada dirumah keluarga Cintya, kini saatnya ia harus pulang. Karena masa cutinya sudah habis. Dan besok ia harus kembali bekerja.


Melky sudah bersiap-siap diatas motornya namun masih belum menyalakannya. "Tam.." panggilnya


"Hmm.."


"Kira-kira Cintya mau gak ya nikah sama aku?" ucapnya tiba-tiba.


Tama tertawa mendengar pertanyaan Melky. "Kau ini kenapa? Apa kau masih belum bisa move on dari kakakku? kau sendiri tau kakakku sukanya sama siapa." menggeleng gelengkan kepalanya merasa heran.


"Aku ngerti maksudmu. Sebenarnya aku tidak masalah kak Cintya akan hidup dengan siapa nantinya. Baik denganmu ataupun dengan bang Daniel. Asal dia bisa terus bahagia."


"Tentu saja aku akan membuatnya bahagia. Kau tau sendiri aku suka dengan Cintya sudah dari lama.."


"Tapi aku rasa tidak segampang itu Mel. Apa kau yakin bisa menghilangkan bang Daniel dari fikirannya? Secara aku sudah melihat sendiri gimana menggilanya kakakku saat mengira bang Daniel uda gak ada. Bukannya aku tidak mau mendukungmu.. Hanya saja, aku lebih memikirkan kak Cintya. Ku harap kau mengerti posisiku."


"Hmm aku ngerti. Tapi Tam..."


"Apa lagi?"


"Bagaimana kalau bang Daniel akan terus seperti itu? Hidup hanya bergantung dari alat-alat medis. Apa kau akan membiarkan Cintya terus menunggunya?"


Tama berfikir sejenak. Kenapa Melky berkata seperti ini. "Aku tidak bisa menjawabmu Mel.."


"Kau bisa menjawabnya setelah mendengar apa yang akan aku katakan padamu."


"Apa maksudmu? Apa yang mau kau katakan?" penasaran


"Cintya hamil Tam.." berkata serius


Duaarr.. Tama seperti tersambar petir disiang bolong. "Kau.. Tau darimana... kalau kak Cintya hamil?" tak langsung percaya begitu saja.


"Aku mendengar percakapan bang Wisnu dengan detektif tadi malam." jawabnya. Semalam, saat ia mengatakan kalau ia akan menyusul Cintya keruang tamu ia sempat menguping pembicaraan Wisnu dengan detektif diluar kamar. Dan dia benar-benar sangat terkejut saat mengetahui kalau wanita yang begitu sangat dicintainya kini sedang hamil.

__ADS_1


Seketika tubuh Tama membeku mendengar kenyataan yang harus diterima oleh kakaknya. Kak Cintya hamil?


"Maaf aku harus bicara jujur padamu." mengusap pundak Tama. "Aku mengatakannya karena aku merasa kau memang harus tau kondisi Cintya saat ini. Kau adiknya, Cintya bergantung padamu. Fikirkan tentang pertanyaanku tadi.. " Melky memakai helmnya dan kemudian beranjak pergi.


Tama berjalan gontai menuju kursi diteras rumahnya. Dia masih tidak menyangka kalau kakaknya mengandung anak dari seorang penjahat. Bagaimana ini.. Bagaimana ini.. Tama merasa sangat frustasi.


Sementara di mobil..


"Hah? Jadi Cintya hamil? Darimana kau tahu?"


"Wisnu yang memberitahuku semalam. Kau lupa kalau dia seorang dokter? Dia langsung tahu waktu meriksa Cinta saat dia sedang pingsan." detektif senior menjelaskan .


"Waahh.. Topcer juga tu bule. Sekali nembak langsung jadi." ucapnya terkekeh.


Sekali lagi pukulan mendarat kembali dikepala si junior " Dasar gak punya perasaan. Dimana hatimu huh?"


"Hufh.. Salah lagi..." mendengus


Akhirnya mereka sampai dikantor. sesampainya dikantor mereka melewati seseorang yang sedang tertidur pulas dengan posisi terlungkup disalah satu kursi panjang . Orang itu bukan lain adalah Doni yang juga fartner kerjanya yang semalam mendapatkan tugas mengantarkan Wisnu kebandara.


"Kenapa dia tidur disini?" detektif senior bertanya pada rekan kerjanya yang lain.


"Apa lagi? Kau sudah tahu jawabannya." jawab rekannya terkekeh.


"Heuuhh dasar bocah.. Kenapa aku bisa mendapatkan anggota yang tidak berguna sama sekali."menendang kursi sangking kesalnya sambil menerutuki nasipnya yang begitu malang karena mendapatkan anggota yang masih bocah semua. Yang satunya selalu bicara tidak sopan padanya, sementara yang satunya lagi memiliki hobi minum dan tidak bisa mengendalikan dirinya saat terpengaruh oleh alkohol. Alhasil.. Setiap kali rekannya itu teler, ia akan selalu berurusan dengan rekan polisi yang lainnya karena terlibat perkelahian entah dengan siapapun itu. "Kenapa orang seperti ini bisa lulus jadi polisi.." menendang kursi lagi lalu kemudian berlalu pergi menuju keruangan komisaris.


Detektif masuk keruangan komisaris. Dia langsung menyerahkan laporannya dan meminta agar kasus ini segera bisa dilimpahkan kepihak kejaksaan.


"Kau tahukan siapa orang yang kau tuduh ini?" ucap komisaris . Detektif hanya mengangguk. "Apa kau yakin bisa menangkapnya?" Detektif terdiam. "Kenapa kau hanya diam? Kalau kau yakin bisa menangkapnya aku akan menerima laporanmu. Tapi jika kau sendiri saja tidak yakin.. Sebaiknya mundur saja dari kasus ini. Aku akan memberikannya pada orang lain." tegas komisaris.


Detektif menarik nafasnya dalam. "Aku akan menangkapnya. Aku berjanji.." ucapnya meyakinkan.


Komisaris terkekeh pelan. " Kalau kau yakin pergilah kekejaksaan. " ucapnya menyetujui laporan yang diberikan detektif.


"Terima kasih pak.." ucap detektif dengan hormat. Merasa selesai urusannya dengan komisaris, ia pun bergegas ingin keluar. Namun langkah kakinya berhenti dan kemudian berbalik.


"Ada apa lagi? Apa masih ada yang ingin kau sampaikan?" ucap komisaris.


"Apa boleh aku meminta satu hal?" komisaris hanya terus menatapnya. " Apa bisa aku minta ganti anggota? Aku sangat frustasi dengan mereka. " mohonnya dengan memelas.


"Kenapa kau harus frustasi? menurutku kalian bertiga sangat serasi." menahan senyum


"Haisss serasi darimananya? Yang satu hobinya teler (walau hanya diluar jam kerja) sementar yang satunya lagi selalu bicara tidak sopan padaku." keluhnya emosi


"Bukannya kau juga suka bicara tidak sopan pada ayahmu sendiri. Mungkin ini karma untukmu." malah menyalahkan.


"Haisss.. Dasar tua bangka." gumamnya pelan mengumpat atasannya.


"Mengumpatlah sesukamu.. Aku sudah terbiasa mendengarkan umpatan yang keluar dari mulutmu. Sekarang pergilah dan lakukan tugasmu dengan baik. Dan jangan lupakan janjimu tadi." mengusir dengan tangannya


Detektif merasa semakin kesal saja. Dengan emosi yang sudah diubun-ubun ia terpaksa harus keluar. Namun begitu tangannya sampai di handle pintu..


"Berhati-hatilah.. Karena yang kau hadapi bukan penjahat biasa. Pulang dengan selamat, dan jangan biarkan menantuku menjadi janda. Dan mengenai Rolan (detektif yang selalu bicara tidak sopan padanya) Dia akan selalu ada disampingmu. Karena menantuku yang memintanya." jelas komisaris menatap punggung anak sekaligus anggotanya.


Detektif keluar dari ruangan komisaris sambil menggerutu " Dia lebih sayang dengan menantunya dibanding anaknya sendiri. Berjalan keluar menuju kantor kejaksaan.

__ADS_1


Nb: Rolan adalah adik kandung dari menantu kesayangan sang komisaris. Yang bukan lain adalah adik ipar dari sang detektif senior 😁


Jangan lupa like nya ya sayang-sayangku 😘😘😘


__ADS_2