
Waktu berlalu.
Dikamar Cintya.
Setelah kejadian hari itu, kini Cintya sudah mulai membuka diri. Walau masih belum banyak bicara, tapi setidaknya sudah bisa diajak untuk berinteraksi.
"Kak.." panggil Tama yang baru saja masuk kedalam kamar Cintya.
Cintya yang sedang menatap keluar jendela, menoleh.
"Kau baik-baik saja?" tanya Tama sembari mengelus punggung Cintya. Cintya mengangguk pelan sambil tersenyum. Alangkah senangnya hati Tama melihat perubahan dari kakaknya. "Apa kakak gak bosan dikamar terus? Bagaimana kalau kita jalan-jalan." ajaknya .
"Hutan pinus.." ucap Cintya.
"Hutan pinus? Kakak mau kesana? Lets go..." menarik tangan Cintya pergi.
Tak butuh waktu lama untuk sampai ditempat tujuan. Sesampainya disana Cintya tampak sangat menikmati indahnya pemandangan hutan pinus yang sejuk.
Melihat kebahagian di wajah kakaknya, Tama tak henti mengembangkan senyuman dibibirnya. Tanpa banyak kata, Tama hanya terus mengikuti kemana langkah kaki Cintya pergi. sampai akhirnya Cintya berhenti di suatu tempat, dimana ditempat itu mereka dapat melihat indahnya pemandangan danau dari atas. Tama menarik nafasnya dalam-dalam lalu kemudian ia keluarkan secara perlahan. "Segarnya..." ucapnya senang.
"Semalam aku bermimpi membawanya datang kemari." ucap Cintya tiba-tiba. Tama bingung, namun berusaha untuk mendengarkan. "Dia bilang, tempat ini sangat indah. Tidak seperti tempat yang dia tinggali sekarang." tertunduk menghela nafas. "Dia bilang, dia mau terus berada disini.. Bersamaku." nafasnya mulai terasa berat. " Tapi...." ucapannya terhenti dengan air mata yang jatuh begitu saja.
"Tapi..?" ucap Tama penasaran
Cintya menyeka air matanya. " Tapi... ada seseorang yang membawanya secara paksa. Orang itu bilang... Dia tidak bisa tinggal disini." menangis mengingat mimpinya. "Kenapa orang itu jahat sekali.. Apa tidak bisa dia membiarkannya tinggal sebentar disini bersamaku?" air matanya semakin deras dengan suara yang tercekat. " Orang itu tetap membawanya walaupun aku sudah memohon kepadanya untuk membiarkannya sebentar disini. Hanya sebentar.."
Tama terdiam sambil terus mendengarkan. Ia tau yang dibutuhkan kakaknya saat ini hanyalah seseorang yang mau mendengarkan cerita tentang mimpinya. Walau ia sangat penasaran dengan siapa yang ada dimimpi kakaknya, Tama tidak akan mencoba untuk bertanya.
Cintya masih menangis. "Apa aku salah.. Masih terus menginginkannya? Apa aku salah.."
Melihat kesedihan kakaknya, Tama menarik tubuh kakaknya kedalam pelukannya sambil memberikan usapan lembut di kepala Cintya. "Kau tidak salah kak.. " ucap Tama menenangkan.
"Tapi kenapa mereka tidak mengijinkannya tinggal disini?" isaknya
"Mungkin belum waktunya dia tinggal disini kak.."
"Tapi aku menginginkannya... Aku sangat menginginkannya.." Cintya menangis pilu dipelukan Tama.
Ya Allah.. Berilah kakakku kesempatan untuk menemukan kebahagiannya lagi. Mohon Tama dalam doanya.
Tadi malam di Rs Bandung
"Apa kalian sudah gila? Aku tidak akan pernah mengijinkannya. Kalau saja kalian berani menyentuhnya.. Aku tidak akan segan-segan untuk mengakhiri hidupku dihadapan kalian." Ancam Delena dengan berteriak kepada suami dan juga para dokter ahli yang bermaksud untuk mencabut semua alat bantu yang menempel ditubuh Daniel anaknya. Bahkan dia sudah memegang sebilah pisau yang diletakkan diatas urat nadi tangannya.
__ADS_1
"Sayang.. Apa kau tidak kasian dengan Daniel? Sudah tidak ada lagi harapan untuknya." sambil menangis Wijaya mencoba menenangkan istrinya. Sungguh berat untuknya dalam mengambil keputusan ini, tapi dia juga seorang dokter yang tahu bagaimana kondisi anaknya yang hanya bergantung pada alat-alat bantu medis.
"Kenapa kau tega dengan anakmu sendiri huh.. Kenapa kau mau membunuhnya? " teriaknya histeris. "Sampai kapanpun aku tidak akan menyerah dengan anakku. sebaiknya kalian semua pergi." menodongkan pisau kearah para dokter. Delena menggila
Mau tidak mau, demi keselamatan Delena para dokter memilih untuk pergi meninggalkan ruangan.
"Sebaiknya kau juga pergi.." mengusir suaminya yang masih bertahan didalam ruangan.
"Kenapa kau begini? Apa fikirmu mudah mengambil keputusan ini? Aku lah orang yang paling sengsara disini." ucap Wijaya.
"Kalau kau mau membunuh anakmu, bunuh juga aku." masih menodongkan pisau.
"Ma..." Wisnu yang baru saja masuk sangat terkejut melihat mamanya menodongkan pisau kearah papanya. "Ma, letakkan pisaunya.. Wisnu janji, tidak akan ada yang berani menyentuh Daniel." ucap Wisnu hati-hati sambil mendekat kearah Delena.
"Kau janji?" dengan terisak Delena luluh dengan janji anak keduanya itu.
"Wisnu janji.." Wisnu akhirnya mampu menyingkirkan pisau dari tangan mamanya dan langsung memeluk mamanya. " Wisnu janji ma.." Delena menangis sejadi-jadinya.
Beberapa saat berlalu. Diruangan Wijaya.
"Apa-apaan ini pa? Bukannya papa uda janji akan memberikan waktu untuk Daniel?" ucap Wisnu marah. Wijaya hanya diam dengan kepalanya yang tertunduk.
"Wisnu.. Apa kau tidak bisa bicara dengan baik-baik pada papa?" ucap Daniah yang baru saja masuk. Ia sangat terkejut mendengar Wisnu meninggikan suaranya kepada papanya. " Kenapa kau meninggikan suaramu?" meletakkan bekal yang dibawanya diatas meja dan duduk disamping papanya. Daniah memang baru sampai dirumah sakit setelah tadi ia sempat pulang sebentar kerumah untuk membuatkan makan malam untuk mama, papa, dan Wisnu adiknya, jadi dia belum tahu mengenai kejadian dikamar Daniel. Karena begitu sampai ia memilih untuk menuju keruangan papanya terlebih dahulu untuk mengajak makan bersama dengan mamanya dikamar Daniel.
Dengan nafas yang masih menderu karena marah, Wisnu menatap tajam kearah papanya yang masih terus diam. "Sebaiknya jangan pernah lagi papa datang kekamar Daniel." ucap Wisnu sambil beranjak keluar.
Wijaya meneteskan air mata.. " Maafkan papa Daniah.. Papa hampir menjadi pembunuh anak papa sendiri.." menangis tertunduk.
Daniah terkejut dengan ucapan papanya. Daniah langsung bangkit dari duduknya dan berjalan keluar meninggalkan papanya. Dengan gontai dia berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju kekamar adiknya. Sesampainya didepan pintu ruangan Daniel, ia mengurungkan niatnya untuk masuk, karena tiba-tiba dadanya terasa sangat sesak. Daniah menjatuhkan tubuhnya terduduk didepan ruangan Daniel sambil menangis. Daniah tidak menyangka kalau papanya akan secepat ini mengambil keputusan ini.
Diruangannya Wijaya hanya bisa terus menangis sambil menerutuki dirinya yang tidak mampu menyembuhkan anaknya. Dia merasa sudah gagal menjadi seorang dokter.
Sementara Wisnu, berkali-kali memukulkan genggaman tangannya kedinding karena masih merasa tidak terima dengan keputusan papanya yang begitu cepat. Dia merasa kecewa dengan semua keadaan ini.
Dan begitu juga dengan Delena yang juga masih menangis sambil terus menciumi tangan Daniel yang berada digenggamannya. Bahkan ia memutuskan untuk tidak akan tidur malam ini, untuk berjaga-jaga siapa tahu ada yang berusaha untuk menyentuh anaknya.
~
Jauh dibelahan bumi lain
David mengeledah semua laci yang ada dimeja kerjanya. "Aku selalu meletakkannya disini.. Tapi kemana sekarang." gumamnya dan mencoba mengingat-ingat dimana ia meletakkan barang yang ia cari sambil terus mencari.
"Kau mencari ini?" Dom yang baru saja masuk menunjukkan sesuatu ditangannya
__ADS_1
David tersontak terkejut melihat kehadiran Dom dan juga apa yang dibawa ditangannya. Ponsel milik Cintya.
"Bukannya sudah ku bilang untuk melenyapkannya?" ucap Dom dingin.
"A_aku baru saja ingin membuangnya." bohong David.
"Tidak perlu.. Kau boleh menyimpannya." Dom meletakkan ponsel Cintya diatas meja David dan berlalu pergi.
Setelah memastikan Dom pergi, dengan cepat David langsung menutup dan mengunci ruangannya. Lalu bergerak mengambil ponsel Cintya, dan mulai mengecek. "Sial... Dia menghapus semuanya." menggerutu kesal karena Dom sudah menghapus semua data yang ada di ponsel Cintya termasuk juga dengan foto-foto Cintya.
Sesampainya diruangannya, Dom tersenyum smirk. "Aku tau, kau pasti sedang mengutukku sekarang." sudah seperti cenayang, Dom tahu bagaimana ekspresi David sekarang.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan.
"Masuk." serunya dari dalam.
"Tuan.. Ada tuan Feliks ingin bertemu dengan anda." ucap sekertaris pribadinya. Dom hanya mengangguk menandakan kalau tamunya diizinkan untuk masuk.
"Apa mereka mulai mencariku?" tanya Dom to the poin kepada Feliks yang baru saja masuk, dan bahkan belum sempat untuk duduk.
"Kau menanyakan suatu hal yang sudah kau tau. Sepertinya aku tidak perlu datang tadi. " berkata dengan ekspresi kesal. Namun seketika Feliks merubah ekspresinya setelah mendapatkan tatapan tajam dari Dom. Feliks berdehem untuk menghilangkan kecanggungan dirinya sampai akhirnya ia mulai berbicara. " Sepertinya mereka mengirim seseorang untuk menyelidikimu. Tapi kau tidak perlu khawatir.. Aku sudah tau siapa orangnya. Aku akan segera menyingkirkannya." jelasnya.
"Hmm.. Itu memang sudah tugasmu. Lakukan dengan cepat dan tanpa ada masalah." titahnya dingin.
Feliks mengangguk mengerti. "Baiklah kalau begitu aku akan pergi sekarang." berbalik ingin pergi.
"Bagaimana dengan wanita itu.." tanya Dom tiba-tiba.
Feliks menghentikan langkah kakinya sambil mencoba menebak wanita mana yang dimaksud pria dingin itu. Wanita... Wanita mana maksudnya? Feliks berfikir dengan cepat sampai akhirnya ia berada pada suatu kesimpulan. Pasti wanita itu.. Setelah yakin dengan tebakannya, iapun berbalik. "Mm.. Wanita itu sepertinya sudah mulai membaik. Apa kau ingin aku menyingkirkannya juga?"
"Tidak perlu.. Kau boleh pergi." usirnya.
Ooh.. Ya ampun. Feliks menggerutu kesal dalam hati namun tetap mencoba menampilkan senyum diwajahnya dengan terpaksa. "Aku pergi.. " Feliks pun akhirnya benar-benar pergi dari ruangan yang terasa sangat panas itu.
Setelah kepergian Feliks, Dom menghela nafasnya dalam. Dom mengeluarkan ponsel yang ada disaku celananya dan membuka salah satu foto yang baru saja tersimpan di galeri ponselnya. "Ku harap kau akan baik-baik saja." memandangi foto itu dengan raut wajah penuh penyesalan.
Epilog
Dom mendatangi ruangan David yang ternyata kosong tanpa ada pemiliknya.
"Tuan David sedang meeting diluar tuan." ucap sekertaris David yang melihat kehadiran Dom.
"Hmm.. Aku tahu." ucapnya datar. Sekertaris Davidpun kembali ketempat duduknya meninggalkan Dom sendiri diruangan David.
__ADS_1
Dom berjalan menuju meja David dan duduk dikursi yang berada dibelakan meja kerja David. Dengan pelan namun pasti, Dom membuka salah satu laci dan langsung menemukan apa yang ia cari.
"Ternyata kau masih menyimpannya. " tersenyum smirk mengeluarkan ponsel dari dalam laci. "Kenapa kau tidak mau mengaku kalau kau menyukainya. Aku akan membuatmu menyesal karna sudah membohongiku." mengutak atik ponsel Cintya, lalu kemudian beralih pada ponselnya sendiri. Tersenyum senang setelah notifasi ponselnya mengatakan berhasil menerima file berisi seluruh data yang ada diponsel Cintya. Iapun bergerak bangkit dari duduknya lalu pergi meninggalkan ruangan David sambil membawa ponsel Cintya ditangannya.