
Wisnu masih terus menatap kertas yang diberikan papanya. Dadanya terasa sangat sesak karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyembuhkan adiknya. Dia sangat faham dengan keputusan para dokter ahli yang mengatakan kalau nyawa adiknya hanya bergantung pada alat yang dipasang ditubuhnya. Tapi untuk merelakan adiknya saat ini, rasanya ia masih belum sanggup. Tak terasa air matanya menetes kembali, dan dengan cepat ia menyekanya. Tapi lagi-lagi, air matanya semakin keluar dengan derasnya diiringi dengan suara isak tangis yang sedari tadi ia coba tahan. Rasanya sakit sekali..
Tiba-tiba pintu ruangannya ada yang mengetuk, membuat Wisnu dengan cepat menghentikan tangisannya dan mencoba menahan air matanya untuk keluar.
"Masuk.." seru Wisnu dari dalam dengan suara yang masih terdengar sedikit bergetar.
Pintu pun terbuka, dan ternyata Daniah yang datang. "Kau sibuk?" ucapnya sambil duduk di hadapan Wisnu.
Wisnu menggelengkan kepalanya. " tidak." jawabnya dengan mencoba tersenyum.
Daniah menatap wajah Wisnu dalam. Wisnu dengan cepat menundukkan kepalanya. Ia tidak mau kakaknya tahu kalau ia habis menangis. Daniah menghela nafasnya dan beranjak dari duduknya pindah ke samping Wisnu. "Kau baru mengangis?" menatap Wisnu dari dekat. Wisnu menggelengkan kepalanya. Daniah tersenyum tipis "Kau sangat tidak pandai berbohong Wisnu. Ayo cerita.. Apa yang membuatmu menangis?" Wisnu masih tetap menggelengkan kepalanya. Daniah menepuk pelan pundak Wisnu. "Ada apa? Kenapa kau tidak mau cerita padaku? Apa ini ada kaitannya dengan Daniel?" dengan berat Wisnu memberikan kertas yang sedari tadi depegangnya kepada Daniah. "Apa ini?" Tanyanya bingung.
"Papa menyuruhku menjelaskannya kepada mama." ucapnya singkat
Daniah yang masih tidak mengerti maksud ucapan adiknya, mencoba untuk membaca isi dari kertas tersebut. Dengan perasaan hancur ia sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Daniah pun menangis sejadi-jadinya.
Melihat kakaknya menangis, Wisnu mencoba menenangkan Daniah dengan memeluk tubuhnya. "Maafkan aku.. Aku tidak bisa berbuat apa-apa." ucapnya lirih.
Ditempat lain.
Dengan nafas yang tersenggal Tama masuk kedalam rumahnya. "Ada apa?" tanyanya kepada Kanya yang terlihat menangis didepan pintu kamar Cintya sambil memegangi tangannya yang berlumuran darah.
"Kak.." ucap Dini terkejut melihat keadaan Kanya.
__ADS_1
"Maafkan aku.." ucap Kanya menangis "Aku tidak sengaja meninggalkan pisau dikamarnya." dengan tubuh yang bergetar karena shock ia menjelaskan apa yang baru saja terjadi. "Dia mencoba memotong tangannya dengan pisau.. Maafkan aku.." ucapnya terisak. "Aku hanya pergi sebentar ke toilet.. Tapi dia.." menangis lagi
Melihat kekalutan Kanya, Dini bergerak mendekati Kanya dan memberikan pelukan. Tak bisa dibayangkan secemas apa Kanya tadi. Bahkan luka ditelapak tangannya akibat terkena pisau saat mencoba menghentikan tindakan Cintya, sudah tidak dirasakannya. Padahal lukanya cukup dalam dan sampai mengeluarkan banyak darah.
Tama langsung masuk kedalam kamar menemui Cintya yang terlihat ketakutan diatas kasurnya. Tama mencoba untuk mengontrol emosinya. Dengan pelan ia melangkah mendekati Cintya dan duduk dihadapannya. "Apa yang kakak lakukan? Mau sampai kapan kakak seperti ini hm?.. Apa kakak fikir, dengan kakak bunuh diri semua masalah ini bisa selesai?" Dada Tama mulai terasa sesak dan matanya mulai berair. " Kenapa kau selalu mencoba mengakhiri hidupmu? Apa kau tidak memikirkan aku dan Ayah? Apa kau fikir hanya kau yang menderita? Bagaimana dengan kami... Mau sampai kapan kau terus menyiksa kami seperti ini." tangisnya pecah. "Aku mohon kak.. Jangan seperti ini.. Aku mohon.." menggenggam tangan Cintya erat.
"Apa gunanya aku hidup? Sebaiknya kau biarkan saja aku mati." ucap Cintya begitu saja dengan air mata yang mengalir, namun dengan cepat ia usap.
Tama menatap Cintya. "Kenapa kau sangat egois hah? Apa hanya itu yang ada dikepalamu?" ucapnya dengan suara tinggi. "Kalau kau memang sangat ingin mati.. Oke.." beranjak keluar kamar mengambil pisau yang terletak diatas meja.
"Apa yang mau kau lakukan Tam.." Dini mencoba menahan Tama, namun Tama tidak memperdulikan ucapan Dini.
"Tam.." Kanya yang masih ketakutan beranjak dari duduknya sambil menatap Tama yang kembali masuk kedalam lamar Cintya.
Tama kembali kehadapan Cintya sambil menyodorkan pisau yang berlumuran darah. "Nah.. Kau mau mati kan." memberikan pisau kegenggaman Cintya.
"Ayo.. Apa lagi yang kakak tunggu hah? Kau sangat ingin mati kan?" Tama sudah tidak bisa menahan emosinya. Rasanya sakit sekali melihat kakaknya yang terus berfikir untuk mengakhiri hidupnya. Rasanya pengorbanannya selama ini sia-sia.
Cintya menatap Tama dengan air matanya yang jatuh begitu saja. Memang ia sangat ingin pergi dari dunia ini, tapi ia tidak menyangka kalau Tama akan memberikannya pisau dan menyuruhnya untuk mati.
"Lakukan sesukamu.. Kau tidak perlu memfikirkan kami. Karena setelah kau mati, aku dan Ayah akan segera menyusulmu dengan cara yang sama." ucap Tama penuh dengan emosi. "Mungkin setelah ini kita bisa hidup dengan tenang diatas sana.. Lakukanlah.."
Mendengar ucapan Tama, Cintya segera tersadar dan kemudian menangis terisak dan melepaskan pisau dari tangannya. Dengan cepat Dini mengambil pisau itu dan membawanya keluar.
__ADS_1
Tama berlutut dihadapan Cintya.."Kaak..." Tama meraih tubuh kakaknya kedalam dekapannya. "Jangan pernah berfikir seperti ini lagi. Apa kau fikir setelah kau pergi, aku akan sanggup hidup didunia ini? Hanya kau dan Ayah yang aku punya. Aku mohon jangan tinggalkan aku." tulusnya kasih sayang Tama membuat Cintya semakin menangis tersedu.
Berapa waktu berlalu, Tama pun keluar dari kamar Cintya dan ikut duduk bersama dengan Kanya dan Dini.
"Bagaimana Cintya.." tanya Kanya yang begitu khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.
"Dia sudah tenang.." jawabnya pelan. "Bagaimana dengan tanganmu? Sebaiknya kita kerumah sakit." menatap tangan Kanya yang masih mengeluarkan darah mestipun sudah dibungkus dengan mengunakan sapu tangan milik Dini.
"Ah.. Kau tidak perlu khawatir. Tanganku tidak apa-apa." bohongnya.
Tama meraih tangan Kanya dan membuka kain yang membungkus tangannya. Dilihatnya luka Kanya yang tergores cukup dalam dan panjang. Dia pun beranjak dari duduknya untuk mengambil perlengkapan p3k. Dengan pelan Tama mulai membersihkan luka di telapak tangan Kanya dan memberikan obat tetes berwarna merah. Setelah itu ia membungkusnya kembali dengan menggunakan perban.
Kanya menatap Tama prihatin. Ia tahu betul apa yang dirasakan Tama saat ini. Pasti berat sekali baginya menanggung beban sebesar ini. "Terima kasih.." ucapnya sendu.
Tama tidak menjawab ucapan Kanya.. "Makanlah obat ini agar kau tidak demam. " memberikan obat untuk meredakan nyeri. Kanya mengangguk pelan dan menuruti perintah Tama.
Setelah selesai, Tama pun beranjak dari duduknya pergi ke teras rumahnya. Disana dia hanya berdiri terdiam dengan tatapan yang tertuju kedepan. Lelah... Itulah yang ia rasakan saat ini. Lelah dengan keadaan yang memaksanya untuk harus tetap kuat dan tegar demi sang kakak yang sangat ia cintai. Tapi perasaannya tidak bisa dibohongi. Sekuat apa pun ia mencoba, ia hanyalah seorang laki-laki yang masih sangat muda dan juga sangat lemah. Pernah terbesit di fikirannya untuk mengakhiri hidupnya karena tidak sanggup melihat kakaknya yang semakin hari semakin parah. Tapi ia mengurungkan niatnya, saat bayang-bayang kakaknya yang tersenyum kepadanya melintas dikepalanya.
Dini menghampiri Tama. "Kau baik-baik saja?"
"Hmm.." Jawab Tama singkat tanpa melihat kepada Dini.
"Kalau kau mau menangis.. Menangis lah.." menghadap kepada Tama dan merentangkan kedua tangannya sambil tersenyum. Setidaknya hanya ini yang bisa ia lakukan.
__ADS_1
Tama menunduk sebentar menghela nafasnya dan kemudian masuk kedalam pelukan Dini. "Aku yakin kau pasti sangat lelahkan.. Bersabarlah sedikit lagi.. Aku yakin semua ini akan segera berakhir." mengelus punggung Tama lembut. Tama hanya diam. Tidak bisa dipungkiri, kalau pelukan Dini sedikit membuat hatinya tenang. "Aku sangat bangga padamu. " lanjutnya dengan mengeratkan pelukannya. Maafkan aku yang tidak bisa selalu berada disampingmu.. Ku harap kau bisa selalu kuat walau aku tahu sebenarnya kau sangat rapuh. Dini menyeka air matanya yang keluar begitu saja.
Katanya kesabaran dan ketegaran seseorang dalam menghadapi suatu masalah itu ada batasnya. Tapi sepertinya, demi orang yang sangat dicintai, kesabaran dan ketegaran itu seakan sudah tidak memiliki batas lagi.