CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Rencana Dom


__ADS_3

Melky mendekati Tama yang lagi-lagi memilih menenangkan diri di teras belakang rumahnya.


"Apa enaknya duduk disini?" Melky duduk disebelah Tama.


"Kau gak pulang Mel? Sudah dua hari kau disini." tanyanya pelan.


"Aku sengaja ambil cuti tiga hari. " jelasnya.


Tama menarik nafasnya panjang. Emosinya masih belum mereda.


"Jangan marah-marah Tam.. Gak akan nyelesein masalah." ujar Melky memberi nasehat. "Lagi pula kayaknya gak ada yang salah dengan apa yang ayahmu lakukan. Kenapa kau marah sekali dengannya. Heran.."


"Hufh... Ntah lah Mel." mengeluh. " Hanya aku dan kak Cintya yang tahu kenyataannya." lirihnya pelan.


"Masuk yok.. Dingin." badan Melky mengigil merasakan dinginnya hembusan angin yang masuk ke pori-pirinya karena memang ia hanya memakai kaos oblong saja.


"Uda tau diluar dingin, bukannya pake jaket." omel Tama.


"Iya.. Makanya masuk yok. Sekalian liatin Cintya. Mana tau dia uda baikan sekarang." ajaknya membujuk sambil mengelus lengannya sendiri untuk menghangatkan badannya. "Dingin banget disini." suaranya sampai bergetar. Bahkan bibirnya dengan cepat membiru karena tidak biasa dengan udara yang terlalu dingin.


"Mau gak dingin, balek sana kemedan." cerca Tama. Melky hanya tertawa.


Tama akhirnya mau ikut masuk kembali kedalam rumah karena merasa kasihan dengan Melky yang terlihat sangat tersiksa dengan udara dingin. Mereka berjalan masuk menuju kekamar Cintya. Tapi mereka berhenti begitu melewati kamar yang ditempati oleh Wisnu. Terlihat Wisnu sedang duduk tertunduk di tepi tempat tidur.


"Bang Wisnu kenapa tu Tam?" tanya Melky berbisik didepan kamar. Tama hanya mengangkat bahunya tanda tidak tahu. Melky yang merasa penasaran memberanikan diri untuk bertanya langsung. Diketuknya pintu kamar Wisnu yang memang tidak tertutup. Wisnu mendongak melihat kearah Melky dengan mata yang merah dan terlihat seperti sedang menahan tangisannya. "Abang kenapa?" terkejut melihat raut wajah Wisnu yang terlihat begitu sedih.


Wisnu terdiam sesaat mendengar pertanyaan Melky. Tanpa terasa air matanya jatuh menetes dan dengan cepat ia menyekanya. "Mm.. "Suaranya bergetar dan terdengar kalut. "Daniel tiba-tiba drop dan keadaannya sekarang sedang kritis." ucapnya lirih.


"Ha..?" Melky terkejut plus prihatin. Diapun melirik kearah Tama yang terlihat sama terkejutnya dengan dirinya. "Terus gimana? Apa abang mau pulang sekarang?" menatap Wisnu prihatin.


Wisnu mengangguk lemah. "Saya harus pulang malam ini juga." bergerak menyusun pakainnya kedalam ransel.


"Kalau abang mau aku bisa mengantar abang kebandara. Aku bisa nyetir kok." Melihat kondisi Wisnu yang terlihat rapuh seperti ini membuat Melky merasa khawatir.


"Gak apa-apa Mel.. Saya bisa pergi sendiri. Terima kasih atas tawarannya." tolak Wisnu dengan lembut.


"Tapi ini uda malam bang."


"Hmm.. Saya bisa jaga diri." masih tetap menolak. "Kau tidak perlu khawatir." meneruskan kegiatannya.


Tiba-tiba datang seorang detektif menghampiri Tama yang sedang berdiri diluar kamar. " Ngapain kau berdiri disitu?" tanyanya heran

__ADS_1


"Sepertinya bang Wisnu mau pulang malam ini juga." ujarnya pelan


"Ha.. Kenapa?" terkejut


"Bang Daniel drop." menjelaskan apa yang ia dengar.


"Ya tuhan.." mengusap tengkuknya gusar. " Jadi bagaimana ini? padahal Cintya sekarang lagi ada di depan. Dia bilang mau melanjutkan memberi keterangannya." panik.


"Kak Cintya uda mau keluar?" Tama merasa senang


" Emm.. Sebaiknya kau temani Cintya sekarang.. Tapi jangan biarkan dia tahu kondisi Daniel saat ini. Aku takut kalau dia akan kembali shock." ucapnya khawatir. Tama pun hanya mengangguk dan langsung pergi keruang tamu menemui Cintya.


Detektif beralih masuk kedalam kamar menemui Wisnu. "Aku sudah dengar tentang kondisi Daniel dari Tama. Apa kau memang harus pulang malam ini juga?" tanyanya. Wisnu hanya menjawab dengan anggukan kepala. "Aku mengerti kondisimu saat ini.. Dan aku tidak akan melarangmu pergi. Hanya saja.. Didepan ada Cintya yang sepertinya sudah kembali tenang dan ingin melanjutkan pernyataannya." belum selesai bicara


"Cintya sudah baikan?" potong Melky


"Hmm.." detektif mengangguk menatap Melky. " dia sudah ada didepan.. Kau bisa menemuinya." Melky mengangguk dan ingin bergerak pergi. "Tapi Mel.." kaki Melky berhenti dan menoleh pada detektif. " jangan beri tahu Cintya tentang kondisi Daniel." memperingatkan Melky. Melky kembali mengangguk dan pergi. Detektif menghela nafasnya menatap pada Wisnu yang terlihat sudah selesai dengan kegiatannya. "Aku akan menyuruh anggotaku untuk mengantarmu kebandara."


"Aku bisa pergi sendiri." tolaknya. Dengan detektif dia bicara lebih santai karena mereka seumuran.


"Aku tahu kondisimu sedang tidak baik-baik saja Wis.. Aku hanya tidak mau sesuatu terjadi padamu. Lagi pula ini sudah malam dan kau terlihat kalut. Kau tidak akan bisa fokus menyetir dalam keadaan seperti ini. Jadi jangan keras kepala dan terimalah niat baikku." bergerak ingin pergi.


"Kau jangan berkata seperti itu. Dia akan baik-baik saja." menepuk pundak Wisnu menenangkan. "Kau harus kuat, dan jangan pernah putus asa. Dokter itu bukan tuhan yang bisa menentukan hidup dan matinya seseorang. Kau sendiri tahu itu karena kau juga seorang dokter kan?. Jadi ku mohon tenangkan dulu dirimu sebelum kau keluar. Jangan sampai Cintya merasa khawatir ketika melihatmu seperti ini dan membuatnya semakin terpuruk." Ia harus menjaga mental Cintya agar penyelidikan ini dapat segera berjalan. Fikirnya.


"Tapi ada satu hal lagi yang harus kau tahu tentang kondisi Cintya saat ini." ucap Wisnu dengan ekspresi serius.


"Apa?" penasaran


Diruang tamu


"Cintya.. Kau yakin sudah bisa melanjutkan ini?" tanya detektif


lainnya memastikan.


Walau masih merasa kurang yakin, Cintya berusaha untuk menguatkan dirinya. Matanya memandang sejenak kearah kursi lain yang baru saja diduduki oleh Melky. Matanya menangkap raut wajah Melky yang terlihat begitu cemas namun masih mampu memberikan senyumannya kepadanya. Cintyapun kemudian menganggukkan kepalanya seraya mengatur pernafasannya agar bisa sedikit lebih rilex.


Tama yang sedari tadi berada disamping kakaknya hanya bisa ikut mendukung keputusan Cintya. Begitu juga dengan ayahnya yang juga berada disisi lain juga berusaha untuk memberi semangat pada anaknya.


Detektif meletakkan satu alat untuk merekam pernyataan Cintya diatas meja. "Baiklah.. kalau begitu kau bisa memulainya dari saat kau masuk kedalam gudang. Apa yang kau lihat disana?"


"Emm aku..." ucapannya terhenti saat melihat kedatangan Wisnu dengan ransel yang tergantung dipundaknya. Cintya menatap lamat pada Wisnu yang terlihat memberikan senyumannya padanya.

__ADS_1


"Kau sudah baikan Cintya?" tanya Wisnu dengan Lembut. Dia benar-benar bisa mengendalikan dirinya didepan Cintya.


"Emm.. Aku sudah lebih baik." cintya mengangguk tanpa melepaskan tatapannya. "Tapi.. Kenapa abang.. Membawa tas? Apa abang mau pergi? "


" Saya harus pulang malam ini juga Cintya, karena ada urusan yang sedikit mendesak." tetap tersenyum untuk menutupi kebohongannya. Maafkan aku Cintya.. Aku tidak bisa memberitahu kondisi Daniel demi kebaikanmu. Padahal aku sangat ingin membawamu pergi menemui Daniel.. Batinnya lirih.


Apa sesuatu terjadi dengan bang Daniel.. Batin Cintya menatap Curiga pada kepulangan Wisnu yang sangat mendadak. Entah mengapa, firasatnya begitu kuat.


"Saat urusanmu selesai.. Berkunjunglah lagi kesini. Sepertinya Cintya senang dengan kehadiranmu." ucap ayah Cintya.


"Tentu pak.. saya berjanji akan kembali. Kalau begitu saya pamit pergi." ucapnya berpamitan pada semua orang.


"Don.. Pergilah bersamanya." seru detektif tadi kepada salah satu anggotanya.


"Aku ikut dengannya? Kenapa?" memprotes bingung.


"Pergilah.." mengancam dengan matanya.


Karena merasa masih junior, detektif yang bernama Doni itupun hanya bisa berdecak kesal tapi tetap menuruti perintah atasannya pergi mengikuti Wisnu yang sudah terlebih dahulu jalan keluar diantar oleh ayah Cintya.


"Pergi dan segera kembali.." ucap detektif satunya mengejek sambil terkekeh membuat Doni semakin kesal.


Ditempat lain..


Seseorang pria bertubuh kekar datang menghampiri Dom yang terlihat sibuk dengan pekerjaannya di ruangan kerja.


"Siang boss.. " sapanya sopan dengan berdiri tegak menghadap pada Dom.


"Bagaimana? Apa semua berjalan lancar?" tanyanya tanpa menghentikan kegiatannya didepan layar laptop.


"Semuanya lancar bos. Dokter itu bekerja dengan sangat baik. tapi bagaimana dengan temannya? Walau dia tidak tahu apa-apa, apa tidak sebaiknya kita lenyapkan juga?"


"Tidak perlu.. Biarkan dia hidup. dia tidak ada sangkutan denganku. Dia hanya umpan." tersenyum smirk.


"Baik boss.." ucapnya patuh. "Tapi boss.. Mengenai gadis itu.." berucap dengan sangat hati-hati "Dia sudah mulai memberikan keterangannya kepada polisi. "


"Hmm.. Aku tau. Biarkan dia melakukan apapun yang dia mau. Jangan pernah berani menyentuhnya." Menatap anak buahnya dengan tersenyum sambil menaikkan alisnya lalu kemudian kembali lagi fokus dengan pekerjaannya.


"Kalau begitu.. Kau harus bersiap menerima tamu dari kepolisian boss."


"Hmm.. Aku tahu.. " Lagi-lagi Dom menjawabnya dengan sangat santai. Dom sudah faham betul dengan apa yang akan ia hadapin kedepannya. Baiklah Cintya.. Bersiaplah.. Karena Kita akan segera bertemu kembali. Tersenyum miring menatap layar laptop yang menampilkan background wajah Cintya.

__ADS_1


__ADS_2