
Di ruangan Daniel
Daniel berdiri menyender di didekat jendela ruangannya sambil menatap kearah luar namun tatapannya kosong. Didalam kepalanya, terngiang-ngiang jawaban Cintya saat dimeja tadi. Entah mengapa ia merasa tidak suka dengan jawaban Cintya tadi.
Mustipun apa yang Cintya katakan itu benar, namun apa kurang meyakinkan sikapnya selama ini untuk Cintya mengatakan 'iya' didepan teman-temannya? terutama didepan lelaki asing yang mereka bawa tadi. Atau sebaiknya ia diam, dan membiarkan dirinya saja yang menjawab.
Ia memlilih untuk tidak bergabung lagi dengan Cintya dan teman-temannya. Ia hanya sedikit merasa malu dan kecewa, dan ia takut kalau wajahnya tidak bisa berbohong untuk tidak menampilkan raut kekecewaan.
Tapi sejenak ia berfikir lagi. Apa yang ia lakukan saat ini sudah benar? apakah dengan ia mengurung diri diruangannya ia tidak terlihat begitu egois?. Bukankah dalam masalah ini, dia sendiri yang bersalah, karna mengaku-ngaku kalau mereka adalah sepasang kekasih?, padahal ia sama sekali belum pernah mengatakan kalau ia mencintai Cintya. Yang ia lakukan hanya selalu berada di samping Cintya dan membuatnya senyaman mungkin saat berada bersamanya. Tapi bukan hanya itu yang wanita inginkan. Daniel tahu itu.. Yang dibutuhkan wanita adalah sebuah kepastian, sebuah pengesahan kalau mereka sudah bersatu menjadi sepasang kekasih dengan cara ia harus mengungkapkan dulu perasaannya. Bukan hanya sekedar ada, lalu tidak memberikan kepastian apapun.
Arrrrrggg" erangnya prustasi. "Apa yang harus aku lakukan" ucapnya bingung.
Apa ia harus mengungkapkan perasaannya kepada Cintya sekarang juga?, agar Cintya tidak berpaling darinya, seperti kata Reza kemarin.
"Ya, gue gak bisa menunda lagi. Gue gak mau Cintya berfikir gue hanya pria pecundang yang memberikan harapan paslu kepadanya." katanya memberi semangat untuk dirinya sendiri.
Tapi setelah itu, rasa ragu menghampiri kembali. Daniel memejamkan matanya sejenak saat sang mantan kembali hadir di fikirannya. Selalu saja begitu, disaat ia ingin mengungkapkan perasaannya kepada Cintya, bayangan Jova yang sedang menangis, selalu muncul di kepalanya.
"Oh ya tuhaan.." ucapnya lagi sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. "Kenapa begitu sangat sulit menghapus jejaknya. Harus sampai kapan aku begini ya tuhann.." sambungnya lagi mengeluh karena masih belum bisa move on.
Ditengah kegalauannya ia terus berfikir apa yang harus ia lakukan. Tapi tiba-tiba..
tok tok tok" pintu ruangannya diketuk.
"Masuk.." serunya dari dalam
"Hay bro tampan.. " sapa seseorang yang baru saja masuk kedalam ruangan Daniel. Dan Daniel faham betul suara siapa itu.
"Lo datang disaat yang tidak tepat." umpatnya ketus " Mending lo balik sekarang. Suasana hati gue lagi gak baik." sambungnya
"Tega banget si kau Dan, aku baru datang udah di suru pulang." katanya sambil menyunggingkan bibirnya.
"Besok-besok aja lo ngambil vocer makan gratis lo."
__ADS_1
"Eh aku kemari bukan mau makan gratis. Enak aja asal nyaplak.." omelnya.
"Terus lo ngapai kemari Nova?" tanya Daniel ketus namun bukan marah.
Nova langsung tersenyum lebar sambil bergerak menghampiri Daniel " aku mau mintak tolong samamu. Mau yah." pintanya dengan mengatupkan kedua telapak tangannya di dadanya.
"Gue tau lo kalau kemari memang karna ada maunya doang." cibir Daniel sambil berkacak pinggang. "cepat bilang" mustipun sedang kesal, ia tetap tidak bisa menolak permintaan tolong yang bahkan belum diucapkan oleh wanita tomboi yang ada di depannya saat ini.
"Tenang aja, kalau kau memang bisa nolong aku kali ini, vocer makannya aku anggap hangus. " ucapnya memberi penawaran
"Halah, gak usah bertele-tele lo. Cepat bilang lo mau mintak tolong apa? gue sibuk, banyak kerjaan." alasannya.
"Yaela Dan, galak bener. Pantes aja masih jomblo sampek sekarang." ejek Nova
"Ngaca lo, kayak udah punya pacar aja lo. Mending gue masih punya gebetan, nah lo.. JOMBO NGENES" balasnya mengejek dengan menekankan kata terakhirnya.
"Tega banget ngatain temen sendiri." Nova pura-pura sedih.
"Udah lo gak usah kebanyakan Drama. Cepet bilang gak,." ancam Daniel
~
Karena Daniel tak juga kunjung menunjukkan batang hidungnya, bahkan sampai mereka pulang. akhirnya David lah yang akhirnya mengantar pulang tiga gadis itu. Pertama mengantar Kanya, Dini, lalu yang terakhir Cintya.
Cintya terlihat terdiam duduk di kursi penumpang sambil menatap keluar jendela mobil. Tatapannya kosong, sambil sesekali ia menghela nafasnya pelan.
David yang sedang mengendalikan mobilnya, Sesekali menoleh kearah Cintya yang terlihat diam sedari tadi.
Ehemm" David sengaja berdehem agar Cintya mau menoleh kearahnya, namun ternyata tidak ada reaksi sedikit pun dari gadis yang ada disebelahnya.
"Cintya.." panggil David pelan, "Cin.."ulangnya lagi, tetap tidak ada jawaban. Karena tidak ada jawaban dari Cintya, David pun menepikan mobilnya disisi jalan.
Sejenak Cintya tersadar saat ia merasakan mobil tiba-tiba berhenti. Cintya membalikkan badannya kearah David dan menemukan David sedang menatap lamat kearahnya.
__ADS_1
"Kenapa berhenti?" tanyanya bingung.
"Dari tadi kamu diam aja. Bahkan aku sudah memanggilmu berulang ulang, kamu tetap diam. Ada apa? kamu memikirkan pria pemilik cafe tadi?" tanyanya lembut dengan tatapan sendu dari mata biru miliknya.
Sejenak Cintya terdiam tanpa mengelak dari tatapan David, lalu kemudian ia menunduk. "Aku hanya lelah." kata Cintya beralasan. Lagian tidak ada alasan untunya bercerita kepada David yang bukan lain hanya orang asing baginya.
"Apa kamu yakin?" tanyanya, dan Cintya mengangguk pelan didalam tunduknya
"Tapi aku yang merasa kurang yakin kalau kamu sekarang tidak lagi memikirkan pria tadi. Apa kamu tidak mau bercerita kepada ku? mungkin saja aku bisa sedikit membantu dengan memberikan sedikit masukan." ujarnya lagi menawarkan diri untuk menjadi teman curhat
"Gak ada yang perlu diceritakan David. Aku beneran gak apa-apa." ucap Cintya memastikan namun dengan nada sedikit ketus.
"Lihat aku." seru David, "Cintya lihat aku.." ulangnya lagi dengan nada sedikit memaksa saat Cintya tak kunjung mendengar seruannya.
Cintya terpaksa mengangkat wajahnya. Dan seketika pandangan mereka bertemu. "Biasakan bicara sambil menatap lawan bicaramu. Kamu mengerti?" ucap David serius. "Aku tau kamu memikirkan sesuatu, dan kamu punya hak untuk tidak bercerita padaku. Tapi hargai orang yang saat ini ada bersamamu. Apa kamu fikir aku ini ojek online yang sesuka hatimu bisa kau angguri saat aku memanggilmu?" lanjutnya lagi sedikit kesal.
"Maaf.." hanya kata maaf yang terucap dari mulut Cintya. Ia tidak menyangka kalau David akan marah kepadanya.
Tiba-tiba David tertawa keras, Cintya tidak bisa menyembunyikan kebingungannya. Bahkan ia sampai menautkan kedua alisnya karna merasa bingung kenapa David tiba-tiba tertawa padahal tadi ia terlihat begitu kesal.
"Ya ampun Cintya, kamu itu lucu sekali." kata David sambil memberi cubitan kecil di pipi mulus Cintya.
Cintya masih diam sambil mencoba memahami maksud tawa dan ucapan David.
"Ayolah Cintya, aku hanya bercanda." katanya sambil menghentikam tawanya. " Maaf kalau tadi aku sedikit berbicara tinggi sehingga membuatmu terkejut. okey.."
"hufh itu gak lucu David. Aku kira kau benar-benar marah tadi." ketus Cintya sambil mencoba meredakan kebingungannya.
"Ayolah, mana mungkin aku marah padamu." katanya tersenyum. Namun Cintya masih tetap menampakkan wajah sendunya.
"Apa kamu memang tidak mau cerita?, mm atau apa karna aku orang asing bagimu, makanya kamu enggan bercerita." tanyanya menerka-nerka.
"Ya ampun David, udah aku bilang tidak ada yang perlu diceritakan. Aku baik-baik aja." Cintya terus saja menutupi kegundahan hatinya dengan mencoba tersenyum.
__ADS_1
Namun tetap saja senyumnya itu tidak membuat David percaya begitu saja. David menyunggingkan bibirnya lalu kemudian berkata " senyummu palsu Cintya. Aku tau itu." ujarnya sambil menghela nafas