CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Part 30


__ADS_3

Cintya keluar dari ruangan bu Sumi dengan senyum yang mengembang. Bagaimana tidak, ia diizinkan mengambil cuti kerja selama dua hari. Akhirnya ia bisa menemani Tama pulang kampung untuk berziarah ke makam sang Bunda.


Tama bilang kalau ia akan datang pukul enam sore, dan mereka akan berangkat bersama ke halte bus. Namun bukan Tama namanya jika dia bisa tepat waktu. Hingga jam sudah menunjukkan ke angka jam tujuh malam, Tama belum menunjukkan batang hidungnya.


Berulang kali Cintya menelfonnya, namun jawabannya tetap sama, 'iya ini udah dijalan', namun ntah kapan sampainya.


Pukul tujuh lebih tiga puluh dua menit, sebuah mobil berhenti tepat didepan gerbang kos Cintya. Dan dari mobil tersebut keluarlah Tama dengan wajah cengengesannya seperti orang yang tidak bersalah dan punya dosa. Ternyata dia diantar oleh Daniel.


"Masih kurang lama datangnya" sindir Cintya sambil cemberut. Dari jam enam dia sudah menunggu Tama didepan kos, agar kalau Tama sampai mereka bisa langsung pergi. Namun sejam kemudian ia baru datang, siapa yang tidak kesal.


"Sholat bentar tadi. Gitu aja marah.." Tama beralasan sambil garuk-garuk kepala.


"Yauda hayuk, mau jam berapa lagi kita berangkatny? berangkat jam segini nyampeknga bisa pagi." omel Cintya sambil mengangkat ranselnya.


"Yauda hayuk.. bang Daniel yang ngantar kita ke halte." Tama menarik lengan Cintya dan membawanya ke pintu depan mobil.


Tama membukakan pintu untuk Cintya dan menyurunya duduk didepan disamping Daniel. Dan dia memilih untuk duduk di kursi belakang penumpang. Ntah apa maksudnya.


Jantung Cintya memompa dengan cepat saat matanya bertatapan dengan mata Daniel. Tatapan yang mampu membuat perempuan manapun terpesona dibuatnya. Ditambah lagi dengan senyum yang sangat menawan, membuat Cintya malas untuk mengedipkan mata


"Maaf yah, aku cuma bisa nganter sampek halte doang" ucap Daniel berbasa basi.


"Mau nganter sampek halte aja udah makasih banget bang." balas Cintya canggung. Cintya memalingkan wajahnya kearah lain. Seperkian detik memandang wajah Daniel saja jantungnya bisa tidak normal begini, apa lagi kalau lama, mungkin jantungnya bisa loncat keluar. Cintya tidak berhenti memegang dadanya, berharap jantungnya bisa lebih rilex.⁷


Hanya butuh waktu dua puluh menit untuk sampai di halte. Daniel juga ikut turun dari mobil.


"Aku beli tiket dulu." Tama langsung berlari menuju loket.


Tinggal lah Daniel dan Cintya berdiri bersampingan sambil menyender dibadan mobil.


"Berapa hari disana?" tanya Daniel


"Cuma dua hari." jawab Cintya cepat


"Jangan lupa oleh-olehnya ya.." Daniel tersenyum


Hadeh bang, mending jangan senyum deh. Hatiku miris melihatnya karna tidak bisa memilikimu. Batin Cintya tersiksa


"Mau oleh-oleh apa?"

__ADS_1


"Hmm... terserah apa aja boleh. Yang penting kamunya ikhlas bawain." ucapnya sungguh-sungguh.


Hati adek mau bang? hihi.. batin Cintya terkekeh merasa lucu.


"Oke deh.." Cintya membuat simbol oke dengan jarinya sambil tersenyum manis.


"Jangan senyum gitu kesembarang orang, apalagi ke laki-laki. Nanti bisa salah mengartikan senyumamanmu itu." ucap Daniel dengan wajah serius.


"Maksudnya?" Cintya tidak mengerti maksud ucapan Daniel.


"Itu Tama datang." Daniel malah mengalihkan pembicaraan. Cintya mengalihkan pandangannya ke arah Tama yang baru kembali membeli tiket


"Sukur aja kita gak telat kak. Ini bus terahir hari ini." ucapnya.


"Yang bikin telat itu kau sendiri... janji jam enam, datang jam delapan. Dasar jam karet." Cintya mengomel lagi


"Iya iya aku yang salah."


"Emang salah" balas Cintya tak mau kalah.


"Yaudah.. yaudah, itu bisnya udah manggil-manggil. Buruan masuk, ntar ditinggal baru tau rasa." Daniel menengahi pertengkaran antara kakak dan adik.


Daniel tersenyum "baru sekali ini ada orang yang berani ngerepotin aku... dan aku enggak pernah merasa sesenang ini saat direpoti." ucapnya sambil menepuk pundak Tama


Ya ampuuunnn.... manisnya.. jadikan adek makmummu bang.. batin Cintya


*****


Bus sudah bergerak jauh meninggalkan kota Medan. Dinginnya udara malam sudah mulai terasa menusuk ke tulang.


Cintya melihat jam yang melingkar di lengannya. Baru sekitar satu jam perjalanan, namun rasanya sudah sangat lama dan membosankan. Ia mencoba untuk tidur, namun ntah kenapa saat ia memejamkan matanya, wajah Daniel yang tersenyum selalu muncul.


Cintya melirik ke arah Tama yang sedari tadi sudah tertidur. Sungguh sangat menyebalkan saat melihat Tama bisa tertidur dimana saja, sedangkan dirinya masih harus berjuang untuk bisa terbebas dari bayang-bayang wajah Daniel yang selalu mengganggunya sehingga ia susah untuk tidur.


Cintya membuka botol kemasan berisi air mineral, diteguknya hingga habis setengah botol. Ia berharap setelah minum banyak air, ia bisa menghilangkan fikiran tentang Daniel di otaknya. Pesona seorang Daniel memang tidak bisa dianggap sebelah mata. Jika tidak memiliki iman dan imin yang tebal, maka akan sulit move on dari wajah tampan babang Daniel.


Tiga jam berlalu, namun Cintya masih tetap terjaga.


Cintya mengambil ponsel dari saku celananya saat ada notifikasi chat yang masuk. Ternyata pesan dari Melky..

__ADS_1


"Udah sampek mana bebh?"


Melky memang sudah tahu kalau Cintya akan pulkam. Sebenarnya dia ingin ikut, hanya saja karna tidak diijinkan mengambil cuti akhirnya dia harus pasrah.


"kenapa? mau nyusul?" balas Cintya


"Jangan gitu lah bebh, mentang-mentang aku gak bisa ikut"


"Jangan lupa oleh olehnya bebh.."


"Air danau mau?"


"Apa aja bebh, jangankan air danau, air comberan aja pun gak papa. Apapun pemberian darimu akan q terima semuanya dengan hati yang ikhlas."


Hahaha... dasar si Melky si raja gombal. Gumam Cintya pelan. Cintya jadi teringat dengan ucapan Daniel tadi yang mengatakan kalau ia akan menerima apapun yang Cintya berikan.


"Kenapa si Melky?" ucap Tama yang ternyata sudah bangun dari tidur panjangnya.


"Dia nge chat aku mintak oleh-oleh" jawab Cintya sambil menunjukkan layar ponselnya yang berisi chat dari Melky


"Bilang aja sama dia, nanti mau dibelikan buaya sama Tama, biar ada lawannya ngegombal" ucap Tama terkekeh


"Hehe.. bener juga yah. Kasian dia jadi buaya sendirian di Medan. Biar punya temen dia." Cintya jadi ikut tertawa


Cintya kembali mengirim chat ke Melky "Mel, kata si Tama kau mau dibawain oleh-oleh buaya, biar punya temen ngegombal"


"Dia beneran punya adek kak?" tanya Tama penasaran tentang ungkapan Melky kemaren yang mengatakan kalau ia punya adik perempuan.


"Si Melky?" balas Cintya memastikan, dan Tama mengangguk.


"Katanya gitu. kakak jugak baru tau dari Dini kemaren." jawabnya." Tapi sih katanya, adeknya udah ninggal." lanjutnya lagi "emang kenapa? kau tau dari mana?" tanyanya


"Dia sendiri yang bilang... Kasihan juga dia yah kak, kayaknya dia terpukul banget kalau udah ngebahas soal adeknya. Bahkan dia bilang, sikap dia yang seakan-akan suka ngegombalin cewe hanya sebatas seperti sedang ngobrol sama adeknya sendiri. "


"Kakak tau adeknya ninggal kenapa?" tanyanya lagi dengan wajah penasaran, Cintya hanya geleng-geleng tidak tau.


"Nanti deh kakak tanya langsung sama dia."


Cintya jadi ikut penasaran, apa bener sikap Melky yang seperti ini karna rindu akan kehadiran adiknya?

__ADS_1


__ADS_2