CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Pengakuan Cintya part 1


__ADS_3

Masih dimalam yang sama.


Setelah Cintya masuk kedalam kamar, Ayahnya pun memilih untuk masuk juga kedalam kamarnya untuk menghindari perdebatan kembali dengan Tama. Tinggallah Wisnu, Melky, dan Tama yang memilih untuk tetap diruang tamu. Tama masih saja terus menutup matanya. Tama masih merasakan kecemasan terhadap kakaknya.


"Bang.." panggil Melky pada Wisnu. Wisnu hanya menoleh saat dipanggil. "Apa menurut abang.. Setelah Cintya mau memberikan keterangannya, kasus ini akan terpecahkan?" tanyanya.


Wisnu mengangguk pasti. "Hanya Cintya harapan kita untuk mengungkap kasus ini. Karena dia pasti tau wajah pelakunya kan?" jelasnya.


Melky mengangguk mengerti. "Tapi bang.. Apa Cintya akan baik-baik saja setelah semua ini berakhir?" terpancar raut cemas diwajah Melky. "Aku hanya takut kalau dia akan kembali trauma seperti yang Tama bilang." lanjutnya lirih.


"Saya faham kalau kau cemas dengan keadaannya. Tapi saya akan berusaha sebaik mungkin untuk melindunginya. Saya akan selalu berada disampingnya saat introgasi dimulai. Walau saya bukan dokter spesialis psikis, tapi jangan khawatir.. Semua dokter dibekali keahlian untuk membaca situasi. Apa lagi disaat seseorang merasa tidak nyaman, kami akan dengan mudah membacanya. " Wisnu mencoba meredakan kekhawatiran orang terdekat Cintya. "Tapi apa saya boleh tahu, kau ini siapanya Cintya? " pasalnya mereka belum sempat berkenalan tadi.


"Aaa... Kita belum sempat kenalan tadi." menjulurkan tangannya. "Aku Melky.. Teman dekatnya Cintya."


Wisnu pun menyambut uluran tangan Melky dengan tersenyum. "Cintya sangat beruntung karena dikelilingi oleh keluarga dan teman-temannya yang sangat perduli padanya.." ucapnya tulus.


"Tapi bang.." Melky merasa ragu untuk mengutarakan apa yang ada dikepalanya.


"Ada apa? Apa ada hal yang masih kau ragukan?" Wisnu menelisik wajah Melky.


"Apa kau tidak mencurigai seseorang?" tanyanya pelan . "Karena aku merasa kejadian hari itu terasa sangat janggal." ucapnya ragu


"Kenapa? Apa kau mengetahui sesuatu? " ujar Wisnu yang merasa kalau Melky seakan mengetahui sesuatu.


Melky mengatur nafasnya yang saat ini terasa sempit. "Sebenarnya aku orang pertama yang menemukan mereka setelah kejadian waktu itu." walau ragu, akhirnya ia tetap mengatakannya.


Wisnu tampak terkejut. Sementara Tama yang sedari tadi menutup matanya, langsung membuka matanya namun tetap pada posisinya dan mencoba mendengarkan.


"Berarti kau..?" Wisnu masih speecless. Karena ternyata Melky adalah saksi yang ia cari-cari selama ini. Ia mendengar dari detektif yang menangani kasus adiknya kalau ada satu orng saksi yang tidak mau memberi keterangannya.


"Hm.. Aku ada disana setelah kejadian. Dan aku juga yang melaporkan kejadian itu pada kepolisian melalui telfon." ucapnya jujur.


"Lalu kenapa kau tidak pernah mau bersaksi? Bukannya kau bilang Cintya adalah temanmu?" ujarnya dengan nada sedikit kesal.


"Maaf bang.. Karena setelah kejadian itu, otakku seakan lumpuh." jelas Melky menyesal." Tapi aku benar-benar tidak tahu apa-apa. Jadi aku berfikir, aku bicarapun tidak ada gunanya." lanjutnya


"Bahkan hal sekecil apapun bisa membantu berjalannya kasus ini. Kenapa kau tidak berfikir kesana?"


"Maaf.." setelah berbaikan dengan dirinya sendiri, sekarang Melky lebih bisa berfikir positif dan juga tahu kalau kelakuannya yang menolak saat diintrogasi adalah suatu kebodohan.

__ADS_1


"Apa yang menyebabkan kau bisa sampai disana? Apa ada yang memberitahumu?" tanya Wisnu menyelidik


Melky mengangguk. " Seseorang mengirim pesan padaku melalui ponsel Cintya. Jadi aku pergi kesana tanpa ragu, dan menemukan mereka bertiga sudah..." menundukkan kepalanya karena tidak sanggup mengingat kejadian hari itu.


Wisnu menghela nafasnya. Ia tidak tahu harus marah atau kasian pada pemuda yang ada dihadapannya ini.


Tama yang sedari tadi ikut mendengarkan akhirnya bereaksi. Matanya menatap kasihan pada temannya itu. "Kau masih bisa memperbaikinya Mel. Berikan keteranganmu pada polisi, maka kemungkinan kasus ini akan segera terungkap dengan sedikit bantuan darimu." Tama memberi dukungan pada Melky. Akhirnya kau mau bicara Mel.. Merasa senang


"Apa kau mau memberi kesaksianmu?" ucap Wisnu.


Melky mengangguk pelan dengan kepala yang masih tertunduk."Aku akan memberi kesaksianku. Tapi bang.."mengangkat kepalanya menatap Wisnu. "mengenai pertanyaanku tadi, aku hanya ingin tahu apa abang mencurigai seseorang? Aku hanya merasa kalau pelakunya bukan orang jauh."


"Seharusnya kau berfikir seperti ini dari kemaren Mel. "Masih merasa kesal. "Saya memang mencurigai seseorang. Hanya saja.. "


"Siapa? Abang mencurigai siapa?" tanya Tama memotong ucapan Wisnu.


"Ini masih persepsi saya saja. Jadi saya rasa, saya tidak perlu mengatakannya pada kalian.. " jelas Wisnu. Ia hanya tidak mau persepsinya kali ini membuat orang terdekat Cintya jadi salah faham dengan Daniel.


"Wajah abang terlihat sangat yakin dengan persepsi abang sendiri. Apa ada kaitannya dengan bang Daniel?" tuding Tama. "Abang takut kalau kami akan marah karena ternyata bang Daniel penyebabnya?" ucap Tama menimpulkan sendiri.


Wisnu terdiam mendengar tuduhan yang ternyata sangat tepat.


"Sepertinya memang seperti itu." yakin Tama.


Rumah keluarga Cintya kedatangan tiga orang detektif yang memang sengaja dipanggil oleh Wisnu untuk mendengarkan cerita langsung dari Cintya dan Melky. mereka semua berkumpul diruang tamu mendengarkan dengan seksama kata-demi kata yang keluar dari mulut Cintya.


Sebelum mulai bercerita, Cintya berulang kali menghembuskan nafasnya pelan. Sebenarnya ia masih merasakan trauma, hanya saja ia mencoba untuk bisa melawannya. Ditambah lagi, Tama tidak berhenti untuk memberikan dukungan padanya membuatnya sedikit bisa merasa lebih rilex.


"Pada hari itu.. Sekitar jam sebelas malam aku baru saja pulang ke kosan diantar bang Daniel. Tidak lama bang Daniel pulang, dan aku ingin masuk gerbang tapi David datang menemuiku. Sehingga akupun akhirnya tidak jadi masuk dan kami memilih untuk mengobrol diluar gerbang." jelasnya dengan pelan


"David? Siapa David?" tanya salah satu detektif. Pertanyaan yang juga ingin ditanyakan oleh semua orang yang ada diruangan. Tak terkecuali Tama, karena nama itu seakan tidak asing ditelinganya.


"Aku mengenalnya saat aku berkunjung kemari bersama Tama beberapa bulan lalu. Tapi tidak sekali aku bertemu dengannya. Karena hanya berselang satu bulan kemudian aku bertemu kembali dengannya disebuah moll di Medan." jelasnya.


David.. batin Tama sambil mencoba mengingat. Ahh iya.. Bule itu. Ia akhirnya mengingatnya.


"Lalu.. Apa dia salah satu orang yang terkait pada kasus ini? " detektif


"Aku tidak begitu yakin.. Hanya saja, aku memang pergi dengannya ketempat itu setelah mendapat telfon dari ponsel bang Daniel." Cintya

__ADS_1


"Apa memang Daniel yang menelfonmu? Atau.. Orang lain?" detektif


"Orang lain. Seorang pria menelfon dengan ponsel bang Daniel dan mengatakan kalau bang Daniel mengalami kecelakaan dan menyuruku untuk datang menjemputnya."


"Dan kau langsung pergi?" detektif.


Cintya mengangguk. "Aku langsung pergi saat David menawarkan tumpangan. Hanya saja, awalnya aku tidak begitu yakin dengan tempat dimana David membawaku. Tempat itu sangat sepi dan gelap sekali. Bahkan bang Daniel tidak terlihat keberadaannya disana."


"Setelah itu apa yang dilakukan David saat sampai ditempat kejadian?" detektif


Cintya terdiam sesaat. Terlihat sekali kalau ia sudah merasa tidak nyaman dengan pertanyaan detektif. Namun tiba-tiba tangannya digenggam oleh Melky yang memang sedari tadi duduk disebelahnya. merasa tangannya digenggam, Cintya langsung menatap wajah Melky yang sedang tersenyum kepadanya. "Kau bisa Cintya.. " ucap Melky memberikan dukungannya.


Cintya mengatur kembali nafasnya " David.. Dia tidak melakukan apapun saat dua orang laki-laki membawaku masuk kedalam hutan."Matanya mulai berkaca-kaca dengan wajah yang sudah pucat pasi mengingat kejadian malam itu. Cintya tidak menyangka kalau David akan membiarkan kedua pria besar itu mengeretnya tanpa perasaan. Bahkan ia sudah berteriak sambil memanggil namanya, tapi David tetap tidak bereaksi. Kenapa kau begitu tega padaku.. Batinnya lirih


Tama mulai merasa cemas melihat ekspresi kakaknya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya detektif lembut. "Apa kau mau istirahat sebentar?" ucapnya lagi.


Cintya mengelengkan kepalanya seraya menyeka ujung matanya yang hampir mengeluarkan air. Aku harus kuat demi kasus ini dan juga bang Daniel. Batinnya. "Aku tidak apa-apa." ucapnya.


"kau yakin?.. Kami tidak akan memaksamu jika kau tidak mau cerita Cintya." ucap detektif memastikan kondisi Cintya yang ia tahu masih cukup rentan untuk kembali trauma jika ia merasa tertekan.


Cintya kembali mengelengkan kepalanya. "Aku akan tetap melanjutkannya." memaksakan senyumannya.


"Baiklah kalau begitu.. Pelan-pelan saja oke.." menyentuh lembut punggung tangan Cintya. Cintya mengangguk mengerti. "jadi intinya, David membiarkanmu dibawa oleh dua orang pria kedalam hutan?" detektif mengulang kembali ucapan Cintya. Cintya kembali mengangguk.


Tama yang sedari tadi ikut mendengarkan sudah mengepalkan kedua tangannya karena merasa sangat marah. Begitu pula dengan ayahnya yang langsung merasakan lemas ditubuhnya mendengar cerita dari anak gadisnya. Mulutnya terkunci namun hatinya menangis merintih.


"Baiklah.. " sejenak detektif menghela nafasnya dengan mata yang tertuju pada Wisnu yang sedari tadi hanya duduk diam saja disamping kanan Cintya "Emm.. Cintya, saya akan menunjukkan beberapa foto padamu. Yang kemungkinan dia adalah pelakunya. Apa kau bersedia?" meminta persetujuan Cintya, demi agar Cintya tidak terlalu syok saat kemungkinan disalah satu foto yang ditunjukkannya nanti ada seorang yang ia kenal.


Cintya mengangguk dengan jantung yang berdegup dengan kencang. Setengah mati ia tetap berusaha untuk terlihat tenang demi lancarnya penyelidikan ini.


Detektif menunjukkan beberapa foto dari layar laptopnya. "Apa ada yang kau kenal?"


Jantung Cintya yang sedari tadi berdegup dengan kencang langsung terasa berhenti seketika. Cintya mematung dengan mata yang masih tertuju pada layar laptop. Wajah itu.. Adalah wajah yang selalu menghantui setiap tidur malamnya. "Dia.." dengan suara bergetar Cintya menunjuk kesalah satu foto. "Dia.." Cintya menangis sambil menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Dengan cepat Wisnu langsung menarik Cintya kedalam pelukannya. Ternyata benar kau pelakunya.. Bajingan.. Umpat Wisnu dalam hati.


Tama langsung berdiri mendekat pada layar laptop yang tertera beberapa wajah. Dan salah satunya ada wajah David. Bule yang ia temui secara tidak sengaja saat mereka berjalan-jalan ditepi danau. Tapi bisa dipastikan kalau David hanya sebagai perantara saja. Lalu yang mana pelakunya? Tama menatap detektif mencoba mencari jawaban. Hanya dari pandangan Tama saja, detektif sudah tahu maksudnya dan langsung meng klik salah satu wajah. wajah Tama merah padam dengan tangan yang terus mengepal menahan amarah.

__ADS_1


"Sebaiknya kau tenang dulu." Detektif membawa Tama kembali ketempat duduknya. "Wajar kau merasa marah... Tapi saya mohon, jangan tunjukkan didepan Cintya.. " mohon detektif.


Tama yang sudah berada dipuncak kemarahan memilih untuk pergi dari ruangan.


__ADS_2