
"Kenapa buru-buru mau pulang?" tanya Daniel sambil berjalan dibelakang Tama menuruni tangga.
"Aku Laper.." Jawabnya Tama cepat, Daniel menautkan kedua alisnya. Heran...
"Bukannya tadi udah makan? masih kurang..? Lagian kan tadi aku udah bilang, kalo mau makan pesan aja. Gak perlu bayar... "
"Lagian kalo dirumah, kamu mau makan apa? Mana ada makanan dirumah." Daniel tidak tau aja kalau Tama sudah minta dimasakan makanan kesukaannya sama bi Mina. Dan bi Mina pun menyanggupi permintaan Tama dengan mengatakan "gampang itu maaaah.. nanti bibik masakin."
"Aku udah mintak bi Mina masakin ikan nila arsik" balasnya sambil menoleh kebelakang sambil tersenyum ceria. Daniel hanya geleng-geleng tak percaya. Benar benar dianggapnya seperti rumahnya sendiri.. fikirnya.
Setelah sampai dibawah, Daniel melirik kearah meja yang tadi diduduki oleh Tama dan Cintya. Kosong. Matanya berkeliling mencari keberadaan wanita yang saat ini sudah membuka sedikit ruang dihatinya. Namun nihil, Cintya tidak ada dipenglihatannya. ck
"Kakakmu mana?" Daniel beralih menatap Tama yang sedang asik menggombali wanita yang bertugas sebagai kasir. Dan sepertinya kasir itu pun mau saja digombali oleh Tama.
"Pulang" jawabnya tanpa mengalihkan wajahnya dari wanita yang bernama Erna itu. Dia terlihat kembali menggombal tanpa memperdulikan Daniel yang saat ini sedang kalang kabut mencari keberadaan sang dambaan hati.
"Kamu cantik banget sih... jalan sama aku yuk..! boleh mintak nomor hape kamu gak? biar lebih enak gitu kita ngobrolnya.." Gombalan Tama berhasil membuat pipi Erna merona sempurna.
Haissss dasar playboy kampung.. cibir Daniel dalam hati sambil berkacak pinggang dan memandang Tama dengan sinis karna pertanyaannya seperti tidak digubris.
"Kok bisa pulang?" tanyanya lagi
"Hah. Pertanyaan seperti apa itu. ." tuturnya pelan. Gantian Tama yang menautkan alisnya sambil memandang kearah Daniel. " Kan kak Cintya punya rumah, ya bisa pulang lah." Tama tidak mengerti maksud Daniel apa.
Daniel menarik nafasnya gusar "Yaudalah ayok pulang. Katanya tadi mau pulang... tapi mala sibuk gombalin cewe." ketus Daniel. " Kamu juga, keganjenan... mau aja digombalin sama dia" Daniel beralih mengomeli Erna.
Erna yang saat itu sedang mengetik no hapenya di ponsel milik Tama, terkejut mendapat omelan dari sang boss. Gak biasanya bosnya itu merepet seperti janda. Dari awal dia bekerja di cafe milik Daniel,baru sekali ini dia kenak semprot. Bahkan dia pun sampai heran, kenapa boss yang biasanya selalu bersahabat itu, menjadi tiba tiba galak. Dia pun akhirnya hanya bisa menunduk sambil cemberut.
"Udah gak usah diambil hati omongan bang boss. Anggap aja dia lagi datang bulan." bisiknya sambil tertawa geli. "Da da Erna... Besok kita jumpa lagi yah.." Tama mengedipkn sebelah matanya, lalu berlalu mengikuti Daniel berjalan ke luar.
Didalam perjalan pulang, Daniel tampak gelisah. Hatinya sedang bertanya-tanya.
"Pulang sama siapa Cintya..?"
"Kenapa dia gak pamit dulu samaku.."
Daniel melirik kearah Tama yang sedari tadi hanya sibuk dengan ponselnya. Dia ingin bertanya kepada Tama tentang kegundahan hatinya. Namun ia urungkan, karna mesti baru beberapa hari ia kenal dengan Tama, ia sudah faham betul dengan sifat adik dari sang pujaan hati. Takut-takut, ntar dia bakalan jadi bahan ejekan Tama seperti saat tadi diruangannya. Bakalan makin hancur harga dirinya.
"Sibuk banget kamu sama ponsel kamu." ucapnya menyindir dengan mata yang masi lurus kejalanan.
Tama hanya menengok sebentar, lalu fokus kembali ke arah benda pipih itu. gak penting.. fikirnya
__ADS_1
"Pulang samaa siapa kakakmu?" mestipun ragu, akhirnya dia mengeluarkan pertanyaan yang sedari tadi ditahannya.
"Dijemput sama temennya.." Tama menjawab sambil terus berselancar dengan smartpone nya.
Tumben dia gak nyinyir.. Daniel membatin
"Cewe atau cowo?" tanyanya lagi.
"Cewe.." jawabnya cepat.
"Siapa...! teman kerja atau teman yang lain"
Tama hanya mengangkat bahu, menandakan dia tidak tau.
"Masak kamu gak tau sih.. Adek macam kamu.." Cibirnya..
Tama menatap tajam kearah Daniel " abang bisa gak sih gak nanyak-nanyak terus.. " ujarnya dengan nada kesal. "Nomorya si Erna jadi terhapus ni.."
" Haisss... berapa ya tadi.. kosong lapan dua satu.... tujuh tiga lima puluh.. emmm...--" Tama tampak semakin kesal karna tidak bisa menginat ujung nomor hape Erna.
Konsentrasi Tama buyar karna Daniel terus bertanya kepadanya. Sehingga nomor yang seharusnya tersimpan malah terhapus . Tama kesal bukan main.
"Lima tiga tujuh puluh" Sambung Daniel asal
Daniel tampak terkejut karna nomor yang ia sebutkan tadi ternyata benar.
Terdengar keras suara tuutt.. tuutt.. tuutt.. saat Tama melakukan panggilan. Bukan suara kentut, melainkan suara yang mendakan bahwa sambungan telfonnya terhubung karna Tama melakukan panggilan dengan menggunakan loutspeker. Ntah apa maksudnya..
"Halo.. Erna.." sebut Tama didalam panggilan.,
"Iya.. " jawab suara lembut dari sebrang telfon
"Ini aku Tama.." Tama senyam-senyum sendiri.
Daniel melasa geli melihat expresi Tama saat mengobrol dengan Erna di telfon. Tapi kok suaranya beda yah... ahh... mungkin karna dari telfon.. Daniel masa bodo, namun tetap mendengarkan.
"Oh iya.. ada apa ya.."
"Emmm... besok kita jadikan ke bioskop nya."
"Yaudah besok hubungi lagi aja yah.."
__ADS_1
"Oke oke. Sampai berjumpa besok." ucapnya sambil mematikan sambungan telfon.
"Yes.. yes... yes... pergi kencan, pergi kencan.." ucapnya sambil badannya meleak leok, seperti sedang menari.
"Abang hebat yah, bisa ingat nomor pegawainya." ucapnya lagi sambil menjulurkan kedua jempolnya kepada Daniel. Daniel hanya garuk-garuk kepala.
Sial...
Sesampainya dirumah, Tama langsung menuju ke dapur. Dibukanya kulkas yang berukuran besar itu. Seketika senyumnya mengembang saat menemukan ikan Nila berukuran cukup besar yang sudah bercampur dengan berbagai bumbu. Air liurnya seperti ingin terjun dari mulutnya saat ia menghirup aroma makanan kesukaannya yang ternyata benar dibuatkan oleh bi Mina.
"Aahhh... bi Mina emang the best.." sambil mengeluarkan ikan tersebut dengan hati-hati, lalu menutup pintu kulkas dengan menggunakan bokongnya. Ia pun berjalan menuju ke meja makan dan meletakkannya disana.
Daniel yang sedari tadi hanya memperhatikan Tama dari kursi meja makan, merasa takjub dengan hidangan yang ada tepat didepan matanya. Aromanya terasa sedap, apalagi rasanya. Fikirnya. Dengan seenaknya dia mencolek bumbu yang membungkus ikan tersebut dengan telunjuknya, lalu dimasukkannya kedalam mulut. "Hmmmm ... enak.."
Ia pun kembali ingin menyolek ikan arsik buatan bi Mina yang terasa sangat lezat, walaupun baru dicicipi sedikit. Dengan cepat Tama menampis tangan Daniel, sehingga Daniel mendengus kesal.
"Nanti dulu.. musti dipanasin biar makin enak." ucapnya sambil menyerahkan piring berisi ikan arsik kepada Daniel " Panasin bang, gak ngerti aku pakek microwafe... hehe.."
"Huuu...." Cibirnya sambil menerima piring tersebut dan berjalan menuju arah microwafe.
Tama berdiri di belakang Daniel sambil memperhatikan cara menggunakan microwafe.
"Ooo... gitu.." kepalanya manggut-manggut mengerti.
Mereka berdua pun tidak beranjak dari depan microwafe sambil terus memperhatikan ikan yang berputar-putar didalamnya. Hanya butuh waktu beberapa menit untuk memanaskannya, namun terasa begitu lama bagi dua orang yang sudah tidak sabar ingin menyantap hidangan yang sangat sedap itu.
Ting... microwafe berbunyi menandakan hidangan mereka sudah panas dengan sempurna. Dengan gerak cepat tangan Daniel membukanya lalu mengambil sarung tangan anti panas untuk mengeluarkan makanan lezat itu.
"Letak sini bang.." ucap Tama yang sudah berada disisi meja makan. Daniel pun menurut." Aku mau ambil nasi dulu." serunya sambil mengambil 2 piring lalu menuju ke arah megicom.
"Waahhh... harumnya makin enak banget yah kalo panas gini." Daniel berucap sembari memotong ikan menjadi 2 bagian
" Kamu mau bagian yang mana?" tanyanya.
"Kepala lah.. ini bagian yang terlezat.." ucapnya
"Pantes kamu keras kepala.." kelakar Daniel sambil memberikan bagian kepala untuk Tama, lalu mengambil bagian buntut untuk dirinya.
Tama menaikkan 1 kakinya keatas kursi yang ia duduki, lalu mulai menyantap nasi hangat dan ikan secara bersamaan tanpa menggunakan sendok. Hmmmmm nikmatnya...
***Hayooo... siapa yang ngiler.. 🤤🤤
__ADS_1
Marrreeee kita ngiler bareng bareng***..