CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
part 36


__ADS_3

"Aaaaaaa..." Cintya teriak histeris. Apa yang dia lihat, benar-benar membuatnya takut bukan main.


"Cintya, aku gak bisa nafas.." rintih Daniel dengan tersengal-sengal.


Cintya sontak membuka matanya. Dan dia baru menyadari kalau ternyata dia sudah menyakiti Daniel karena memeluk erat leher Daniel. Dengan cepat ia melepaskan pelukannya, dan segera duduk menjauh. Sangking ketakutannya dia sampai tidak bisa berfikir jernih.


"Kamu mau bunuh aku ya?" kata Daniel sambil terbatuk-batuk


"Maaf, aku gak sengaja bang.." Cintya merasa bersalah. "Abang sih nakut-nakuti.." ucapnya lagi dengan nada kesal


"Ya gak nyekek jugak kali Cin, kan bisa peluk aja." jelasnya.


"Ya maaf.. Abang sih di tempat kekgini ceritanya horor.." Cintya malah menyalahkan Daniel.


"Lah, kan dia sendiri yang mintak ditunjukin." ucapnya tak mau kalah. "Tapi serius deh Cin, tadi tuh aku cuma bercanda ngomongnya.." wajah Daniel berubah serius.


"Maksudnya bercanda apaan?" Tanya Cintya bingung.


"Aku tu gak bisa liat begituan. Baru kali ini malah." ucapnya jujur.


"Ma ma maksudnya abang gak pernah liat hantu? " Cintya sampai terbata-bata sangking takutnya bahkan matanya sampai melotot, dan di angguki oleh Daniel.


"Berarti kita sama doong.." dengan reflex Cintya mendekat kembali duduk memepet kepada Daniel. Matanya juga memantau ke segalah arah. "Tapi tadi tu beneran hantu gak sih?" suaranya sampai bergetar


"Kayaknya beneran deh, gak ada kepalanya tadi kan?" ucap Daniel jujur. "Mana mungkin orang bisa hidup tanpa kepala" sambungnya lagi.


"Iihh... jujur banget sih, gak usah diperjelas jugak, bilang gak ada kepalanya. Bikin orang makin parnok aja tau gak.." Cintya memukuli lengan Daniel sangking kesalnya.


"Jadi mau kamu itu aku mesti gimana?" kata Daniel sambil berusaha mengelak dari pukulan Cintya. " yaudah, mending kita masuk tenda aja. Kita tidur."


"Ihhh modus.. maunya yah tidur sama aku.." Cintya semakin kesal bukan main.


"Ya bukan gitu maksudnya.. Ya kamu tidur di tenda kamu, aku tidur di tenda aku lah." jelasnya. " Tapi kalau kamu mau tidur bareng ya gak masalah sih, biar ntar si Wido aku usir." sambungnya lagi " aku sih yes yes aja kalau kamu mau.." ucapnya sambil cengengesan


"Terus aku bakalan bilang No No?" ucap Cintya.


"Hahaha... dasar otak mesum" kata Daniel seraya mengacak2 kepala Cintya.


"Kok mesum?" bingung

__ADS_1


"Iya lah, Yes No.. Yes No.. kayak orang lagi *** ***." kelakarnya.


"Astagaaa.... otaknya.! " mata Cintya sampai melotot melihat kemesuman Daniel. Dan Daniel semakin tertawa melihat expresi wajah Cintya yang semakin kesal.


Namun sesaat tawa Daniel terhenti saat mendengar sesuatu dari balik pohon tadi.


"Mending kita balik ke tenda deh Cin." ucap Daniel seraya berdiri. Perasaan Daniel semakin tidak enak.


"Kenapa?" Cintya ikut berdiri namun wajahnya sudah pucat pasi. Dia sudah tau pasti ada yang tidak beres saat melihat Daniel tiba2 berhenti tertawa dan mengajaknya masuk ke tenda.


Dan benar saja, sosok yang mereka lihat tadi muncul kembali dari balik pohon sambil tangannya seperti sedang memanggil-manggil Daniel dan Cintya untuk datang menghampirinya. Sukurnya hanya Daniel yang melihatnya karna kebetulan tubuh Cintya membelakangi pohon.


Mestipun terkejut, bahkan takut. Namun tatapan Daniel tak putus memandang ke arah pohon. Namun saat Cintya juga ingin menoleh kesana, Daniel langsung menahannya. "jangan lihat.." Daniel mendekap wajah Cintya di dadanya seraya berjalan mundur.


"Ada dia lagi ya bang?" Cintya sudah menangis di dekapan Daniel


"Sepertinya iya.." bisik Daniel.


"Aku takuttt..." isak Cintya


"Kan ada aku, gak usah takut. Sebentar lagi kita sampai tenda." Cintya manggut-manggut.


"Mau digendong?" tawarnya. Cintya geleng-geleng. Ia tau kalau Daniel juga pasti sedang ketakutan juga. Seberani-beraninya Cowo, pasti ada juga rasa takutnya liat begituan. Fikir Cintya


Daniel terus berjalan mundur dan hampir sampai ke tenda Cintya. Namun dasar hantu durjana, ia masih saja menampakkan dirinya. Dalam hati Daniel ia tak sepenuhnya yakin itu adalah hantu. Namun ia hanya tidak ingin Cintya semakin parnok bila harus melihat sosok itu lagi. Setelah ia mengantarkan Cintya ke tendanya,ia ingin memastikan apa yang berdiri disana. Andai saja ada yang sedang mengerjainya, siap-siap akan dihajar olehnya.


Akhirnya mereka sampai di depan tenda Cintya.


"Udah sampek. Kamu masuk yah." Daniel pun melepaskan dekapannya namun matanya masih menelisik ke arah penampakan. "ada yang aneh.." fikirnya


Cintya yang sedari tadi menutup matanya, mulai membuka matanya agar tidak terjatuh karna tidak bisa melihat apa-apa. Namun apa yang dilihatnya membuatnya menyesal karna sudah membuka mata. Sesosok lagi ia temukan sedang berdiri dibelakang punggung Daniel. Bahkan kali ini penampakannya lebih seram dari yang tadi. Kepala Cintya terasa membesar, sekujur tubuh terasa bergetar dan lemas. Dan tanpa aba-aba ia langsung tak sadarkan diri.


"Cintya.." Daniel reflex menangkap tubuh Cintya yang hampir terjatuh.


......


Keesokan harinya rombongan mereka pun akhirnya turun. Awalnya mereka akan turun saat sore hari. Namun karna Cintya terus merengek mintak pulang saat terbangun dari pingsannya, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang pagi harinya.


Disepanjang perjalanan, semua teman-teman Daniel terus saja membicarakan pasal kejadian semalam. Bukannya prihatin, mereka malah terus saja tertawa mengenang apa yang terjadi pada Cintya, sampai membuatnya pingsan.

__ADS_1


Wido,adalah salah satu nama dalang dari kejadian semalam. Dia yang awalnya hanya ingin buang hajat, mendengar percakapan antara Daniel dan Cintya, sehingga muncul lah keisengan dalam otak jahilnya.


Ternyata benar apa yang Daniel fikirkan. Ia tidak percaya jika yang dilihatnya tadi malam adalah hantu beneran. Mana ada hantu pakai jam tangan berlampu. Dan ternyata kepalanya tidak terlihat karna Wido memiliki kulit yang cenderung gelap, sehingga kepalanya benar benar tidak terlihat di gelapnya malam. Dan kebetulan baju yang dikenakan oleh Wido berwarna putih. sehingga yang terlihat hanya bajunya saja yang seperti sedang melayang tanpa kaki dan kepala.


Sementara apa yang dilihat Cintya hingga membuatnya pingsan, bukanlah bohongan. Sengguh naas nasip Cintya.


"Jadi kapok lah ya Cin, ceritanya naik gunung?" ledek Novan


"Gak akan mau lagi.. Pada resek" balas Cintya jutek. Dan semua anggota pun semakin tertawa.


Walaupun perjalanan pulang terkesan lebih ringan karna menurun dibandingkan saat naik, namun bagi orang awam seperti Cintya masih tetap terasa melelahkan.


"Capek.. Bisa berhenti sebentar gak?" pinta Cintya.


Daniel yang melihat Cintya merasa kelelahan, memilih untuk beristirahat sebentar.


Cintya pun memilih untuk duduk selonjoran di tanah, sambil terus memijiti kakinya agar lelahnya bisa berkurang.


"Minum.." Nova menawarkan minum untuk Cintya.


Tanpa menjawab, Cintya langsung menyambar botol minum yang ditawarkan oleh Nova. "makasih kak." ucapnya setelah ia hampir menghabiskan separuh air minum dalam botol.


"Kalau pertama memang gitu.. tapi nanti kalau sudah biasa, baru gak akan terasa capek banget lagi." jelasnya.


"Kok dia baik sih? biasanya jutek banget" Batin Cintya sambil memperhatikan wajah Nova. Cintya hanya nyengir doang mendengar penjelasan Nova


"Kenapa muka kamu begitu?" tanya Nova, "Kamu pasti berfikir, kenapa aku baik sama kamu?" Nova seperti bisa membaca apa yang Cintya fikirkan.


"Hehe.. iya." bukannya takut karna Nova bisa membaca fikirannya, Cintya malah semakin cengengesan. "Habisnya, dari kemaren kakak jutek banget."


"Jutek bukan berarti jahat kan? buktinya bukan sekali ini aja aku baik sama kamu. Gak ingat siapa yang udah ngobatin alergi kamu?" ucap Nova bangga


"Hmm, iya-iya maaf.." kata Cintya sambil tersenyum manis. Bagaimana pun juga, Nova adalah orang yang sudah mengobati alerginya. Mestipun awalnya Cintya kurang yakin dengan pengobatan yang diberikan oleh Nova, namun setelah mendapatkan hasilnya, ia merasa puas. Walaupun pada akhirnya, seluruh badannya menjadi merasa lengket. Tapi its okey, dari pada harus menahankan gatal diseluruh tubuh.


"Tapi kakak tau dari mana kalau garam bisa ngobatin alergi?" tanya Cintya. Pasalnya selama ini saat alerginya kambuh, ia hanya mengkonsumsi obat saja. Dan ia tidak pernah mencari tau alternatif lain untuk menyembuhkan alerginya.


"Dari mbah google.." jawabnya cepat.


"Eeee... bener juga. Di mbah google kan ada semua." gumam Cintya

__ADS_1


__ADS_2