CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Part 38


__ADS_3

Sedari pagi, Cintya merasa tidak bersemangat untuk bekerja. Dan itu berlangsung hingga makan siang


"Kusut banget tu mukak. Udah kayak kain yang belum di setrika." kata Kanya kepada Cintya saat berada di kantin.


"Ho,oh.. percuma udah punya lawan siff." sambung Dini sambil terkekeh.


Cintya hanya melengos, malas menanggapi ocehan teman-temannya. Apa lagi kalau soal Doni, lawan siffnya itu. Sedari tadi pagi teman-temannya selalu saja menggodanya.


"Kenapa sih Cin? ada masalah apa?" tanya Kanya yang mengerti kalau temannya sedang tidak enak hati.


Cintya menghela nafas berat "Kencannya batal.." ucapnya lirih


"Kok bisa? pantes dari tadi nesu terus. Rupanya gak jadi kencan kemaren." kata Dini


"Semua cowo ganteng memang gitu Cin, suka php." ucap Kanya kesal


"Gak biasanya dia kekgitu." walaupun kesal, namun Cintya tetap membela Daniel. Ia yakin kalau Daniel pasti memiliki alasan sendiri. Namun apa, hal itu yang membuat Cintya sedikit bingung. Pasalnya dari semalam Daniel tidak ada kabar


"Dia gak ada bilang apa-apa gitu?" tanya Kanya


Cintya geleng-geleng " Bahkan sampai saat ini dia gak ada ngabarin sama sekali." semakin nesu


....


"Kemana sih dia...kenapa sampek sekarang gak ada kabar... apa harus aku samperin ke cafe? hmmm enggak enggak, ntar dikiranya aku ngarep banget lagi... hufh, tapi kenyataannya aku memang ngarep sih." Cintya bicara sendiri sambil berpangku tangan di atas nakas yang ada di conternya. Bahkan ia sampai tidak sadar kalau sedari tadi Doni sedang memperhatikannya.


"Mbak.. mbak.." Doni menjentikkan jarinya didepan Cintya.


Seketika Cintya tersadar "Hmm apa? "


"Mbak ngapain cakap sendiri?" kata Doni


"Siapa yang cakap sendiri?"


"Terus tadi mbak cakap sama siapa?"


"Emang aku ada cakap? cakap apa?"


"Kemana sih dia, kenapa gak ada kabar... bla bla bla..." ucap Doni menirukan Cintya sambil tertawa


"Perasaan, aku bicara didalam hati. Kok kamu bisa dengar?"


"Hati mbak ada microfonnya, jadi suaranya keluar." kelakar Doni

__ADS_1


"Iiih apaan sih. Seriusan, kenapa kau bisa tau.?"


"Yaelah mbak, mbak itu dari tadi ngoceh pake mulut mbak, bukan pake hati." ucap doni seraya meninggalkan Cintya yang terbengong di sudut Conter.


Cintya bingung. Apa bener dia tadi ngoceh sendiri. Seingatnya ia ngegumam dalam hati. Ya ampunn.. ternyata cinta benar-benar bisa membuat orang tidak sadar diri,atau bahkan bisa membuat orang menjadi gila.


"Eh Don.." panggil Cintya kepaďa Doni yang sedang berdiri didepan Conter sambil sesekali menyapa para pengunjung yang lewat.


"Iya.." jawabnya sambil menoleh


"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Cintya sambil mendekat


"Hmm.." Doni mengangguk


"Tapi kau jangan marah yah" Cintya takut kalau pertanyaannya akan membuat Doni marah kepadanya.


"Tenang mbak, hati Doni setegar karang." kata Doni sambil tertawa


"Kau dari kapan kayak gini?" tanya Cintya hati-hati sambil memperhatikan Doni dari atas hingga bawah. "kau ngertikan maksud pertanyaan ku?"


"Ngerti kok mbak" ucap Doni sambil menepuk bahu Cintya yang teryata lumayan sakit walaupun hanya pelan "Udah dari kecil aku begini." jelasnya


Cintya terdiam sejenak " Tapi kau kan ganteng Don, apa gak sayang?" Cintya mencoba menyadarkan Doni akan kodratnya sebagai seorang pria. Apa lagi bisa dibilang wajah Doni diatas rata-rata, badannya juga bagus, tinggi, putih. Sudah seperti oppa oppa korea.


"Orang tua kau gak marah?"


"Marah? haha... ya sering lah. Bahkan aku pernah dilibasi pake tali pinggang sama bapak aku karna aku pakek baju kakak aku."


Cintya mendelik mendengar cerita Doni. "Seriusan? kau juga mau pake baju perempuan?" kata Cintya merasa tak percaya. Ia kira Doni cuma bahasanya aja yang lembek, ternyata kelakuannya bener-bener seperti perempuan.


"Sesekali mbak.." ucapnya sambil tertawa


"Ya ampun Doni.. Aku gak bisa bayangin kalau kau pake baju perempuan."


"Cantik tau mbak.. mmm" ucapnya bangga. Cintya hanya bisa geleng-geleng liat kelakuan lawan siffnya.


"Kau gak pernah periksa ke psikiater gitu?"


"Jangankan ke psikiater mbak, nyoba jadi tentara juga aku pernah." ucapnya jujur.


"What.." Cintya mendelik


"Mbaknya suka mendelik ih.. serem.." Doni pura-pura begidik sambil tertawa. "Abang aku tentara, kakak aku polisi, cuma aku yang blangsak." lanjutnya lagi tanpa rasa malu.

__ADS_1


"Hahahaha....dasar gila." Cintya tertawa geli sambil memukuli bahu Doni.


"Permisi.." ucap seseorang wanita


Cintya dan Doni seketika menoleh ke arah suara yang ternyata ada disamping mereka. Sangking asiknya mereka berbincang, mereka sampai tidak sadar kalau mereka masih dalam area kerja.


Sepasang wanita dan pria berdiri sambil bergandengan tangan. Sudah bisa dipastikan kalau mereka adalah pasangan kekasih. Doni pun langsung sigap melayani custamer yang singgah ke conternya. Namun tidak dengan Cintya, ia hanya bisa berdiri mematung sambil menatap marah kepada orang yang ada dihadapannya saat ini.


"Ada yang bisa saya bantu mbak?" kata Doni ramah


"Kami lagi nyari kemeja putih untuk acara akat nikah." jelas wanita yang juga sedang menatap tajam kearah Cintya.


"Owh, ada mbak. Kebetulan kita juga ada diskon 20% untuk kemeja yang mbak cari." tawar Doni


"Maaf yah, kita gak nyari yang diskonan." ucapnya sombong.


Seketika Doni terdiam, lalu menatap kearah Cintya yang sedari tadi hanya diam. "Aaa... Ya ya, maaf ya mbak, mari saya tunjukkan. Kemejanya ada di dalam."


"Bisa gak kalau yang melayani itu dia..!" sambil menunjuk ke wajah Cintya


Doni hanya bisa mengerutkan dahi. Disatu sisi dia merasa kesal karna menjumpai custamer sombong dan ngeselin. Di satu sisi lagi, ia heran melihat Cintya yang hanya diam sedari tadi dengan mimik wajah datar tanpa senyuman seperti biasa yang Cintya ajarkan kepadanya. Yang seharusnya itu tidak di benarkan didalam SOP pekerjaan mereka. Namun pembeli adalah raja, ia hanya bisa menyerahkan Cintya dengan suka rela.


"Pelanggannya mau sama mbak." ucapnya canggung kepada Cintya sambil berpindah posisi.


"Mmm.. tentu" ucap Cintya seketika sambil tersenyum hingga menampakkan deretan gigi putihnya.


Doni melongo. "Semudah itu berganti expresi" gumamnya


Dikejauhan mata Doni menangkap, Dini dan Kanya saling melempar pandangan sambil berbicara dengan menggunakan isyarat dari conter mereka masing-masing. Dan ia tau kalau mereka sedang membicarakan kakak seniornya. Seketika kekepoannya pun muncul, lalu mendekat kearah Kanya yang ia rasa dapat menjawab semua pertanyaannya.


"Itu pasti musuh mbak Cintya kan?" tuduhnya


"Ihhh anak kecil kepo.." ucap Kanya jutek


Tiba-tiba Dini ikut nimbrung. " memang gak punya hati ya tu si Wahyu. Gak ada berhentinya nyakitin kak Cintya. Ngapain cobak dia kemari." gerutunya kesal


"Mau yang model seperti apa?" Cintya berusaha sonormal mungkin menghadapi dua manusia yang sangat ingin ia hindari.


"Menurut mbaknya yang mana yang cocok untuk calon suami saya?" ucap wanita tersebut sambil menggandeng lengan sang pria.


Cintya mengepalkan tangannya seraya memberikan pandangan membunuh kepada lelaki yang ia malas untuk menyebutkan namanya lagi, walaupun lelaki tersebut selalu mengelak untuk bertatapan langsung dengan Cintya. Cintya berusaha menahan gejolak didalam dada, karna ia sadar dirinya sedang bekerja. Ia harus tetap profesional.


"Baik, sebentar saya carikan dulu." ucapnya seraya berpindah tempat berpura-pura mencari barang. Padahal sebenarnya ia hanya ingin menghapus air mata yang sudah sedari tadi menggenang dipelupuk mata. Hatinya terasa teriris, karna bagaiman pun juga pria itu pernah mengisi relung hatinya.

__ADS_1


__ADS_2