CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Cintya memang benar hamil.


__ADS_3

Ayah menghela nafasnya panjang sebelum masuk kedalam kamar Cintya dengan membawa satu gelas air madu ditangannya.


"Cintya.." panggil ayah dari ambang pintu kamar yang tidak tertutup. Cintya hanya menoleh sebentar. "Ayah membuatkanmu air madu." berjalan mendekat dan duduk disebelah Cintya yang sedang duduk ditepi ranjang. "Kau baik-baik saja?" menyodorkan air madu dan diterima oleh Cintya.


"Hmm.." Cintya mengangguk pelan.


"Baguslah kalau begitu. Sekarang habiskan air madunya." ujarnya mengusap surai rambut Cintya dengan sayang.


Cintya meminum air madu habis dalam satu tegukan. "Apa Melky uda pulang yah?"


"Baru saja... Diantar Tama tadi kedepan."


"Ayah..?"


"Hmm.." masih mengusap kepala Cintya


"Sebenarnya ada sesuatukan terjadi dengan bang Daniel?" menatap intens wajah ayahnya. "Ayah jujur dengan Cintya... Bang Wisnu pulang apa karena bang Daniel?"


Ayah tersenyum lembut untuk menutupi kebohongannya. "Kau menghawatirkannya? Kau mau pergi menjenguknya?" malah bertanya.


Cintya membuang muka lalu menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? Bukannya kau khawatir dengannya? Kau bisa melihatnya langsung kesana. Ayah akan membelikanmu tiket pesawat. Kau bisa pergi dengan Tama." ujar Ayah.


Cintya tertunduk terdiam. Dalam hatinya lirih.. Aku sangat merindukannya Yah.. Tapi apa aku bisa melihatnya dalam keadaanku yang seperti ini? Kami pasti akan sama-sama terluka. Mengepal tangannya.


Tiba-tiba Terdengar suara kaki dari ambang pintu. Ayah menoleh dan melihat ada Tama disana sedang menatap datar kearahnya.


"Ayah keluar dulu ya nak. Ada Tama yang akan menemanimu." bergerak berdiri dari duduknya ingin keluar. Ayah mencoba menghindari Tama dengan maksud tidak ingin terlibat perdebatan lagi. Bagaimanapun Tama menganggapnya, ia tetaplah seorang ayah yang tidak luput dari salah dan dosa. Namun dilain sisi, dia juga seorang ayah yang sangat menyayangi anak-anaknya.


"Aku mau bicara dengan ayah." ucap Tama dingin. Ayah mengangguk.


Ayah dan anak itupun memilih bicara diluar jauh dari jangkauan pendengaran Cintya.


"Apa ayah tau kak Cintya hamil?" Tama langsung to the poin dengan pertanyaannya.


Ayahnya tersontak kaget karena Tama tahu tentang kehamilan Cintya. "Kau tau darimana?" tanyanya heran


"Ternyata ayah memang sudah tau. Tapi ayah menutupinya lagi dariku. Ayah benar-benar gak nganggap aku kan?" dingin


"Ayah bukan mau menutupinya Tama.. Tapi kau selalu membawa emosimu jika bicara dengan ayah. Ayah hanya gak mau jika kita terus bertengkar." jelas ayahnya memberikan alasan. "Ayah juga baru tahu dari Wisnu tadi malam." lanjutnya. "Siapa yang memberi tahumu? Apa detektif?" ayah merasa penasaran siapa yang memberitahukan berita ini pada Tama.


Tama menggelengkan kepalanya. "Aku tau dari Melky." ucapnya datar


Ayah menghela nafas. Darimana anak itu tahu. Batin

__ADS_1


Flassback on.


Malam tadi.


"Hati-hati dijalan nak Wisnu. Jika ada waktu, berkunjung lah lagi kemari. Sekalian bawak nak Daniel." ucap ayah yang masih belum tahu alasan kepulangan Wisnu yang mendadak saat mengantar Wisnu kedepan mobilnya.


Wisnu tersenyum namun dengan mata yang sudah berkaca-kaca membuat ayah Cintya bingung.


"Ada apa nak Wisnu? Apa sesuatu terjadi dengan nak Daniel?" tanya ayah cemas.


Wisnu mengangguk sambil terisak. Sekuat tenaga dia menahan kesedihannya didepan Cintya tadi. Tapi begitu diluar ia sudah tidak bisa menahannya lagi.


Ayah Cintya mendekat dan memeluk tubuh Wisnu untuk memberikan ketenangan. "Kau harus kuat.. yakinlah dengan keajaiban tuhan. Dan cobalah lebih ikhlas dalam menjalani ketetapannya." lalu melepas pelukannya dan menaruh kedua tangannya dipundak Wisnu. "Sebaiknya kau tenangkan dulu dirimu. Jangan berkendara saat kalut seperti ini. Bisa bahaya." memberi nasehatnya.


"Haiss.. Kenapa aku yang dijadikannya korban. Dasar orang tua gak punya perasaan. " Detektif Doni keluar sambil mengomel dan mengumpat atasannya dengan kesal, mengalihkan pandangan ayah Cintya dan Wisnu.


"Apa dia yang akan mengantarmu?" tanya ayah Cintya melihat kearah Doni yang langsung naik ke mobil Wisnu tanpa menyapanya terlebih dahulu. Wisnu mengangguk pelan. "Tetap berhati-hati. Titip salam untuk keluargamu disana." lanjutnya tersenyum lembut. Ayah Cintya memang terkenal sebagai seorang pria yang lembut dan ramah pada siapapun.


"Tapi pak.. Ada sesuatu yang harus aku sampaikan pada bapak. Ini soal Cintya." Wisnu tampak ragu dengan apa yang akan ia ucapkan. Sementara ayah hanya diam menunggu apa yang akan Wisnu ucapkan padanya. "Tadi waktu saya memeriksa Cintya saat dia pingsan saya baru mengetahui kalau ternyata... Cintya sedang hamil pak.." ucapnya pelan.


Ayah Cintya tercengang dengan ekspresi wajah yang begitu terkejut menatap pada Wisnu. Tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya ia langsung pergi meninggalkan Wisnu berjalan kearah luar gerbang rumahnya.


Wisnu tertunduk sedih. Ia sudah tahu kalau hal ini pasti akan terjadi jika ia nekat memberitahu tentang kehamilan Cintya. Tapi bagaimanapun, ayah Cintya berhak tahu tentang kehamilan anaknya. Wisnu menatap punggung ayah Cintya yang semakin menjauh. Semoga saja ayah Cintya mampu menerima kenyataan buruk ini. Doanya dalam hati


Flshback off.


"Maafkan ayah Tam.. Ayah bukan tidak ingin memberitahumu. Tapi ayah takut kau akan bereaksi berlebihan. Sementara kakakmu masih belum benar-benar baik. Jadi ayah masih menunggu waktu yang tepat untuk bicara padamu. Ayah tau kau sangat menyayangi kakakmu, begitupun dengan ayah nak. Hati ayah hancur saat tau keadaan kakakmu. " mengatur nafasnya yang terasa begitu sesak. "Cukup ayah yang merasakan sakit ini Tam.. Ayah gak mau kau juga ikut merasakannya." matanya sudah berkaca-kaca menahan tangis.


Tama terdiam. Ia jadi merasa bersalah karena bersikap terlallu keras selama ini kepada ayahnya.


"Ayah ingin bisa berbaikan denganmu Tam. Ayah ingin punya seseorang yang bisa ayah ajak bicara disaat-saat seperti ini. Dan ayah berharap kalau itu adalah anak lelaki ayah sendiri. Tapi sepertinya kau sangat membenci ayah. Maafkan ayah nak.. Maafkan kesalahan ayah dimasa lalu." menangis terisak.


Tama semakin merasa bersalah pada ayahnya. Tak terasa air matanya juga ikut menetes. Tama membalikkan badannya dan langsung memeluk tubuh ayahnya dan membiarkan ayahnya menumpahkan seluruh kesedihannya didekapannya. Ayah terus mengungkapkan penyesalannya dan berkata kalau ia akan berusaha mengembalikan semuanya seperti awal dulu. Tama merasakan ketulusan dalam ucapan ayahnya. Dia juga berjanji didalam hatinya, kalau ia juga akan berusaha untuk bisa berdamai dengan keadaan dan menerima kembali ayahnya tanpa harus mengingat masa-masa dulu.


Disaat seperti ini, Tama teringat dengan ibunya yang sudah tiada. Bunda.. Tama rindu bunda.. Aku, ayah dan kak Cintya kesakitan disini bun. Seandainya bunda masih ada, Tama yakin semuanya tidak akan semenyakitkan ini. " batinnya pedih


Ditempat lain.


Mama Daniel duduk terdiam di sofa ruang rawat Daniel. Matanya menatap sayu selembar kertas yang tergeletak diatas meja. Diruangan itu juga ada Daniah, Wisnu, dan juga suaminya. Dalam beberapa saat Ruangan itu sunyi senyap tanpa ada seorangpun yang mau mengeluarkan suaranya. Sampai akhirnya Daniah yang tadinya duduk disamping Wisnu berpindah duduk kesamping mamanya dan menggenggam tangan mamanya.


"Mama gak perlu ngelakuin ini kalau mama memang masih belum bisa ikhlas. Kita masih bisa nunggu beberapa hari hmm.." ucap Daniah pelan. Delena hanya diam dan terlihat linglung.


"Kak, sebaiknya bawa mama pulang. Biar Wisnu yang jaga Daniel disini."


Daniah mengangguk setuju. " kita pulang ya Ma.. Mama gak usah khawatir, ada Wisnu yang jaga Daniel. Mama harus istirahat, besok kita kembali lagi kesini." bujuknya.

__ADS_1


"Biar papa yang membawa Mamamu pulang." Wijaya bergerak mendekati istrinya. Delena yang biasanya menolak saat disuruh pulang, kali ini ia hanya menurut. "Kalian tetaplah disini dan pantau terus kondisi Daniel." seru Wijaya dan kemudian berlalu pergi. Daniah dan Wisnu menjawab dengan anggukan.


"Istirahat lah Wis.. Biar kakak yang berjaga. Dari semalam kau belum ada tidur." seru Daniah khawatir. Karena memang sejak Wisnu pulang, adiknya itu belum ada tidur sama sekali. "Disaat-saat seperti ini, kita harus bisa menjaga diri Wis. Jangan sampai diantara kita jatuh sakit. " Lanjutnya lagi.


"Aku sudah tau siapa pelakunya kak." ucap Wisnu tiba-tiba tanpa menghiraukan kekhawatiran Daniah padanya.


Daniah langsung mengalihkan perhatiannya pada Wisnu. " kau sudah tau?.. Siapa Wis?.. Apa dia?" menerka-nerka.


Wisnu mengangguk. "Tebakanku benar kak.. Dia orangnya."


Tubuh Daniah langsung memanas. "Kenapa dia berani sekali..." mengepalkan kedua tangannya merasa sangat marah.


"Aku akan berusaha menangkapnya dengan cara apapun kak. Apapun.." ucap Wisnu dengan keyakinan penuh. Walau ia tahu akan sesulit apa dirinya nanti saat mulai menyatakan perang pada Dom yang notabenenya memang seorang penjahat kelas atas.


Keesokan harinya


Selesai sarapan, ayah langsung berangkat pergi ketokonya meninggalkan Tama dan Cintya yang masih belum selesai dengan makanannya dimeja makan. Tama terlihat sangat tidak berselera pagi ini. Padahal dia sendiri yang membeli menu sarapan.


"Kenapa Tam? Kau tidak suka sarapanmu?" Tanya Cintya heran.


Tama mengangguk manyun. "Tiba-tiba aku gak selera." ucapnya.


"Kau mau punya kakak?" menawarkan makanan miliknya.


Tama geleng-geleng. "Kak, nanti siang kita makan diluar yok." ajaknya bersemangat


"Makan diluar? Memangnya kau mau makan apa?" Tanya Cintya sambil melanjutkan sarapannya.


"Makan apa aja deh. Kakak gak kepingin makan apa gitu." menatap Cintya intens.


Cintya menggelengkan kepalanya. " kakak gak pingin makan apa-apa Tam. Tapi kakak mau kok nemenimu makan diluar." tersenyum


"Yaudah.. Nanti siang temeni aku makan bakso aja di tempat biasa."


Cintya kembali mengangguk mengiyakan kemauan adiknya. "Tapi Tam.. Siap makan temenin kakak ya." ucapnya.


"Kemana?"


"Dokter."


Tama mengerutkan dahinya. "Dokter?.. Kakak sakit?" cemas.


Cintya menghentikan makannya lalu menatap Tama dengan helaan nafas berat. "Kakak mau buang janin yang ada diperut kakak."


"Hah?" Tama shock..

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2