
"Sial.. Kenapa jadi panas sekali. Perasaan tadi dingin." Umpat Doni yang sudah bercucuran keringat. "Aku harus segera keluar dari sini. Aku ingin segera meminumnya bersama dengan dua pria gila itu." menatap senang dua botol anggur yang ada dipelukannya.
Diruang tamu Dom tampak senang sekali sambil sesekali menyeruput latte miliknya.
"Apa kau tidak haus? Pergilah buat minumanmu. Dan cepat kembali kesini." ucap Dom pada anak buah yang sedari tadi ada dengannya.
Setelah anak buahnya pergi, Dom pun tertawa lagi dengan tablet ditangannya. Ternyata dia sedang melihat Doni yang sedang mengintip keluar. "Dasar polisi bodoh. " gumamnya pelan sambil tertawa kembali. "Akan ku buat kau menderita berada didalam sana." smirk karena dia baru saja mematikan pendingin diruangan anggur miliknya.
"Kenapa tu orang? Ketawa terus dari tadi." Doni begidik ngeri sambil menutup pintu kembali. "Haisss panasnya.. Gimana ni? " mulai panik. "Pasti si tua bangka uda nyariin aku. Sudah berapa jam aku terjebak disini." membayangkan wajah Gabriel yang sedang marah-marah padanya. " Tetap disini aku bakalan mati kepanasan. Tapi kalau aku berhasil keluar, aku juga bakalan mati dipukuli sama si tua bangka." melongso sendiri. "Tapi dia pasti bakalan diam kalau ku tunjukkan minuman ini padanya." tersenyum sendiri.
Diluar Mansion.
"Aku ingin bertemu dengan boss mu." ucap Gabriel pada anak buah Dom yang berjaga di gerbang depan dengan bahasa rusia
"ini sudah malam. Sebaiknya kalian kembali besok."
"Hubungkan aku dengan boss mu, aku ingin bicara." ucap Gabriel lagi.
"Tuan Dom sudah tidur. " jawabnya singkat. "Pergilah"
"Apa kau tidak tahu siapa kami?" gertak Gabriel.
"Tahu.. Tapi aku tidak perduli. " balas anak buah Dom tak bergeming
Gabriel menghela nafasnya. "sialan..." kesal
"Sebenarnya dari mana si bodoh itu bisa masuk?" heran sendiri memikirkan Doni bisa masuk darimana. Melihat lokasi mansion dengan pagar yang menjulang tinggi dan penjagaan yang lumayan ketat.
"Apa menurutmu dia masih hidup?" Rolan berbisik pada Gabriel
"Ntah lah. Aku gak bisa membaca ekspresinya." menatap kesal kearah anak buah Dom yang masih setia berdiri didepan gerbang dalam.
"Bagaimana dengan cctv nya? Apa kau bisa melihatnya? " tanya Gabriel setengan berbisik pada Rolan.
"Aku menemukan ada lima cctv hanya dari gerbang ke pintu utama." ucap Rolan yang memang sudah mengenakan kaca mata khusus untuk menangkap gelombang infra red yang terdapat pada cctv tersembunyi milik Dom.
"Sialan..." umpatnya semakin kesal. "Kalau kita tidak bisa masuk sekarang, aku tidak bisa menjamin si bodoh itu masih bernyawa."
"Lalu bagaimana? Menerobospun kita tidak bisa. Kita hanya berdua." ucap Rolan.
__ADS_1
"Woi.." teriak anak buah Dom yang sedari tadi memperhatikan interaksi Gabriel dan Rolan dihadapannya.
Gabriel dan Rolan sontak terdiam mendengar suara yang terasa begitu menyeramkan.
"Kenapa kalian tidak mengobrol ditempat lain saja? Pergi." usirnya galak.
Suara keras itu membuat Gabriel dan Rolan tersentak.
"Sebaiknya kita kembali lagi besok." Gabriel masih belum menemukan cara untuk masuk.
"Apa kau gila? Bagaimana dengannya? Kau sendiri yang bilang kau tidak bisa menjamin nyawa si Doni akan selamat jika kita tidak bisa masuk sekarang." membalikkan ucapan Gabriel tadi. "Segila-gilanya dia, dia tetap rekan kita." Rolan sangat menghawatirkan nasip Doni di dalam.
"Sepertinya dia masih bisa bertahan kalau hanya sampai besok. Aku menarik kata-kataku." ucap Gabriel berlalu meninggalkan mansion besar itu dan juga Rolan yang tampak tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.
"Dia memang tidak pantas disebut atasan." cerca Rolan yang merasa kecewa dengan sikap Gabriel.
Rolan kembali mencoba membujuk anak buah Dom untuk mengijinkannya masuk "Ayolah.. Biarkan aku masuk. Aku hanya ingin bertemu dengan boss mu sebentar saja." ucapnya dengan bahasa inggris.
Anak buah Dom tidak menggubris permohonan Rolan. " Pergilah.. Sebelum aku bersikap kasar padamu." menunjukkan senjata miliknya.
"Kau kira aku tidak memilikinya? Aku juga punya." ketusnya juga menunjukkan senjata miliknya. "Aku juga bisa melenyapkanmu hanya dengan satu peluru. Apa kau mau mencobanya?" teriaknya marah. Rolan sudah tidak bisa menahan lagi dirinya.
Rolan tidak gentar. " Kau mengancamku?" Rolan mencengkram jeruji besi pagar dengan kedua tangannya lalu menatap pria besar itu dengan tatapan mematikan. "Sayangnya aku tidak takut dengan ancamanmu." mulai bersiap dengan senjatanya.
Anak buah Dom hanya menanggapinya dengan senyum smirk. Seperti tidak memiliki rasa takut sedikitpun
Sementara diluar terjadi perdebatan sengit antara Rolan dan anak buah Dom. Disisi lain didalam ruangan Anggur, Doni sudah mulai merasa sesak karena ruangan itu seakan tidak menghasilkan oksigen lagi.
"Nafasku benar-benar terasa berat." Doni mencoba menghirup udara lebih banyak, namun ia malah semakin sesak. "Ada apa ini? Kenapa aku jadi sulit bernafas." pandangannya mulai gelap dan tubuhnya hampir kehilangan keseimbangan. Tanpa disadarinya botol yang sedari tadi didekapannya terjatuh begitu saja dari pelukannya dan pecah berhamburan dilantai. "A-aku... Harus k-keluar da-ri si-ni." berjalan sempoyongan kearah pintu yang tidak terlalu jauh dari tempatnya saat ini. Diraihnya knop pintu dan diputarnya berkali-kali. Tapi sepertinya pintu itu sudah terkunci. "Buka..." ucapnya sangat pelan dengan nafas yang sudah tersenggal-senggal karena sudah tidak sanggup untuk berteriak. "tolong buka.." sudah tidak bisa mengeluarkan suaranya dan akhirnya ia pun jatuh tergeletak dilantai.
Diluar Dom tersenyum puas. "Kalian yang sudah memancing kemarahanku bukan? dengan beraninya kalian membawa-bawa keluargaku. Maka akan ku berikan satu kabar gembira untukmu besok tuan detektif. Semoga kau menyukai kabar yang ku berikan." Smirk.
Masih dengan tabletnya, Dom memeriksa cctv yang lainnya. Dan ia pun menemukan pemandangan langkah diluar mansionnya. Pemandangan dimana Rolan sedang mengancam anak buahnya dengan pistol.
"Satu persatu kalian menyerahkan nyawa kemari. Baiklah.. Akan ku ladeni." bergerak jalan keluar.
Sesampainya diluar
"Wah.. Wah.. Wah.. Apa kau tidak tahu kalau ini sudah malam?" ucap Dom dengan santainya menghampiri.
__ADS_1
"Akhirnya kau keluar juga. Mana rekanku? Keluarkan dia." teriak rolan tanpa menurunkan senjatanya.
Dom tertawa. " Rekanmu? Kenapa kau mencari rekanmu disini?"
"jangan membodohiku brengsek. Keluarkan dia sekarang." emosi Rolan semakin memuncak sambil menembakkan senjatanya keudara sebagai simbol peringatan.
Dom dan para anak buahnya tidak bergeming sedikitpun. Bahkan Dom tersenyum sangat lebar karena merasa sudah menemukan mainan baru.
"Dasar brengsek kalian semua. Tidak akan ku biarkan kalian hidup dengan nyaman jika terjadi sesuatu dengan rekanku. Kalian mengerti." teriaknya lagi.
"Rekan yang mana yang kau maksud? Bukannya tadi kalian masuk bertiga, dan keluar juga bertiga?" pancingnya. "Bahkan aku yang sudah mengantar kalian keluar dari rumahku. Apa kau lupa?" tersenyum meledek.
Rolan tidak bisa berkata-kata. Hanya nafasnya yang sedari tadi turun naik karena menahan emosi.
"Pergilah.. Selagi aku masih berbaik hati. Dan jangan pernah cari rekanmu lagi kemari. Aku sungguh tidak tahu dia ada dimana." tertawa
Rolan semakin beram. Dilepaskannya lagi satu tembakan yang kini mengenai bahu sebelah kiri Dom dan membuat Dom sedikit oleng kebelakang sambil meringis kesakitan.
Dom tidak menyangka kalau Rolan berani menembaknya. "Sialan.. Tangkap Dia hidup ataupun mati." geramnya memegangi bahunya yang sudah berlumuran darah.
Tidak tinggal diam, anak buah Dom mulai menghujani Rolan dengan tembakan bertubi-tubi. Namun ia sudah terlebih dahulu menghindar dengan bersembunyi dibalik tembok.
"Walau aku akan mati hari ini. Setidaknya aku mati demi temanku." ucap Rolan menyemangati dirinya sendiri. "Aissh.. Dasar tua bangka sialan.. Benar-benar tidak bisa diandalkan." masih sempat mengumpat atasannya ditengah nyawanya yang terancam.
"Buka gerbang.. Dan jangan biarkan bajingan itu lolos." teriak Dom yang sudah bersiap dengan senjatanya. Amarahnya sudah menghilangkan rasa sakit dibahunya. "Bajingan itu akan mati ditanganku." bergerak menuju gerbang.
"Hufh.. Baiklah.. Seandainya aku benar akan mati hari ini aku mohon Tuhan, terimalah aku disisimu." ucap Rolan pasrah berdoa. Karena ia tahu begitu gerbang itu dibuka, maka habis lah dia karena sudah tidak punya tempat untuk bersembunyi lagi.
Namun tiba-tiba..
"Apa itu? " anak buah Dom yang sudah bersiap ingin membuka gerbang mengurungkan niatnya saat melihat sesuatu yang bergerak sangat cepat mendekat kearah mereka.
Begitu juga dengan Rolan yang terheran-heran dengan apa yang ada dihadapannya. Bagaimana bisa benda sebesar itu masuk ke area perumahan.
POM.. POM... Suara klakson dari truk yang berukuran sangat besar melaju dengan kecepatan tinggi kearah mansion.
Sadar akan bahaya Dom beserta anak buahnya berlarian sampai akhirnya..
Brrakk.. Truk besar itu merobohkan kokohnya gerbang mansion mewah itu dan berhenti tepat didepan pintu utama.
__ADS_1