
Cintya terlihat sangat bersemangat hari ini. Bahkan ia bekerja sambil sesekali bersenandung lagu cinta.
"Liat tu si Cintya, semalam aja dia nesu. Tapi liat sekarang. Sampek ngelayani custamer aja udah kayak ngelayani raja beneran dibuatnya" Kata Kanya berbisik kepada Dini
"Kayaknya si tampan Daniel berhasil membujuk kak Cintya." sambung Dini.
"Atau jangan-jangan mereka udah jadian.." ucap Kanya dan Dini bersamaan sambil saling berpandangan.
"Tapi gak mungkin kan dia gak ngasih tau ke kita." ucap Dini meralat kata-katanya tadi. Dia tau betul siapa Cintya, susah senang dia akan bercerita kepadanya.
"Bener juga " ralat Kanya. "Terus, apa yang bikin dia kelihatan bahagia banget kekgitu?" Kanya bertanya-tanya, dan Dini hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Huuuh.. temennya nesu salah, temennya bahagia juga salah." cerca Doni yang ternyata sedari tadi ada dibelakang mereka. Dia tidak suka kalau kakak seniornya dijadiin bahan gosip.
Dini dan Kanya sama-sama menoleh kebelakang dan menemukan Doni sedang melipat tangannya didada sambil memanyunkan bibirnya. Wajahnya seolah-olah ingin mengatakan Hayoo kalian berdua tertangkap basah sudah menggibah kakak konterku dari belakang.
"Eh lu lakik jadi-jadian, sejak kapan kau disitu?" kata Kanya ngablak. "kejut aku.." sambil megang dadanya. Dini reflek memukul lengan Kanya yang sudah berkata kasar, namun Kanya tidak perduli.
Doni mendelik dikatain laki-laki jadi jadian oleh Kanya. "Eh enak aja bilang aku lakik jadi-jadian." ucapnya kesal.
"Ya emang lakik jadi-jadian" balas Kanya gak mau kalah.
"Eh Maradona, conter kau tu disini bukan disitu." teriak Cintya dari Conternya saat melihat juniornya malah asik ngobrol dengan kedua sahabatnya.
"Sejak kapan dia ganti nama..!" kata Dini tertawa
"Hem..cocok emang namanya diganti jd Maradona. Mukak aja jantan, tapi kelakuan persis kayak betina." cerca Kanya tak kalah kesalnya.
"Iihh apaan sih kalian, enak aja ngata ngatain junior aku." kata Cintya membela Doni saat mendengar cercahan Kanya barusan.
"Iya mbak, mereka jahat banget tau gak. Terutama ini ni perempuan ramjadah yang udah ngatain aku lakik jadi jadian" tunjuknya kewajah Kanya." Sakit hati eike mbak." ucap Doni sambil pura-pura sedih
"Iihh lebai banget sih lo." geram Kanya sambil bergerak ingin menoyor kepala Doni, namun Doni dengan sigap mengelak.
"Kok aku di bawa-bawa sih Don, kan dari tadi aku diam aja." Sanggah Dini yang merasa dirinya tidak ada berbuat apa-apa.
"Diam aja dari mana..!"
"Eh mbak, mending gak usah dekat-dekat sama para perempuan ramjadah ini. Didepan aja manis-manis, tapi dibelakang ngatain." adunya. Kanya melengos seakan tidak perduli.
Cintya melipat bibirnya menahan tawa. Doni belum tahu aja kalau dua manusia yang dikatainya perempuan ramjadah itu adalah sahabatnya " Oya, memang apa yang mereka bilang?" tanyanya semakin mempropokasi.
"Mereka gak senang kalau mbak Cintya senang." jelasnya merasa menang "tadi kalian nyeritain mbak Cintya kan? ayo ngomong didepan orangnya. Jangan cuma berani ngomong dibelakang." lanjutnya lagi menggebu-gebu.
__ADS_1
"Dasar ya kalian para perempuan ramjadah, beraninya cuma ngomong dibelakang." ucap Cintya pura-pura marah sambil berkacak pinggang.
"Hemm marahin aja mbak, biar gak kebiasaan ngegosip itu mulutnya" tambah Doni " Kalau perlu jambak aja itu rambutnya, haduhh.." Doni sepertinya geram sekali dengan Kanya.
"Gak usah ikut-ikutan gilak deh Cin." ucap Kanya sambil menahan tawanya. Ia tahu kalau Cintya hanya pura-pura marah agar Doni merasa menang dan senang. Tapi Dini malah tidak bisa menahan tawanya saat melihat expresi wajah Cintya.
"Hey kau wanita ramjadah dua. Hentikan tawamu itu." ucap Cintya menunjuk kearah Dini yang tak berhenti tertawa.
"Kakak udah kayak pemeran nenek lampir" ucap Dini terbahak-bahak, dan Cintya juga jadi ikut tertawa mendengar ucapan Dini.
"Ihh mbaknya kok jadi ketawa jugak sih. Ngeselin ah."ucap Doni menghentakkan sebelah kakinya. Dirinya merasa sudah dipermainkan
"Haha.. Doni Doni,mereka berdua ini sahabat aku." Cintya merangkul Kanya dan Dini dengan kedua tangannya. " gak mungkin lah mereka nyeritain aku dari belakang." sambungnya tertawa
Doni merasa bingung. "Jadi mereka berdua.."
"Iya.. mau apa lo.?" potong Kanya dan Dini bersamaan
"Hiiissss..." Doni kesal bukan main karna sudah merasa dipermainkan. Ia pun pergi masuk kedalam conter meninggalkan ketiga wanita ramjanah yang masih saja terus tertawa.
~
"Sabar Bell." ucap Daniel menenangkan mantan kekasih dari sahabatnya yang datang mengadu sambil menangis kepadanya kalau mereka sudah resmi berpisah.
"Iya gue tau.." jawab Daniel "Tapi gue harap lo bisa ikhlas menerimanya."
"Gue gak bisa.. gue gak bisa.." ulangnya dengan tangan yang tidak berhenti menyeka air mata yang terus mengalir dari sudut matanya. "Setengah mati gue ngejaga dia, bahkan gue sampek rela ninggalin hobby dan pekerjaan gue. Tapi ini yang dia buat sama gue."
Daniel hanya bisa menghela nafas mendengar semua curhatan Bella tentang kisah kasihnya bersama Reza. Dan memang benar, sangking cintanya ia dengan Reza ia sampai rela melepas pekerjaannya sebagai pramugari. Tapi Daniel tidak bisa berbuat apa-apa, bagaimana pun semuanya adalah keputusan Reza yang lebih mempertahankan anak yang ada didalam kandungan Maya yang terbukti benar sedang mengandung.
Tiba-tiba ponsel Daniel berdering diatas meja dengan nama Reza tertera didalamnya. Daniel langsung cepat mengangkat telfonnya sebelum Bella tahu kalau yang menelfon adalah Reza. Karena sedari tadi Bella terus menghubungi Reza, namun nomornya dialihkan.
Daniel berdiri menjauh dari Bella yang masih menangis terduduk di sofa ruangan kerjanya.
"Hmm.." jawabnya
"Apa lo ada waktu malam ini bro?, gue mau lo temenin gue minum" ucap Reza dari sebrang telfon. Suaranya terdengar lemah dan seperti orang yang sudah putus asa
"Nanti gue telfon lagi" jawab Daniel pelan
"Kenapa suara lo pelan banget?" tanya Reza
"Apa itu Reza yang menelfon?" tanya Bella, dan berhasil membuat Daniel jadi gelagapan. Bahkan Reza juga jadi terdiam di sebrang telfon
__ADS_1
"Mmm.. bukan, ini Cintya. Dia ngajak ketemu malam ini." ucapnya berbohong, dan Bella kembali tertunduk" Baiklah, aku akan kesana malam ini. Kamu tunggu aku oke.." ucap Daniel seakan-akan benar sedang berada dalam sambungan telfon bersama Cintya.
"Tunggu bro.." panggil Reza saat Daniel ingin mengakhiri telfonnya "tolong jangan dimatikan. gue masih ingin dengar suaranya." pintanya.
"Mmm.. baiklah." Daniel tidak mematikan telfonya dan meletakkan ponselnya dengan posisi terbalik diatas meja agar Bella tidak tahu kalau ponselnya masih terhubung dengan Reza.
"Apa kalian sudah jadian?" tanya Bella saat Daniel selesai menelfon dan kembali duduk di sofa depannya.
Daniel menggelengkan kepalanya " Belum." jawabnya dengan seutas senyum dibibirnya. Bella mengangguk mengerti lalu menghela nafasnya.
"Apa lo mencintainya Daniel?" tanyanya lagi, Dan giliran Daniel yang mengangguk. " jaga dia Daniel, jangan sampai dia berpaling darimu." katanya bersungguh-sungguh.
"Gue sangat berterima kasih lo masih mikirin gue ditengah masalah yang lo hadapi. Gue juga mau lo kembali seperti Bella yang dulu. Bella yang kuat, Bella yang selalu buat gue kesal. Dan gue janji, gue gak akan marah walau lo sering bikin tensi gue naik." kata Daniel sambil tertawa.
Bella tersenyum hambar, namun air matanya masih terlihat menggenang di pelupuk matanya. "Maafkan gue yang selalu merepotkan lo. Sungguh gue gak ada maksud untuk buat lo kesel sama gue." jelasnya
"Kenapa lo malah minta maaf ke gue. Lo gak salah, guenya aja yang terlalu sirik sama romansa cinta kalian. Maklum aja, dulu gue masih jomblo." ucapnya merendahkan diri.
"Bukannya sampek sekarang lo masih jomblo juga ya?" ejek Bella yang sudah mulai bisa tersenyum
"Setidaknya kan gue udah punya gebetan." balasnya bangga.
"Huu.. jangan bangga dulu lo. Gue aja yang udah bertahun-tahun sama bisa putus, apa lagi yang hanya sekedar gebetan. " kata Bella menggurui. " Tapi gue senang lo udah mau membuka hati. Gue juga tau kisah Cinta lo Dan." terdengar Bella menghela nafas sebelum ia melanjutkan ucapannya " Gue harap lo bisa bahagia dengan Cintya sampai kepelaminan. " lanjutnya lagi dengan senyum yang benar-benar tulus dari dalam hati.
Daniel tersenyum hangat sambil memandang kearah Bella. "Gue tau lo sebenarnya wanita yang baik. Dan seharusnya lo juga bisa dapatkan yang lebih baik lagi dari yang sekarang. Gue selalu mendukung apa pun yang akan lo tuju, selama itu sesuatu yang baik buat lo dan kehidupan lo." ucap Daniel memberi semangat kepada Bella.
"Sepertinya gue gak salah datang kemari." ucapnya tersenyum " apa aku bisa jadi sahabat lo Dan?" pintanya
"Tentu.." jawabnya pasti sambil mengangguk.
Bella semakin melebarkan senyumnya. Ternyata mustipun ia kehilangan orang yang ia sayangi dikarenakan suatu penghianatan disatu sisi tuhan malah memberikannya seorang sahabat.
~
Hay para pembaca setia Cinta Cintya...
Terima kasih karna masih mau baca karya aku. 🥰
Ku doakan agar kalian selalu sehat disana, begitupun dengan aku yang disini. aamiin 🤲
Oya, jangan lupa sempatkan untuk like n comen yah disetiap akhir episode biar levelnya cepat naik. oke..
loph u all 💋💞💕💞
__ADS_1
"