
Mobil Daniel sudah terparkir tepat didepan kosan Cintya.
"Makasih " ucap Cintya ketus, seraya membuka pintu mobil
"Jangan marah dong.. kamu salah faham sama kata kataku tadi " Daniel menahan tangan Cintya
"Aku gak marah " ujarnya lagi, Namun dengan wajah yang masih cemberut.
"gak marah kok cemberut gitu." masih memegang pergelangan tangan Cintya
"ihhh sakit tau gak. lepas" Cintya memukul tangan Daniel, agar melepas genggamannya. Namun Daniel masih tak tergoyahkan dengan pukulan Cintya
"Kamu mau keluar gitu aja? baju kamu nembus gitu tau gak sih. Kalo ada yang liat gimana ?"
Cintya menunduk melihat kebagian dadanya yang terlihat basah. Namun karna kaosnya besar, kalau ia berdiri tidak akan terlalu menepak dan mengekspos gunung kembarnya. Lalu ia beralih melihat kearea sekitar kosan. Sepi
Karna mereka sampai hampir menjelang magrib. Sehingga para penghuni kos sudah tidak ada yang berkeliaran diluar.
"Sepi kok." ujarnya " Aduhhh... Ini sakitt. lepas" Cintya mengusap usap pergelangan tangannya setelah Daniel akhirnya melepaskan genggamannya. "terus aku harus pakek apa lagi, kalo gak pake ini. Lagian emang kenapa kalo ada yang nengok? Penghuni kos semua perempuan kok" Cintya mengerutkan dahinya karna merasa heran kenapa Daniel begitu sok perduli dengannya. Karna tadi saja Cintya harus memohon dulu agar Daniel mau mengantarnya pulang, kenapa sekarang dia perduli. pikirnya.
"Mau pake sweater aku?" tawarnya sambil hendak membuka sweater hoodie yang dikenakannya.
"Gak usah.. Udah, pergi sana.." usirnya lalu menutup pintu mobil. Cintya sudah tidak mau berurusan dengan Daniel lagi.
Cintya membuka pagar dengan hati hati, agar tidak ada yang mengetahui dia pulang dengan keadaan seperti itu. Cintya mengendap endap masuk lalu memandang kekanan dan kekiri. Setelah ia merasa aman, diapun berlari dengan berjinjit agar suara langkahnya tidak terdengar. Sudah seperti maling saja. Daniel yang sejak tadi memperhatikan kelakuan Cintya, hanya geleng geleng kepala.
Cintya akhirnya bisa menarik nafasnya lega, setelah ia sampai didepan kamarnya tanpa ada yang melihat. Namun ia baru tersadar kalau ia lupa meminta kunci kamarnya kepada Daniel.
__ADS_1
"Yaelaaaa.... Kenapa nasip sial selalu menghampiriku " Lirihnya.Cintya berjongkok didepan kamarnya menerutuki kebodohannya "Dasar bodoh.... Bodoh... Bodoh.." kepalanya di antuk antukkan ke pintu kamar.
" Baru sadar kalok Lo itu bodoh? " Daniel sudah berada dibelakang Cintya dengan tersenyum mengejek
Daniel yang sebenarnya sudah pergi, setelah diusir oleh Cintya tadi, harus memutar balik mobilnya. Karna dia teringat dengan kunci kamar Cintya yang masih ada dengannya. Daniel benar benar tidak habis fikir dengan kecerobohan Cintya. Bahkan Daniel sampai berfikir bahwa Cintya sengaja melakukan itu. Agar bisa dekat terus dengannya.
Cintya menoleh kebelakang " Kenapa masi ada di sini?" tanyanya heran
"Seharusnya Lo itu bersukur aku masi disini." jawabnya sambil menoyor kening Cintya hingga Cintya terjengkang kebelakang
"Aduh... Ihh gak sopan" Cintya mengusap keningnya
Daniel tidak memperdulikan Cintya yang sudah terlihat kesal. Dia malah dengan santainya memasukkan kunci yang ada ditangannya ke dalam lubangnya lalu membuka pintu kamar Cintya dan memasukinya. Sudah seperti kamarnya sendiri
Cintya mendelik melihat Daniel yang masuk begitu saja kedalam kamarnya tanpa permisi. Bahkan Wahyu yang sudah hampir 2 tahun menjalin kasih dengannya saja, tidak pernah masuk kedalam kamarnya. Karna memang kosan yang ditempati Cintya terbilang ketat. Saat Cintya mengatakan ingin menyewa kamar, pemilik kos sudah memberikan kertas yang berisi catatan tentang larangan larangan yang tak boleh dilanggar. Diantaranya adalah tidak boleh membawa lawan jenis masuk kedalam kamar. Jika ada yang kedapatan membawa laki laki kekamar, akan diusir saat itu juga. Tapi jikalau hanya ingin mengobrol, pemilik kos menyediakan sebuah gajebo yang ada di halaman depan kos.
Cintya pun segera berdiri dan menyusul Daniel masuk kekamarnya
"Lo aja boleh masuk kekamar aku. Dan ingat bukan hanya masuk, tapi udah tidur di ranjang aku. Apa Lo lupa? Terus kenapa aku gak boleh masuk kekamarmu hah.. Hah..!" ucap Daniel tepat didepan wajah Cintya. Dan Cintya benar benar gugup saat jarak wajah mereka sangat dekat.
"Apa? " ucap seseorang yang berada didepan pintu luar kamar Cintya. Orang itu tampak terkejut.
Daniel dan Cintya serentak menoleh kearah pintu
"Tama...!" Ucap Cintya
"Waah waah... kakakku sekarang udah banyak kemajuan yah" Ujar Tama dengan expresi yang sulit ditebak
__ADS_1
Tama Aditya Permana, adalah satu satunya adik kandung Cintya yang umurnya hanya terpaut 2 tahun dibawah Cintya. Tama kini tinggal di Batam. Dan ntah ada angin apa dia bisa sampai disini setelah hampir 2 tahun tidak pernah pulang karna kesibukannya yang bekerja sekali gus kuliah.
Setelah Tama lulus SMA, Cintya dan Tama memutuskan untuk meninggalkan rumah orang tuanya. Mereka memilih untuk pergi dari rumah, karna sudah tidak tahan dengan perlakuan ibu sambung yang sering dipanggil nenek lampir oleh Cintya dan Tama saat mereka sedang berdua. Ya, mereka tidak cukup berani memanggil ibu tiri mereka secara langsung dengan sebutan itu. Sebenarnya Cintya sudah dari lama ingin keluar dari rumah, namun karna Tama selalu menahannya dengan berkata, tunggu dia tamat sekolah dulu, agar dia bisa ikut pergi bersama Cintya. Sehingga akhirnya Cintya pun menahan diri untuk tetap dirumah yang sudah seperti neraka untuk mereka berdua.
Jangan tanyakan dimana ayah mereka. Ayah yang sifatnya berubah sejak menikahi janda anak 3 itu, membuat kedua kakak beradik itu semakin tersiksa. Dulu ayah mereka merupakan sosok yang sangat penyayang dan perduli dengan anak dan istrinya. Ntah apa yang sudah membuat ayah mereka bisa berubah drastis seperti itu. Kalau Tama bilang, ayah mereka sudah terkena pelet selepet nenek lampir. Hahaha.... Ada ada saja memang kosa kata adik Cintya itu.
" Kenapa kau ada disini?" Cintya menghampiri adiknya yang masih betah berada didepan pintu dengan menatap tajam kearahnya
" Kenapa ? apa cuma pacar kakak aja yang boleh kesini?" jawabnya ketus sambil beralih menatap kearah Daniel
"Pap.. Pacar.. ?" Cintya tergagap " Pacar yang mana? Dia?" ucap cintya sambil menunjuk Daniel. "Dia bukan pacar aku" ucapnya pelan
" Terus kalau bukan pacar kakak, ngapain dia disini? terus ngapain jugak kakak tidur dikamar dia?" balasnya tak mau kalah
"Aaaa... Itu tidak seperti yang kau kira--"
"Gak usah banyak alasan. Ngomongnya aja masih perawan tingting, tapi kelakuannya begh..." Tama memotong ucapan Cintya.
"Keplaakk.." sebuah keplakan mendarat dikepala Tama, membuat si empunya kepala meringis kesakitan
"Enak aja kalo ngomong. Sembuarangan..." Cintya beralih menendangi kaki Tama.
"Aduh, sakit kaaakk.." Tama membungkuk mengusap tulang keringnya yang terkena tendangan Cintya. "Aku bela belain datang kemari karna hawatir sama dia, eeh rupanya dia malah asik sama pacar barunya" gumam Tama pelan, namun masih terdengar ditelinga Cintya
"Aku dengar ya dek, kau ngomong apa. Mau ditendang lagi? Udah aku bilang, dia bukan pacar aku, dan semua yang kau dengar tadi tidak seperti apa yang kau fikirkan." jelasnya sambil ingin menendang kaki Tama lagi. Namun karna Tama langsung menghindar, Cintya akhirnya oleng dan menubruk tubuh Daniel yang berada tepat dibelakangnya. Cintya yang terlihat sempoyongan setelah menabrak tubuh Daniel, hendak terjatuh lagi kebelakang.Dan Daniel dengan reflex bergerak maju ingin menangkap tubuh Cintya agar tidak terjatuh. Namun malang tidaklah bisa dipalang, karna ternyata kakinya keserimpet sehingga ia hilang keseimbangannya. Alhasil mereka berdua terjatuh kelantai dengan posisi Daniel menindih tubuh Cintya "
"Gubrakk.." anggap saja suara orang terjatuh
__ADS_1
"Aaaaaa...." Cintya tiba tiba berteriak. Daniel tersentak mendengar teriakan Cintya yang sangat keras.
Daniel tidak menyadari kalau ternyata sebelah telapak tangannya mendarat tepat di salah satu gundukan gunung kembar milik Cintya. Sementara tangan yang satunya lagi menahan kepala Cintya agar tidak terbentur kelantai.