
"Jadi gitu ceritanya kak..." ucap Dini sambil menghapus air matanya yang mengalir dipipi dengan punggung tangannya.
Dini sudah menceritakan semuanya kepada Cintya.
Mulai saat Ia menerima pesan dari Tama kalau ia akan datang kerumahnya. Perasaanya begitu senang menanti pria yang sangat dicintainya selama sebulan ini. Mestipun setiap hari berjumpa dikerjaan, namun untuk datang kerumahnya, ini kali pertama untuk Tama.
Dan saat ada yang mengetuk pintu rumahnya, dia dengan segera membukanya, berharap kalau yang datang adalah kekasih pujaan hatinya.
Namun saat ia membuka pintu, dia malah gak bisa buka mata, karna ada sesuatu yang menusuk matanya.
Dan saat itu ia mendengar suara Melky yang teriak minta maaf sambil memegang wajahnya. Dan disaat yang bersamaan terdengar suara dari pria yang sedari tadi ditunggunya. Tama. Ia ingin membuka matanya, namun tidak bisa
Suaranya Tama terdengar marah. Karna saat itu matanya tidak bisa terbuka, ia hanya bisa diam saja, karna ia merasa bingung harus menuju kemana. Dini hanya bisa memdengar suaranya, namun tidak bisa melihat Tama ada dimana.
Terdengar Tama mengatakan kalau ia sudah tega menghianatinya, dan setelah itu hanya suara motor yang menjauh yang terdengar dari telinga Dini.
Cintya menarik nafas panjang.
"Terus kenapa kau gak mau cerita ke kakak? setidaknya kan kakak bisa bantu ngomong sama si Tama." Cintya memandang prihatin kepada Dini.
"Aku takut kakak juga bakal salah faham sama kayak si Tama. Aku takut nanti kakak gak mau temenan sama ku lagi." suaranya terdengar bindeng.
"Yaela Din, akukan bukan si Tama. Dia mah memang gitu orangnya, kepala batu."
"Yaudah nanti kakak bantu ngomong sama Tama yah." Cintya menggenggam tangan Dini. Dini hanya mengangguk.
"Tapi aku heran sama si Melky, kenapa dia gak ada cerita yah.." Cintya tampak cemberut.
"Jangan marah sama dia kak... Aku yang nyuru dia untuk gak cerita."
"Kenapa? tapi kau memang gak suka sama dia kan?" tanya Cintya menyelidik
"Sama siapa? sama si Melky?... astaga, ya enggak lah kak." Dini tak menyangka kalau Cintya bisa berfikiran begitu.
"Kenapa enggak.. diakan gak jelek-jelek amat."
"Kenapa gak kakak aja yang sukak sama dia?" balas Dini.
"Yeeee...." Cintya memukul lengan Dini. "Aku tu sama si Melky cuma temenan... gak lebih" ucapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Jadi kalau sama Tama gimana? masih sukak?" Cintya menatap wajah Dini, namun Dini hanya diam. Expresi wajah Dini tak bisa ditebak.
"Aku gak tau kak... setelah kejadian tadi siang aq ngerasa sakit banget dikekgituin sama dia." Dini kembali mewek. Kata-kata Tama yang mengatakan kalau dia gak punya otak, sangat membekas di ulu hati Dini.
"Tadi siang?" Cintya menautkan alis." Emang tadi siang kau jumpa sama Tama? dimana?"
Dini memang belum cerita soal kejadian tadi siang Di food court. Karna Cintya terus mendiaminya, dia pun jadi enggan untuk cerita.
"Aku jumpa dia di food court. Waktu kakak pigi sama Kanya, dia datang. Dia maki-maki aku didepan umum... dia bilang aku gak punya otak.. hix.hix.hix" Dini sampai menutup wajahnya dengan telapak tangannya, hatinya benar-benar sakit. Kata-kata kasar Tama sangat membekas dihati.
"Ya ampun Tama.." Cintya tidak tau harus berbuat apa.
"Udah deh Din, jangan nangis lagi. Nanti biar kakak urus si Tama itu. Oke.." Cintya memeluk tubuh Dini, dan mengusap punggungnya, mencoba memberi ketenangan untuk jiwa yang rapuh.
"Dia juga mukul si Melky kak.." Dini masih terus menangis terisak.
"Loh kok bisa?" Cintya melepaskan pelukannya.
"Sebelum Tama datang, Melky luan duduk nyamperin aku. Tama makin salah faham.."
"Hadehh... ribet banget si kisah cinta kalian. Aku kira kisahku sama si kampret sialan itu, adalah kisah paling sedih. Ehhh, kisah kalian lebih tragis" Cintya tersenyum miris.
"Iya kak, tragis banget malah. Kakak masih mending ngalamin cinta-cintaannya sampek bertahun, lah aku cuma sebulan tapi sakitnya bertahun-tahun." ucap Dini sambil menyisi ingusnya di selimut Cintya.
"Ya maap kak, ingusnya gak bisa diajak kompromi." lagi-lagi dan lagi, Dini terus menyisi ingusnya ditempat yang sama. Cintya hanya bisa pasrah.
***********
Ditempat lain. Melky dan Tama masih berada di taman belakang cafe milik Daniel.
Tama masih berdiri terpaku, setelah mendengar penjelasan Melky. Dia merasa bersalah sudah menuduh Dini menghianatinya.
"Aku tau kau masih sayang sama Dini. Tapi aku gak yakin sama perasaan Dini samamu sekarang. Setelah perkataanmu tadi di food court, dia bilang dia sakit hati. Tapi gak ada salahnya kau minta maaf kedia. Dimaafkan ataupun enggak, setidaknya kau udah berusaha memperbaiki keadaan." sarannya sambil menepuk pundak Tama.
Tama merasa malu, bahkan untuk menatap wajah Melky pun dia tak sanggup. Melky memang teman yang baik, bahkan saat ia memukulnya tadi dia tidak membalas. Apa yang Melky bilang memang benar, gak ada salahnya minta maaf. Namun tidak hanya dengan Dini ia harus minta maaf, tapi kepada melky juga.
Tama mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk karna malu. Ditatapnya wajah Melky, masih ada memar disudut bibirnya namun ia masih tetap bisa tersenyum. Dia memang laki-laki yang sesungguhnya.
"Gak cuma sama Dini aku harus minta maaf... tapi samamu juga." ucapnya sambil memeluk tubuh Melky.
__ADS_1
Melky tersenyum lalu menyambut pelukan Tama.
Daniel merasa terharu melihat pemandangan didepannya. Dia yang sedari tadi mendengar semua obrolan antara Tama dan Melky bisa menarik sebuah kesimpulan. Melky memang pria baik, walaupun terlihat slengean dan Tama adalah cloning dari dirinya. Melihat Tama, ia seperti melihat dirinya sendiri.
Daniel pun pergi dari tempat persembunyiannya menuju ke kasir. Ada yang ingin ia tanyakan kepada pegawainya yang menjabat sebagai kasir di cafenya. Erna.
Daniel heran kenapa Erna malah kerja. Soalnya saat mereka selesai belanja baju di moll, Tama bilang ia tidak ikut pulang dengannya karna ada janji kencan sama si Erna di mol yang sama.
"Erna.." Daniel mengetuk meja kasir
Erna yang menunduk karna sibuk ngitung duit, mengangkat wajahnya " Ada apa pak?" wajahnya masih cemberut. Mungkin masih sakit hati karna dibentak Daniel kemaren.
"Kok kerja?" tanya Danel.
Erna tidak mengerti maksud dari pertanyaan Daniel "Maksud bapak..?"
"Orang nanyak, malah nanyak balik."
"Pertanyaan bapak gak jelas. Memang bapak ada mecat saya?" balasnya ketus.
"Yaelah.. orang nanyak kenapa kerja, kok jadi ngelantur sih jawabnya. Mana ketus lagi nadanya. Gitu cara ngomong sama boss?" Daniel merasa kesal karna Erna sudah bicara ketus kepadanya.
"Terus ngapain bapak nanyain saya kok kerja? kan aneh nanyaknya."
"Bukannya kamu ada janji sama si Tama mau ngemol?"
"Janji?" Erna mengingat-ingat apa benar dia ada janji sama si Tama. Namun setelah diingat-ingat ia gak merasa punya janji sama Tama. Tama hanya bilang kalau ia akan menghubunginya, namun sampai sekarang ia malah belum tau nomor ponsel Tama berapa.
"Woii... ditanyai malah bengong." Daniel kembali mengetuk meja kasir karna Erna terlihat bengong.
"Enggak pak, aku gak ada janji sama siapapun hari ini. Lagian kan hari ini bukan jadwalnya aku off." ucapnya
"Lah..." Daniel jadi bingung.
"Jadi yang ditelfon si Tama kemaren siapa?" gumamnya sambil garuk kepala
"Bahkan aku aja gak tau nomor ponsel si Tama. Ngomongnya aja mau ngubungin, ternyata cuma PHP." Erna jadi ngedumel sendiri sambil manyun.
"Kamu beneran gak ada ditelfon si Tama?" Daniel mencoba memastikan kembali.
__ADS_1
"Gak ada paaakkk... jangan bikin makin kesel ah. Padahal aku udah ngarep banget dia beneran mau ngajak aku nonton bioskop. Boro-boro pergi kencan, nelfon aja gak ada.. Terus tadi pas dia baru datang, jangankan nyapa, noleh aja enggak." Erna merasa sakit hati
"Astaga... jadi si Tama telfonan sama siapa kemaren? terus dia tadi jumpa sama siapa?" Daniel hanya bisa tepok jidat.