CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Part 29


__ADS_3

Mata Cintya dan Dini berbinar saat pelayan datang membawakan pesanan mereka. Mestipun hampir setiap bulan mereka pasti datang ke warung ini, tetap saja mereka selalu takjub dengan menu yang menurut kedua gadis itu sangat menggiurkan. Apa lagi aromanya sangat sedap masuk keindra penciuman.


Mie aceh kepiting dengan acar bawang dan cabai yang dipotong kecil-kecil dan potongan jeruk nipis diatasnya, benar-benar sangat menggugah selera. Tidak lupa pelayan juga memberikan dua lepekan kecil kerupuk udang beserta dua gelas es teh manis. Perfek...


"Makan... makan... makan..." ucap Dini dan Cintya serempak sambil tertawa.


Cintya benar-benar menikmati suap demi suap daging kepiting yang masuk kemulutnya. Bahkan dia tidak perduli saat mulutnya menjadi belepotan karna ia membuka cangkang kepiting dengan menggunakan giginya, bukan dengan palu yang disediakan.


"Woaaaaa... gak nunggu-nunggu dulu yah." ucap Melky seraya duduk disamping Cintya.


Cintya mengangkat wajahnya, ternyata Tama datang bersama dengan Melky.


"Kalian kok bisa bareng?" ucap Dini merasa bingung. Pasalnya kan Tama benci banget sama si Melky. Bahkan sudut bibir Melky juga masi membiru akibat insiden siang tadi. Lah sekarang mereka terlihat seperti tidak terjadi apa-apa.


"Nah lo, nah lo... bingung yaaa.." ujar Melky menambah kebingungan di wajah Dini dan Cintya. " Kita udah baikan." lanjutnya lagi sambil tersenyum lebar


Cintya dan Dini hanya melongo.


"Tunggu.. tunggu --" belum siap Cintya bicara, sudah dipotong oleh Melky.


"Tunggu kemana sayangku... aku akan setia disisimu sampai kau siap makan." ucapnya sambil mencomot kerupuk milik Cintya.


"His, orang belum siap ngomong main potong aja sih." omel Cintya, Melky hanya tertawa.


"Aku gak disuru duduk ni?" ucap Tama yang sedari tadi hanya berdiri.


Tempat duduk yang kosong hanya disebelah Dini. Tama merasa ragu untuk langsung duduk disana. Ia takut dini jadi tidak nyaman berada disampingnya.


" Tuh kan ada bangku kosong" ucap Melky sambil menunjuk bangku disebelah Dini.


Dasar si Melky, gak peka banget si jadi orang, batin Tama gedek. Ya mau gimana lagi, mau gak mau diapun akhirnya meminta izin untuk duduk disamping Dini.


"Aku duduk disini yah.." ucapnya pelan, dan Dini hanya mengangguk.


"Kalian beneran udah baikan?" Tanya Cintya penasaran.

__ADS_1


"Nanti aja ngomongnya bebh, habisi dulu makanannya." potong Melky "Lagian aku haus, mau pesan minum." ucapnya seraya melambaikan tangannya memanggil pelayan dan pelayan langsung datang.


Melky memesan segelas TST (teh susu telur) untuknya, serta segelas es teh manis untuk Tama.


Mestipun penasaran, Cintya akhirnya menurut dengan perintah Melky.


"Kalian gak pesan makan?" ucap Cintya sambil ngunyah mie aceh yang hampir kandas dipiringnya.


"Udah makan tadi di cafe bang Daniel." Tama yang menyaut, dan Cintya hanya ber oh tanpa suara lalu melanjutkan makannya lagi.


"Tam, ada yang mau aku omongin." Dini tiba-tiba bersuara sambil menatap kearah Tama.


"Aku udah tau apa yang mau kau omongin. Melky uda cerita semuanya. Maafin aku ya Din, aku udah nuduh kau selingkuh sama dia, aku juga udah ngomong kasar samamu." ucap Tama lirih sambil menunduk. Tama benar-benar menyesal dengan perlakuannya terhadap Dini dan Melky.


Dini merasa lega, karna akhirnya Tama sudah tidak salah faham lagi kepada dirinya.


"Gak ada yang perlu dimaaf kan, karna gak ada yang salah. Semua hanya salah faham." balas Dini bijak "Teman..!" Dini menjulurkan kelingkingnya kedepan Tama mengajak Tama untuk berteman.


"Gak boleh lebih?" pinta Tama dengan wajah memelas namun tetap mengacungkan kelingkingnya.


"Untuk sekarang, mungkin ini yang terbaik." Dini meraih kelingking Tama dan mengaitkannya dengan kelingking miliknya. "Sekarang kita temenan, oke."


"Sabar bro.. masih ada si Erna yang menanti." ucap Melky, menaik naikkan alisnya. Tama hanya mendengus kesal.


Akhirnya semua terselesaikan dengan baik.


******


Keesokan harinya sepulang Cintya bekerja.


Cintya buru-buru keluar dari kamar mandi saat ia mendengar ponselnya berdering. Dengan hanya menggunakan handuk, ia mengangkat telfon yang ternyata dari Tama.


"Apa?" ucap Cintya dengan nada tinggi.


"Aku didepan.. cepetan keluar" seru Tama, dan langsung mematikan sambungan telfon.

__ADS_1


"Yeee.. langsung dimatiin. Dasar adek minim ahlak." gerutu Cintya kesal.


Tanpa memperdulikan Tama yang katanya sudah berada didepan, ntah didepan mana Cintya tidak mau bertanya. Ia malah masuk lagi ke dalam kamar mandi, dan melanjutkan mandinya yang tertunda akibat harus mengangkat telfon dari Tama.


Dua puluh menit berlalu, dengan Cintya yang baru menunjukkan batang hidungnya. Wajah Tama sudah kesal bukan main karna sudah menunggu lama. Tama menunggu di luar gerbang.


"Lama banget sih.." ucapnya kesal


"Siapa suru datangnya mendadak " protes Cintya " Motor siapa?" tanyanya saat melihat ada motor terparkir disamping Tama.


"Motor bang Daniel" jawabnya, Cintya hanya manggut-manggut mengerti.


"Baik banget tu orang yah.." ucap Cintya pelan.


"Baiklah, orang bentar lagi bakal jadi abang ipar." ujar Tama sambil tersenyum menggoda kearah Cintya.


"Apaan sih.. mana mau dia samaku." Cintya menangkup wajahnya yang tiba-tiba merasa panas saat mendengar ucapan Tama. Padahal dihatinya ngarep.. haha..


"Ehe.. dasar ganjen, baru dibilang gitu aja mukaknya udah merah." cibir Tama "Baru aku loh yang ngomong, gimana kalau bang Daniel sendiri yang ngomong!" lanjutnya lagi.


"Dan itu tidak akan mungkin terjadi." ucap Cintya tegas " manalah mungkin dia mau sama kakakmu ini dek. Dia itu orang kaya, ganteng, perfek lah bisa dibilang. Terus kau fikir kakakmu ini pantes gitu sama dia? jangan mimpi ketinggian dek... ntar kalau jatuh sakit. Biarlah aku mengaguminya dari jauh, namun kalau untuk menjadikannya gebetan rasanya mustahil." Cintya sudah pesimis diluan. Mestipun Daniel memang baik dengan mereka, bukan berarti dia memiliki perasaan lebih terhadapnya kan. Cintya tidak mau terlalu berharap.


"Ahh.. terserah deh. Aku kesini mau ngajak kakak pulkam besok, mumpung aku masih disini. Soalnya tiga hari lagi aku udah mesti balik ke Batam. Aku mau ziarah ke makam Bunda, kangen." air muka Tama berubah sendu.


Cintya terdiam. Terahir kali dia ziarah ke makam Bundanya dua tahun lalu, saat Tama akan berangkat ke Batam. Sekarang, adiknya pun mengajaknya kembali kekampung halaman untuk berziarah.


"Kak, aku kangen sama Bunda, mau yah."


Cintya menarik nafasnya dalam.


"Kakak musti izin dulu dek, soalny kemaren kakak udah libur. Emang mau perginya kapan?"


"Besok pagi lah, biar sampek disana siang."


Cintya terlihat berfikir. Kemaren dia sudah libur mendadak, kalau dia sampai libur tanpa izin lagi bu Sumi pasti bakalan makin murka terhadapnya. Bahkan bisa saja dia dipecat. Ia masih sangat membutuhkan pekerjaan untuk menyambung hidup, ditambah lagi dia sudah betah banget kerja disana dan gajinya juga lumayan besar. Tapi saat melihat wajah adiknya yang sepertinya sangat merindukan Bundanya dia jadi tidak tega kalau Tama harus sendirian berziarah ke makam sang Ibunda tercinta. Cintya dilema..

__ADS_1


"Besok sore aja ya dek, biar besok pagi kakak sempat permisi ke bu Sumi. Bahaya kalau kakak gak permisi dulu, ntar kakak dipecat kakak mau kerja dimana?" Cintya mengharap pengertian dari Tama.


Tama pun akhirnya mengangguk.


__ADS_2