CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Kecemasan semua orang


__ADS_3

Tama keluar dari ruang dokter dengan hati yang hancur. Mendengar keterangan dokter yang mengatakan kalau kakaknya sedang berada di fase traumatic yang cukup serius membuatnya merasa sedih, sakit hati dan juga marah. Apa salah kakaknya sehingga harus menerima penderitaan yang separah ini? Kenapa harus kakaknya yang diperlakukan seperti ini?. Tubuh kakaknya mungkin tidak ada luka yang serius, namun bagaimana dengan hatinya? Ia memang masih belum mengetahui cerita pastinya. Namun setelah melalui berapa pengecekan saat kakaknya dibawa ke rumah sakit oleh polisi bisa dipastikan kalau kakaknya mendapatkan tindakan pemerkosaan oleh orang yang belum diketahui siapa.


Menangis tersedu-sedu sambil berjongkok di depan ruangan dokter. Tama bahkan tak merasa malu saat orang-orang melihatnya. Tangisannya begitu memilukan bagi siapa saja yang mendengarnya. Hatinya begitu sakit saat ini. Ia sudah tidak bisa mengontrol emosinya lagi. Ia juga tidak tahu harus berbuat apa untuk bisa mengembalikan kakaknya seperti dulu.


Dini yang sedari tadi berdiri tak jauh dari tempat Tama juga merasakan apa yang Tama rasakan. Melihat mantan kekasih sekaligus adik dari sahabatnya itu menangis, membuat hatinya teriris. Dia pun bergerak mendekati Tama lalu berjongkok dan menarik Tama kedalam pelukannya.


"Aku mohon jangan begini.." tangisan Dini tak kalah pilu. Namun ia tetap berusaha menenangkan Tama. Mendapatkan bahu untuk bersandar, Tama semakin tak bisa mengontrol tangisannya. Mereka pun menangis bersama.


Diruangan Cintya.


Melihat Cintya sadar dari pingsan selama tiga hari tak langsung membuat semua orang yang menanti ia terbangun merasa lega. Tama, Dini, Kanya, bahkan Ayahnya juga ada disana. Mereka secara suka rela bergantian menunggu sadarnya Cintya. Mereka merasa senang Cintya sudah membuka matanya. Tapi melihat tak adanya respon yang diberikan Cintya, bahkan tampak seperti mayat hidup membuat mereka begitu sedih. Tak lebihnya Dini dan Kanya yang terlihat bolak balik keluar ruangan hanya untuk menangis. Setelah rasa sedihnya mulai hilang mereka kembali masuk. Memang Cintya yang mengalami kejadian pahit itu. Dan sangat diwajarkan kalau ia akan mengalami trauma. Tapi sayangnya trauma itu tak hanya dirasakan oleh Cintya, melainkan semua orang yang selalu berada didekatnya saat ini.


Tapi sempat terfikir oleh Kanya. Sejak kejadian yang menimpa Cintya, Melky sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya baik itu di rumah sakit ataupun ditempat kerja.


"Din, kenapa Melky tidak pernah kemari?" tanya Kanya pada Dini saat mereka ada kafetaria rumah sakit.


Dini yang baru menyadarinya langsung menghentikan kunyahan dimulutnya " Iya juga ya kak.. Kemana dia? Aku baru sadar dia gak pernah datang jenguk kak Cintya."


Ada apa dengan Melky.. Batin Kanya dan Dini.


Tiga hari yang lalu.


Hari dimana kejadian yang menimpa cintya, Daniel dan Reza terjadi.

__ADS_1


Setelah puas karena balas dendamnya berjalan dengan baik Dom bergegas kembali kenegaranya dengan menggunakan pesawat pribadi miliknya. Pesawat mereka sudah mengudara selama dua jam. Namun selama dua jam itu, pesawat terasa sangat sepi.


Padahal selain Dom, di kursi penumpang lainnya ada sekertarisnya dan juga dua orang kepercayaannya. Namun entah kelelahan atau merasa nyaman, sekertaris dan dua orang itu tampak sudah tertidur lelap dari sejak pesawat mulai take off. Tinggallah Dom yang masih terlihat sibuk dengan tabletnya dan juga orang yang duduk di sebelahnya. David


David tampak gelisah di tempat duduknya. Bahkan kegelisahan itu sudah bermulai sejak ia masuk kedalam pesawat. Sesekali ia melirik kearah Dom yang terlihat sangat santai dengan tabletnya tanpa menunjukkan ekspresi berdosa sama sekali atas perbuatan yang baru saja dilakukannya. David hanya bisa menghela nafasnya yang terasa begitu sesak. Difikirannya hanya ada Cintya. Senyuman Cintya, tawa Cintya, bahkan teriakan Cintya saat meminta tolong kepadanya. Ia sangat merasa frustasi.


"Dia tidak mati.. Jadi tolong duduklah dengan nyaman" ucap Dom dingin dan tanpa beralih dari tabletnya. Karena hanya David yang masih terjaga saat itu, bisa dipastikan kata-kata yang keluar dari mulut Dom ditujukan untuk David. Ternyata Dom merasakan kegelisahan David sedari tadi dan tahu juga penyebab dari kegelisahan itu. David langsung membeku.


Sunyi.. Tak ada lagi terdengar pergerakan yang dilakukan David di kursinya setelah mendengar ucapan yang terdengar seperti perintah atau ancaman dari mulut Dom.


"Kau kan orang yang sudah melaporkannya ke polisi?" Dom meletakkan tabletnya dan memutar kursinya menghadap ke David. Sepertinya ia sudah selesai dengan urusannya.


David hanya diam. Menjawab pun percuma. Fikirnya. Ia sudah yakin kalau Dom pasti akan tahu apa saja yang ia lakukan. Tapi dia benar-benar tidak bisa untuk tidak berbuat apa-apa. Sekalipun rencana Dom tetap akan terjadi, setidaknya ada seseorang yang datang untuk menolongnya. Syukur saja ponsel Cintya tertinggal dimobilnya, sehingga dia bisa menelfon seseorang untuk datang menolong Cintya yang bahkan dia tidak tahu keadaannya seperti apa sekarang. Dia mengutak atik ponsel Cintya namun masih bingung mau menghubungi siapa. Namun disaat yang tepat, sebuah pesan masuk keponsel Cintya dengan nama pengirimnya adalah Melky. Sehingga ia memutuskan untuk menghubungi Melky menggunakan ponsel Cintya.


"Tidak.." jawabnya gugup.


"Kau yakin?" David mengangguk "kalau begitu kenapa kau melakukannya?" masih dengan nada dingin


David menghela nafasnya untuk sekedar menghilangkan rasa gugupnya sebelum akhirnya berani menjawab pertanyaan Dom. " aku hanya kasihan padanya.. Hanya itu." tak berani menatap Dom. Bahkan sedari tadi ia terus menyenyuh bibirnya sendiri dengan ibu jarinya. Ia benar-benar gugup. Bicara dengan Dom baik itu dari telfon ataupun secara langsung memang tidak ada bedanya. Membuat siapa saja begidik ngeri.


Sejak kematian Jovanca adiknya lima tahun lalu, benar-benar membuat kepribadian Dom berubah seratus delapan puluh derajat. Dari yang awalnya periang, friendly, dan disukai banyak orang berubah menjadi sosok yang dingin dan mematikan.


"Apa kau tahu perbuatanmu ini bisa menimbulkan masalah?" nada bicaranya tetap rendah namun terasa sangat menusuk.

__ADS_1


David mengangguk setuju."Aku tahu.." Perbuatannya memang bisa membuat masalah untuk semua orang yang terkait.


"Lalu?"


"Aku minta maaf." hanya itu yang bisa David ucapkan.


Dom menyeringai " Aku tahu kau menyukainya. Kau tidak bisa membohongiku. Tapi secepatnya lupakan lah dia. Dan buang ponsel milik wanita itu yang masih ada padamu." membalikkan kursinya kesemula


David terhenyak, dia mengelus tengkuk lehernya yang tiba-tiba menegang. berapa banyak mata pria ini. Fikirnya.


#Epilog


Melky termenung ditempat tidurnya. Sedari tadi ia mencoba untuk tidur, tapi matanya serasa sulit untuk terpejam. Sesekali ia melirik kearah jam. Entah mengapa rasanya jam di dinding itu cepat sekali berputar. Perasaan baru saja ia melihat jam berada diangka sebelas malam. Tapi saat melihat lagi ternyata tiga jam sudah terlewati tanpa ia sadari. Diambilnya ponsel yang terletak diatas nakas, ia membuka galeri. Bibirnya tersenyum memandang foto dirinya dengan Cintya tadi saat dipelaminan. "Kenapa aku begitu sangat mencintaimu Cintya. Bahkan aku tidak bisa melihat wanita lain selain dirimu.." menghela nafasnya "Entah sampai kapan perasaan ini akan hilang Cin..! Apa aku bisa melepaskanmu pergi dengan orang yang kau cintai.!.. Aahh rasanya hatiku belum ikhlas." masih terlintas difikirannya saat bang Daniel meminta kepadanya agar ia saja yang mengantar Cintya pulang. Pasti bang Daniel akan mengungkapkan perasaannya kepada Cintya. Dan bisa dipastikan kalau Cintya akan dengan senang hati menerima cinta bang Daniel. Karena ia tahu betul siapa yang ada dihati Cintya. Bahkan sekuat apapun dia berusaha untuk menarik hati Cintya, Cintya tetap tidak bisa berpaling dari bang Daniel..


"Aku akan mengirim foto ini kepadamu Cintya.. agar kau tidak melupakanku walaupun kau sudah menjadi milik bang Daniel." mengirim foto melalui pesan WA.


Mata melky mulai terasa ngantuk, ia pun meletakkan ponselnya kembali keatas nakas setelah selesai mengirim pesan gambar kepada Cintya yang mungkin saat ini sudah tidur dengan nyenyak, karena memang ini masih dini hari. Belum berapa lama ia memejamkan matanya, iapun terbangun lagi saat mendengar nada pesan dari ponselnya. Cintya membalas pesannya.


"Waaah.. Apa sebegitu senangnya dia sekarang sampai jam segini pun dia belum tidur." mengoceh sambil membuka pesan. Ia langsung terperanjak dari tidurnya begitu membaca pesan dari Cintya yang berkata Tolong datang kelamat ini sekarang (nama alamat) Dia sedang tidak baik-baik saja. Aku mohon cepatlah."


Apa maksudnya? membatin. Tanpa fikir panjang, melky langsung melakukan sambungan telfon ke nomor Cintya, namun nomornya tidak bisa dihubungi. "Kenapa nomornya tidak bisa dihubungi? Bukannya dia baru mengirim pesan." bicara sendiri sambil mengulang panggilan kembali. Tapi nomor Cintya tetap tidak aktif.


Melky sempat berfikir kalau pesan ini hanya candaan Cintya saja. Tapi semakin ia berfikir begitu, hatinya semakin tidak tenang. "Bagaimana jika Cintya benar berada dalam bahaya. " batinnya. Mencoba sekali lagi menghubungi nomor Cintya namun tetap tidak aktif. Dibukanya kembali pesan yang dikirim Cintya. Ketikannya sangat berbeda dengan yang biasa Cintya kirim padanya. Biasanya Cintya lebih banyak menyingkat kata, tapi dipesan ini semua kata tertulis dengan lengkap. Panik. Bahkan jantungnya sudah seperti sedang berada dipacuan kuda. Berdetak sangat kencang. Hatinya sangat yakin kalau Cintya benar sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Iapun langsung beranjak dari tempat tidurnya. Meraih jaket dan kunci motor lalu pergi menuju alamat yang tertera dipesan Cintya.


__ADS_2