
"A.. Apa maksudmu?" Daniel sampai tergagap.
"Sebaiknya tepikan dulu mobilnya, kalau tidak kita bisa ditabrak sama kendaraan lain." ucap Tama seraya melihat ke arah belakang mobil. Mobil Daniel yang masih berada ditegah jalan, menghalangi kendaraan lain untuk lewat sehingga menyebabkan kemacetan satu arah. Daniel pun segera menepikan mobilnya.
"Sekarang gini aja bang, aku cuma pingin tau ada hubungan apa abang sama kakakku. Kenapa kakak ku bisa tidur dirumah abang. Apa yang udah kalian lakuin. Aku gak sukak yah kalau sampai kakak ku sampai dimanfaatkan oleh laki-laki tidak bertanggung jawab. Kakak ku itu wanita baik-baik." Tama menatap tajam kearah Daniel.
"Hahaha... Apa menurutmu aku laki-laki seperti itu?" Daniel tampak mengetes Tama. Sebenarnya Daniel salut dengan keberanian Tama untuk bertanya kepadanya perihal Cintya. Itu menandakan bahwa Tama sangat menyayangi kakaknya. Sama seperti dia dulu dengan kakaknya, Daniah. Bahkan dia sanggup menjadi tameng untuk Daniah, saat Daniah akan dipukul oleh papanya, Wijaya. Dan Daniah pun akan melakukan hal yang sama untuknya disaat ia terkena masalah.
"Bisa aja kan. Tampang tidak bisa menjadi tolak ukur untuk seseorang bisa melakukan sesuatu." Jelasnya nyolot "Sekarang tolong jawab, ada hubungan apa abang sama kakak ku?" ulangnya lagi.
"Kami gak punya hubungan apapun." jawab Daniel cepat. Karna kenyataannya memang begitu.
"Gak usah bohong samaku."
"Siapa yang bohong. Kalau gak percaya, tanyakan aja sama Cintya."
"Kami tu gak punya hubungan apa-apa. Bahkan teman sekali pun." Jawab Daniel dengan membalas tatapan Tama yang sedari tadi tak putus terhadapnya.
"Dia kira aku anak kecil kali ya." Gumam Tama pelan. Tama tidak percaya dengan ucapan Daniel. Mana mungkin tidak ada hubungan apa-apa, tapi sudah dibawa nginap dirumahnya. Fikirnya.
"Hey, kau memang masi kecil." Daniel tersenyum mendengar gumaman Tama, sambil mengacak-acak rambut Tama.
Tama memang masih sangat muda. Umurnya masih 21 tahun. Berbanding jauh dengan Daniel yang sudah hampir kepala 3.
"Wah.. Wah.. Berani banget ngacak-ngacak rambut aku. Abang fikir aku gak berani sama abang..!" Tama menaikkan lengan bajunya, seperti ingin mengajak duel.
"Haha... Kamu ngajak duel?" Daniel tertawa.."Oke. Oke.. Aku bakalan jawab pertanyan kamu." Daniel menghentikan tawanya, karna wajah Tama benar benar sudah tidak bersahabat. Daniel pun mulai menjelaskan semuanya kepada Tama.
"Kakak kamu tu baru putus cinta. Apa kamu tau?" Daniel menatap Tama sejenak, lalu tersenyum. Tama mengangguk cepat. Karna memang Cintya sudah cerita dengannya tentang perpisahannya dengan Wahyu.
"Ternyata kalian memang sangat dekat yah.." ucapnya takjub.
"Tentu.." balasnya bangga."Makanya aku tidak mau, kalau sampai terjadi sesuatu yang buruk kepada kakakku."
"Apa kita bisa kembali ke topik?"
"Oke oke.." sambil memberi lambang ok dengan jarinya.
"Aku baru beberapa x bertemu dengan kakakmu. Tapi setiap kami bertemu, selalu saja ada masalah." Daniel mendengus.
"pertemuan pertama, aku hampir menabrak kakakmu. Tapi masi hampir yah.." Jelasnya langsung, karna takut Tama salah faham. Namun karna raut wajah Tama biasa saja, ia pun kembali melanjutkan ucapannya.
"Untuk perihal dia bisa menginap dirumahku, itu sebenarnya tidak disengaja. Waktu itu aku melihat Cintya dengan si Melky itu dipinggir jalan. Maksud hati cuma ingin menyapa aja, sekalian pingin tau lagi ngapain dipinggir jalan tengah malam. Sama laki-laki lagi." Tama tampak mengerutkan dahinya mendengar cerita Daniel, namun ia tidak protes.
__ADS_1
"Ternyata motor si Melky kenak tilang polisi, dan ditahan. Jadi dia gak bisa ngantar Cintya pulang. mereka minta tolong sama aku untuk ngantar mereka pulang."
"Dasar laki-laki brengsek.!" Tama tampak mengepalkan tangannya.
"Eehhh... jangan salah faham dulu." Daniel melihat raut tidak suka diwajah Tama saat ia membahas tentang Melky. "Dia hanya ingin membantu kakakmu doang. Tapi dasarnya aja emang lagi naas harus ketilang."
"Seharusnya kamu berterima kasih sama si Melky itu. Dia udah baik nemanin Cintya yang saat itu lagi kalut. Berjalan tanpa membawa apa-apa, sambil nangis lagi."
"Kalau Cintya gak jumpa sama dia, udah ntah kemana kakakmu itu jalan." jelasnya. Cintya memang cerita kepadanya, bagaimana ia bisa bertemu Melky.
"Sebelum bertemu Melky, kakakmu jumpa sama ku dulu di cafe. Tapi ternyata, dia malah jumpa sama mantannya. Siapa itu namanya..--"
"Wahyu.." Jawab Tama malas.
"Mmmm iya Wahyu."
"Kakakmu ngelabrak si Wahyu itu"
"Tapi aku salut loh sama kakakmu, dia berani banget ngelabrak mantannya itu. Kalau aku yang digituin, pasti udah malu banget." Daniel tampak mengingat kejadian saat Cintya melabrak Wahyu 2 hari lalu. Bahkan cafenya menjadi viral karna insiden itu.
Tama tampak masih menyimak cerita Daniel.
"Apa Cintya gak ada cerita ke kamu?" tanyanya,Tama tampak geleng geleng.
Tama yang penasaran langsung menyambar ponsel yang diberikan oleh Daniel. Raut wajah Tama tampak sedih saat melihat vidio itu. Dia merasa sudah gagal menjadi seorang adik laki-laki untuk Cintya. Seharusnya dialah yang menjaga Cintya, namun karna dia harus dipindah tugas ke Batam 2 tahun lalu, ia harus rela berjauhan dengan kakaknya.
"Aku tau kamu hawatir dengan kakakmu. Tapi percaya lah, Cintya bisa menjaga dirinya sendiri." Ucap Daniel sambil menepuk bahu Tama.
"Seharusnya aku ada disaat dia lagi terluka. Cuma aku yang dia punya." Suara Tama tampak bergetar, seperti ingin menangis." Tapi karna si Melky brengsek itu, aku harus berjauhan dengan kakakku." ucapnya dengan amarah
"Apa hubungannya dengan Melky?" Daniel bingung. Kenapa jadi si Melky yang salah. Fikirnya
Belum sempat Daniel mendapatkan jawaban, kaca jendela mobilnya diketuk oleh seseorang. Daniel dan Tama menoleh kearah jendela. Tampak 2 orang berseragam polisi berdiri di depan pintu mobil Daniel. Daniel pun segera menurunkan kaca mobilnya.
"selamat malam pak.. Sedang apa bapak berhenti disini?" Tanya petugas Polisi.
"Mmm.. Saya hanya ingin istirahat sebentar pak."Daniel beralasan
"Apa bapak tidak melihat kalau disitu ada tanda larangan untuk parkir?" petugas menunjuk ke arah tanda dengan tanganya. Mata Daniel mengikuti arah tangan petugas polisi. Daniel melotot.
Daniel benar-benar tidak memperhatikan ada tanda dilarang parkir tepat di tempat ia berhenti.
"Maaf pak, saya tidak melihatnya. saya tadi hanya kelelahan, sehingga saya memilih menepi. Dari pada terjadi sesuatu yang tidak diinginkan." Daniel tersenyum kecut
__ADS_1
"Bisa tunjukkan sim dan surat kendaraan?"
"Oh, ada pak." Daniel mengambil dompet dari saku celananya, lalu mengeluarkan sim beserta stnk mobilnya untuk diserahkan ke pak polisi.
"Suratnya lengkap.. Tapi bapak tetap kami tilang, karna sudah melakukan pelanggaran." Tegas petugas polisi
"Baik pak.." Daniel mengakui kesalahannya dan membiarkan saja dirinya ditilang.
setelah mendapat surat tilang, mereka diizinkan untuk pergi.
"Yaela bang, pasrah bener. Dibilang kenak tilang mala langsung iya aja." Tama nyolot.
"Terus maksudmu, aku harus apa? ngebantah petugas?"
"Yang salah itu kita, karna udah ngelanggar peraturan. Hukum kan harus ditegakkan. Gak ada yang salah sama pak polisinya."
"Ya agak-agak kasih alasan kek, biar gak jadi ditilang."
"Untuk apa. Ujung ujungnya jugak pasti ditilang."
"Kasih uang pelicin kek.." ucap tama ragu
Daniel mendengus mendengar saran Tama." Kamu kecil-kecil udah pande korupsi yah."
"Ya bukan korupsi lah. Yang korupsi kan yang ngambil duitnya." Tama masih protes
"Lagian, abang gak ribet apa kalau harus disidang lagi."
"Kasih uang sikit mah, selesai." ujarnya merasa benar.
"Kalo gak ada yang nyogok, gak akan ada yang namanya korupsi" Jawab Daniel sambil berbelok kesebuah rumah makan. Berdebat dengan Tama menguras energinya. Ditambah lagi memang dia belum ada makan malam karna harus meladeni bapak kos Cintya.
"Terus kamu mau diantar kemana..?" Tanya Daniel disela mereka menunggu pesanan mereka datang.
"Ketempat dimana kakak ku pernah abang ajak nginap." jawabnya cepat
Daniel memicingkan matanya." Maksudnya kerumah aku?"
"Iya. Kemana lagi. Lagian kan abang belum selesai tadi ceritanya... Abang masih punya hutang penjelasan sama aku."
"Astagaaa..." Daniel tepok jidat.
"Gak kakaknya, gak adeknya, sama-sama nyebelin plus ngerepotin." Batinnya.
__ADS_1