CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Part 39


__ADS_3

Wahyu menarik tangan Lea/calon istrinya menjauh dari conter Cintya, saat Cintya sedang mencari barang yang diminta oleh Lea.


"Sebaiknya kita pergi dari sini. Aku gak faham sama maksud kamu bawa aku kemari" ucap Wahyu


"Apaan sih, lepas" Lea melepaskan genggaman Wahyu dari lengannya."Emangnya kenapa? kan kita mau nyari baju untuk kamu yank.." jawabnya tanpa dosa


"Tadi gak gitu ceritanya. Kamu ngajak aku ke moll ini mau nonton, bukan mw belanja. Lagian kan banyak tempat lain, kenapa mesti disini?" ucapnya marah.


"Bukannya baju kamu dari brand ini semua? jadi aku mau beliin baju untuk kamu. Untuk kamu pakai pas akad." balasnya tak mau kalah "Memangnya salah?"


"Ya ampun Lea, kita udah mau nikah... jadi tolong jangan nyari masalah."


"Aku gak nyari masalah" Lea seakan tak perduli dengan ucapan Wahyu " jangan-jangan kamu yang bermasalah karna jumpa sama mantan kamu. Atau jangan-jangan kamu masih belum bisa ngelupain dia" tuduhnya


"Lea, jangan kayak anak-anak. Yang salah itu kita, bukan dia. Jadi tolong stop, aku mau kita pulang sekarang."


"Aku semakin yakin kalau kamu memang belum bisa ngelupain dia."


"Lea, dengar... seandainya kamu yang ada diposisi dia, apa kamu gak sakit hati?. Yang salah itu kita Lea..." terangnya " Sebentar lagi kita bakalan nikah, jadi aku mau, buang semua rasa curigamu. Oke.. Sebaiknya kita pergi dari sini" lanjutnya lagi.


"Oke. tapi sebelum kita pergi, aku mau kamu buktikan ke aku kalau kamu memang udah gak ada rasa lagi sama dia." ucapnya sambil mengacungkan sebuah undangan ditangannya


"Apa maksud kamu Lea? kamu mau ngundang dia pernikahan kita?" tanyanya merasa tidak percaya dengan apa yang calon istrinya maksud.


Lea mengangguk mantap "Itu kalau kamu benar-benar udah lupain dia."


"Astaga Lea.." Wahyu menghela nafas. Mestipun berat, ia tetap mengambil undangan dari tangan Lea lalu berjalan mendekat ke conter Cintya dan diikuti oleh Lea dibelakangnya.


Disana ia menemukan Cintya sedang berdiri sambil memegang sebuah kemeja putih. Nampak sekali kalau dia sedang tidak baik-baik saja saat ini. Terlihat jelas dari matanya yang sedikit memerah seperti habis menangis. Wahyu merasa dirinya sedang menjadi penjahat saat ini. Menyakiti hati wanita yang pernah mengisi hatinya untuk yang kesekian kali. Namun ia tidak bisa mengelak dari tuntutan calon istrinya. Bagaimana pun Lea adalah pilihannya, ia harus terus maju walaupun harus menyakiti orang lain.


"Cintya, sebenarnya aku kemari mau ngasih ini untuk kamu." ucapnya setelah sampai didepan Cintya seraya menjulurkan kartu undangan kepada Cintya.

__ADS_1


Mata Cintya yang tadinya menatap tajam kearahnya berpaling kesebuah kertas merah muda yang ada ditangan sang mantan. Nafasnya berderu kencang, dirinya benar-benar menyesal karna pernah mencintai pria sebrengsek Wahyu. 'Apa dia belum puas menyakitiku, sampai sampai ia masih tega mengundang ku dipernikahannya? terbuat dari apa hatinya'. Hati Cintya benar-benar sakit, apa lagi sampai saat ini Daniel juga menghilang ntah kemana tanpa kabar apapun. Lengkap sudah penderitaannya. Tangan Cintya bergerak ingin mengambil kartu undangan yang diberikan mantan kekasihnya, namun seseorang datang menyambarnya.


"Wah wah wah... kita dapat undangan sayang?"


"Melky.." ucap Cintya heran. "sukur ni orang muncul di saat yang tepat" gumamnya dalam hati.


"Wahyu dan Lea" Melky membaca undangan yang ada ditangannya. " Wah, udah mau nikah aja kau bro. Selamat yah.." Melky menyambar tangan Wahyu seakan-akan memberikan selamat. "Wanita mana yang mau sama kau?" ucapnya lagi.


Wahyu merasa beram dengan ucapan Melky. Laki-laki yang sedari dulu menjadi salah satu yang dicemburui olehnya karna terlalu dekat dengan Cintya. Jari tangannya sudah mengepal, seakan ingin bersiap-siap untuk melayangkan pukulan. Namun enggan ia lakukan karna takut akan semakin menyakiti hati Cintya.


"Kamu pacar dia?" tanya Lea kepada Melky yang saat ini merangkul bahu Cintya. Dan itu membuatnya legah, karna sudah dipastikan kalau Cintya tidak akan menjadi pengganggu dihubungan mereka.


"Ya tentu.. kami pasangan serasi bukan?" jawabnya dengan wajah tengil. " Bukan hanya kalian yang akan segera menikah, tapi kami juga. Ya kan sayang?" lanjutnya


Bukan hanya Wahyu dan Lea yang terkejut mendengar pernyataan nyeleneh Melky, tapi Cintya juga. Namun Cintya hanya diam, menikmati permainan Melky


"Aku tau kalau kamu cuma mengada-ada. Tapi it's okey, undangan itu memang untuk dua orang. Jadi Cintya bisa membawa siapa saja, termasuk hewan peliharaannya." ucap Wahyu sambil menyeringai


Dan ucapan Melky berhasil membuat Wahyu semakin naik pitam. Ia sudah tidak bisa menahan tangannya untuk tidak melayangkan pukulan ke wajah Melky. Namun dangan sigap Melky dapat menangkap kepalan tangan wahyu dengan telapak tangannya.


"Wo wo wo.. santai bro, ini bukan arena tinju. Ini moll tempat belanja." Melky menghempaskan tangan Wahyu "Jadi bayar saja belanjaan anda, kasirnya ada disana. " Melky menyerahkan kemeja yang ada ditangan Cintya ketangan Wahyu seraya menunjukkan tempat kasir berada.


"Kauuu..." Wahyu mengeratkan giginya


"Sayang, kamu apa-apaan sih? ngapain juga ngeladenin dia" Lea berusaha menahan Wahyu agar tidak berbuat anarkis " Ayo kita pergi dari sini" Lea pun menarik tangan Wahyu menjauh dari conter Cintya.


"Huh, dasar laki-laki brengsek.. gak tau malu." teriak Kanya setelah Wahyu menjauh.


"Heleh, waktu ada orangnya gak berani ngomong." cibir Dini.


Dini dan Kanya memang sedari tadi menguping pembicaraan Cintya dan Wahyu dari conter mereka masing-masing

__ADS_1


"Tenang aja sayang, selama ada Melky, gak akan ada yang berani nyakitin calon ibu dari anak-anakku. Termasuk si cecunguk itu" ucap Melky


"Hmm ya ya ya.. tapi ngomong-ngomong bisa lepasin gak rangkulannya." ketus Cintya seraya menyunggingkan bibirnya "Modusmu bisa terbaca" lanjutnya lagi.


"Kalau aku enggak mau gimana?" Melky semakin mengeratkan rangkulannya.


"Maka kau akan mendapatkan ini." Cintya menyikut perut Melky dengan sikunya. Dan berhasil membuat Melky melepaskan rangkulannya.


"Aw aw aw.. " Melky merintih kesakitan sambil memegang perutnya. Cintya tahu kalau Melky hanya pura-pura, namun tidak dengan Doni


"Mana yang sakit?" Doni datang memberikan perhatiannya saat melihat Melky merintih kesakitan.


Melky menghentikan sandiwaranya saketika saat mendengar suara Doni. "Dia siapa?" tanyanya kepada siapa saja yang ada di depan conter Cintya dengan wajah bingung. Pasalnya ia baru bertemu dengan Doni.


"Kenalin, aku Doni.." Doni langsung menyambar tangan Melky untuk memperkenalkan dirinya. " Lawan siff mbak Cintya." ucapnya lagi sambil mesem mesem


"Aaa.. ternyata kamu Doni, pria yang lagi viral itu. Haha.. senang bisa bertemu dengan mu." ucap Melky sambil menarik Doni kedalam peluknnya.


Tubuh Doni serasa membeku, dengan jantung yang seperti sedang berdendang ria. Sepertinya saat ini ia sudah menemukan tambatan hati. Hatinya sudah seperti taman bunga, dengan kupu-kupu yang berterbangan kesana kemari.


Cintya, Dini, dan Kanya mendelik bersamaan melihat kekonyolan Melky yang memeluk tubuh Doni.


"Apa yang dia lakukan?" bisik Kanya kepada Cintya dan Dini, namun yang ditanya hanya geleng-geleng


"Ternyata kau lebih tinggi dari yang orang-orang bicarakan." ucap Melky setelah melepaskan pelukannya seraya melihat Doni dari atas sampai bawah. Doni memang lebih tinggi dari dirinya.


"Baiklah Doni, ini udah waktunya siff berakhir jadi aku mau pulang dulu. Besok kita akan berjumpa lagi. oke.." Ucapnya seraya pergi sambil dada dada kepada Semua orang yang ada disana, tanpa menghiraukan expresi ketiga wanita yang sedang menatap heran kearahnya


"Ya ampun, dia tampan sekali.. sepertinya aku sudah menemukan tambatan hatiku.." ucap Doni kegirangan seperti orang yang sedang kasmaran.


Cintya, Kanya dan Dini hanya bisa saling pandang.

__ADS_1


"Mampus si Melky.. ternyata pesonanya gak hanya menarik perhatian para wanita aja, tapi banci juga." Ucap Kanya seraya tertawa terbahak-bahak. Cintya dan Dini juga tidak kalah terbahak-bahak dengan ucapan Kanya barusan.


__ADS_2