CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Part 20


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 22.15 menit, saat Cintya dan Dini keluar dari sebuah rumah yang di pagarnya tertulis 'menerima anak kos'.


"Huffh.. Ini udah rumah ketiga yang kita datangi kak. Masi belum cocok jugak?" Dini tampak mengeluh..


Cintya hanya bisa tarik nafas panjang, lalu dibuangnya secara perlahan..


"Ya habis mau gimana, kosnya nyampur gitu sama cowo. Mana aku mau.." jawabnya cemberut.


"Terus.."


"Kita pulang aja deh. Besok aja kita cari lagi.. lagian dah malam banget" Cintya memandang kearah sekitar. Sepi.


"Yowes lah..." Dini langsung mengenakan helm dikepalanya lalu menstater motornya. Cintya pun langsung naik duduk di boncengan.


Cintya sudah berada dikamarnya.. Rasa lelah menghampiri tubuhnya. Setelah ia selesai dari rutinitasnya setiap malam, yaitu cuci muka dan gosok gigi, ia pun membaringkan tubuhnya di kasur berukuran kecil yang disediakan oleh pemilik kos. Kos an yang ditempatinya saat ini memang termasuk lengkap. setiap penghuni kos hanya tinggal membawa diri saja. Di dalam kamar sudah tersedia tempat tidur berukuran 3 kaki, dan lemari. Kamarnya juga gak terlalu kecil, pas lah untuk seukuran orang yang tinggal sendiri. Ditambah lagi didalam kamar sudah disediakan kamar mandinya. Mestipun harga perbulannya agak mahal dibandingkan kos an yang lain, namun tempatnya gak mengecewakan. Bersih dan tertata rapi. Itu sebabnya Cintya betah tinggal disitu.


Namun apalah daya, Daniel membuatnya harus keluar dari tempat yang sudah hampir 2 tahun ditempatinya.


Cintya memejamkan matany, berharap lelahnya bisa hilang saat ia bangun besok. Rasanya lelah sekali hari ini. Dari mulai ia bangun jam 5 subuh, untuk melaksanakan perintah tuhanya, lalu bergegas untuk pergi bekerja. Setelah itu sepulang kerja malah disuru menemani Melky ke kantor polisi, menemui Tama di cafe milik Daniel, dan terahir ia harus berkeliling dengan Dini untuk mencari tempat tinggal baru untuk dirinya. Rasanya hari ini hari yang sangat panjang untuknya. Saatnya ia mengistirahatkan tubuhnya dengan tidur.


Terdengar suara adzan subuh berkumandang, saatnya untuk bangun. Rasanya baru saja Cintya memejamkan matanya, tapi tiba-tiba sudah pagi saja.

__ADS_1


Cintya bergegas bangun, lalu menuju ke kamar mandi untuk berwudhu. Ia memang tidak langsung mandi, karna ia punya alergi air dingin. Saat ia terkena udara ataupun air dingin, badannya langsung memerah dan bentol-bentol. Biasa disebut dengan biduran.


Setelah selesai menunaikan sholat 2 rakaat, ia pun berzikir lalu berdoa. Didalam doanya, ia hanya meminta untuk selalu diberikan kemudahan didalam setiap langkahnya. Lalu berdoa untuk kedua orang tuanya, yaitu semoga allah membukakan pintu hati ayahnya agar ayahnya bisa kembali seperti dulu, saat bunda mereka masib hidup. penuh dengan kasih sayang dan perhatian. Dan semoga allah memberikan tempat yang terbaik untuk bunda yang sangat disayanginya. Amiinn ya rabbal alamin...


Tiba-tiba terlintas diingatannya saat bundanya masih berada disisinya. Setiap pagi, suara bundanya selalu menjadi alaram terbaik untuk Cintya dan Tama. Lalu mereka akan melakukan sholat berjamaah berdua dengan bundanya yang menjadi imam. Karna ayah dan Tama sholat di masjid. Selesai sholat, bunda pun selalu menyempatkan untuk mengoreksi bacaan alquran yang dilantunkan oleh Cintya dan Tama secara bergantian. Itu sebabnya Cintya selalu rindu akan kehadiran bundanya.


Tanpa sadar, air matanya jatuh berlinang membasahi pipi. Namun rasa rindu itu tak akan pernah terobati.


"Bunda..hik.. hik... bunda... bunda..." Cintya terisak sambil memanggil manggil bundanya.


Matahari bersinar dengan cerahnya. Cintya berjalan cepat menyusuri gang untuk sampai ketempat kerjanya. Kali ini dia memilih untuk memotong jalan agar cepat sampai. Dia benar-benar terlambat untuk masuk. Karna setelah ia selesai sholat tadi, ia malah ketiduran lagi dengan masih mengenakan mukenahnya dan tidur dengan beralaskan sajadah.


"Udah jam berapa ini Cintya.." tegur bu Sumi yang ternyata saat itu sedang berada di pintu masuk karyawan.


"Mm.. maaf buk.." Hanya itu yang bisa terucap dari bibirnya.


"Ikut saya kekantor.." titahnya, dan Cintya pun hanya bisa menurut.


"Kemaren saya panggil kamu, kenapa kamu gak datang?" tanyanya kepada Cintya yang duduk di sebrang meja.


"Saya datang kok buk, tapi saat saya datang, kata kak lastri ( bagian administrasi ) ibuk pigi sama pak Yanto." jelasnya

__ADS_1


"Oya.." bu Sumi tampak mengingat-ingat.


"Terus, kenapa kamu gak masuk kerja tampa pemberitahuan kemaren? kamu tau kan, kamu itu spg tunggal. Seharusnya kamu komfirmasi dulu dong ke saya kalau kamu mau tidak masuk."


"Kamu ini, bisa bisanya gak masuk tanpa pemberi tahuan." omelnya panjang lebar.


"Maaf buk.." Lagi-lagi hanya kata maaf yang terlontar dari bibirnya. Cintya sadar semua itu adalah kesalahannya karna sudah libur sebelum jadwal.


Masalahnya datang silih berganti. Ntah kapan cahaya terang akan menghampirinya, sehingga kesialan akan dengan senang hati meninggalkan dirinya.


Cintya berjalan gontai kearah conternya. Di sana sudah ada Dini dan Kanya yang sedang bergosip ria.


"Kirain kakak gak masuk lagi.." ucap Dini sambil jalan menghampiri


"Masih butuh kerja aku Din.." balasnya ketus


"Bisa langsung dipecat dia kalo gak masuk lagi hari ini." Kanya menimpali sambil tertawa


"Kenapa sih nasip sial selalu menghampiriku akhir-akhir ini.." ucapnya lirih. "Semua ini karna si Wahyu gila.." Cintya membenamkan wajahnya kedalam tumpukan baju yang ada diwagon depan Conternya sambil terus memaki-maki mantan kekasihnya itu.


Dini dan Kanya hanya bisa geleng-geleng kepala melihat Cintya yang terlihat prustasi.

__ADS_1


"Kasian sekali kamu nak.." kelakar Kanya sambil menepuk-nepuk punggung Cintya yang masih membenamkan wajahnya.


__ADS_2