
Setelah drama panjang lebar karna sebuah kesalah fahaman, akhirnya kedua anak manusia itu bisa bernafas legah. Dan sebagai permintaan maaf karna sudah membuat Cintya marah, akhirnya Daniel membayar lunas semuanya dengan mengajak Cintya nonton disalah satu bioskop yang terletak didalam sebuah moll besar dikota Medan.
Tidak hanya nonton saja, bahkan Daniel mengatakan kalau ia akan menuruti semua kemauan Cintya. Apapun yang Cintya mau.
Ya namanya wanita, disaat dirinya merajuk atau sedang gundah jangan pernah mengatakan kata kasar kepadanya. Namun bujuk lah dia, maka ia akan luluh.
Seperti Cintya saat ini, dengan bujukan dari Daniel untuk mengganti kencan mereka yang batal kemarin dengan mengajaknya nonton saja Cintya sudah kembali seperti biasanya. Apa lagi ditambahi dengan kata akan menuruti semua kemauannya, Cintya merasa sangat bahagia. Bahkan Wajah Cintya yang tadinya sembab dikarenakan terlalu banyak menangis, sekarang sudah kembali ceria. Senyuman diwajahnya juga sudah terlihat, bahkan tidak pernah putus menghiasi wajah manisnya. Itulah wanita
Setelah mereka selesai menonton, Cintya mengajak Daniel ke gerai ice cream yang masih berada didalam moll. sepertinya setelah banyak menangis, ice cream bisa semakin memperbaiki moodnya.
"Apa kamu mau tambah lagi?" tanya Daniel saat melihat ice cream milik Cintya sudah kandas.
"Apa boleh?" tanyanya
"Tentu" jawab Daniel cepat dengan seuntas senyum menyertainya.
Setelah puas bernostalgia dengan ice cream, giliran Daniel yang gantian mengajak Cintya pergi ke suatu tempat yang terletak dilantai paling atas moll. Disana terdapat ruangan terbuka dengan taman buatan yang di tata sedemikian rupa. Sangat indah.. Apa lagi dari atas sini dapat melihat indahnya kota Medan dengan lampu yang menyala dimana-mana.
"Aku baru tau kalau ada tempat seperti ini disini." katanya takjub
"Makanya sekali-kali jalan-jalan, jangan kerja mulu" ucap Daniel, namun Cintya seperti tidak mendengarkan kata Daniel. Ia malah asik takjub dengan apa yang ada dihadapannya.
"Apa abang sering kemari?" tanyanya sambil berjalan menyusuri apa saja yang ada disana.
"Enggak. Aku juga baru kali ini kemari." jawabnya jujur. Dia juga malah baru tau tiga hari yang lalu tempat sekeren ini. Sebenarnya kalau saja kencan kemaren tidak batal, udah dari kemaren Cintya tau tempat ini.
"Terus abang tau tempat ini dari mana?" tanyanya heran. "Disini juga sepi, kayaknya masih belum banyak yang tau tempat ini." lanjutnya lagi.
__ADS_1
"Tempat ini udah ada lama. Bahkan dari pertama x moll ini buka. Cuma gak semua orang bisa kemari " ucapnya sambil mengikuti langkah Cintya yang masih asik menikmati semua yang ada
"Oya?" Cintya tampak tak percaya, bahkan ia menghentikan langkahnya sambil berbalik menghadap Daniel yang sedari tadi mengikutinya dibelakang." Terus kenapa kita bisa masuk kesini?"
"Tadi aku memohon. Aku bilang untuk merdakan emosi seseorang. " ucapnya meyakinkan. Namun kenyataannya tidaklah seperti itu.
Di gedung besar ini hanya empat lantai yang dipergunakan untuk umum. Selebihnya adalah apartement pribadi, yang hanya orang berdompet tebal dapat memilikinya. Dan salah satu orang tersebut adalah Daniel. Ia memiliki salah satu apartemen exclusive dan termewah yang ada di gedung ini.
"Bohong." cerca Cintya tak percaya. " emang dengan abang ngomong kekgitu, satpamnya bisa langsung luluh? jangan-jangan abang punya saham disini." terkanya.
Wahh.. jika benar, sekaya apa bang Daniel. gumam Cintya
"Enggak lah, aku gak sekaya itu Cintya." jawabnya seraya mengajak Cintya untuk duduk di salah satu kursi yang disediakan di sana.
"Kamu udah gak marah lagi kan?" tanyanya lagi. Hanya untuk memastikan kalau Cintya sudah benar-benar memaafkannya.
Panasnya kota Medan yang biasa dirasakan walaupun dimalam hari tidak terasakan saat berada diatas sini. Bahkan Cintya terlihat sesekali mengusap-usap lengannya untuk sekedar menghangatkan tubuhnya saat angin menerpa kulinya. Pasalnya Cintya tidak tahu kalau akan diajak ketempat seperti ini. Ia pikir setelah nonton, mereka akan makan malam sebentar lalu pulang. Jadi ia hanya mengenakan jeans panjang dengan kaus longgar dengan kera yang sedikit lebar. Sehingga angin dengan mudah menyentuh kulitnya.
Namun Daniel tidak tinggal diam saat meliihat Cintya mulai merasa kedinginan. Daniel membuka jaket yang menempel ditubuhnya lalu menyelimuti tubuh Cintya dengan jaket miliknya.
Cintya hanya bisa tersenyum saat Daniel melakukan hal yang menurutnya sangat romantis mesti hanya dengan cara yang sangat sederhana. Ia pun menyandarkan kepalanya dibahu Daniel seraya melihat kelangit luas. Ntah kenapa saat dirinya bersama Daniel cuaca selalu cerah, seakan-akan memberikan dukungan untuk mereka.
"Bintangnya banyak banget yah." ucap Cintya sambil mencoba menghitung bintang yang bertebaran di langit
"Iya. Ternyata gak perlu naik gunung hanya untuk melihat indahnya langit." ucap Daniel sambil terkekeh. Pasalnya ia jadi malah teringat kejadian digunung kemaren.
"Hmm.. teringatnya apa kabar sama kak Nova? apa dia udah menghabiskan jatah hadiahnya?" Maksud Cintya adalah vocer makan sepuasnya yang di janjikan oleh Daniel kepada Nova karna sudah membantu Cintya mengatasi alerginya saat digunung tempo hari.
__ADS_1
"Karna kamu bertanya, aku jadi baru keinget.. kayaknya sekalipun dia belum ada mampir deh ke cafe dari turun gunung kemaren"
"Dia lupa kali.."
"Kalau lupa kayaknya gak mungkin deh. Soalnya dia paling demen sama yang namanya gratisan." ucap Daniel tertawa " Oh iya, dia sempet cerita kemaren kalau adek tirinya mau nikah. Mungkin dia lagi sibuk bantu persiapan nikahan adenya kali." lanjut Daniel
Mendengar kata menikah, Cintya jadi kembali teringat pada kartu undangan yang diberikan Wahyu tadi kepadanya. Wajah Cintya kembali murung, hatinya juga kembali merasakan sakit. Walau pun sekarang ia sedang bersama Daniel, namun tetap saja ia tidak bisa menahan gejolak didalam dada saat mengetahui kalau orang pernah dicintainya dulu akan segera naik pelaminan dengan wanita lain. Terlintas juga difikirannya, apa yang akan terjadi dengan dirinya kalau ia sampai datang keundangan tersebut. Apakah ia akan sanggup?.
"Bang Daniel.." panggil Cintya
"Hmmm.." jawab Daniel
"Apa abang pernah dikecewakan?"
Pertanyaan Cintya membuat Daniel teringat akan penghianatan Jova terhadap dirinya. Sejenak ia terdiam, sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan wanita yang mungkin sebentar lagi akan menjadi kekasihnya. Mungkin
"Pernah." jawabnya singkat
"Gimana rasanya?" Cintya hanya ingin tau sesakit apa kekecewaan yang pernah Daniel terima.
"Marah.." jawabnya lagi sambil menghela nafas
Karna mereka dalam posisi tidak saling pandang, Cintya tidak dapat melihat expresi Daniel yang tiba-tiba berubah saat Daniel mengatakannya. Cintya pun yang sedang dalam keadaan galau, tidak berpatokan dengan expresi Daniel. Ia hanya ingin tau, apakah Daniel pernah merasakan kekecewaan juga seperti yang ia alami saat ini.
"Lalu apa yang abang lakukan? apa abang membenci orang itu?" Cintya bertanya sekena hatinya tanpa memikirkan perasaan Daniel yang saat ini sedang menahan rasa sesak didadanya.
Aku gak bisa membencinya Cintya. Seandainya pun bisa, dia sudah tidak ada lagi di dunia ini. Jadi gak ada gunanya juga aku harus membencinya. Yang ada hanya penyesalan yang sampai sekarang belum bisa aku hilangkan. ucapnya dalam hati
__ADS_1