CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Perkara anggur berusia 20 tahun


__ADS_3

Didalam mobil van hitam. Doni dan Roland sedang serius mendengar suara dari penyadap yang sengaja mereka taruh disela sofa rumah Dom.


Dengan peralatan yang cukup canggih, mereka tidak perlu susah-susah harus les bahasa asing. Karena hanya dengan satu alat kecil yang diletakkan ditelinga itu, alat itu mampu mengartikan lebih dari dua puluh bahasa asing yang secara otomatis diartikan kebahasa indonesia.


"Apa yang kalian dengar?" tanya gabriel.


"Sepertinya dia sangat marah." ujar Rolan serius mendengarkan.


"Haisssss...." keluh Doni dengan wajah kesalnya


"Kenapa?" tanya Gabriel bingung. Dia berfikir ada sesuatu yang serius yang didengar oleh Doni dari alat itu.


Begitupun dengan Rolan yang juga ikut mengerutkan dahinya.. Pasalnya ia hanya mendengar suara pecahan kaca.


Doni berekspresi panik "Sepertinya dia memecahkan botol anggur yang berumur dua puluh tahun.." pekiknya berteriak. "Aaa.. Padahal aku sangat ingin meminumnya tadi.." menatap Rolan kesal. "Semua ini gara-gara kau. Kenapa kau melarangku tadi. Haisss..." mengusap wajahnya gusar.


Plak.. Kepala Doni digeplak oleh Gabriel. "Dasar kau ini.. Apa kau tidak bisa serius huh?" umpatnya geram. "Bisa-bisanya kau memikirkan minuman saat sedang bekerja. Kau kira pemerintah menggajimu untuk ini?" Doni habis kena omel oleh Gabriel.


Rolan tertawa puas. "Mampus kau." ejeknya tanpa suara.


"Haissss sialan..." merutuki dirinya sendiri sambil mengelus kepalanya yang terasa berdenyut. Sakit dikepalanya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sakit dihatinya. Anggur yang pastinya tidak mampu ia beli walau ia harus menjual satu ginjalnya itu kini harus berakhir dilantai. Padahal minuman itu sudah ada dihadapannya tadi. Seharusnya dia tidak usah memperdulikan larangan Rolan tadi, dan meminumnya saja. Karena setidaknya dia bisa merasakan minuman mahal walau hanya sedikit sebelum dia mati. Tapi apalah daya, Kini dia hanya bisa terus menyesali keadaan.


*


Sementara suasana di mansion Dom.


Ruang tamu yang tadinya begitu rapi, kini tampak berserakan dengan pecahan kaca dan cairan berwarna merah dimana-mana.


"Beraninya Dia menyinggung keluargaku." Rahang Dom mengeras dengan raut wajah yang memerah karena emosi yang sudah tidak terkontrol lagi. Bahkan anak buahnya hanya bisa diam tanpa berani melontarkan satu pertanyaan pun padanya.


"Hubungi dokter itu.. Aku mau malam ini dia menyelesaikan tugasnya." ucapnya tegas memberi perintah pada anak buahnya. "Kau mau bermain-main denganku detektif? Baiklah, akan aku ladeni." gumamnya dengan penuh penekanan.


Didalam mobil van, Gabriel tampak sedang mencerna apa yang baru saja ia dengar. "Dokter? Dokter mana yang dia maksud?" bicara sendiri. Hanya butuh waktu beberapa detik sampai akhirnya ia seakan faham akan sesuatu. "Hubungkan aku kekomisaris." titahnya pada Doni.


Disambungan telfon dengan komisaris.

__ADS_1


"Kau menemukan sesuatu?" komisaris


"Kirimkan penjagaan ke rumah sakit di Bandung. Sepertinya nyawa Daniel sedang dalam bahaya sekarang." ucapnya yakin.


Selesai dengan komisaris, iapun minta dihubungkan langsung dengan Wisnu.


*


Dirumah sakit Bandung.


Wisnu Tampak begitu beram diruangannya. Diruangan itu juga ada Wijaya dan dua orang detektif yang dikirim oleh komisaris langsung.


"Sebaiknya kau tahan dulu emosimu. Ini masih belum pasti." ucap Wijaya menenangkan anaknya.


"Selama kami melakukan pengintain, sebaiknya kalian bisa bersikap seperti biasanya, agar tidak menimbulkan kecurigaan yang akhirnya merusak penyidikan." terang detektif tegas. "pertama-tama saya akan mengecek cctv. Dan kalian jangan terlalu khawatir dengan keadaan pasien, karena kami sudah melakukan penjagaan dengan ketat dan tanpa terlihat agar tidak mencurigakan." lanjutnya. " sekarang bisa tunjukkan dimana ruangan cctv?" ujarnya. Wijaya pun mengantarkan detektif keruang cctv meninggalkan Wisnu sendiri diruangannya.


"Brengsek.. Bisa-bisanya aku tidak menyadarinya. " Wisnu mengepalkan tangannya karena merasa sangat emosi. "Awas saja kau Dom.. Aku benar-benar akan membalasmu." emosinya sudah sampai diubun-ubun.


*


"Jadi menurutmu selama ini Daniel tidak sadar-sadar karena ulah orang suruhan Dom?" tanya Rolan. Gabriel mengangguk pasti. "Hufh.. Sungguh tidak masuk akal. Bukankah keluarga Daniel itu semuanya dokter? Bahkan rumah sakit itu milik mereka juga kan? Masak bisa gak tahu? Gak masuk akal sih menurut aku." tidak yakin dengan persepsi atasannya.


Gabrie terkekeh "Otakmu belum sampai disana. Jadi ku jelaskan pun kau tidak akan mengerti. Makan saja rotimu itu." cercanya.


Karena masih melakukan pengintaian, mereka masih bertahan didalam van. Bahkan makan pun mereka juga didalam mobil yang terbilang sempit itu. Hanya saat kebelet aja, baru mereka keluar. Dan mereka sudah mengintai selama dua jam lebih. Tapi karena sudah tidak ada suara apapun yang bisa mereka dengar dari penyadap yang mereka letakkan mereka bisa bersantai sedikit.


"Sampai kapan kita disini?" tanya Rolan


"Kenapa? Baru sehari kita disini, kau sudah bosan?" cerca gabriel.


"Ck.. Aku hanya bertanya. Kenapa kau sensitiv sekali." balasnya kesal


"Sebaiknya kau cari rekanmu itu. Kenapa dia lama sekali kembalinya. Apa dia mengeluarkan kencing batu. Atau mungkin dia sedang menangis sekarang. " ucap Gabriel saat mengingat betapa kesalnya Doni tadi karena tidak bisa menyicipi minuman mahal itu.


Sudah 45 menit berlalu sejak Doni bilang ingin buang air.

__ADS_1


"Benar juga. Sebenarnya kemana dia? " ujar Rolan bingung


Sementara ditempat lain Doni sedang mengendap-endap masuk ke dalam mansion Dom. Doni nekat masuk kedalam mansion itu hanya untuk memastikan kalau suara pecahan kaca yang dia dengar tadi bukannlah botol anggur yang harganya selangit itu.


"Gila aja kalau dia benar memecahkannya." gumamnya masih dengan mengendap-endap.


Sesekali ia cosplay menjadi patung saat melihat anak buah Dom yang melintas. Perlahan namun pasti, akhirnya ia lolos masuk kedalam mansion itu.


"Doni.. Kau memang sangat pemberani." bicara sendiri masih dengan mengendap endap Dari sisi satu ke sisi lainnya. "Seandainya dia memang benar memecahkannya, aku yakin kalau dia masih punya banyak anggur-anggur yang lainnya." yakinnya.


Hingga singkat cerita, sampailah Doni di tempat yang ia tuju. Di satu ruangan yang lumayan besar dengan begitu banyak koleksi anggur didalamnya.


Doni tercengang sampai mulutnya menganga lebar. Ia tidak menyangka kalau Dom ternyata memiliki begitu banyak anggur dengan berbagai merk terkenal. Dan yang lebih tercengangnya saat ia menemukan botol yang sama yang dikeluarkan Dom tadi. Tidak hanya satu, tapi ada tiga.


"Wuaaahh... Gak sia-sia aku masuk kemari." ucapnya kegirangan. " Aku akan megambil satu" mengambil satu botol anggur yang berusia 20 tahun dan bergerak ingin pergi, tapi kemudian dia berhenti. "Bukannya aku sudah susah payah masuk kesini? Sebaiknya aku ambil satu lagi saja." monoloknya dengan serakah.


Selesai mencuri anggur, ia bergerak ingin pergi dari ruangan itu. Dengan harapan keberuntungan akan berpihak kembali padanya seperti saat ia masuk tadi. Namun sayang seribu sayang, begitu ia membuka pintu ia melihat Dom dan anak buahya sedang duduk diruang tamu.


"Sialan.. Bukanya tadi ruangan itu kosong ya." menutup pintu lagi dengan sangat pelan dan hati-hati. Doni bersandar di pintu sambil mendekap dua botol anggur. "Bagaimana ini? Semoga saja dia tidak punya hasrat untuk minum anggur malam ini." berdoa agar tidak ada seorangpun yang masuk keruangan itu sebelum dia pergi.


Beberapa menit berlalu, ia mencoba untuk melihat kembali keadaan diluar. Karena ruangan itu kedap suara, ia tidak bisa mendengar suara dari luar. Dibukanya pintu sedikit dan dengan sangat hati-hati tentunya, lalu kemudian ia mulai mengintip.


"Haisss... Kenapa mereka belum pergi juga?" mengerang frustasi sambil menutup kembali pintu. Ditatapnya satu botol anggur. "Sambil menunggu mereka pergi, aku akan menyicipnya sedikit." mencari alat untuk membuka tutup botol. Lama dia mondar mandir diruangan itu, tapi tidak menemukan satu alatpun untuk bisa membuka tutup botol yang terbuat dari kayu. Membuatnya merasa sangat frustasi. Berada diruangan yang dipenuhi dengan minuman yang sangat dinginkannya, tapi sama saja dia tetap tidak bisa meminumnya. Sungguh sial nasipnya. "SIALAN...."


Ditempat lain.


Rolan merasa sangat frustasi karena tidak menemukan keberadaan rekannya. Ia pun memutuskan kembali kedalam van.


"Aku tidak menemukannya. Aku tidak tahu dia dimana. Earphonnya juga mati." ucapnya pada gabriel.


Gabriel hanya menatapnya dengan helaan nafas berat.


"Kenapa?" bingung


#Maaf ya up nya lama. Jangan lupa kasih like ya. 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2