
Cintya berusaha membuka matanya saat ia harus dipaksa bangun oleh ponselnya yang terus saja berdering. Dengan malas Cintya meraih ponselnya yang berada diatas nakas dan melihat nama Kanya tertera di panggilan masuk.
Kenapa dia harus menganggu tidurku..Ya ampun.. seharusnya aku matikan aja ponselku semalam. Gerutunya namun tetap mengangkat telfon dari sabatnya itu
"Hemm.." jawabnya dengan suara serak khas orang baru bangun tidur
"Apa kau belum bangun Cintya?" tanya Kanya dari sebrang telfon
"Bisa gak nelfonnya nanti aja? aku masih ngantuk.." ucap Cintya malas
"Apa kau lupa sama janji kita? "
"Aku gak lupa Kanya.. tapi biarkan aku tidur sebentar lagi. Lagian kan kita perginya jam satu siang, kenapa kau banguni aku sepagi ini." gerutunya kesal sambil menahan kantuk
"Astaga Cintya, apa jam dikamarmu mati huh? kau lihat sekarang udah jam berapa." balas Kanya tak kalah kesal
Cintya melebarkan matanya sambil menatap kearah jam dinding besar yang ada dikamarnya. Alangkah terkejutnya dia saat mengetahui kalau jam sudah berada di angka dua belas siang.
"Ya ampun, apa benar uda jam segini?" katanya terkejut.
"Hmm.. aku kira jam mu mati. Udah, cepat mandi sekarang. Bentar lagi aku sama Dini bakalan sampek disana." ucapnya lalu mematikan sambungan telfon mereka
"Gak sabar banget jadi orang." gerutu Cintya kepada ponsel yang sudah tidak tersambung lagi oleh sahabatnya
Huaammm" Cintya masih saja menguap, padahal ia sudah tidur lama. "Apa benar udah jam segini?" katanya masih tidak percaya. dilihatnya jam melalu ponselnya, dan ternyata jam dinding dan ponselnya selaras. "Aaahh ya ampun.. kenapa aku masih ngantuk." teriaknya prustasi sambil menghentak-hentakkan kakinya di tempat tidur dengan posisi terlentang.
Tapi mau tidak mau ia memang harus bangun. Ia, Dini, dan Kanya memang sengaja mengambil libur bersamaan dan saat seperti ini sangat jarang bisa terjadi. Mereka berencana akan menghabiskan satu hari ini untuk berjalan-jalan bertiga.
~
Seharian jalan-jalan dan shoping tidak membuat tiga pasang kaki wanita muda itu kecapean. Mereka masih sangat antusias mengelilingi sebuah moll besar yang memang baru saja buka dikota itu.
"Andai kita bisa pindah kerja di moll ini." Harap Dini sambil masih memandang takjub pada disain mol yang dibuat semenarik mungkin saat mereka berada di salah satu lantai.
"Hey.. apa kita udah mengelilingi semuanya?" Tanya Kanya kepada kedua sahabatnya
"Kayaknya lantai paling atas belum." jawab Cintya
"Sebaiknya kita kesana.." ajak Kanya sambil menarik kedua tangan sahabatnya.
"Yaahh.. ternyata gak ada apa-apa disini." kata Dini dengan memasang wajah muram saat menatap kosong pada lantai yang mereka datangi.
__ADS_1
"Masih coming soon.." tambah Kanya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Turun yok." ajak Cintya yang sudah membalikkan badannya. "Sia-sia naik." umpatnya kesal
Akhirnya setelah lelah berkeliling, mereka berhenti disalah satu restoran jepang.
"Apa disini ada steak?" tanya Cintya yang merasa tidak menemukan menu kesukaannya di daftar menu reatoran yang mereka datangi.
"Hellow Cintya, keluarlah dari zona nyamanmu. kenapa setiap kali makan, hanya steak yang kau cari." nyinyir Kanya sambil menyunggingkan bibirnya.
"Ini restoran Jepang kak." tambah Dini mencoba mengingatkan. " kita pesan shabu-shabu aja gimana?" saran Dini dan dijawab anggukan oleh Kanya. Dini dan Kanya memang paling suka makanan Jepang, namun tidak dengan Cintya.
"Kakak mau pesan apa?" tanya Dini yang melihat Cintya seperti tidak merasa tertarik dengan daftar menu yang ada dihadapannya.
"Entah lah, aku bingung" ucapnya tak berselerah.
" Pesankan aja di Tendon atau Tempura." kata Kanya yang seperti tidak sabar menunggu Cintya memilih menu untuknya sendiri
"Aaah terserah lah." jawab Cintya pasrah
Tidak menunggu lama, makanan Dini dan Kanya pun sudah terhidang diatas meja. Ada Shabu-shabu juga Shusi. Dini terlihat sibuk memasukkan daging iris dan beberapa jenis sayur dan telur kedalam kuah kaldu mendidih, sedangkan Kanya terlihat sedang asik mamainkan ponselnya seraya menunggu daging yang di masukkan Dini siap untuk dilahap.
"Makanannya hanya ini? mana makananku?" tanya Cintya tak sabar.
"Sebelum makananmu datang, makan ini dulu." tambah Kanya yang sudah meletakkan ponselnya sambil mengambil satu potongan Shusi ke piring miliknya lalu memberikannya kepada Cintya.
"Viuhh.. ini makanan mentah, aku gak mau." Cintya mendorong piring yang diberikan Kanya untuknya.
"Dimakan dulu, biar tau rasa. Baru boleh komen." Kanya mendorong lagi piring tadi kehadapan Cintya.
"Jangan dipaksa kak, entar dia muntah lagi. Kan gak lucu." ucap Dini sambil mengulum bibirnya menahan tawa.
Tak lama kemudian, pesananya pun datang. Cintya dihadapkan oleh hidangan yang disebut oleh Dini dengan nama Tendon. Entah apa itu, ia belum pernah memakannya. Semoga saja enak. Fikirnya
Mmm lumayan" gumamnya saat makanan masuk ke mulutnya.
Mereka pun bisa menikmati makanan mereka masing-masing dengan nikmat sambil diselingi dengan obrolan yang tidak berfaedah dari tiga sahabat itu sehingga menyebabkan gelak tawa dari ketiganya.
"Habis ini kita kemana?" tanya Cintya yang sepertinya tidak memiliki rasa lelah.
"Nonton udah, keliling udah, shoping udah, makan juga udah" Kata Dini menjelaskan kegiatan mereka seharian didalam mol. " lalu mau ngapain lagi?" fikirnya
__ADS_1
"Pulang lah" sambung Kanya sambil menyenderkan punggungnya disandaran kursi restoran. Wajahnya sudah terlihat lelah
"Cepet banget.." sergah Cintya tak terima " jarang-jarang loh kita jalan bertiga. harus bisa di pergunakan dengan sebaik mungkin. Lagian masih jam delapan.." lanjutnya memberi semangat kepada dua orang yang ada dihadapannya.
Dini dan Kanya saling pandang, lalu kemudian menyerah dengan keinginan Cintya yang masih ingin jalan-jalan.
"Hmm okey, tapi sebelumnya aku mau ketoilet dulu." ucap Kanya sambil bangun dari duduknya.
"Aku ikut." saut Dini yang juga bangun dari duduknya.
"Kau gak ikut Cin" tanya Kanya dan dijawab gelengan oleh Cintya
"Udah tadi, mau berapa kali masuk toilet."
Dini dan Kanyapun akhirnya pergi meninggalkan Cintya duduk sendiri di meja restoran sampai mereka kembali dari toilet.
Selagi menunggu kedua sahabatnya, Cintya asik bermain ponsel sambil berkirim pesan dengan Daniel. Sesekali terlihat Cintya melengkungkan bibirnya saat membaca pesan dari orang yang sudah mengisi hari-harinya beberapa bulan ini. Mustipun belum berpacaran, namun bisa dipastikan kalau hubungan mereka akan sampai pada jenjang itu.
"Hay.." sapa seseorang kepada Cintya
Cintya mengangkat wajahnya yang sedari tadi tertunduk karna sibuk dengan ponselnya untuk melihat orang sudah menyapanya.
"Iya" jawabnya singkat pada orang asing yang berdiri dihadapannya.
"Apa kau lupa denganku gadis manis?" ucapnya lagi
Cintya mencoba mengingat siapa orang yang berada dihadapannya dengan memasang senyum yang dibuat semanis mungkin. Seketika matanya melebar sempurna, ditambah dengan senyum yang juga ikut mengembang.
"David." sebutnya senang karna merasa tidak menyangka akan bertemu lagi dengan bule yang ditemuinya di Parapat tempo hari.
"Hey.. aku kira kau sudah tidak mengenaliku." ucapnya dengan tawa
"Hampir.. karna saat pertama kita jumpa sepertinya wajah anda tidak memiliki brewok." ucap Cintya " Sedang apa anda disini?" tanya Cintya sesantai mungkin.
"Hanya jalan-jalan." terangnya sambil duduk di kursi yang diduduki oleh Kanya tadi. " tidak apa-apakan kalau aku duduk disini."
"Tentu saja, itu milik restoran." jawabnya tertawa.
"Sedang apa kamu disini sendirian?" tanya David kepada Cintya yang dikiranya sedang duduk sendiri.
"Aku enggak sendiri. Aku kemari sama temanku, tapi sekarang mereka sedang ditoilet." jelasnya "Nah itu mereka" lanjutnya lagi saat melihat kedatangan sahabatnya.
__ADS_1
Kanya dan Dini terlihat terperanga saat sampai dimeja.
"Kenapa ada bule nyasar disini?" bisik Kanya kepada Dini yang berada disebelahnya. Namun Dini hanya bisa mengangkat bahunya.