CINTA CINTYA

CINTA CINTYA
Mimpi dia


__ADS_3

Di sebuah gerai ice krim terlihat sepasang kekasih sedang duduk berdua. Yang wanita terlihat sangat asik menghabiskan ice krim yang tersedia dimejanya. Sedang kan yang pria malah asik memperhatikan wanitanya dengan tatapan sayang sambil sesekali tersenyum karena melihat tingkah sang kekasih yang seperti anak kecil saat memakan ice krim.


"Kamu itu kayak anak kecil tau gak. Makan ice krim aja sampek blepotan gitu." kata Wahyu sambil menghusap sudut bibir wanitanya yang blepotan ice krim


Bukannya malu, wanitanya malah menunjuk satu sudut bibirnya lagi yang juga terdapat bekas ice krim.


"Yang ini juga sayang.." katanya manja sambil tersenyum


"Dasar manja.." ucapnya sambil tetap menghusap sudut bibir yang satunya lagi dengan ibu jarinya.


"Makasih sayang." ucap wanitanya sambil melanjutkan kembali aktifitas makannya.


"Syukur aja aku tu sayang banget sama kamu. Kalau enggak.."


"Kalau enggak emangnya kenapa? kamu mau ninggalin aku cuma karna aku suka blepotan makannya?" potongnya sambil cemberut.


"Cintya.. Cintya.. aku gak akan pernah ngelakuin itu. Aku sayang banget sama kamu. Aku hanya mau sama kamu selamanya "Ucap Wahyu terdengar tulus sambil mengusap lembut rambut Cintya.


bluss" wajah Cintya langsung tampak merona mendengar kata-kata yang menurutnya sangat manis dari mulut sang kekasih. Bahkan ia hanya bisa tersenyum tanpa bisa berkata apa-apa lagi.


"Yaudah di habisin ice krim nya. Filmnya sebentar lagi udah mau main" lanjut Wahyu memberi tahu kalau film yang akan mereka tonton di bioskop akan segera mulai.


"Oke sayang." ucap Cintya "Kamu mau?" Cintya menawarkan ice krim miliknya. Wahyu hanya menggelengkan kepalanya.


~


Setelah selesai nonton, Cintya mengajak Wahyu masuk ke supermart yang masih berada di mol yang sama saat mereka nonton tadi.


"Kamu mau belanja lagi? bukannya kemarin udah ya yank?" tanya Wahyu saat sudah didalam supermart


"Enggak sayang.. aku mau nyari sesuatu." jawabnya sambil senyusuri lorong demi lorong untuk mencari yang ia maksud sambil menarik pergelangan tangan Wahyu agar terus mengikutinya


"Nyari apaan?" Wahyu bertanya lagi


"Kado.." jawab Cintya singkat


"Kado untuk siapa?"

__ADS_1


"Untuk temen aku sayang.. udah deh kamu gak usah nanyak mulu. Mending bantu aku milih kado yang cocok untuk temen aku. oke?" Cintya terlihat bingung akan memberikan kado apa untuk temannya.


Wahyu hanya bisa menghela nafasnya, lalu mencoba ikut membantu sang kekasih memilih kado yang bahkan ia tidak tahu untuk siapa dan dalam rangka apa.


"Kalau ini gimana?" Wahyu menunjukkan satu kotak berisi peralatan minum bayi.


Cintya mengerutkan dahinya "Ih kamu apa-apaan sih yank. Temen aku baru mau menikah, bukan tasyakuran bayi." protes Cintya sewot


"Ya habis kamu kan gak ada bilang kadonya untuk apa." balas Wahyu tak terima


"Ditanya kan bisa sayang." selalu saja Cintya merasa paling benar


"Tapi tadi kamu bilang aku gak boleh nanya mulu.." Wahyu membalikkan kata-kata Cintya


"Emang aku ada bilang gitu yah?" Cintya pura-pura lupa


"hmmm.." jawab Wahyu ketus namun tidak marah


"Hehe.. maaf sayank..!" Ucap Cintya sambil merangkul lengan Wahyu dengan memasang wajah imut menatap sang kekasih


Bola mata Cintya membesar sempurna saat wahyu mengecup singkat bibirnya di tempat umum. Bahkan senyum manisnya tadi langsung pudar digantikan dengan expresi wajah terkejut. Apalagi terlihat beberapa orang yang berada disana menatap kearah mereka. Cintya benar-benar sangat malu..


Sementara Wahyu bersikap biasa saja seperti tidak melakukan dosa apa pun, dan ia terlihat tidak perduli dengan tatapan orang-orang.


"Kamu apa-apaan sih yank.." ucap Cintya pelan sambil menundukkan wajahnya karena merasa malu


"Biar kamu gak suka lupa sama apa yang baru kamu ucapkan" jawabnya santai sambil terkekeh


"Astaga.. kamu gak malu dilihatin orang?" wajah Cintya sudah memerah menahan malu


"Kenapa musti malu? kamu kan pacar aku." jawabnya lagi sambil membawa tubuh Cintya untuk berhadapan dengannya. Lalu kemudian tangannya bergerak mengangkat wajah Cintya yang tertunduk.


"Aku gak perduli sama semua tatapan bahkan omongan orang. Yang aku tau, aku sayang sama kamu dan aku akan melakukan apapun untuk ngebahagiain kamu. Dan aku mau kamu juga harus tetap setia di samping aku sampai kita tua. oke" sambungnya lagi sambil menatap dalam kearah bola mata Cintya yang terlihat sudah berkaca-kaca.


"Aku sayang banget sama kamu yank.." Cintya sudah tidak bisa lagi menahan air mata bahagianya saat mendengar semua kata-kata Wahyu barusan.


Wahyu tersenyum mendengar ungkapan sayang dari wanita pujaannya lalu kemudian menarik tubuh Cintya kedalam pelukannya. "Aku juga sayang banget sama kamu.. sayaang banget." ucapnya.

__ADS_1


Mereka pun saling mengeratkan pelukannya dengan Cintya yang masih terus menangis penuh haru karena merasa sangat bahagia memiliki lelaki yang sangat menyayanginya.


"Kita akan selalu sama-sama kan yank?" kata Cintya dengan suara yang masih sesenggukan akibat menangis.


"Tentu sayank.." jawab Wahyu pasti sambil melonggarkan pelukannya lalu menatap wajah sayu Cintya. " sayang yakin kan sama aku?" tanyanya lagi dan dijawab anggukan pasti oleh Cintya.


"Makasih ya sayank.." Wahyu menarik kembali Cintya kedalam pelukannya.


Tapi tiba-tiba seseorang datang menghampiri dan langsung menarik paksa Cintya dari pelukan Wahyu seraya berkata


"Lepaskan dia, kau bukan orang yang pantas ada disampingnya." ucap seorang pria dengan nada marah kearah Wahyu sambil terus memegang lengan Cintya agar tidak terlepas dari dirinya.


Cintya menatap orang tersebut sambil menautkan kedua alisnya.


"Siapa kau berani mengatakan hal itu kepadanya? dia itu pacarku.. apa hak mu mengatakan kalau dia gak pantas berada disampingku." kata Cintya tak kalah marah sambil berusaha melepaskan pegangan tangan pria tersebut. Namun usahanya tidak berhasil, karena pria itu tetap mengencangkan pegangannya.


"Sebaiknya kamu tinggalkan dia, dan pergilah bersamaku." ucap pria itu lembut sambil menatap kepada Cintya


Cintya menatap dalam pada manik mata pria yang tampak tak asing diingatannya, namun ia benar-benar tidak tahu siapa pria ini. Tampak kecemasan pada tatapannya namun kata-katanya terdengar sangat tulus. Tapi seketika ia tersadar, kalau ia hanya pria asing yang hanya ingin memisahkan dirinya dengan kekasihnya.


"Lepaskan.." Cintya menghentakkan tangannya, dan dengan seketika genggaman tangan pria asing itu pun terlepas dari tangannya. "Aku gak akan pernah pergi darinya.. kau mengerti..!" lanjutnya lagi dengan setengan berteriak.


"Tapi dia yang sudah pergi meninggalkanmu Cintya. Sadarlah.." ucap pria itu sambil menunjuk kearah tempat berdirinya Wahyu tadi.


Dan benar saja mata Cintya tidak menemukan lagi Wahyu berdiri ditempatnya.


Nafas Cintya berderu kencang dengan mata yang terbuka lebar dan basah karena ternyata air mata sudah mengalir deras, bahkan sudah membasahi bantal tidurnya.


"Ya ampun.." ucapnya terisak sambil memegang dadanya yang terasa sangat sesak mengingat mimpinya barusan. Dilihatnya jam dinding, masih menunjukkan pada angka jam satu dini hari.


"Kenapa harus mimpi dia..dan kenapa mimpinya terasa sangat nyata." bulir bening dari matanya semakin deras mengalir dengan tangan yang beralih memegang bibirnya karena teringat akan kecupan singkat yang Wahyu berikan.


"Apa ini.. kenapa kau terus menyakitiku bahkan didunia mimpiku Wahyu.. apa gak cukup kau menyakitiku didunia nyata, sampai-sampai kau harus hadir didalam mimpiku lagi!.." rintih Cintya ditengah tangisannya. "Kenapa kau begitu jahat.. kenapa kau tinggalin aku Wahyu, Padahal kau tau aku sangat menyayangimu.."


"Kau yang selalu bilang, jangan tinggalkan aku. Tapi nyatanya, kau sendiri lah yang menghianati aku wahyu.. " suaranya sampai tercekat karena tangisannya yang begitu pilu mengingat penghianatan Wahyu kepadanya.


Hampir sejam Cintya terus menangis dalam pembaringannya sambil terus mengeluarkan seluruh unek unek yang ada dihatinya yang belum pernah ia ungkapkan langsung kepada sang mantan. Setelah hatinya sedikit merasa lega, perlahan mata Cintya kembali tertutup dan tertidur kembali.

__ADS_1


__ADS_2