
Dirumah Melky.
Orang tua melky merasa sangat cemas dengan keadaan anaknya. Bagaimana tidak, sejak kejadian yang menimpa Cintya ia tidak pernah sekalipun meninggalkn kamarnya. Tidak mau makan ataupun minum. Dan ini sudah lima hari sejak kejadian. Hatinya sangat hancur begitu melihat wanita yang sangat dicintainya mendapatkan tindakan asusila.
Didalam kamarnya yang gelap ia selalu mengutuk dirinya sendiri, bahkan ia sering berteriak seperti orang gila. Mamanya hanya bisa menangis melihat Melky begitu sangat menderita. Ia tidak tahu harus berbuat apa.
Siang hari. Kanya dan Dini memutuskan untuk kerumah Melky sebelum pergi kerumah sakit menjenguk Cintya. Mereka begitu penasaran, kenapa Melky sama sekali tidak pernah muncul menjenguk Cintya. Dan bahkan nomor ponselnya juga tidak aktif.
sesampainya dirumah melky, mereka disambut oleh Mama Melky yang tampak begitu senang dengan kehadiran mereka.
"Kalian datang?" tersenyum namun matanya terlihat berkaca-kaca.
"Iya tan, kami datang." saut Dini ."Kami hanya ingin menjumpai Melky karena sudah beberapa hari ini dia gak masuk kerja dan gak ada kabar juga." lanjutnya
"Masuklah.." masih menunjukkan ekspresi wajah yang cukup aneh menurut Kanya dan Dini.
Dua wanita itu hanya bisa saling pandang dan merasa kalau Melky pasti sedang tidak baik-baik saja.
"Apa Melky baik-baik saja tan?" tanya Kanya sesaat setelah mereka duduk di sofa.
"Entah lah, tante benar-benar gak tau apa yang terjadi padanya." tangisan mama Melky pecah, membuat Kanya dan Dini panik.
"Ada apa tan? Apa yang terjadi dengan Melky? Dimana dia?" tanya Dini
"Dia ada dikamarmya. Sudah lima hari ini dia gak makan Din. Tante khawatir.. Tapi saat tante mencoba masuk, tante selalu diusir." semakin menangis.
Kanya dan Dini saling tatap kembali.
Dini pun mencoba menenangkan mama Melky dengan memberikan pelukan hangat layaknya seorang anak yang menyayangi ibunya sendiri. "Tante tenang yah.. Biar kami yang bicara dengannya."
"Tapi sebelumnya tan, apa tante benar-benar gak tau apa yang terjadi dengannya?" Kanya mencoba menggali informasi.
"Hari itu dia pergi pagi-pagi sekali. Sekitaran jam tiga dini hari.. Tante terbangun karena tante dengar suara motornya keluar dari garasi. Gak tahu dia mau pergi kemana pagi-pagi buta begitu. Dan saat dia pulang siangnya dia langsung masuk kamar dan menghancurkan apa aja yang dia temukan sambil teriak-teriak seperti orang yang kesurupan. Kamarnya benar-benar berantakan nak. " menangis sambil menceritakan kejadian lima hari lalu.
"Hohhh ya ampun kak,..." Dini seperti mengetahui sesuatu. Raut wajahnya tampak cemas
__ADS_1
"Apa?" Kanya tidak mengerti.
Mama Melky pun sampai menghentikan tangisannya melihat ekspresi Dini yang seakan tahu penyebab kegilaan anaknya. " apa nak? Kau tahu sesuatu?"
Dini mengangguk. "Aku yakin ini ada kaitannya dengan kak Cintya.." jawabnya pasti.
Kanya sampai menutup mulutnya merasa tak percaya "Kenapa aku gak kepikiran sampek kesana. Ya ampun.." panik
"Apa? Ada apa dengan Cintya?" mama Melky semakin penasaran karena merasa ambigu dengan kata-kata Dini dan Kanya.
Dini menghela nafasnya sambil memeluk kembali tubuh wanita paruh baya itu " Kak Cintya diperkosa orang tan.. Dan aku yakin kalau Melky pasti tahu sesuatu. Makanya dia bisa bereaksi seperti itu." melepaskan pelukannya.
Mama Melky hanya bisa terdiam mendengar informasi yang baru ia ketahui. Dan ia tahu betul siapa Cintya di hati anaknya. Air matanya semakin mengalir deras " ohh ya ampun Cintya.." menutup wajahnya sambil menangis sejadi-jadinya.
Kanya dan Dini tak tahu harus berbuat apa melihat ibu dari teman mereka menangis seperti ini. Penyesalan juga muncul dibenak mereka. Kenapa baru dua hari ini mereka menyadari ketidak hadiran Melky di rumah sakit ataupun dikerjaan. Mereka terlalu fokus dengan Cintya.
Didepan pintu kamar Melky
Dini mengetuk pintu beberapa kali, namun tak ada sautan dari dalam. Ia pun memutuskan untuk masuk. Begitu masuk, mereka disuguhi dengan penampakan kamar yang cukup gelap dan pengap. Hanya ada cahaya dari sela-sela jendela yang membias masuk.
"Apa dia tidur?" Kanya bicara berbisik
"Sepertinya begitu.." Dini mendekat ke tempat tidur. Dan benar saja, Melky sedang tidur. Namun wajahnya begitu pucat, dan saat Dini meletakkan tangannya di dahi Melky, ia terkejut. Suhu tubuh Melky begitu tinggi.
Dini dengan cepat memanggil dokter untuk memeriksa keadaan Melky.
Mama Melky masih terus menangis melihat keadaan anaknya saat dokter sudah selesai melakukan pemeriksaan. Ia tidak tahu kalau ternyata anaknya bukan sedang tidur, melainkan sudah pingsan karena dehidrasi.. "Anakku... Kenapa nasipmu begitu buruk. " lirihnya
Kanya dan Dini hanya bisa menghela nafasnya merasa bersyukur karena mereka datang disaat yang tepat walaupun sedikit terlambat.
"Besok pagi kami akan kesini lagi tan.." ucap Dini permisi setelah selesai membantu membersihkan kamar Melky.
"Kalau ada apa-apa, tante jangan segan-segan hubungi kami yah." sambung Kanya
Mama Melky mengangguk masih dengan raut sedih. Diraihnya tangan Dini dan Kanya "Kalau kalian tidak datang hari ini, tante gak tau apa yang akan terjadi dengan Melky. Dan mengengenai Cintya" menangis tersedu " tante benar-benar gak tahu kalau dia.." tidak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ia terlalu bersedih begitu tahu apa yang sudah menimpa pujaan hati anaknya itu.
__ADS_1
"Sebaiknya tante tenangkan diri dulu yah.." Dini mengelus punggung tangan mama Melky untuk menenangkan.
"Iya tan, sebaiknya tante tenangkan diri dan fikiran dulu. Biar bisa jaga Melky tan.! Melky pasti sangat terpuruk." Kanya juga mencoba menenangkan.
Mama Melky mengangguk dan mencoba menghentikan tangisannya " Doain Melky ya nak.. Dan tante juga akan mendoakan Cintya." melepaskan tangannya " jangan lupa besok pagi kalian datang lagi. Oke?" suaranya masih bergetar. Kanya dan Dini mengangguk.
Di rumah sakit
Dokter jaga hanya bisa mengelus dada akibat ulah Tama yang dengan polosnya berulang kali memencet tombol bahaya hanya karena Cintya selalu mengigau disela tidurnya. Sehingga dokter harus bolak balik memeriksa keadaan pasien yang ditakutkan memang sedang dalam bahaya atau kritis
"Dia hanya mengigau pak.." jelas dokter
"Tapi dia seperti sedang kesakitan.." ujar Tama panik melihat ekspresi kakaknya.
"Pasien memang dalam tahap penyembuhan trauma pak. jadi wajar kalau dia sering mengigau. "
Tama menghela nafasnya lalu kemudian mengangguk. " maaf kan saya dok.. Saya hanya takut kakak saya kenapa-napa."
"Tidak apa pak, kami juga faham." kata Dokter kemudian pergi.
"Sebaiknya kita bawak kakakmu pulang." kata Ayah "Sepertinya tidak ada gunanya kakakmu lama-lama dirumah sakit ini. Sudah lima jari sejak kejadian dia selalu seperti ini dan tidak memberikan respon apapun. Tapi dokter hanya mengatakan kalau semuanya wajar." Ayah sedih melihat tidak adanya perubahan Cintya dari mulai ia sadar. "Besok kita pulang." sambungnya lagi dengan mata berkaca-kaca. Tama hanya diam sambil menghela nafasnya
Ditaman rumah sakit.
Ayah merutuki dirinya merasa menyesal. Anak gadis yang paling ia cintai. Buah hati dari pernikahannya dengan istri tercinta mendapatkan nasip yang begitu buruk. Kalau saja dulu ia bisa mempertahankan anak-anaknya agar tidak pergi dari rumah, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi. Tapi nasi sudah menjadi bubur, dia hanya bisa menyesal sekarang.
Tama datang dengan dua gelas kopi hangat ditangannya lalu duduk di samping Ayahnya. "Ayah tidak apa-apa?" menyodorkan segelas kopi.
Ayah memalingkan wajahnya untuk menghapus bulir-bulir air mata yang sedari tadi mengalir. "Apa kau membenci Ayah?" berkata sambil menunduk. "Sejak kita bertemu kembali, kau sangat sedikit berbicara dengan Ayah. Bahkan kau selalu menghindar saat Ayah ingin mengobrol denganmu."
"Sedikit.. " menghela nafas " setidaknya kebencianku terhadap Ayah sedikit berkurang karena sekarang aku punya seseorang yang lebih aku benci. Yaitu orang yang sudah membuat kakakku seperti ini." Dendam.. itu lah yang tertanam dihatinya sekarang.
Ayah terdiam sesaat sambil menoleh kearah Tama. "Serahkan semuanya kepada yang berwajib nak. " menyentuh pundak Tama. "Jangan kau kotori hati dan tanganmu hanya demi sebuah kepuasan untuk membalas dendam.." Ayah hanya mencoba memberikan nasihat kepada anaknya. Walaupun ia sadar kalau sikap Tama sebenarnya sangat wajar. Adik mana yang tahan melihat kakaknya diperlakukan seperti itu. Tapi sebagai seorang Ayah, sebenarnya dialah orang yang paling terpukul dan tersiksa.
Bahkan ia sempat terjatuh pingsan begitu ia menerima telfon dari Tama yang memberi tahukan kondisi Cintya kala waktu itu. Tapi apalah daya, sekarang ia hanya bisa mencoba ikhlas dan menyerahkan semuanya kepada yang berwajib. Semoga segera mendapat titik terang atas kasus yang menimpa anaknya. Dan juga semoga ia bisa bertemu dengan orang yang sudah berani menyentuh anaknya. Ingin rasanya ia menanyakan kenapa begitu tega melakukan semua itu terhadap anak gadisnya.
__ADS_1